Pelik Ananta

Pelik Ananta
Masalah (1)


__ADS_3

..."Masalah datang untuk dicari jalan keluarnya, bukan untuk ditangisi. Maka, tegaslah dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah."...


"Win, nggak usah kuliah ke luar negeri, ya. Papa harap kamu maklum keadaan kita," tutur papa Winda ketika mereka sedang berkumpul di ruang keluarga sembari menonton televisi.


Danish sudah pulang dari Jakarta kemarin sore. Dan hari ini muncul kesedihan yang menimpa Winda. Kecewa, tapi tak bisa berbuat apa-apa.


Keinginannya untuk kuliah di Jepang ditentang oleh kedua orang tuanya. Alasan utamanya adalah tak ada biaya. Perusahaan Danish bangkrut dan tutup. Sebulan belakangan ini ia berusaha mengembalikan pemasukan agar kembali normal. Tapi tidak bisa. Dengan berat hati, perusahaan itu pun ditutup.


Sengaja Danish menyembunyikan kepiluan itu dari putri sulungnya. Takut kalau Winda tidak fokus pada ujian akhir di sekolahnya. Sekarang, mereka menentang Winda untuk kuliah ke luar negeri dan menyarankan Winda untuk kuliah di Indonesia saja.


Winda yang tak mau menyerah sebelum bertempur itu tak mau kalah mempertahankan keinginannya. Ia bersikeras untuk tetap mencoba daftar kuliah ke Jepang. Kalau alasannya hanya karena tak ada biaya, ia malah semakin ingin berusaha mendapatkan beasiswa penuh.


"Pa, Winda nggak bisa nyerah gitu aja. Izinkan Winda buat coba ikut tes kuliah di Jepang. Papa nggak perlu khawatir kalau masalahnya ada di bagian keuangan yang kita punya sekarang. Doain Winda supaya bisa dapetin beasiswa penuh, Pa. Winda saat ini cuma butuh dukungan Papa. Jangan bikin Winda down dan nantinya malah Winda jadi benci sama Papa gara-gara Winda nggak pernah diizinin berjuang. Setidaknya kasih izin ke Winda buat perjuangkan cita-cita Winda dulu, Pa. Winda nggak mau jadi orang lemah."


Tanpa terasa air mata sudah berkumpul tak sabar ingin menetes dari sudut mata gadis itu. Danish bergeming, dia tak bisa berkata-kata lagi.


Winda memejamkan matanya sejenak, rasa sakit di hatinya tak kalah sakitnya dengan ditusuk sembilu. Dadanya begitu sesak. Untung saja Winda tak punya sesak napas.


Jika harus memilih antara sakit hati atau sakit gigi. Dengan lantang dan tegas Winda akan lebih memilih sakit gigi daripada sakit hati.


Sakit hati lebih sulit disembuhkan daripada sakit gigi. Sakit hati kalau sudah sembuh pasti akan masih terasa walau kejadian yang sudah berlalu tak sedang diulang. Kecuali mendapat kebahagiaan sebagai penggantinya.


Bagaimana perasaanmu saat mimpimu tak direstui oleh orang tuamu sendiri? Sakit, itu pasti. Itulah yang dirasakan Winda sekarang.

__ADS_1


Mimpi yang ia inginkan sejak lama tiba-tiba dipatahkan begitu saja. Apalagi oleh keluarganya sendiri. Seakan dunia akan kiamat hari ini juga.


Bukannya Winda egois karena tak mengerti kondisi keuangan keluarga, tapi sudah ia katakan tadi, kalau ia akan mencoba beasiswa. Dan sekarang hanya satu papan yang ia harapkan untuk berpijak, kalau papan itu patah, jatuhlah ia ke jurang yang akan menelan nyawanya. Amat mengerikan.


Dibuka matanya perlahan, lalu diliriknya Danish yang masih mematung dengan kepala menunduk sembari menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya Danish tak masalah kalau Winda ingin kuliah di luar negeri dan ada beasiswa penuhnya. Tetapi kenapa harus Jepang? Kenapa harus Jepang yang bisa saja sewaktu-waktu membahayakan nyawanya?


Jujur saja, sebenarnya bukan uang yang menjadi masalah utama yang ada di kepala Danish, tetapi keselamatan Winda-lah yang ia prioritaskan.


Danish menatap putrinya dengan saksama, terlihat sekali kekecewaan gadisnya itu. Sampai-sampai ia luluh dan tak tega jika harus meruntuhkan impian anak sulung kebanggaannya. Tak sanggup rasanya jika ia menjadi ayah yang jahat bagi anak-anaknya. Tapi saat ini, bagaimanapun juga keselamatan buah hatinya tetaplah menjadi nomor satu. Jadi, mungkin ia akan meminta tolong seseorang untuk membantu menggagalkan kelulusan Winda atau apa pun itu.


"Oke, kamu boleh berjuang. Tapi ada syaratnya."


Bibir Winda samar-samar melengkung ke atas, "Syaratnya apa, Pa?" tanyanya dengan mata berbinar sebab ada tanda-tanda bahwa ia akan benar-benar diizinkan berjuang. Walau bersyarat, tapi Winda akan mematuhi syarat itu bagaimanapun juga. Sebab, mimpi ada untuk diwujudkan. Dan mewujudkan tidak dengan terjaga 24 jam, melainkan harus tidur agar mimpi hadir dalam tidurnya. Ah, tidak-tidak. Maksudnya, mimpi ada untuk dikejar. Agar impian bisa terwujud.


"Kalau kamu lulus tes, kamu akan didampingi bodyguard. Kalau kamu nggak lulus, kamu harus kuliah di sekitar Kota ini saja, biar lebih aman."


Winda mengangguk tanpa protes sedikit pun. Diberikan izin untuk berjuang saja ia sudah sangat bersyukur.


...***...


Selepas salat Isya dan makan malam bersama, Winda mengajari Nisa―adiknya yang sudah duduk di bangku kelas 3 SMP.


Titah dari Danish itu dilontarkan saat makan malam beberapa jam lalu. Mau tak mau Winda harus menurutinya, sebab Danish mengancam tidak mengizinkan Winda tes kuliah di Jepang kalau ia tak mengajari Nisa. Katanya lebih baik Winda mengajari Nisa di rumah sampai Nisa piawai ketimbang Winda kuliah di Jepang tetapi Nisa otaknya tak ada kemajuan.

__ADS_1


Jahat memang, tapi keputusan Danish ada benarnya juga. Karena yang ditakuti Nisa di rumah hanyalah Winda.


"Kak, ada telepon, tuh," tutur Nisa saat mendengar ponsel kakaknya berbunyi.


Winda menyumpal telinganya tanpa berniat menanggapi. Karena ia fokus menjelaskan materi matematika kepada adiknya.


Nisa meletakkan kepalanya di meja belajar sembari menutup kepalanya dengan buku tulis, "Kak Win, ponselnya bunyi, tuh. Bikin nggak konsentrasi aja," omelnya.


Winda pun bangkit dari duduknya dan mengambil ponselnya di nakas.


"Ada apa?" tanyanya saat tombol hijau digeser.


"Terbukti nggak ucapan gue?"


"Yang mana? Lo banyak bacot, sih."


"Itu ... yang kata gue lo nggak dibolehin kuliah di Jepang."


Winda yang teringat ucapan Hendra pun mendengus, "Lo mata-mata, ya? Atau lo bener-bener peramal kayak dugaan gue waktu itu?"


"Terserah lo mau bilang gue mata-mata, peramal, dukun, atau apa. Intinya, gue peduli sama lo."


Mata Winda mengernyit. Dia tidak bisa memproses kata-kata Hendra. Dia tidak paham kepedulian yang seperti apa yang coba Hendra tunjukkan padanya. Alhasil, hanya kalimat tanya yang keluar dari bibirnya. "Peduli dari mananya sih?"

__ADS_1


...***...


__ADS_2