Pelik Ananta

Pelik Ananta
Ujian yang Menegangkan (1)


__ADS_3

Hari berganti menjadi minggu dan bulan begitu cepat. Tak terasa tiga hari lagi ujian yang paling menentukan lulus atau tidak lulus segera tiba.


Semua murid kelas tiga SMA Bakti Muda mau tidak mau harus menyiapkan diri dengan belajar. Tak ada lagi waktu untuk main-main dan menghabiskan waktu untuk hal yang tidak berguna.


Besok hari Sabtu, hari di mana murid kelas dua belas harus mengambil kartu ujian supaya bisa mengikuti ujian pada hari Senin. Dan hari ini dibebaskan.


Winda, gadis pintar itu sudah lelah mengulang pelajaran yang dirasa sudah melekat di otaknya sejak lama. Soal-soal ujian sekolah, ujian nasional, sbmptn dan sejenisnya pun sudah dilahap sejaknya sampai ke akar.


Winda yang semula duduk di kursi belajarnya berjalan gontai menghampiri ranjang. Tepatnya duduk di kasur dekat nakas, mengambil ponsel yang sejak tadi ia simpan di atas nakas, lalu menyalakan musik dari daftar lagu favoritnya. Gadis itu lantas merebahkan tubuhnya ke kasur lalu membuang ponselnya di atas kasur dengan asal.


Karena sejak pagi ia berkutat dengan soal-soal, kepalanya mendadak pusing. Dipijatnya pelipis dengan hati-hati. Dan ketika gadis itu berada di titik puncak kenyamanannya ketika memijit pelipisnya sendiri, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


"Nomor baru?" gumamnya pelan nyaris seperti berbicara dalam hati.


Diangkatnya telepon dari nomer baru tersebut, tetapi saat Winda mengucapkan halo, telepon sudah dimatikan sepihak oleh si penelepon.


"Kurang kerjaan banget sih nelpon terus dimatiin sendiri. Salah sambung kali ya?" tanyanya yang entah ditujukan kepada siapa.


Beberapa detik kemudian ponsel berbunyi lagi dan dari nomor yang sama. Digesernya tombol hijau oleh Winda, tapi ia lebih memilih diam karena kesal kalau-kalau dimatikan lagi seperti tadi.


"Woi! Kok diem aja sih. Nggak bisa ngomong lo?" teriak suara dari seberang telepon yang memekakkan telinga.


Dari suara dan cara bicaranya, Winda tahu kalau itu suara cowok menyebalkan di kelasnya, siapa lagi kalau bukan Hendra si cowok yang omongannya selalu ngaco.


"Lo dapet nomer gue dari siapa?" Tanpa basa-basi dan bukannya menjawab pertanyaan Hendra, gadis itu malah balik bertanya saking penasarannya.


"Nggak perlu tahu. Btw, lo udah siap?"


"Siap apaan?"

__ADS_1


"Siap berpisah dari gue. Kan bentar lagi ujian. Terus denger-denger lo mau lanjutin kuliah di luar negeri. Bener nggak tuh info yang gue dapet?"


Winda menaikkan sudut bibirnya sebelah seolah cowok di seberang telepon bisa melihat ekspresi wajahnya.


"Malah gue udah siap pake banget. Pengin deh cepet-cepet pisah dari orang nyebelin kayak lo. Lagian mau gue kuliah di mana pun juga bukan urusan lo."


"Eh, parah lu ya. Orang nyebelin tuh ngangenin lho. Kuliah lo ju―." Belum selesai Hendra berbicara, sambungan telepon sudah dimatikan secara sepihak oleh Winda.


...***...


Hendra menghampiri tubuh ringkih ibunya yang batuk-batuk di kamar. Aminah, Ibu Hendra sakit-sakitan sudah lima tahun belakangan ini. Kata dokter, Aminah terkena diabetes juga darah tinggi. Diabetes kering yang mengakibatkan tubuhnya makin hari makin mengurus.


"Kamu sudah belajar, Ndra?" tanya Aminah sembari mendudukkan tubuhnya yang semula berbaring memunggungi putra semata wayangnya.


Jika di sekolah, Hendra memang biasa dipanggil 'Hen', tetapi kalau di rumah, ia dipanggil 'Ndra' oleh Ibunya. Satu-satunya orang yang ia punya saat ini.


"Sudah, Bu. Ibu sudah makan siang?" tanyanya sembari menatap mata sayu Aminah.


"Belum."


"Hendra ambilin, ya, Bu. Sekalian Hendra suapin, jarang-jarang Hendra punya waktu luang kayak gini." Hendra mencium kening ibunya dengan lembut.


Aminah mengangguk.


Pria jangkung berambut lurus itu pun mengambilkan makanan khusus untuk ibunya tercinta. Nasi merah juga lauk-pauk sederhana.


Disuapinya sang ibu dengan telaten.


"Bu, nanti waktu libur kelulusan sudah tiba, Hendra kerja paruh waktu, ya. Waktu udah kuliah nanti, Hendra juga mau cari kerja sampingan. Boleh, kan, Bu?" tanya Hendra, anak tunggalnya yang menjadi tulang punggung keluarga.

__ADS_1


"Tapi apa nggak ganggu kuliahmu?"


Hendra yang tak mau ibunya banyak pikiran, yang nantinya malah membuat kondisinya semakin memburuk akhirnya memutar otak dan mencari cara agar ibunya tak perlu terlalu khawatir dirinya. Lagipula, Hendra bukan anak kecil lagi yang akan menangis jika tak dibelikan mobil-mobilan.


"Enggak kok, Bu. Kan sampingan. Sebisa mungkin Hendra bagi waktu antara kuliah sama kerja," jelasnya.


"Ya udah, terserah kamu aja. Asal menurutmu itu baik. Ibu merestui."


Hendra mengangguk, ia senang sekali mendapat restu yang ibu yang begitu dia cintai. Kontan, pria itu menarik ibunya ke dalam pelukan.


Sebenarnya royalti yang didapat dari menulis sudah cukup untuk menghidupi sehari-hari. Ditambah lagi bukan hanya satu buku saja yang berhasil ia terbitkan, tapi Hendra ingin menabung untuk jaga-jaga jika suatu saat kepepet membutuhkan uang dalam jumlah besar.


Dulu, Aminah pernah bekerja sebagai editor dan penerjemah di suatu penerbit, tetapi sejak kondisinya semakin melemah, puncaknya saat Hendra duduk di kelas 3 SMP, ia tak lagi dibolehkan bekerja oleh Hendra. Apalagi sejak kelas 6 SD, Hendra sudah menyukai dunia menulis sejak kelas 6 SD yang pastinya ditularkan oleh sang ibu. Dan berhasil menelurkan karya pertamanya saat kelas 1 SMP. Saat itu juga, bukunya cukup laris dan menjadi best seller, dan sejak itulah Hendra semakin semangat menulis. Aminah pun sangat mendukung kreativitas putra semata wayangnya itu dengan sepenuh hati.


...***...


Pagi ini mentari menyapa dengan pancaran sinarnya yang cerah dan cukup menyengat. Nampaknya matahari sedang bahagia hari ini.


Murid SMA Bakti Muda berbaris di depan ruangan ujian masing-masing sebelum ujian dilaksanakan.


Pengawas mulai membacakan peraturan ujian setelah peserta ujian duduk dengan rapi tanpa mengeluarkan suara. Tas dan alat tulis yang tidak digunakan sudah diletakkan di barisan depan tepat di bawah papan tulis.


Matematika dan bahasa Indonesia, itulah mata pelajaran yang diujikan hari ini. Suasana sangat hening. Suara detik jam serasa horor. Suara membalik kertas yang biasanya tak begitu kentara kini terdengar sangat jelas, membuat jantung Winda memompa lebih cepat. Saat-saat yang menegangkan kerap kali membuatnya gelisah.


Winda mengamati sekitarnya. Semuanya sedang sibuk dalam diam. Maksudnya, mereka sibuk tanpa mengeluarkan suara dari mulut. Ada yang sibuk meruncingi pensil, menghapus jawaban, dan membolak-balik kertas ujian. Bahkan ada juga yang sibuk noleh sana-sini, berusaha mendapat contekan.


Suara heels pengawas wanita yang berkeliling membuat otak siapa pun yang sedang ujian tak berkonsentrasi. Winda yang duduk di barisan ketiga tampak membenarkan kacamatanya, dia berusaha keras memfokuskan pikirannya, lalu memaksakan diri untuk kembali menyantap soal-soal yang tersaji di hadapannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2