
Please, give me a chance.
.
.
.
Dua jam setelahnya, para tamu undangan yang memang isinya teman-teman Arin mendatangi kediaman Arin untuk merayakan ulangtahun Arin.
Arin dan Mia bersikap begitu lembut, berbeda sekali dengan sikapnya kepada Lily.
“Selamat ulangtahun Arin,”
“Semoga kamu semakin cantik dan cita-citamu menjadi aktris segera terwujud ya,”
Berbagai ucapan selamat dan kebahagiaan memenuhi malam Arin, tidak lupa Jimmy yang tadi siang melakukan adegan panas dengannya juga hadir dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
Acara berjalan dengan lancar, dan saat semua tamu sudah pulang, Martin suami Mia yang melakukan perjalanan bisnis dengan CEO perusahaannya akhirnya sampai di kediaman Martin.
Dimana Martin telah melakukan banyak hal demi agar CEO nya mau ke rumahnya, bahkan menjadi anjing dan suruhan di perusahaan, dia tidak peduli asalkan CEO perusahaannya mau ke kediamannya dan memperkenalkan putrinya kepadanya.
Agar putrinya yang sudah berusia 20 tahun itu bisa dijadikan menjadi aktris besar.
Melihat Martin dan seorang lelaki berusia sekitar 30 tahunan dengan perawakan yang tinggi, dada bidang dan wajah yang begitu tampan dan tegas memasuki kediaman Arin.
Lelaki yang masih termasuk muda jika menyandang sebagai gelar CEO, matanya berwarna biru, hidungnya mancung dan tegas, wajahnya maskulin dan tinggi badannya pasti melebihi 185 cm, tatapannya begitu tajam dan kehadirannya sangat mendominasi, bahkan ayah Arin kelihatan tak berkutik di sampingnya.
Mata Arin dan Mia masih membelalak saat melihat jika CEO yang hanya mereka lihat di televisi atau majalah ada di hadapan mereka.
“Si … silahkan duduk Tuan Levi,” Mia dengan sangat hati-hati dan sopan langsung mencari muka dan mempersilahkan CEO itu duduk.
__ADS_1
Ya, siapa yang tidak tahu nama Levi Thomson, seorang CEO paling tampan dan rupawan, mencetak banyak aktris dan aktor ternama, bukan hanya itu agency super model dan bahkan penyanyi TOP, bahkan perusahaannya merupakan perusahaan bidang entertainment paling unggul saat ini.
Levi juga dikenal digandrungi banyak wanita kelas atas, penyanyi Top, super model bahkan aktris paling terkenal dan tercantik bertekuk lutut di hadapannya.
Begitulah dunia mengenal Levi Thomson.
“Saya mau datang kesini sebagai imbalan kepada Martin karena telah melakukan banyak hal kepadaku, katanya dia memiliki seorang putri yang sangat ingin menjadi aktris, dan ternyata itu kau ….” Levi berbicara kepada Arin yang sangat gugup dan menunduk sejak tadi.
“Ya … Ya Tuan? Be … benar saya ingin menjadi aktris,” seru Arin gugup dan tak tahu harus menjawab dan melakukan apa.
“Operasi hidung, lipatan mata, dagu kurang simetris dan tubuh kurang ramping, hal itu harus diperbaiki, kau masih sangat jauh dari standar ingin menjadi aktris, tapi karena ayahmu sudah berkorban banyak hal, aku akan memberikanmu kesempatan, asistenku akan menjelaskannya esok hari kepadamu, datanglah pagi hari ke kantor,”
“Aku sudah hadir sesuai dengan permintaanmu, jangan lupa bereskan apa yang kuperintahkan!” seru Levi langsung beranjak, kurang dari dua demit masuk kedalam rumah bawahannya itu.
Pastilah apa yang dilakukan Martin sangat berbahaya sampai sampai levi mau mengunjungi rumah bawahannya, padahal levi dikenal sangat tidak ramah dan tak suka berinteraksi dengan orang lain.
Disisi yang lain, Lily mendengar semuanya, walau dia kesakitan dan lemah namun dendam dan kemarahannya karena disiksa dan bahkan ingin dijual membuatnya ingin membalaskan dendam.
Hal pertama yang harus ia lakukan adalah merebut mimpi Arin menjadi aktris, dan akan melakukan apapun demi mendapatkan perlindungan lelaki yang sepertinya bisa melindunginya dari bibinya.
Lily berlari sekuat tenaga, sebelum Levi pergi, Lily berlari dari jalan pintas dan menunggunya di seberang jalan depan rumah.
Mobil yang dibawakan supir pribadi itu akhirnya melaju, tetapi masih pelan karena baru keluar dari pagar rumah.
Lily yang sedang mempertaruhkan segalanya menunggu mobil itu, “Jika aku ditabrak dan mati, berarti sudah takdirku, tetapi jika tidak, aku akan memohon dan rela menjadi budak agar dia membantuku!” gumam Lily berlari kedepan mobil dan merentangkan tangannya.
Dia memejamkan matanya dan menghadang mobil itu dengan tubuh mungilnya.
“Astaga!” supir yang membawa mobil itu menghentikan mobil secara tiba-tiba, membuat Levi geram saat tubuhnya sedikit terdorong kedepan.
“Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah bosan hidup?” teriak Levi pada supirnya yang masih terkejut saat melihat di depan mobil ada seorang wanita mengenakan terusan baju tidur one piece merentangkan tangannya.
__ADS_1
“I … itu Tuan, ada orang di depan,” jawab supir itu gugup dan takut langsung dipecat malam itu juga.
“Siapa yang berani menghentikan mobilku!” geram Levi segera melihat kedepan.
Lalu ….
Terlihatlah seorang gadis bertubuh ramping ideal, tinggi badan sekitar 165 cm, rambut hitam panjang bergelombang, wajah yang begitu cantik dan anggun, mata, hidung, bibir bentuk wajah semuanya terlihat seperti mahakarya.
Mata Levi tidak pernah salah, dia langsung tahu mana yang laku dipasaran dan diminati dan mana yang tidak.
Tangannya yang tadi masih memegang rokok yang menyala segera memadamkannya.
Matanya mengikuti wanita muda itu berlari ke sisi mobil dengan semangat.
Lily memang menyadari jika dia tidak ditabrak segera berlari mencoba meminta tolong setidaknya meminta waktu 1 menit, untuk mendengarkan permintaannya.
“Tok … Tok … Tok!”
Tangan lemahnya mengetuk dengan pelan pintu kaca mobil itu, Lily takut merusak kacanya jadi dia mengetuknya dengan sangat pelan.
Tetapi bukannya membuka kaca mobil, pintu mobil lah yang langsung terbuka membuat Lily terkejut dan mundur sedikit, tangannya ia kepal kedepan, dia takut tetapi dia sudah bertekad tak mau menderita seumur hidup dan membuat Bibinya, Arin dan Jimmy menyesal.
“Masuklah …” suara yang dalam dan berat, mata yang tajam dan senyuman yang mengerikan, seolah jika Lily masuk kedalam mobil itu maka dia tak akan bisa kembali.
Seperti masuk ke sarang monster dan tak akan kembali keluar hidup-hidup.
.
.
.
__ADS_1