Pembalasan Gadis Tertindas

Pembalasan Gadis Tertindas
Episode 2 : Pain and suffer.


__ADS_3

Pain and suffer.


.


.


Waktu cepat sekali berlalu, tangan Lily begitu lihai mengaduk adonan, sembari menggoreng, sembari memeriksa pemanggangan, semua ia lakukan dalam satu waktu.


Dia memang telah terbiasa melakukan pekerjaan pembantu di rumah bibinya, jadi segala pekerjaan bisa dia lakukan dengan sangat cepat.


Saat ia memulai memasak hari masih gelap dan dingin, dimana Mia hanya menyuruh ini dan itu sembari sesekali memeriksa masakan, sekarang hari sudah terang dan matahari sudah sedikit membuat gerah.


Masakan yang akan dihidangkan kepada tamu telah rampung semuanya, Lily menata dengan sangat baik lalu menutupinya dengan rapih.


Dia menyeka keringat di dahinya dan segera dengan lihai membereskan rumah Bibinya, mempersiapkan dekorasi rumah sesuai dengan tema yang dinginkan oleh Arin.


“Hoam!”


Terdengar suara seorang gadis memakai pakaian tidur sembari meregangkan tubuhnya melangkah ke dapur.


“Wangi sekali, Ibu ayo makan …” suara itu adalah suara Arin.


Anak yang sangat dimanja dan disayang.


Kehidupan Arin yang sekarang adalah kehidupan impian bagi Lily, melihat arin sangat diperhatikan, diberikan kasih sayang berlimpah dan bisa tidur dengan nyaman tanpa takut dimarahi, semuanya seperti mimpi bagi Lily.


“Umm, anak gadis Ibu sudah bangun, sini kita makan bersama, kamu pasti sudah lapar,” Mia mengusap rambut putrinya tepat dihadapan Lily yang masih memegang sapu hendak membersihkan ruang tamu rumah.


Arin menyadari hal itu, dia langsung menggeram dan mencengkeram tangan nya.


Saat matahari memasuki jendela dan mengenai wajah Lily yang bahkan belum mandi, rambut dicepol biasa kelihatan terlalu cantik dan menawan.

__ADS_1


Kecantikan Lily selalu membuat Arin iri dan kesal, dia ingin merebut kecantikan Lily namun dia tak bisa, apapun yang ia lakukan seolah kecantikan Lily tak tersentuh siapapun yang ia kenal, bahkan dirinya sendiri.


“Apa yang kau lihat hah? Cepat lakukan pekerjaanmu, berani sekali kau melihat ke arah ku!” Arin berteriak kearah Lily yang sebenarnya kesal melihat betapa cantiknya Lily.


Lily yang hanya iri karena kasih sayang dan kehidupan yang dimilki Arin segera terperanjat dan mengedipkan matanya berulang kali, dia segera menunduk dan pergi ke ruang tamu melakukan segala yang diperlukan.


“Abaikan saja dia, ayo kita makan bersama, tidak ada gunanya berbicara dengan gadis bodoh sepertinya!” suara Mia sengaja ia katakan dengan kuat agar terdengar oleh Lily yang sedang bekerja keras membersihkan ruangan tamu dan menghiasinya sendiri.


Lily hanya bisa mengeraskan hatinya lagi, menggenggam sapu dengan sangat kuat dan mencoba sekuat tenaganya untuk tidak menangis.


“Apakah Ayah jadi pulang malam ini?” tanya Arin pada Ibunya dimana ibunya sekarang sudah menyiapkan sarapan yang tersedia di meja ke piring putrinya.


“Tentu saja, ini kan hari ulangtahun mu, juga kau harus berdandan malam ini, kau harus kelihatan sangat cantik, karena ayahmu bilang dia akan berusaha membawa CEO perusahaan nya, jika kau berhasil merebut perhatian CEO itu, kata ayahmu kau bisa mendapatkan rekomendasi untuk menjadi aktris,”


Sembari senyam senyum dan bersemangat, Mia mengatakan hal itu para Arin, Mia bisa melihat wajah bersemangat Arin dan pipi merahnya.


“Benarkah Bu? Aku harus segera bersiap kalau begitu, oh ya, Ibu sudah memastikan jika Lily tak akan terlihat di hari ulangtahun ku kan? Jangan sampai perhatian jadi tertuju kepadanya!” ketus Arin langsung teringat kepada Lily.


Pembicaraan Arin dan Mia tentu saja tetap terdengar oleh Lily, akan tetapi Lily tidak terlalu perduli.


Bagaimanapun Martin, suami dari Mia memang bekerja di sebuah agensi terbesar dimana perusahaan itu menaungi aktris dan aktor paling bergengsi dan kaya, jadi tidak aneh memang jika pamannya memiliki koneksi untuk menjadikan Arin menjadi aktris.


Dimana cita-cita Arin memang ingin menjadi aktris.


Beberapa saat kemudian ….


“Ah, akhirnya selesai juga,” Lily bahagia sekali, dia telah usai membersihkan dan mendekorasi ruangan, dia belum mandi sama sekali akan tetapi perutnya sudah keroncongan.


Dia berlari dengan menjinjit bak pencuri, dia mencoba berlari agar tidak kedengaran, dia mengintip dari balik tembok dan memeriksa apakah Arin dan Mia masih ada disana.


“Syukurlah …” Lily segera mengusap dadanya, dia berlari dengan sangat cepat dan mengambil beberapa roti untuk ia makan, dia tidak ingin makanan yang sudah ia masak, karena akan membutuhkan waktu yang banyak untuk memakannya.

__ADS_1


Dia memilih membawa roti dan berlari kembali ke ruangannya yang ada di lantai paling atas bekas gudang di rumah itu.


Dia makan dengan lahap seperti seseorang yang tidak makan beberapa hari, lalu setelah itu minum dengan terburu-buru juga.


Kamar yang ia tempati memang tidak disediakan pendingin ruangan, hanya kipas angin usang yang kadang tidak berfungsi, untung saja kali ini kipas itu berputar sebagaimana mestinya.


Lily menyalakan kipas, menyibak gorden hingga angin memasuki ruangan, dia ingin menyegarkan dirinya dan lalu setelah itu membersihkan diri.


Di atas ranjang dia melihat ponsel jadulnya, dia melangkah sejenak dan mengambil ponsel itu dan kemudian duduk ke posisi semula, dia membuka pesan ponsel dan masih kosong, padahal dia jelas-jelas sudah membalas pesan Jimmy tadi pagi.


“Huh … mungkin dia sedang sibuk,” keluh Lily membiarkan dirinya tersentuh angin sembari memejamkan matanya.


Setelah beberapa saat merasa jika tubuhnya sudah mendingin dan tidak gerah lagi, Lily segera mandi dan menyegarkan dirinya dengan air, setelah itu dia akan berada di kamar sampai esok hari sesuai dengan perintah Bibinya.


Perkuliahan Lily memang sedang libur semester jadi tidak ada yang bisa dilakukan oleh Lily kecuali bekerja menjadi pembantu di kediaman Bibinya.


“Brak … Brak … Brak!”


Ketukan yang begitu keras terdengar lagi oleh Lily, Lily terkejut padahal baru saja matanya akan terpejam, “Kau di dalam kan? Nanti jam 2 sian turunlah ke bawah dan terima pesanan dari kurir, mereka akan mengirimkan beberapa pernak-pernik untuk ulangtahun Arin, setelah itu susun dan rapihkan lagi di ruang tamu!” Mia memberikan perintah.


Mia memiliki sesuatu hal untuk dilakukan di luar, dia harus segera pergi dan sepertinya akan kembali sesaat setelah ulangtahun Arin dimulai.


“Ba … Baik Bi,” Lily menyahuti bibinya yang sebenarnya sudah langsung beranjak pergi setelah memberikan perintah.


“Hahh!” Lily menghela nafasnya dan duduk lagi di kasur sampai akhirnya membaringkan tubuhnya.


Kehidupannya bagaikan cinderella di dunia nyata, begitu menyedihkan, untung saja ada Jimmy yang selalu mendengarkan keluh kesal Lily.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2