
Alarm berbunyi membisingkan telinga membuat Winda mau tak mau harus melawan rasa kantuk yang masih menempel.
Diambilnya air wudu lalu menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Usai salat Subuh, ia langsung bergegas mandi untuk bersiap melakukan aktivitasnya sebagai seorang pelajar.
Hanya memakan waktu sepuluh menit, Winda sudah mengenakan seragam putih abu rapi dengan ikat pinggang dan juga dasi. Kini gadis gingsul itu menatap cermin di meja riasnya, lalu mendaratkan bokongnya ke kursi kecil yang tersedia.
Setelah selesai berdandan yang hanya menaburkan bedak bayi di wajah mulusnya, juga mengenakan jilbab putih segiempat. Tak lupa disemprotkan sedikit minyak wangi supaya lebih fresh.
Disampirkan tas punggungnya ke punggung lalu menghampiri nakas. Mengambil IPhone-nya dan dikenakannya kacamata minus yang semalam ia simpan di samping ponsel.
Dilihatnya jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 5.45. Ketika berbalik, matanya melihat novel yang kemarin dibelinya ada di meja belajar. Setelah menimbang-nimbang antara membawanya atau tidak, akhirnya ia memutuskan untuk membawa buku itu ke sekolah.
Bisa buat bacaan ketika bosan melanda, pikirnya.
Sebenarnya sekaligus ingin memastikan apakah orang aneh yang kemarin tak sengaja bertemu dengannya di toko buku itu benar-benar penulis dari buku yang Winda beli. Jadi, keinginannya untuk membawa buku tersebut ke sekolah semakin besar.
Dimasukkannya novel tersebut ke dalam tas lalu bergegas ke dapur.
"Mama." Winda memeluk mamanya dari belakang.
"Wah udah rapi aja, nih. Yuk, sarapan. Btw Nisa ke mana?" Anggita menyiapkan hidangan untuk sarapan, pagi ini ditemani makanan favorit Winda, cumi saus tiram.
"Di kamarnya, Ma. Kayaknya habis demam gara-gara kemarin main hujan-hujanan sama temennya. Ayo, Ma, sarapan, Winda udah nggak sabar makan sama cumi saus tiram kesukaan Winda," ucap Winda sembari menelan salivanya karena tidak sabar ingin segera melahapnya.
Mereka pun sarapan dalam keheningan.
Setelah sarapan, Winda berpamitan untuk pergi ke sekolah.
"Oh iya, ini bekalnya." Anggita menyodorkan plastik berisi dua kotak makan. Yang pertama berisi nasi dan cumi saus tiram, yang kedua berisi roti tawar, susu saset, juga keju. Parutan keju mini juga ada di dalam plastik.
"Winda bawa susu kotak yang ada di kulkas juga, deh. Kan cocok tuh makan roti tawar minumnya susu." Winda pun bergegas mengambil susu kotak, juga air mineral botol dari dalam kulkas.
"Ma, Winda berangkat, ya," ucapnya kemudian mencium punggung tangan Anggita serta mencium pipi kanan dan kirinya.
Mata Winda menatap meja makan sembari berpikir. Anggita mengikuti arah mata anaknya tertuju, sejurus kemudian menatap Winda penuh tanya.
"Ada yang ketinggalan, Win?"
"Winda bawa apelnya satu, deh," ucap Winda seraya menyomot apel.
__ADS_1
"Ya udah, Ma. Winda berangkat. Assalamualaikum," tambahnya sembari meninggalkan mamanya.
"Waalaikumussalam." Anggita mengikuti sampai di teras rumah.
"Hati-hati, Win. Belajar yang bener," teriak Anggita ketika anak sulungnya mulai menjauh dengan sepeda motornya.
Winda hanya mengacungkan jempol kanannya ke atas sebagai jawaban tanpa membalikkan badan.
...***...
Sesampainya di parkiran sekolah, suasana masih sepi. Wajar saja karena masih pukul 6.30, ini masih cukup pagi. Mungkin lima belas menit lagi murid mulai banyak berdatangan.
Winda menyusuri koridor sekolah yang didirikan almarhum kakeknya dengan santai. Setelah sampai di depan kelasnya, ia mengintip dari jendela. Rupanya belum ada orang sama sekali di dalam.
Diletakkannya tas di atas meja, membukanya lalu mengambil novel dan melanjutkan bacaannya yang sempat terhenti tadi malam.
Dibaliknya halaman demi halaman. Baru sampai halaman 50, Winda langsung membuka bagian profil penulis. Dibacanya profil itu sekilas, dan informasi yang didapat hanya tahun lahirnya saja. Sisanya bercerita tentang pengalaman dalam dunia kepenulisan, juga lomba dan buku-buku yang pernah diterbitkan.
Merasa tak puas, Winda kembali melanjutkan bacaannya.
"Beneran naksir lo ya sama tulisan gue?" Tiba-tiba orang aneh yang ia temui kemarin kini berdiri di hadapannya dan parahnya sedang menatap matanya lekat-lekat.
"Nggak mungkin tulisan lo sebagus ini. Nggak cocok sama penampilan lo kemarin yang mirip preman."
Beberapa menit kemudian bel berbunyi, upacara bendera digelar, kemudian disusul pelajaran pertama yaitu pelajaran Fisika. Pak Bagus mulai mengabsen satu per satu murid XII IPA 1.
Didengarnya penuh penghayatan, juga matanya hanya fokus memandang cowok aneh bin ajaib yang duduk di pojok kiri barisan ketiga itu.
"Hendra Dirgantara." Pak Bagus akhirnya menyebut nama itu, nama yang ditunggu-tunggu oleh Winda.
Hendra yang merasa namanya dipanggil langsung mengangkat tangan kanannya.
Winda terkejut, matanya membelalak sempurna. Buru-buru dilihatnya nama penulis yang tertera di novelnya. Sama. Benar-benar hal yang sulit untuk dipercaya.
Hanifah, teman sebangku sekaligus sahabatnya itu mulai menyadari keterkejutan Winda.
"Kenapa sih Win mukanya kok kayak habis lihat hantu gitu?"
"Lo tahu cowok yang duduk dibangku pojok kiri baris ketiga itu?" Winda menunjuk dengan dagunya.
__ADS_1
"Oh, Hendra. Ya tahulah."
"Kok gue kayak nggak pernah lihat gitu, sih?"
"Makanya jangan terlalu fokus sama buku terus. Sesekali perhatiin apa yang ada di sekitar lo."
Winda mencebikkan bibirnya kesal.
"Tapi nggak mungkin dia penulis terkenal, pasti gue cuma mimpi. Coba cubit pipi gue, Han," tutur Winda masih tak percaya.
Hanifah pun mencubit pipi yang tak tembam milik Winda.
"Aww! Sakit tahu! Pelan-pelan dong!" Winda yang tak mampu mengendalikan volume bicaranya berhasil mengundang perhatian seisi kelas. Kini semua murid menatapnya.
"Winda, ada apa?" tanya Pak Bagus―guru Fisika-nya yang terkenal killer itu, sama killer-nya dengan mata pelajaran yang diajarkannya.
"Hehe enggak, Pak. Tadi Hanifah geserin meja nggak pelan-pelan dan tangan saya di sekitar situ. Jadinya kejepit, deh," kekeh Winda dengan kebohongannya.
Mengingat SMA Bakti Muda adalah milik almarhum kakeknya Winda, Pak Bagus pun memilih diam. Kalau saja Winda bukan dari keluarga Hasibuan, mungkin kini Winda sudah disuruh lari keliling lapangan upacara 10 putaran.
"Enak aja lo bawa-bawa gue."
Tatapan Hanifah berubah seperti pedang yang tak sabar ingin menghunusnya.
"Kan emang lo nggak pelan-pelan nyubitnya."
"Kalau nyubitnya pelan, bukan nyubit namanya. Lagian lo nggak bisa banget ngontrol mulut."
"Iya, deh, sorry. Berarti beneran cowok aneh itu penulis terkenal?"
"Gue bilangin orangnya entar kalau lo manggil dia cowok aneh. Biar kena tampol offline." Hanifah menyunggingkan senyum miring.
"Iya-iya, Hendra. Dasar sukanya ngadu."
"Udah jelas-jelas tadi lo denger sendiri Pak Bagus nyebutin nama dia. Masih pake tanya lagi. Ternyata pinter-pinter masih punya celah begonya. Kirain gue, lo bisa segalanya," ejek Hanifah.
Winda hanya diam tak menanggapi. Hanifah melirik novel di laci meja Winda kemudian mengambilnya.
"Oh, gue tahu nih. Pasti gara-gara ini, ya?" tebak Hanifah sembari memperlihatkan novel itu.
__ADS_1
Winda hanya mengangguk, matanya masih fokus mengamati wajah oval Hendra yang terlihat dari samping dengan jarak yang cukup jauh.
Sejak saat itulah Winda tahu kalau berpenampilan urak-urakan tak selalu menggambarkan orang nakal. Tarnyata di balik penampilan Hendra yang semrawut terselip bakat yang luar biasa. Dan itu tidak ada dalam diri Winda.