Pelik Ananta

Pelik Ananta
PDKT (1)


__ADS_3

..."Tak sedikit orang baik hanya untuk menghancurkan. Walau tak semua orang baik berniat demikian."...


Perut mulai berdendang saat otak Winda dipaksa berpikir keras menghadapi soal yang tak bisa ia pecahkan. Tumben sekali dia kesulitan mengerjakan soal Fisika yang biasanya bisa dikerjakan dengan mata terpejam. Memang, lapar membuat sulit berkonsentrasi.


Diliriknya jam tangan yang melingkar cantik di pergelangan tangannya. Masih 10 menit lagi menunggu bel istirahat.


Kalau dipikir-pikir, jarak sarapan saat di rumah tadi sampai tiba waktunya istirahat kurang lebih hanya 210 menit alias tiga setengah jam. Tapi Winda akui dan memang tak bisa memungkiri kalau akan mudah dan cepat lapar kalau otak dikuras habis untuk berpikir.


Winda memukul kepalanya pelan, berharap agar konsentrasinya balik lagi. Kemudian mengerjakan soal yang tersisa dua soal lagi dengan teliti.


Karena asyik memecahkan permainan sulit itu, tak terasa jam pelajaran sudah habis dan suara bel menyelinap ke telinga para murid. Suara yang paling dinanti oleh murid yang merasa jenuh, terutama Winda.


Sebenarnya Winda tidak jenuh. Hanya saja rasa laparnya tak dapat lagi ditahan.


Sadar saat teman-teman di kelasnya kompak membalas salam karena Pak Bagus bersiap meninggalkan kelas, buru-buru ia ikut membalas salam dengan pelan. Lalu diambilnya kotak makan yang tadi pagi ia taruh di laci meja. Tangannya membuka plastik dengan cekatan, kemudian membuka tutup kotak makannya.


Dihirupnya aroma cumi saus tiram yang kini menggoda sampai-sampai tak mendengar permintaan Hanifah untuk menemaninya pergi ke toilet. Bagi Hanifah yang otaknya pas-pasan, berhadapan dengan pelajaran Fisika membuatnya tegang. Saking tegangnya sampai ingin pipis, tapi ditahannya.


Hanifah mengibaskan tangannya di depan wajah Winda, "Win, anterin ke toilet."


Seketika pandangannya ke kotak makan beralih pada gadis yang ada di depannya. Gadis yang tak asing lagi baginya karena duduk sebangku dengan Hanifah sejak kelas 10, bahkan satu kelompok saat MOS dulu.


"Aduh, gue mau makan nih Han. Laper banget. Lo minta anterin Putri aja, ya," tutur Winda sembari menoleh ke samping saat ada gadis yang lewat. Walau namanya bukan Putri karena dia asal sebut dan tak mengetahui nama teman sekelasnya yang satu itu.


Sebenarnya bukan cuma satu orang yang tak diketahui namanya oleh Winda, bisa dikata hampir semua penghuni kelasnya tidak ia hafal namanya kecuali teman sebangkunya, Hanifah.


Winda memang piawai di bidang akademik. Tapi tidak dengan menghafal nama orang. Apalagi nama Korea yang sulit sekali dia ingat, teman sekelasnya saja yang sekelas dengannya hampir tiga tahun ini tidak ia hafal. Boro-boro bisa hafal nama Korea yang ia tahu saat menontonnya saja.


Ya, itulah kelemahan terbesar Winda. Menghafal nama. Walau aneh karena dipertemukan di satu ruangan selama hampir tiga tahun, tapi itulah Winda. Gadis yang kurang peduli dengan sekitarnya.


Winda menutup dirinya sejak kejadian kelas 2 SMP, saat Winda terus-terusan di-bully karena kurang pintar. Sakit hatinya memberikan pelajaran berharga, hingga Winda memiliki tekad untuk memperbaiki dirinya. Dan sejak itulah ia lebih memilih untuk menghabiskan waktunya bersama buku. Sejak itu pula ia semakin tak memiliki teman. Buat apa punya teman kalau akhirnya disakiti, di-bully, dan ditinggalkan? Buat apa punya teman yang dekat-dekat kalau ada maunya saja? Itulah yang membuat semua orang membencinya, yang pintar iri karena peringkatnya tergeser, sedangkan yang berada di peringkat bawah bilang kalau Winda pelit. Bukannya pelit, tapi Winda memang tak suka memberi kemudahan pada mereka. Memberi contekan bukanlah hal baik, akan jadi apa negara ini kalau semuanya ingin serba instan? Itulah prinsip Winda, maka dari itu ia memilih dibenci orang dan memutuskan untuk acuh pada orang di sekitarnya agar mereka berusaha sendiri tanpa mengandalkan orang lain.

__ADS_1


Hanifah langsung menarik lengan tangan temannya tanpa minta jawaban, "Anterin gue ke toilet."


Punggung Hanifah dan temannya yang tadi dipanggil Putri oleh Winda tak lagi terlihat. Winda langsung memulai makannya dan terlihat sangat menikmati makanan favorite-nya itu. Winda akui, masakan Mamanya memang sangat lezat.


Di samping Winda menikmati makanannya, pria jangkung di pojok kiri barisan ketiga tengah memerhatikan Winda makan dengan saksama. Dia tetkagum-kagum melihat Winda makan dengan lahapnya, seperti tidak makan selama seminggu. Dan Winda makan tanpa malu-malu seperti cewek kebanyakan yang lemah gemulai memasukan makanan ke dalam mulut.


"Eh, cewek yang duduk di sana aneh banget ya. Kayak nggak makan seminggu aja," celetuk Hendra pada temannya yang asyik mengunyah permen karet, jari-jarinya menari di atas keyboard ponselnya mengetikkan sesuatu, kemudian mematikannya ketika menyadari Hendra melirik ke ponsel itu.


Ihsan menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada orang selain dirinya di sana karena penghuni lain berada di luar kelas. Mayoritasnya berada di kantin.


Merasa bahwa teman sebangkunya itu mengajaknya bicara, Ihsan pun membalas ucapan Hendra.


"Pusing mungkin dianya habis ngerjain soal Fisika tadi. Jadinya berefek ke perut," jawab Ihsan datar.


"Eh, lo punya nomer ponselnya dia nggak?" tanya Hendra sembari menatap Ihsan penuh harap.


"Lah, dasar ogeb. Di grup kelas kan ada."


"Gue mau nyamperin orang aneh dulu." Hendra menepuk pundak Ihsan setelah menyimpan nomor ponsel Winda kemudian berjalan menghampiri bangku Winda.


"Hai, udah tahu gue siapa? Sekarang percaya kan kalau gue penulis dari buku yang lo beli kemarin? Ngaku aja deh kalau lo memang naksir sama tulisan gue," sapa Hendra kemudian duduk di bangku Hanifah alias di samping Winda.


Winda masih diam membisu dan tetap asyik dengan kegiatan makannya.


Hendra melirik kotak makan yang ada di hadapan Winda, "Oh, lo suka cumi saus tiram. Hmm, gue jamin nggak lama lagi lo bakal naksir sama gue. Nggak hanya tulisan gue, apalagi cumi yang nipu." Hendra menekankan pada kata 'nipu' saat dilihatnya Ihsan melangkah gontai meninggalkan kelas.


Winda mengangkat kepalanya dan beralih menatap pria yang kini juga sedang menatapnya, "Kalau ngomong tuh dipikir dulu. Enak aja lo bilang kalau gue bakal naksir sama lo. Cih, nggak banget, deh. Terus apaan coba bawa-bawa cumi nipu. Ngawur banget kalau ngomong."


"Lah, nggak percaya nih bocah. Oke, pertama gue pastiin lo beneran bakal naksir sama gue. Gue yakin banget. Kedua, gue nggak bohong masalah cumi yang nipu. Coba lo pikir, cumi itu putih tapi di baliknya dia nutupin keburukannya. Dia punya tinta hitam."


Winda menghentikan kunyahannya dan berpikir keras, "Terus apa hubungannya?"

__ADS_1


"Oke, gue jelasin. Tapi dengerin dan jangan menyangkal."


Winda pun membalas dengan anggukan sembari mengatakan oke.


"Entah lo percaya atau enggak. Bodo amatlah. Tapi gue harap lo percaya. Pikirin ini baik-baik." Hendra menggantungkan ucapannya.


"Kalau ngomong jangan setengah-setengah. Nanggung banget, sih. Bikin orang makin penasaran aja."


"Makanya diem, Nyet!" sahut Hendra cepat sembari menoyor kening Winda.


Hendra mengembuskan napas sesaat lalu melanjutkan ucapannya.


"Bakal ada orang yang pura-pura baik sama lo. Kayak cumi-cumi, yang lo tahu cumi itu putih. Tapi di samping itu dia punya tinta hitam. Kayak orang yang bakal deketin lo, entah kapan. Tapi jangan ngira itu gue, karena gue nggak pura-pura baikin lo. Orang itu punya dendam sama lo, bahkan bisa jadi sama keluarga lo juga. Dan dia bakal pura-pura baik di hadapan lo. Jadi, hati-hati kalau ada yang deketin lo. Camkan ini baik-baik."


"Eh, lo kalau ngomong ngaco banget sih," balas Winda yang merasa ucapan Hendra cuma karangan, "Mentang-mentang lo penulis, jadi seenaknya ngarang kehidupan gue. Peramal lo, ya?" tandas Winda.


"Terserah lo mau ngatain gue peramal atau apa. Suka-suka lo aja. Yang penting gue udah nyampaiin apa yang gue tahu. Dan gue saranin, mending lo suka sama gue aja, jangan sama suka sama orang yang bakal ngancurin lo."


Merasa ucapan Hendra semakin ngelantur, Winda pun menghiraukannya dan kembali menyantap makanannya karena 5 menit lagi bel masuk akan berbunyi. Walau tak bisa dimungkiri, sebenarnya Winda sedang memikirkan perkataan Hendra tadi. Tapi dia tetap sulit memahami apa maksud Hendra.


"Eh, itu yang di laci apaan?"


"Roti tawar."


Tanpa ditawari, Hendra mengambil kotak makan yang ada di laci Winda dan melahap roti rawar Winda yang sebenarnya akan dimakan gadis itu saat istirahat kedua.


"Jangan protes, lo harus tanggungjawab. Gara-gara lo, gue nggak ke kantin," ucap Hendra saat melihat Winda membuka mulutnya ingin mengucapkan sesuatu.


Winda hanya geleng-geleng kepala dan memilih diam.


...***...

__ADS_1


__ADS_2