
Sesuai ucapannya, Rosa benar-benar tidak mau menjaga Dara hari ini. Alhasil mau tak mau Reva harus membawa anaknya yang ada dalam gendongannya untuk turut masak di dapur. Kebetulan ketika Reva hendak memasak makanan untuk Dara, anak itu malah terbangun dan menangis ingin digendong.
Kali ini Reva sangat terlihat hati-hati dalam memasak. Wanita cantik itu tidak ingin jika Dara terkena sesuatu yang buruk yang tidak dia inginkan selama mereka berdua berada di dapur.
"Sabar ya Nak, sebentar lagi makanan kamu siap. Maafin Mama ya yang nggak becus merawat kamu. Kalau Mama tahu Mbak Santi udah nggak dibolehin kerja di rumah ini merawat kamu, pasti tadi Mama udah buatin makanan buat kamu, Nak. Sekali lagi Mama minta maaf ya udah bikin kamu kelaparan begini."
CUP
Dengan penuh kelembutan Reva mengecup kening anaknya itu. Untung saja Dara tidak rewel selama berada di dalam gendongan mamanya sehingga Reva bisa cepat menyelesaikan pekerjaannya.
"Akhirnya makanan untuk Dara jadi juga," gumam Reva tersenyum lega.
Setelah bubur tim tersebut matang, Reva lalu menuangkan seperempat bubur tersebut ke dalam mangkuk khusus Dara makan. Sisanya Reva simpan untuk nanti siang dan sore.
Saat sedang sibuk di dapur tiba-tiba Rosa datang menghampiri.
"Udah bikin buburnya?" tanya Rosa dengan ekspresi sangat datar tanpa melihat cucu semata wayangnya.
Reva mengangguk pelan lalu berkata, "Sudah Bu, baru aja matang. Ini sudah aku taruh ke mangkuk, nanti tunggu agak dingin baru aku kasih ke Dara."
"Emm bagus deh kalau begitu. Berhubung kamu udah selesai masak itu berarti kamu nggak ada kerjaan dong ya?"
"A ada sih Bu, sambil nunggu buburnya dingin aku mau buat camilan dulu untuk Dara. Mumpung Daranya juga lagi anteng ini." jawab Reva seraya menatap lembut sang putri tercinta.
Seketika saja muka Rosa jadi berubah cemberut, sepertinya Rosa tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Reva.
__ADS_1
"Ahhhh sudah, nanti aja bikin camilannya. Bubur aja belum dimakan pakai acara buat cemilan segala. Ngabisin bahan aja kamu ini. Mending nih ya sekarang kamu gunakan bahan-bahan makanan yang ada di dalam kulkas untuk membuat makan siang buat suami kamu."
Sejenak Reva heran dan bingung.
"Masak? Buat Mas Devan? Bu, apa nggak sebaiknya Mas Devan beli makanan jadi aja ya di luar. Masalahnya aku kan lagi repot mengasuh Dara, ini aja aku kerepotan Bu masak sambil bawa Dara. Nanti malah-"
"Tuh kan alasan lagi kamu. Seharusnya kamu itu senang lah bisa masakin suami kamu. Di luaran sana banyak lho Va yang mau berada di posisi kamu sekarang, suami kerja istri hanya tinggal terima beres di rumah. Seharusnya kamu itu bersyukur bukannya malah menolak begini. Kalau Devan tahu, dia pasti bakal ngamuk. Apa kamu mau dia ngamuk lagi, hah?"
Rosa mulai menakuti Reva dengan segala tipu muslihatnya, berharap Reva akan percaya dengan semua perkataannya.
"Maaf Bu, bukannya aku nggak mau masakin makanan buat Mas Devan. Tapi aku sendiri aja lagi repot. Nanti deh biar aku telepon Mas Devan, biar aku suruh dia beli makanan di luar."
Sejurus kedua mata Rosa melotot tajam mendengar penuturan dari Reva.
"Hah, apa kamu bilang? Kamu mau menyuruh anak saya beli makanan di luar? Reva, apa kamu itu nggak sadar kalau beli makanan di luar itu sudah termasuk pemborosan nggak penting? Seharusnya jadi istri kamu itu tahu dong bagaimana cara memanage keuangan dengan baik dan benar biar nggak ada pengeluaran yang sia-sia. Terus apa gunanya kamu jadi istri kalau kamu sendiri aja nggak mau masakin buat suami kamu sendiri?"
Entah mengapa kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Rosa tepat mengena di relung hati Reva. Hati Reva jadi sakit, menurutnya dari segi perkataan dan perbuatan Rosa hari ini adalah yang sangat kejam. Nggak di filter sama sekali.
"Oke oke, aku akan masak buat Mas Devan. Tapi Ibu sabar dulu, tunggu sampai aku selesai nyuapin Dara baru aku masak."
"Dara Dara aja yang jadi alasan kamu. Nggak bisa ya kamu nyari alasan lain selama Dara? Heran!" ujar Rosa sinis.
Rosa memang paling tidak suka ada orang yang membantah perintahnya khususnya orang yang ada di rumahnya. Rosa juga tidak suka jika ada orang yang menunda perintah dari dia. Perlakuan seperti itu membuat Rosa merasa tidak lagi dihargai dan dihormati sebagai orang tua.
Bagi Rosa adalah wajib hukumnya bagi anak untuk tunduk dan patuh pada semua perintah orang tua. Tidak ada yang boleh menunda perintah apalagi menolaknya.
__ADS_1
"Bu, bukannya aku mau alasan. Tapi .... "
"Ahh sudahlah terserah kamu gimana ngaturnya. Pokoknya yang saya mau tahu sebelum waktu makan siang, makanan itu harus sudah siap di atas meja. Awas kalau sampai enggak ada!" tegas Rosa kemudian berlalu.
Reva menghela nafas panjang seraya menatap kepergian sang ibu mertua. Reva paham jika Rosa memang tidak menyukai dirinya, namun Reva tidak menyangka jika Rosa bakal bertindak sejauh itu terhadapnya.
Ketika tengah memikirkan perlakuan Rosa, tiba-tiba saja Reva mendengar sebuah suara yang bersumber dari arah meja makan.
Reva pun segera bergegas ke ruangan tersebut dan ternyata suara itu timbul karena ponselnya yang berdering.
"Iya Halo Rin, ada apa?" tanya Reva pada seseorang yang dia kenal yang keberadaannya jauh di sana.
"Iya maaf, mendadak ada masalah di rumah. Jadi aku harus handle, karena orang rumah pada nggak sanggup. Kenapa? Ada masalah di kantor?"
Seketika ekspresi Reva terlihat begitu serius bahkan wanita cantik itu sampai menggigit bibir bawahnya karena takut.
"Aku tahu aku memang salah Rin, tapi sungguh aku memang nggak bisa pergi ke kantor hari ini. Maafin aku ya Rin dan aku minta tolong juga sama kamu, tolong handle pekerjaan aku ya. Soalnya ada beberapa berkas yang belum aku selesaikan."
Reva mengangguk pelan kemudian berkata, "Hem iya, i know. Hanya hari ini aja kok, kamu tenang aja. Aku pastiin besok aku akan pergi kerja. Makasih ya Rin atas pengertiannya, kamu memang partner yang paling baik."
"Oh iya aku tutup dulu ya Rin telponnya, aku lagi sibuk banget hari ini. Sekali lagi makasih banyak ya. Bye."
Tak berselang lama mengobrol tentang masalah pekerjaan, Reva segera menutup sambungan telepon tersebut sebab dia ingin segera menyuapi Dara.
Reva bisa bernafas lega kali ini, karena partner kerjanya yang bernama Rina itu bersedia untuk menghandle pekerjaannya sementara waktu. Ya walau hanya satu kali kesempatan tapi itu sudah lebih dari cukup bagi Reva.
__ADS_1
"Sebaiknya aku segera menyuapi Dara agar aku bisa secepatnya masak makanan buat makan siang Mas Devan nanti. Semakin cepat aku selesai masak maka aku jadi bisa mengajak Dara bermain hari ini dan menemaninya istirahat siang."