
Arman duduk berhadapan dengan Ibu Gandari di ruang VIP di salah satu Restoran miliknya.
"Kenapa kamu sulit di hubungi?" ucap Ibu Gandari
"Kapan kamu berubah Arman? Mama sudah tak muda lagi, Mama berharap kamu segera menikah dan tidak terus-menerus main dengan ja lang dan asistenmu itu!?" lanjut Ibu Gandari
"Ma. aku belum mau menikah, dan aku tidak pernah berfikir akan menikah apalagi berumah tangga!"
"Umur kamu sudah kepala tiga Nak, sudah cukup matang untuk menikah dan memilik anak untuk jadi penerus perusahaan kelak nanti dan merawat kamu disaat kamu sudah tua!?"
Arman hanya terdiam mendengarkan ucapan ibu Gandari. selama ini Arman tidak pernah berfikir untuk menikah apalagi mempunyai anak, dan setiap Arman bermain dengan ja lang ataupun asistennya, Arman selalu main aman. Arman tidak ingin menebar benihnya di sembarang tempat.
"Malam ini pulanglah kerumah Mama. adikmu malam ini akan sampai di Indonesia!"
Ibu Gandari beranjak dari kursi duduknya dan pergi meninggalkan putra sulungnya itu lalu diantar supir pulang ke kediamannya.
Sedangkan Arman hanya terdiam duduk termenung dan memikirkan ucapan sang Mama.
.
.
.
Toko Roti 'Genah Rasa'
Ariana mencuci tangan lalu melepaskan apron yang dari tadi pagi melekat ditubuhnya, ia keluar dari dapur menuju etalase toko.
Hari ini seperti kemarin banyak pengunjung yang datang ke tokonya dan pesanan roti hari ini cukup banyak. salah satunya Perusahaan Bagaswirya yang menjadi pelanggan tetap dari awal toko roti Genah Rasa di buka.
"Terimakasih. silakan datang kembali!" ucap Ariana kepada pembeli yang dilayani oleh Dea
Ariana mendekati meja kasir yang dijaga Silvi.
"Sil gimana penjualan hari ini?"
"Seperti kemarin banyak pembeli, tapi mereka banyak yang beli brownis keju mozarella dan macaron. di etalase tinggal sedikit, di dapur masih ada stok lagi 'kan?"
"Di dapur cuma ada beberapa aja. kita habisin yang di etalase sama di dapur dulu, besok hari minggu toko tutup. ohya Sil jangan lupa buku keuangan kasih ke gue ya"
"Siap Bu boss"
.
.
.
16:00
Sore
Dering suara telepone masuk terdengar dari handphone milik Ariana.
"Ar Henpon punya elu bunyi" teriak Silvi sambil mengetuk pintu toilet
"Iya bentar lagi gue kelar nih"
"Lu ngapain Ar? lama banget di toilet"
__ADS_1
"Gue lagi tidur ege"
"Buseeeet dah cepet keluar gih. noh Henpon lu bunyi terus dari tadi, siapa tau penting"
"Iya bawel. minggir dah lu jangan depan pintu, gangguin gue lagi konsentrasi aja"
"Jangan lupa di siram"
"Lama-lama mulut elu yang gue siram. bawel ih"
Ariana keluar dari dalam toilet, lalu mengambil handphone miliknya di meja kasir.
Deg
Hati Ariana berdegub sangat kencang. ia tahu betul nomor yang menghubunginya itu meskipun tanpa nama pemanggil yang tertera di layar Handphone nya, Ariana menggeser Ikon bewarna hijau lalu menjawab telepone masuk tersebut.
๐
"Ha--halo" Ucap Ariana
"Halo Riana apa kabar" jawab orang di sebrang sana
"Baik. kamu apa kabar?"
"Kabarku juga baik, besok kamu sibuk gak?"
"Enggak sibuk"
"Besok kita ketemu ya. aku jemput di rumah"
"kamu sudah balik ke Indo?!"
"Hati-hati ya"
"Iya Ri. sampai jumpa besok"
"Iya"
Sambungan telepone selesai. Ariana meletakan kembali handphone nya di atas meja kasir, dan duduk di kursi dekat meja tersebut.
"Mbak Ar kenapa ya? habis terima telepone kok langsung pucet gitu mukanya!?" ucap Dea pada Silvi.
"Mana gue tahu De" jawab Silvi "Nih kasih dulu sama Mbak Ar"lanjut Silvi dan memberikan satu gelas air putih pada Dea
Dea mengulurkan tangan yang membawa satu gelas air putih.
"Diminum dulu mbak biar tenang"
"Terimakasih De"
Ariana meminum satu gelas air putih hingga tandas. ia merasa jantungnya masih berdegub kencang setelah menjawab telepone dari orang yang selama ini masih membawa separuh hatinya.
Semenjak kepergianmu, kamu tidak pernah menghubungiku untuk memberi kabar. dan hari ini kamu menghubungiku dan mengajak bertemu. aku masih sama dengan perasaanku yang dulu, aku mencintaimu dan merindukanmu. Aku belum bisa melupakanmu, rasa sakit yang kamu berikan masih terpatri dalam hati dan fikiranku, begitupun dengan rasa cintaku untukmu.
.
.
.
__ADS_1
FLASHBACK
"Hai Kak udah lama nungguin ya? aku tadi masih foto-foto dulu sama Ayah Ibu" ucap gadis berkebaya merah yang satu jam lalu baru selesai mengikuti acara wisuda sekolahnya.
"Iya enggak apa-apa. aku baru dateng" jawab seorang laki-laki yang di panggil dengan sebutan 'Kakak'
"Kok tumben ngajak ketemuan. katanya sibuk gak bisa datang ke wisuda sekolahku" gerutu gadis itu
"Riana. Kakak minta maaf" ucap laki- laki itu
"Aku maafin kak Bima kok, karena gak bisa datang ke acara wisuda sekolahku. tapi aku senang kakak ngajakin ketemuan disini"
"Aku tidak minta maaf untuk itu Ar" ucap laki laki yang bernama Bima tersebut
"Terus. mintak maaf untuk apa kak?" ucap gadis bernama Riana itu, lebih tepatnya Ariana Zito
"Aku minta maaf Ar. aku harus jujur sama kamu, selama ini sebenarnya aku diajak taruhan sama Vino. Ak--"
"Taruhan apa kak!?" ucap Ariana memotong pembicaraan Bima
"Taruhan tentang kamu. Vino akan kasih mobilnya buat aku, kalau aku bisa membuat kamu jatuh cinta dan pacaran sama aku"
"Jad--jadi selama ini kamu dekatin aku dan ngajakin aku pacaran karena taruhan kamu sama Vino?!"
"Maaf"
"Kamu tega Kak. kamu tega permainin perasaanku, kamu jahat. aku gak nyangka selama ini kamu deketin aku karena kamu jadiin aku BAHAN TARUHAN!"
"Tapi aku tidak terima mobil dari Vino, walaupun aku menang dalam taruhan itu! aku sungguh cinta dan sayang sama kamu Riana" ucap Bima sambil memegang kedua tangan Ariana "Maafin aku" ucap Bima lagi seraya mengahupus air mata Ariana yang mengalir dari kedua matanya.
"Aku ingin hubungan ini berakhir kak. aku gak mau menjalin hubungan yang diawali dengan kebohongan apalagi taruhan"
"Baiklah Ri aku terima keputusanmu. sekali lagi aku minta maaf, dan Sore ini aku harus berangkat ke New York untuk melanjutkan pendidikanku disana, dan bisa 'kan kita menjadi teman?"
"Iya kita bisa jadi teman"
Ariana mengulurkan tangan kanannya
"Untuk apa?" ucap Bima sambil menerima uluran tangan Ariana
"Kita kenalan lagi Kak"
"Oke" ucap Bima "Hai kenalin aku Bima" ucap Bima lagi sambil tersenyum
"Aku Ariana" jawab Ariana lalu tertawa bersama Bima.
Ariana memutuskan untuk mengakhiri hubungan nya dengan Bima. laki-laki yang pernah jadi kakak kelas nya sewaktu sekolah SMA.
Bima laki-laki yang menjadi cinta pertama seorang gadis bernama Ariana Zito. Bima juga laki-laki pertama yang membuat hatinya sakit, karena Bima menjadikan dirinya sebagai 'Bahan Taruhan' dengan sahabatnya- Vino.
FLASHBACK SELESAI
.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1