PELAKOR Lima Langkah

PELAKOR Lima Langkah
Anak Yang Patuh


__ADS_3

Seusai perdebatan alot yang Devan dan Reva lakukan. Pria tersebut kini terlihat sedang bergegas pergi menuju ke sebuah kamar tidur. Kamar tidur yang didominasi oleh warna pink itu pada hari biasanya sering digunakan untuk bermain seorang bayi perempuan cantik berumur sembilan bulan bernama Dara bersama dengan Mbak yang menjaganya.


Namun per hari ini, Mbak yang menjaga Dara sudah tidak lagi bekerja karena permintaan Devan dan Rosa lebih tepatnya.


Devan masuk ke dalam kamar tersebut lalu melangkah mendekati Rosa yang tengah bermain dengan Dara.


"Aduh cantiknya anak Papa," puji Devan menatap kagum Dara yang hari ini memakai dress berwarna merah maroon, lengkap dengan bando di kepala.


"Siapa dulu dong yang dandani Dara, neneknya." balas Rosa tersenyum cerah membanggakan diri.


"Dara sudah mandi tapi Dara belum sarapan lho Van, tadi cuma Ibu buatkan susu aja. Soalnya di dapur Ibu lihat nggak ada makanan buat Dara. Biasanya sih Ibu yang buat buburnya, tapi kamu tahu sendiri kan hari ini Ibu lagi bete sama istri kamu jadi Ibu nggak mood masak."


Sungut Devan kembali meninggi. Darah pria itu kembali mendidih tatkala mendengar aduan dari Rosa jika di dapur tidak ada sedikitpun makanan untuk Dara. Berarti Reva sama sekali tidak menyiapkan makanan untuk anak mereka.


"Keterlaluan sekali Reva, bisa-bisanya Reva nggak buat bubur tim untuk Dara. Memangnya dia pikir Dara ini nggak lapar apa? Dara kan juga butuh makan!"


Senyuman sinis Rosa mengembang ke permukaan saat melihat raut wajah Devan yang sudah seperti kepiting rebus siap makan.


"Nggak usah kaget begitulah kamu itu, Van. Mana pernah sih Reva menyiapkan bubur untuk anak kamu? Yang ada malah Ibu yang sering bikin atau sesekali pinta Mbak Santi buat beli bubur tim di di luar."


"Ibu kok nggak pernah bilang kalau selama ini ternyata Ibu yang sering buat bubur untuk Dara?"


Selama ini Devan pikir setiap pagi Reva sibuk di dapur itu untuk menyiapkan sarapan pagi keluarganya sekalian membuatkan makanan untuk anak mereka, ternyata tidak.

__ADS_1


"Untuk apa Ibu bilang ke kamu, Van? Apa kamu akan percaya sama Ibu?" tanya Rosa menatap sang anak.


"Fuuhhh, maafkan aku ya Bu. Berarti selama ini Ibu juga sudah repot bantu jagain Dara. Ibu benar, Reva memang seharusnya di rumah saja. Karena kalau dia bekerja, pasti ujungnya dia malah merepotkan banyak orang termasuk merepotkan Ibu bukan."


Lagi, sebuah senyuman tipis tersungging dari sudut bibir wanita itu.


"Tidak apa-apa, Devan. Kamu nggak usah minta maaf begitu, Dara itu cucu Ibu jadi sudah sewajarnya Ibu memperlakukan Dara dengan sebaik mungkin. Seharusnya yang minta maaf ke Ibu itu Reva, kan yang bikin sulit selama ini wanita itu!"


Tanpa terduga Devan meraih tangan sang ibu kemudian mengecupnya dengan lembut dan penuh dengan perasaan.


"Terima kasih ya Bu, sudah berkenan memperhatikan Dara. Aku nggak tahu bagaimana nasib Dara kalau nggak ada Ibu. Seharusnya Reva tahu akan hal ini, biar dia nggak kurang ajar sama Ibu."


Rosa memegang lembut bahu Devan kemudian berkata, "Iya Devan, kamu yang sabar ya punya istri yang susah di atur seperti Reva. Oh iya, lalu bagaimana sekarang? Apakah Reva bersedia berhenti bekerja? Ibu harap sih istri kamu itu mau ya, biar dia bisa lebih fokus ngurus anak dan suami. Nggak mikirin duit mulu kerjaannya."


"Nah, itu dia masalah yang aku ingin bahas sama Ibu sekarang juga."


"Maksud kamu?" tanya Rosa mengernyitkan alis tebalnya.


"Begini Bu, ternyata Reva masih keberatan untuk resign bekerja."


Seketika Rosa mendengus kesal. "Ish, sudah Ibu duga. Istri kamu itu memang wanita yang keras kepala. Sulit di atur dan suka semaunya sendiri. Sudah jelas ini semua demi kebaikan bersama, tapi dia tetap batu. Dasar!"


"Tapi Bu, alasan Reva menolak resign sekarang adalah karena waktunya yang nanggung. Reva butuh waktu sebulan lagi katanya, soalnya ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan sebelum dia benar-benar resign. Namun Ibu tenang aja ya, karena sus Santi sudah terlanjur diberhentikan maka untuk hari ini aku minta Reva cuti, Bu. Bisa nggak bisa, aku udah nggak mau tahu."

__ADS_1


Tidak bisa dibayangkan bagaimana bahagianya Rosa hari ini. Apa yang menjadi tujuannya selama ini akhirnya tercapai juga. Wanita paruh baya itu merasa begitu bersyukur telah memiliki anak laki-laki yang begitu patuh dan tunduk dengan semua perkataannya.


Rosa jadi mudah menyetir Devan dan mengutak-atik rumah tangga Devan jika ada yang kurang sesuai dengan keinginannya. Contohnya mengenai Reva yang menyewa suster untuk menjaga Dara.


Dari awal keputusan itu dibuat, sebenarnya Rosa sangat tidak setuju. Rosa berpendapat keputusan tersebut hanya membuat kondisi keuangan anaknya jadi tambah membengkak.


Di sisi lainnya juga, Rosa tidak senang jika Devan terlalu menuruti dan menyenangkan hati istrinya. Menurut Rosa, yang patut diperlakukan seistimewa itu hanyalah dia. Karena dialah yang melahirkan, merawat dan membesarkan Devan. Sementara itu Rosa juga berpikir jika selama ini Reva tinggal menikmati enaknya saja dari Devan.


"Ibu rasa kamu nggak perlu deh kasih waktu sampai sebulan untuk Reva. Kamu kan tahu sendiri jika Mbak Santi sudah tidak lagi bekerja disini, kamu juga tidak bisa mengandalkan Ibu yang sudah tua dan rapuh ini. Seharusnya Reva mengerti hal tersebut, bukannya malah tetap keras kepala."


"Hemm, iya Ibu benar juga. Sekarang sudah tidak ada orang yang membantu lagi di rumah ini. Nggak mungkin semua dikerjakan oleh Ibu. Baiklah Bu, biar nanti aku omongkan lagi masalah ini sama Reva. Kali ini mau nggak mau dia harus patuh padaku, jika dia masih mau menjadi bagian dari keluarga kita."


Rosa tersenyum sangat puas. Dia bahagia karena Devan selalu berada di pihaknya.


"Nah, begitu dong. Kalau diberi nasehat sama Ibu itu nurut. Ibu ini adalah orang tua kamu, nggak mungkin Ibu menjerumuskan kamu dan keluarga kamu ke dalam situasi yang sulit. Justru sebaliknya, Ibu hanya ingin memperbaiki kondisi keluarga kamu yang Ibu lihat sudah tidak sehat lagi. Kalau Reva di rumah kan Ibu bisa mengajari dia bagaimana menjadi Ibu dan istri yang baik dalam keluarga. Kalau dia sibuk terus di luar seperti kemarin mana bisa Ibu melakukannya." jelas Rosa panjang lebar kali tinggi.


Devan yang mendengarkan semua penjelasan Rosa terlihat menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Iya sudah kalau begitu aku mau beli bubur tim dulu ya Bu buat Dara. Habis itu baru aku pergi ke toko."ujar Devan mengakhiri diskusinya bersama Rosa.


"Ehh jangan, Devan. Sudah jam berapa ini? Lebih baik sekarang kamu pergi saja ke toko, biar nanti Ibu suruh Reva saja yang beli buburnya, kan membeli bubur untuk Dara juga bagian tanggung jawab Reva sebagai seorang ibu. Kamu pergi kerja aja sekarang. Semua urusan rumah, serahkan sama Ibu. Biar Ibu yang handle langsung istri kamu di rumah, tugas kamu hanya fokus bekerja saja."


Lagi, Devan akhirnya menuruti sang Ibu. Diapun segera pergi bekerja tanpa memberi bubur untuk anaknya.

__ADS_1


__ADS_2