Penantian Selama Ini

Penantian Selama Ini
Bab 21


__ADS_3

Pak Jon, kamu sudah datang?" Lita tersenyum dan mengabaikan Andi yang ada di hadapannya.


"Nona Lita, tuan Ozan sudah menunggu anda di dalam mobil. Mari kita pulang karena hari sudah gelap, dan terlalu dingin untuk bicara dengan orang lain sendirian disini." pak Jon menyindir Andi sebagai orang lain disaat itu.


"Baiklah, aku juga tak ingin bersamanya."Lita pergi menjauh dan meninggalkan Andi disana sendirian.


"Permisi?!" ucap pak Jon ke Andi dengan sopan.


"Bugh!


Brem...


Mobil itu pun pergi meninggalkan dan tidak memperdulikan Andi disana. Andi sangat marah sampai wajahnya memerah, dan ia membanting pintu mobil saat menutupnya.


"Bugh! Sialan kau Lita, gadis murahan dan sok jual mahal pada ku!" Andi pun masuk kembali dalam mobilnya, dan pergi menyalakan mesin lalu menancapkan gas dengan kecepatan di jalan raya.


"Lita maafkan mas yang melupakan mu, hingga kau harus menunggu disana." Ozan menggenggam tangan Lita.


Lita tersenyum menandakan bahwa tak mempermasalahkan hal itu, Lita pun mengerti dan gadis itu tak berkata apa pun. Pak Jon pun masih terus melajukan mobil itu sampai ke rumah, Ozan masuk dan mengajak Lita untuk duduk sebentar di ruang tamunya. Pria itu ingin berbicara pada Lita, dan akan sangat sulit untuk mengatakannya dan juga Ozan masih sedikit merasa khawatir untuk meninggalkan Lita.


"Lita, aku akan mengadakan perjalanan bisnis untuk selama 2 Minggu. Dan aku sangat khawatir bila meninggalkan kamu sendirian, sebab banyak sekali orang yang akan mengincar kelinci ku." Ozan kembali bercanda.


"Jangan menganggap ku anak kecil mas, aku sudah dewasa dan bisa menjaga diri. Sebenarnya aku sudah sejak lama ingin pergi dari sini dan tak ingin terus menumpang hidup dengan mu, Tapi... kali ini aku belum bisa untuk mandiri, dan masih mengumpulkan uang. Jadi mohon tunggulah sebentar, Lita akan berusaha dan berharap tak menyusahkan mas Ozan lagi." Lita menatap Ozan dengan pandangan penuh arti.

__ADS_1


Ozan pun terdiam, ia baru menyadari bahwa selama ini mungkin sikapnya sudah keterlaluan mengekangnya. Dan Ozan sekarang akan merubah sikapnya, Marisa juga pernah berkata pada Ozan akan sikap rasa sayangnya yang membuat dirinya tersiksa. Kali ini Ozan akan berubah tak menganggap Lita itu anak kecil dan selalu dilindungi terlalu berlebihan.


"Baiklah Lita, apa pun yang kamu lakukan aku tak akan menyulitkan mu. Aku sudah mengatakan kepada keluarga Willson selama aku tak ada di Jakarta, kau akan tinggal bersama mereka." Ozan menjelaskan bahwa ia sangat mengkhawatirkan dirinya.


"Mas Ozan, aku bukan tak mengerti kalian menyamakan aku dengan Marisa. Dan aku sedikit tidak nyaman akan hal itu, tapi..." Lita berhenti dan terdiam.


"Berarti kau sudah mengetahuinya?!" Ozan memasang wajah sedikit terkejut.


Lita hanya tersenyum dan menundukkan kepalanya, setelah itu ia pergi beranjak dari kursinya dan naik ke lantai dua masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu kamar tersebut. Ozan menjadi merasa bersalah terhadap Lita, yang mengekang ia menjadi Marisa, padahal ia memiliki kehidupannya sendiri saat ini.


Lita pun tak keluar kamar lagi sampai keesokan paginya ketika akan berangkat bekerja, ia baru keluar dan sarapan di meja makannya. Lita hanya diam saja tanpa menyapa Ozan mereka ada di meja makan yang sama. Dari tadi malam Lita sudah menyiapkan barangnya ke dalam koper miliknya, dan besok ia berencana akan pergi mencari tempat tinggal sendiri.


Lita sudah meninggalkan beberapa surat di kamar Ozan yang ia pakai setiap hari. Dan mungkin ia tak akan kembali lagi ke rumah itu sebagai Marisa. Lita pun berangkat ke sekolah untuk mengajar, ia juga sudah berkata pada temannya untuk dapat tinggal bersamanya di kosan miliknya. Masalah pembayaran mereka akan bagi dua bersama, dan Lita hanya tinggal disana sebulan saja, karena bulan depan Lita sudah akan pergi belajar mengambil S2 nya di Inggris.


Lita berharap dirinya tak dianggap Marisa lagi dengan yang lain bila bertemu dengannya ketika ada yang kenal dengan Marisa sebelumnya.


****


"Assalamualaikum," Andi pulang sangat larut malam.


"Mas, kamu sudah pulang? kenapa larut sekali hari ini mas? apa begitu banyak sekali pekerjaan di kantor? kan bisa di bawa pulang ke rumah mas, nanti aku akan bantu menyelesaikannya." ujar Rania sembari membantu Andi membuka jas miliknya.


"Kenapa sih banyak sekali pertanyaannya, ya wajarlah kalau aku pulang lama karena memang banyak pekerjaan. Mas juga gak mau merepotkan kamu yang sudah lelah seharian mengurus rumah kita dan anak-anak." Andi kembali mengeluarkan kata-kata romantis dan perhatiannya.

__ADS_1


"Oh, begitu. Mau aku buatkan teh atau kopi malam ini? atau Rania pijatkan deh badannya." Rania jadi melumer saat sedikit saja di rayu oleh Andi.


"Masih ampuh juga rayuan ku sama dia, untung dia tak terlalu posesif." Andi bersyukur.


Ting...!


Suara ponsel Andi berbunyi yang menandakan pesan masuk ke ponselnya.


"Siapa mas? kok kamu serius amat bacanya?" Rania ternyata memperhatikan suaminya saat sedang meletakkan teh hangat untuk suaminya.


"Oh, ini pak Windra. Besok ngajak makan siang sambil ada yang ingin ia bicarakan katanya." Andi terkejut dan sedikit gugup.


"Jadi kenapa kamu panik begitu mas? ya kalau emang begitu pergilah, sekalian mas bisa mengakrabkan diri dengan rekan bisnis yang lainnya kan? itu sangat baik untuk perusahaan kita." Rania menjelaskan.


"Baiklah sayang, Ting!" pesan dikirimkan ke Mita sekretaris pribadinya di kantor.


Rania tak mengetahuinya bahwa Andi suaminya sedang berbalas pesan dengan sekretaris kantor mereka. Dan sudah beberapa kali jalan bersama, Mita juga selalu meminta beberapa barang untuk dibelikan oleh Andi suaminya Rania. Dan itu selalu memakai uang perusahaan, dan semua orang belum ada yang mengetahui hubungan mereka.


Mita dan Andi juga malam ini pergi bersama ke cafe dan menghabiskan waktu bersama, namun ia berbohong kalau dirinya mengatakan lembur kepada istrinya. Setelah selesai makan dan nongkrong berdua, Andi mengantarkannya pulang kerumah dan tak lupa memberi kiss selamat malam pada Mita.


Awalnya Andi hanya iseng dan jenuh, lama kelamaan akhirnya ia kecantol dengan Mita yang pandai menyenangi pasangannya. Tadinya mereka hanya teman tapi mesra, tap sekarang malah menjadi demen jadi mesra. Rania sebagai istri, malam itu ingin memberikan malam yang indah ke Andi suaminya.


Andi menolak dengan alasan ia capek sekali dan tak ingin melakukannya, dan saat ini ingin istirahat agar besok kembali bugar karena ada rapat pagi-pagi sekali. Dan Rania akhirnya pun mengerti, wanita itu pun berhenti mengganggu Andi yang sudah masuk kedalam selimut dan bersiap ingin tidur.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2