Pembalasan Gadis Tertindas

Pembalasan Gadis Tertindas
Episode 1 : Lily of the valley


__ADS_3

Lily of the valley


Lily, nama yang sangat indah, diambil dari bunga kecil putih yang melambangkan kesetiaan dan kesucian, mendiang ayah dan ibunya memberikan nama Lily Alley diambil dari makna keindahan dan kesucian bunga Lily Of the Valley.


Tetapi semuanya sirna, seperti cat hitam yang memenuhi kertas putih, derita Lily sang gadis cantik itu begitu memilukan sampai merongga di dada.


Kecelakaan yang mengakibatkan ayah dan ibunya tewas seketika, umur Lily masih lima tahun kala itu.


Karena Lily masih sangat kecil, dia harus diasuh oleh keluarga ayahnya, akan tetapi sudah beberapa kali saudari dari ayah atau ibunya menyatakan keberatan karena tak mau menghabiskan uang untuk anak malang itu.


Bagaimanapun kerasnya kehidupan membuat semuanya memiliki hati sekeras batu, sampai akhirnya Bibi Lily bernama Mia dimana dia adalah adik dari ayah Lily mau dengan tidak enak hati mengasuh Lily.


Tetapi tentu saja, hidup di rumah seseorang yang bukan ayah dan ibu merupakan sebuah penderitaan yang ditutupi dengan nama keluarga.


Begitupula dengan Lily, penderitaannya hidup satu atap dengan Bibinya, sepupunya dan pamannya membuatnya sesak dan merasakan derita setiap harinya.


Penderitaan yang sudah ia alami semenjak ia berusia 5 tahun hingga sekarang 19 tahun.


“Srak!”


Sebuah tangan yang memiliki kuku panjang yang dicat warna warni menarik rambut panjang nan bergelombang milik Lily, dia sampai tersungkur ke dinding ruangan.


“Besok adalah hari ulangtahun Arin, jangan berani keluar dari kamarmu sedikitpun atau kalau tidak aku akan menyiksamu! Mengerti?” suaranya terdengar biasa ditelinga Lily, penuh ancaman, geraman, ekspresi wajah mengerikan dan mata yang mengejek.


Lily melihat dengan tatapan nanar, dengan rasa sakit di kepalanya karena terkena kuku panjang bibinya, Lily mengangguk dan tertunduk.


“Bagus, kau harus tahu tempat dan tahu diri, kau hanya penumpang disini, paham!” tidak habis-habisnya Mia mengatakan ucapan penghinaan ini, selama 14 tahun dia mendengar kata-kata yang memanaskan hati dan telinganya.


Tetapi Lily tetap diam saja, dia bukan siapa-siapa dan dia tidak memiliki siapapun, jadi dia hanya bisa menurut dan menunduk hormat dan tak melawan bagaikan budak.


Lily diam saja membuat satu tamparan dari tangan yang seolah tak bersalah menampar wajah putih mulus Lily.

__ADS_1


“Plak!”


“Kenapa diam saja? Jawab aku!” teriak Mia setelah menampar sedang melotot dengan tajam dan nafasnya terdengar menggeram.


Saat menerima tamparan itu, Lily menitikkan air matanya, “Ba … baik Bibi, aku akan berada di kamar selama ulang tahun Arin,”


Dengan terisak sembari mengusap pipinya, Lily menunduk dan masih tak mau melawan Mia.


“Heh, seharusnya begitu sejak awal, dasar pembangkang tidak tahu terimakasih …” Mia sembari berlalu hingga suaranya semakin pelan menjauh akan tetapi masih bisa di dengar oleh Lily.


“Sudah syukur aku berikan tumpangan dan membiarkanmu kuliah, saudara ayahmu dan ibumu yang lain tidak ada satupun yang mau, membuat repot saja sialan ….”


Suaranya semakin senyap dan pelan menandakan jarak antara Mia dan Lily sudah semakin menjauh.


Lily menatap lurus, dia memasuki kamarnya yang dingin, dengan perabotan seadanya, dia berlari kearah kaca di kamarnya dan melihat pantulan dirinya.


Untuk kali yang sama, dia melihat dirinya yang menyedihkan lagi.


Sebenarnya Lily sudah beberapa kali melarikan diri, akan tetapi Mia yang sebenarnya memanfaatkan warisan dari ayah dan ibu Lily selalu mencari Lily dengan cara menarik simpatik publik, jadi walaupun Lily disiksa sebenarnya Mia dan keluarganya membutuhkan Lily untuk warisan yang akan turun saat Lily memasuki usia dewasa yaitu 21 tahun.


“Tring!”


Sebuah pesan masuk ke ponsel jadul milik Lily, mata Lily segera melebar saat menyadari pesan itu, dia segera mengusap air matanya dan berlari kearah ranjang, dia melompat antusias dan senyuman langsung mekar diwajahnya.


Tentu saja dia tahu siapa yang mengirimnya pesan, ialah Jimmy, kekasih rahasia Lily.


Jimmy lah seorang yang selama ini mendengar cerita pedih dan pilu Lily, Jimmy adalah seseorang yang ia kenal saat ia masih SMA, dan mereka mulai berpacaran saat masuk kuliah, Lily dilarang memiliki kekasih apalagi teman, jadi Lily merahasiakan hubungannya ini.


Rona merah di pipi Lily segera menghiasi, dia membaca pesan Jimmy yang singkat namun bermakna baginya.


“Selamat malam Lily, mimpi indah dan jangan lupa berikan aku pesan saat kau bangun esok hari,”

__ADS_1


Itulah pesan yang diberikan oleh Jimmy.


Karena saat ini memang malam dan sudah pukul 10, Jimmy mengira jika Lily sudah tidur, mengingat bagaimana bibinya Lily sangat jahat pada Lily.


Lily langsung menengkurap kan badannya, menempelkan wajahnya di kasur dan melupakan kesedihan pilunya barusan.


Jimmy benar-benar seperti malaikat bagi Lily, menerangi disaat Lily begitu hancur dan tak tahu harus menyalurkan keresahannya.


Akhirnya malam itu, Lily tertidur pulas dengan air mata yang mengering di pipi.


Keesokan harinya, jam empat pagi pintu kamarnya sudah digedor oleh Mia.


“Dor … Dor … Dor!”


Ketukan pintu yang teramat keras dan kasar membangunkan Lily yang masih terlelap, Lily yang menyadari pintu kamarnya digedor segera bangkit dan beranjak, dia membuka pintu dan lagi-lagi teriakan dan hinaan langsung ia dengar.


“Kenapa kau baru bangun? Ha? Apa kau tidak tahu jam berapa ini?”


“Cepat bantu Bibi mempersiapkan hidangan untuk ulangtahun Arin, jangan kira kau bisa tenang dan hidup tanpa bekerja di rumahku!”


Mia berteriak melenggak mengerikan seperti biasa.


Lily menunduk, dia ingin melawan dia juga ingin mempertahankan dirinya akan tetapi lagi dan lagi dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena yang ia tahu dia tidak memiliki apapun.


Dan jika Lily melawan dan melarikan diri sekali lagi, maka dia takut ancaman bibinya yang mengatakan akan mencelakainya akan terjadi.


Ya, Mia memang mengancam Lily, jika Lily mencoba kabur sekali lagi maka Mia akan mencelakai Lily dan tak akan ada yang tahu, karena tidak ada yang akan menyadari jika Lily hilang, bagaimanapun Lily sebatang kara jadi itu sangat masuk akal.


“Ma … maaf Bi,” Lily menunduk lagi dan tak melawan, mengikuti bibinya menuju dapur untuk mempersiapkan banyak hidangan makanan untuk ulangtahun Arin.


Sepupu Lily yang usianya satu tahun lebih tua, dimana tahun ini Arin akan berusia 20 tahun.

__ADS_1


__ADS_2