
Waktu yang ditunggu Hendra telah tiba, peserta ujian mulai berhamburan keluar ruangan.
Hendra beranjak dari duduknya, melongokkan kepala mencari sosok gadis yang dicarinya yang tak kunjung terlihat. Apalagi Hendra tidak tahu baju apa yang dikenakan gadis itu, sehingga tambah menyulitkannya saja.
Hendra meneriaki nama Winda saat melihat gadis itu terlihat oleh matanya. Buru-buru Hendra menghampirinya.
"Eh, cowok nyebelin. Kok lo ada di sini, sih? Gue tambah yakin deh kalau lo beneran mata-mata."
"Sembarangan banget nuduh orang yang niatnya baik."
"Memangnya lo ngapain lagi di sini kalo bukan ngekorin gue?"
"Jagain lo bego!" Hendra pun menoyor kening Winda. Winda memundur ke belakang beberapa langkah.
"Ayo makan. Pasti lo lagi laper banget, soalnya rese lo sudah stadium empat." Hendra menarik paksa lengan tangan Winda. Untungnya, kali ini Winda tidak menolak ajakannya, apalagi memberontak. Entah karena terlalu lapar sampai tidak ada tenaga untuk memberontak, atau lebih condong ke malu karena mereka sedang berada di tengah kerumunan peserta lain yang berlalu-lalang.
"Mau makan apa?" tanya Hendra setelah menapaki jalanan selama lima menit.
Winda sudah berjalan sendiri bersisian dengan Hendra tanpa diseret.
"Bakso," jawab Winda datar.
"Mau bakso apa? Bakso biasa, bakso super, bakso urat, atau bakso beranak?"
"Bakso beranak."
Ya, Winda memilih untuk makan bakso beranak, porsinya yang banyak sangat cocok untuk perutnya yang tak tahan lagi menahan lapar. Cacing-cacing di perutnya sudah nyanyi minta diisi.
"Daripada bakso yang beranak, mending lo aja yang beranak. Anak dari gue."
Membayangkan beranak, apalagi Hendra mengatakan kalau anak dari dia membuat Winda bergidik ngeri.
Hendra yang melihat ekspresi Winda pun terkekeh, "Jangan bilang kalau lo lagi bayangin beranak. Apalagi bayangin lagi buat anak sama gue."
Winda mencubit pinggang pria menyebalkan di sampingnya. Hendra meringis kesakitan.
"Iya, gue nggak akan bilang. Gue cuma mau bilang kalau itu ada warung bakso." Winda mengangkat telunjuknya, menunjuk tempat yang dia maksud.
"Berarti lo beneran bayangin itu?" teriaknya saat Winda telah berjalan menjauh.
Winda tak menggubris ucapan Hendra sedikit pun. Ucapan Hendra selalu ngelantur, dan Winda hanya menganggapnya sebagai angin lewat.
__ADS_1
"Pak, bakso beranaknya satu." Winda memesan.
"Dua pak," timpal Hendra.
"Dasar, ikut-ikutan."
"Yang satu nggak usah pakai mi kuning, ya, Pak."
"Samain aja, Pak."
Winda mencebikkan bibirnya kesal. Merasa Hendra sengaja ikut-ikutan.
"Oke, bakso beranak dua nggak pakai mi kuning, ya?"
"Ralat, Pak. Saya maunya bukan cuma beranak dua, tapi beranak banyak. Karena anak titipan Allah, nggak bisa kita batasi," komentarnya pada penjual bakso sambil terkekeh.
Winda melotot, tapi sejurus kemudian langsung masuk menempati bangku yang kosong. Hendra pun mengekor dan duduk di samping Winda.
Saat ada cowok yang menghampiri mejanya dan duduk di depan Winda. Hendra berdiri.
"Jangan duduk di sini kalau nggak mau gue hajar. Cari tempat duduk lain," bisiknya ke telinga pria yang terlihat seumuran dengannya dengan pakaian rapi serta tas nangkring di punggungnya. Sepertinya dia juga peserta yang ikut tes kuliah di Jepang.
Pria itu pun beranjak pergi dan Hendra yang duduk di depan Winda sekarang. Ia ingin melihat lahapnya Winda menikmati bakso beranak.
Usai Winda mulai memakan baksonya, barulah Hendra mulai menambahkan saus dan sambal, tanpa kecap seperti yang Winda lakukan. Ia ingin mengetahui apa yang disuka dan tidak disuka oleh gadis di hadapannya itu.
Mereka menyantap makanannya dalam keheningan, tanpa bersuara.
...***...
"Mau nonton?" tanya Hendra saat meninggalkan warung.
"Gue mau ketemu Papa, dia belum makan," ucapnya mempercepat langkahnya.
Hendra berhenti kemudian menepuk keningnya. Ia ingat kalau belum memberitahu cewek itu kalau Papanya sudah kembali ke Yogyakarta.
Hendra berlari menyusul Winda. "Bokap lo udah balik ke Yogya."
"Lo apain Bokap gue?" Winda menginterogasi.
"Enggak gue apa-apain, memang Bokap lo udah balik."
__ADS_1
"Ngaku aja lo. Sebenarnya apa tujuan lo ngikutin gue? Dan saat lo di sini Bikap gue nggak ada," ketus Winda saat sampai di kamar penginapan Papanya dan benar, Papanya tidak ada.
"Kan gue udah bilang kalau gue di sini buat jagain lo."
Winda berniat meninggalkan kamar, tetapi tangannya dicekal Hendra. Hendra mendekatkan tubuhnya hingga jarak wajah mereka hanya beberapa senti, lalu ditatapnya mata gadis itu lekat-lekat.
Winda hanya mematung di tempat sembari susah payah menelan salivanya. Jantungnya berdetak lebih kencang, takut kalau dia diapa-apakan pria menyebalkan itu. Pasalnya tidak ada siapa-siapa di kamar itu selain mereka berdua.
"Dengerin penjelasan gue, Win," tutur Hendra kemudian memundurkan wajahnya, menarik tangan Winda untuk duduk di ranjang tepat di sampingnya.
"Jadi gue ke sini itu ikut kalian, gue tiduran di kursi mobil paling belakang. Itu juga yang nyuruh Bokap lo."
"Lo kenal sama Bokap gue?" Mata Winda mengernyit, rasa penasaran membuatnya seolah sedang menyelidiki tersangka.
Hendra mengangguk.
"Sejak kapan?"
"Kemarin sore."
Mata Winda melotot tak percaya, "Kok bisa? Di mana?"
"Di rumah lo. Waktu lo lagi di kamar, kata Bokap lo lagi siap-siap. Nah gue dateng ke rumah lo. Karena Bokap lo tahu kalau temen lo itu cuma si Hanifah. Jadinya Papa lo penasaran plus agak nggak percaya gitu sama gue kalau gue temen lo."
"Dasar ngaku-ngaku temen gue. Padahal bukan. Emang gue pernah bilang kalau gue mau temenan sama lo?" Winda melirik tajam cowok di sampingnya.
"Enggak."
"Terus?"
"Terus apaan?"
"Terus gimana ceritanya lo bisa ikut? Nggak mungkin Bokap gue percaya gitu aja sama orang baru. Apalagi tampang lo nggak meyakinkan banget. Ngomong aja suka ngaco."
"Buktinya Bokap lo percaya sama omongan ngaco gue." Hendra menaikkan bibirnya sebelah sembari melirik Winda dengan tatapan mengejek.
"Gue nggak pernah ngaco. Gue serius. Lo aja yang nganggep gue ngaco. Tapi terserah deh. Lihat aja entar. Mungkin beberapa tahun lagi lo bakal sadar, tapi gue harap lo sadarnya sekarang. Nggak usah nanti-nanti. Tapi kalau lo beneran nggak percaya sama gue, lo bisa buktiin sendiri omongan gue beneran ngaco apa enggak."
"Caranya?"
"Gue rasa lo bakal sadar kalau hal buruk terjadi sama lo." Hendra pun berdiri. "Ayo nonton. Lo harus tanggungjawab. Stres gue ngadepin lo yang nggak ngerti-ngerti." Hendra menarik paksa tangan Winda.
__ADS_1
Winda memberontak. Tapi cekalan tangan pria itu semakin erat. Mau tidak mau gadis berkacamata itu menuruti kemauan Hendra.
...***...