
Bel pulang berbunyi nyaring memekakkan telinga. Cepat-cepat Winda membereskan buku tulis di atas meja dan memasukkannya ke tas jingga miliknya, kemudian membopong buku paket milik pribadinya sebelum akhirnya keluar dari ruangan.
Winda dan Hanifah jalan beriringan menuju gerbang sekolah. Kemudian berpisah saat kakaknya Hanifah sudah tiba di gerbang sekolah. Hanifah memang terbiasa diantar-jemput kakaknya ketimbang naik bus. Dan kebetulan tempat kerja kakaknya tak jauh dari sekolah Hanifah.
Hanifah pamit ke Winda untuk pulang terlebih dahulu, karena tak enak hati meninggalkan temannya kalau tanpa berbicara sepatah kata pun.
Hanifah melambaikan tangan dan Winda membalas lambaian itu.
Dari kejauhan, Hendra menyaksikan adegan dua sejoli itu. Sejurus kemudian melihat Ihsan akan keluar gerbang sekolah dengan motornya. Hendra yang menebak kalau Ihsan akan menawari Winda pulang bersama pun buru-buru menyalakan mesin motornya untuk menghampiri Winda yang terduduk di kursi tunggu halte bus yang tak jauh dari gerbang sekolah.
"Ayo pulang bareng." Hendra menawari Winda yang terkesan memaksa.
"Lo nawarin atau maksa?" Kening Winda berkerut dengan tatapan penuh selidik ketika bertanya.
"Maksa!" Hendra menjawab secepat kilat, tampaknya dia mulai kehilangan kesabaran menghadapi Winda. "Buruan naik. Keburu hujan." tambahnya.
"Hujan gundulmu, orang matahari cerah dan bikin gerah gini bilangnya mau hujan. Memang dasar kalau ngomong suka ngaco! Lo cenayang apa gimana sih?" beo Winda masih tetap duduk manis. Malah sekarang memalingkan wajah. Sorot matanya entah ke mana. Yang pasti dia tidak ingin melihat wajah cowok menyebalkan yang kini ada di depannya itu.
Bukannya menanggapi pertanyaan Winda, Hendra malah membalas dengan pernyataan konyol. "Busnya nggak dateng, nggak usah ditungguin."
"Ngaco!"
Hendra menghela napas. Dia mulai kehabisan cara untuk membuat Winda mau pulang dengannya. "Diajak pulang bareng aja susah banget sih, kayak diajak ngelakuin anu aja."
"Bodo!" Winda masih tetap membalas dengan satu kata saja dan ... ketus. Karena Winda paling tidak suka dipaksa oleh siapa pun.
"Gue baru tahu kalau lo bego. Sejak kapan? Gegar otak lo?"
"Apaan, sih?" Akhirnya Winda membalas sedikit lebih panjang. Walau hanya tambah satu kata.
__ADS_1
Lalu diliriknya Hendra dengan tatapan sinis.
"Lo sinis-sinis sama gue kalau gue ditikung orang, entar nyesel baru tahu rasa lo!"
"Nggak akan gue suka sama lo! Sampe kapan pun ... nggak akan!"
"Heh, jangan gitu. Nanti senjata makan tuan lho. Bilangnya nggak, ternyata diam-diam suka. Bahkan ada yang bilang kan, jangan terlalu benci sama orang, karena boleh jadi jodoh. Karena benci dan cinta tuh kata orang bedanya tipis."
"Nggak akan! Toh yang kamu bilang barusan bukan berdasarkan fakta, cuma kata orang aja kan?"
"Etdah, nih bocah ngajak berantem. Kalau bukan cewek udah gue jotos lo!" Hendra menaikkan volume bicaranya, berharap Ihsan mendengarnya.
"Jotos aja kalau berani!" tantang Winda yang sudah berdiri di depan Hendra sembari berkacak pinggang. Kepalanya mendongak, matanya menatap tajam pria itu.
Hendra sudah sangat lelah menanggapi Winda. Cewek itu benar-benar membuatnya kesal. Tapi berdebat dengannya pasti dia juga yang mengalah, karena menurutnya cewek itu ingin selalu menang. Kalaupun perdebatan dilanjutkan, tak akan ada ujungnya. Buang-buang waktu saja. Padahal niat Hendra baik, ingin mengajaknya pulang. Juga menjaganya dari orang-orang sok baik yang punya niat terselubung.
"Lo jelek kalau lagi ngambek. Naik! Emang lo nggak capek apa nunggu bus yang lo nggak tahu kapan datengnya? Buat apa sih nunggu yang nggak pasti kalau di depan mata lo sendiri udah ada yang pasti dan setia nungguin lo."
Karena sudah terlalu lelah menunggu, Hendra menjentikkan jari di depan wajah Winda.
"Woi! Kelamaan lo mikirnya. Buruan naik!" perintahnya lagi sembari melirik ke arah jok belakang dan memajukan dagunya sebagai kode agar Winda cepat-cepat naik.
Tak lama kemudian, motor sudah melaju dengan kecepatan normal membelah jalanan yang tidak terlalu padat.
Tiba-tiba terdengar suara dari perut Winda yang cukup keras sehingga getarannya dapat dirasakan Hendra tepat di punggungnya.
"Oh, oke. Sekarang gue tahu satu hal, lo bakal rese kalau lagi laper," ujarnya sembari membelokkan motor ke warung makan sederhana.
"Perasaan lo makan lumayan banyak, deh tadi waktu jam istirahat, tapi kok nggak gemuk-gemuk. Mana cepet banget lagi lapernya," ocehnya lagi karena yang diajak bicara tetap mematung di atas motor.
__ADS_1
"Nggak usah khawatir. Gue yang bayarin, hitung-hitung ganti roti tawar, susu, sama apel lo yang tadi gue habisin. Gitu aja takut banget." Hendra membantu melepas helm di kepala Winda, lalu menarik paksa pergelangan tangan gadia itu setelah memarkirkan motor di parkiran yang disediakan warung tersebut.
...***...
Diperhatikannya Hendra yang sedang makan dengan saksama. Tak bisa dimungkiri, Winda akui kalau Hendra itu tampan.
Hendra menghentikan makannya setelah sadar kalau dirinya sedang diperhatikan secara terang-terangan.
"Ngapain lo lihat-lihat gue? Lo mulai naksir sama gue ya?"
"Ih GR." Winda buru-buru memalingkan pandangannya ke gelas yang berisi es jeruk.
Gadis itu mengaduk-aduk es jeruk menggunakan pipet sesekali menyesapnya. Sampai terlintas sebuah ide konyol si pikirannya.
Diangkatnya pipiet kemudian diarahkan ke matanya. Dipejamkan matanya sebelah dan mata satunya lagi mengintip wajah Hendra dari lubang pipet.
"Lo ngapain sih?" tanya Hendra yang memergoki aksi konyol Winda.
"Lo ganteng kalau dilihat dari pipet kayak gini. Kayak lihat bulan dari bumi kelihatannya cantik karena sinarnya yang indah itu menerangi gelapnya bumi saat malam hari, tapi kalau lihatnya dari deket kelihatan bolong-bolong. Ah, sayang sekali," dengkus gadis itu setelah menjauhkan pipet dari depan matanya.
Hendra bingung harus menanggapi seperti apa. Harus berterima kasih dan bersyukurkah karena sudah dipuji ganteng, atau sedih karena disamakan dengan bulan yang bolong-bolong?
"Memangnya lo jelas kalau lihat muka gue dari deket? Kan lo pake kacamata minus."
Winda mengangguk.
"Malah gue harusnya berterima kasih sama penemu kacamata. Karena adanya kacamata, gue jadi bisa lihat lebih jelas kayak mata normal. Gue nggak bayangin gimana jadinya gue kalau nggak ada kacamata."
"Iya juga. Terus muka gue beneran ada bolong-bolongnya kayak lihat bulan dari deket?" Hendra mendekatkan wajahnya ke arah Winda, sangat dekat hingga jarak di antara keduanya tak lebih dari satu jengkal tangan orang dewasa.
__ADS_1
Winda menggeleng. Dan saat itu juga mata mereka bertemu, saling menatap satu sama lain.