Pembalasan Gadis Tertindas

Pembalasan Gadis Tertindas
Episode 3 : You betray me


__ADS_3

You betray me.


.


.


Sesuai dengan perintah Bibinya, sekitar jam 2 siang Lily langsung keluar dari kamarnya, hendak menuruni anak tangga, akan tetapi dia mendengar suara yang aneh dari kamar Arin.


“Uh …”


“Ah …”


“Kau memang hebat!”


Suara-suara aneh yang begitu nyaring memenuhi rumah, karena Lily berada di ruangan terjauh membuat suara-suara ini tidak terdengar tadi.


“Arin sedang apa?” gumam Lily entah kenapa rasa penasaran menggerogotinya hingga berani melangkahkan kakinya menuju ruangan Arin yang berada dekat dengan anak tangga.


Semakin Lily mendekat semakin nyaring suara itu bahkan kadang Arin berteriak membuat Lily terperanjat.


Perlahan-lahan Lily mengintip dari pintu kamar yang terbuka sedikit, sepertinya lupa di tutup oleh orang yang ada di dalam.


“Lily tak akan mau melakukan ini denganku, wanita itu sangat kolot, untung saja ada kau …” suara yang berat dan wajah yang kelihatan memperlihatkan ekspresi aneh sekarang ada di atas tubuh Arin, sepupu Lily.


Mata Lily langsung membelalak, seperti mimpi buruk yang tidak akan pernah terjadi sekarang terpampang nyata di hadapannya.


Bagaimana tidak, Jimmy yang selama ini menjadi tempat terakhir bagi Lily untuk bersandar sedang bersenggama dengan sepupu nya sendiri.


Jimmy adalah terang bagi Lily selama ini, dalam kehidupan pilu dan pedihnya, hanya Jimmy yang selalu mendengarnya dan mau memberikan bahunya sebagai tempat bersandar.


“Tentu saja aku mau, siapa yang bisa menolak lelaki paling populer sepertimu!” suara sedikit melenguh Arin kelihatan bahagia sekali berada dibawah Jimmy.


“Brak!”


Tidak tahan dengan apa yang ia lihat dan dengar, Lily membuka pintu itu lebar-lebar.


“A … Apa yang kalian lakukan?” air mata sudah membasahi pipi Lily, tangannya sudah dingin dan tubuhnya bergetar hebat.


Harapannya telah dihancurkan sampai menjadi hitam, hatinya tak bisa lagi disembuhkan, seolah remuk seperti dihantam tiada hentinya.


“LILY!”


Suara Arin sangat nyaring, tangannya dengan cepat menutupi tubuhnya dengan selimut sedangkan Jimmy, lelaki paling populer di kampus itu menoleh kearah pintu.


“Li … Lily …”

__ADS_1


Keduanya memanggil namanya namun dengan nada dan tekanan yang berbeda, Arin terdengar marah sedangkan Jimmy terdengar gugup.


Jimmy langsung menutupi tubuhnya dengan kain yang ada di atas kasur, sedangkan Arin memakai baju onepice nya dengan cepat, dia melangkah lebih cepat dari Jimmy menuju Lily.


“Plak!”


“Plak!”


Arin dengan kemarahan murka yang begitu besar kelihatan wajahnya memerah karena menggeram, dia melayangkan tamparan di kedua pipi Lily dengan sangat kuat.


“APA YANG KAU LAKUKAN DI KAMARKU? MEMANGNYA SIAPA KAU BERANI MENGINJAKKAN KAKI DI KAMARKU HA?” teriakan yang menggema.


Seolah tak peduli dia baru saja ketahuan melakukan hal itu, juga seolah tak peduli jika kekasih Lily telah ia tiduri.


Arin memang mengetahui hubungan Lily dan Jimmy, akan tetapi ia rahasiakan demi menuruti keinginan Jimmy, dimana Jimmy beralasan hanya main-main saja dengan Lily.


Buliran air mata memenuhi pipi Lily, dan tubuhnya gemetaran, bukan karena sakit tamparan Arin, akan tetapi dia tidak bisa menjelaskan betapa hatinya begitu remuk dan masih belum percaya apa yang baru saja ia lihat.


Tanpa menjawab pertanyaan Arin, Lily menoleh kearah Jimmy, dengan pipi yang sudah merah karena tamparan dan mata yang berkaca-kaca dimana air matanya tak berhenti mengalir, Lily dengan gemetaran bertanya kepada kekasihnya yang ia anggap sebagai harapan ini.


“Jimmy, apa yang kau lakukan?” serunya dengan begitu lemah dan menyedihkan.


“Glek!”


Jimmy menelan salivanya, dia mengangkat dagunya dan dengan wajah tak tahu malu malah berbalik marah kepada Lily.


“Heh, kau merasa sekarang jika yang salah hanya aku saja? Kau yang salah Lily, hanya karena kau sangat cantik lah makanya aku tak mau memutuskan mu, mengerti!”


Dengan sombong dan angkuh, Jimmy menyakiti hati Lily sebegitu dalamnya.


“Jadi semuanya hanya kebohongan, kata kau mencintaiku dan akan menyelematkan aku semuanya bohong, heh, bodohnya aku mempercayaimu!” mata yang begitu dalam dengan tubuh yang kehilangan kekuatannya karena kehilangan harapan.


“HEH! Kau kira kau sehebat itu ya Lily? Kau itu hanya memiliki wajah cantik hanya itu saja! Kau harus sadar diri dan tahu tempat, tidak tahu malu ….” Belum selesai Arin memberikan hinaan sembari mendorong-dorong bahu Lily.


Lily untuk pertama kalinya mendorong Arin sampai terjatuh.


Karena sakit hati dan amarahnya dia berteriak dan mendorong Arin.


“Aaaahhhh!” teriaknya kemudian berlari ke kamarnya, mengunci pintu dan berteriak sekencang mungkin.


Arin tentu mengejarnya akan tetapi Lily mengunci pintu sehingga Arin tak bisa melakukan apapun.


“Semuanya hanya kebohongan, aku bodoh, mempercayai manusia jahat seperti mereka!”


“Aku hanya dimanfaatkan, bajingan!”

__ADS_1


Hatinya seperti di remas, dia kembali merasakan sendiri tanpa memiliki apapun, benar kata Arin dan Bibinya dia harus tahu tempat.


“Ayah … Ibu … kenapa kalian meninggalkan aku sendirian seperti ini? Aku sudah tak bisa lagi melanjutkan kehidupan ini, semuanya begitu jahat kepadaku,” Lily menangis terisak sembari duduk di pinggiran ranjang.


Dia sudah tidak tahu jam berapa sekarang, yang ia tahu hari sudah berwarna jingga yang menandakan sudah sore.


Lily bahkan tidak menerima pesanan dari kurir, tidak mendekor ruangan seperti yang bibinya katakan.


Sampai beberapa menit setelah itu, saat mata kosong Lily melihat keluar jendelanya, suara pintu yang sepertinya dibuka paksa terdengar oleh Lily, tapi tak ia pedulikan.


Ya, Mia telah kembali pulang, dia melihat jika ruangan tidak didekorasi dan barang-barang hanya tergeletak dilantai begitu saja, apalagi saat ia kembali Arin mengadu sambil menangis jika Lily telah mendorongnya dengan kasar dan membully dirinya.


Kemarahan Mia telah berada di ubun-ubun, mengingat jika Mia tak pernah menganggap Lily sebagai manusia membuat Mia benar-benar akan menghajar Lily sekarang.


Di tangannya dia sudah membawa tongkat sisa bangunan di belakang rumah, lalu saat ia berhasil membuka pintu kamar Lily dengan kunci cadangan, dengan kemarahan yang mengerikan Mia segera melayangkan pukulan tongkat ke tubuh Lily yang malang.


“Bak! Buk!”


Pukulan tongkat itu mengenai punggung dan lengan Lily, sampai Lily yang tadi duduk dan kehilangan harapan hidupnya itu tersungkur dan tak bisa membela dirinya, dia samar-samar melihat jika berteriak, tapi tubuhnya sudah terlalu lemas dan rasa sakit akibat tongkat yang mengenai tubuhnya membuat semuanya menjadi gelap.


Lily pingsan saat menerima pukulan hebat, bahkan saat ia pingsan pun Mia masih memukul Lily sampai tongkat kaku sebesar kepalan orang dewasa patah saking kuatnya pukulan itu, dan sisa-sisa serat kayu yang mengenai lengan Lily membuat Lily berdarah.


“Dasar anak tidak tahu diuntung, harusnya kau ikut mati saja bersama ayah dan ibumu, tidak tahu terimakasih, masih berani mendorong putriku, sialan kau!”


Mia masih berteriak, Arin yang melihat jika Lily telah terkulai lemas, pucat dan berdarah malah tersenyum bahagia, dia merasa bahagia sekali saat melihat Lily menderita.


“Ibu, kenapa kita tidak merusak wajahnya saja? Biar dia jera,” keluh Arin yang sudah mengenakan gaun indah bersandar pada ibunya.


“Jangan, kita masih membutuhkan wajah cantiknya, jika harta ayah dan ibunya sudah jatuh ke tangan kita, kita bisa menjualnya menjadi wanita malam, dengan wajahnya yang terlalu cantik itu pasti dia laku dengan harga yang fantastis!” seru Mia pada Arin.


Dimana Arin mengangguk dan merasa masuk akal dengan ucapan ibunya.


“Benar juga Bu, yasudah para tamu sebentar lagi akan datang, ayo kita turun saja tinggalkan dia,” sungut Arin manja kepada ibunya.


Lalu keduanya segera pergi meninggalkan Lily yang tak berdaya di kamarnya.


Lily yang sebenarnya setengah sadar mendengar semua ucapan Mia, bibinya.


Dia mencengkeram tangannya, seluruh hidupnya seolah dipermainkan oleh Bibinya dan sepupunya itu.


“Menjual ku? Merebut harta ayah dan ibuku? Dasar biadab! Monster! Aku akan membalas kalian! Lihat saja!” geram Lily masih tidak memiliki tenaga untuk bergerak.


Apalagi rasa pedih di lukanya masih menyengat.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2