Penantian Selama Ini

Penantian Selama Ini
Bab 25


__ADS_3

Setelah selesai dari sana, Ozan buru-buru mengemas kopernya dan langsung berangkat ke Inggris untuk bertemu langsung dengan Lita dan mengungkapkan isi hatinya. Dan Ozan ingin menjelaskan semuanya agar tidak keterusan salah paham dengan Lita.


Sekarang sudah berada di bandara dan terbang langsung menuju Inggris dan mencari Lita di kampusnya. Ozan sudah tidak sabaran ingin mengatakan semuanya, dan Lita dapat memahami apa yang membuat Ozan tidak mengatakan dan menceritakan tentang Marisa padanya.


Lita tak tahu bahwa Ozan pergi menyusulnya ke Inggris, pria itu tak ingin membuat Lita berfikir dirinya akan di kekang lagi atau di atur lagi oleh Ozan. Sementara Lita dan Seno sudah mulai akrab dan sering keluar bareng hanya sekedar menghabiskan waktu luang ketika tidak sedang bekerja. Kehidupan disana sangat menguras pikiran dan tenaga, jadi perlu bagi Lita dan Seno untuk menjernihkan pikiran dan mengistirahatkan tubuh mereka dari segalanya. Seno sudah lebih dulu di Inggris sehingga ia lebih banyak tahu tentang Inggris dan Lita juga banyak kenal teman-teman Seno yang berasal dari Inggris itu sendiri.


Lita semakin terhanyut dengan pertemanan Seno, dan sekali lagi Seno mencoba untuk menarik hati wanita itu agar mau menerimanya. Tetapi Seno kali ini ingin memikatnya dengan secara alami dan tak mau terburu-buru dalam mengungkapkan. Seno juga sudah tahu kalau Lita dan Andi tak bersama karena Andi sudah berkhianat padanya.


Malam sudah semakin larut Seno pun mengantar Lita pulang ke kosannya, setelah itu ia juga pulang ke penginapannya dan tak mampir lagi. Lita masuk ke dalam kosannya dan segera membersihkan diri lalu pergi naik ke kasur dan menutup matanya. Lita sudah sangat mengantuk sekali dan tak dapat menahannya kali ini.


"Argh...! tolong...?!" Ia berteriak dan di sana sangat gelap serta lembab.


"Tolong aku...! Argh!" Lita terbangun, ia bermimpi aneh dan melirik jam dinding yang ada di kamarnya.


"Astaga, hari ini ada ulangan dan aku tidak boleh sampai terlambat. Guru itu terkenal sangat killer, bisa mati nilai ku nanti di buatnya, apa lagi aku yang sekolah disini mengandalkan nilai yang bagus dan bea siswa agar bisa mencapai cita-cita ku." ujar Lita yang sembari tergesa-gesa melakukan apa pun pagi itu.


Lita menaiki bis yang biasa melewati kampusnya, dan ia harus berdesakan dengan yang lain dan sampai tak dapat tempat duduk di dalam. Tetapi Lita tak mengkhawatirkannya ia lebih khawatir disaat dirinya terlambat dan dosen killer itu membuat nilainya anjlok bulan ini. Semua akan sia-sia perjuangannya saat sudah sampai di titik ini dan harus mengulang kembali dari awal lagi, Lita tak mau melakukannya.


*****


Ozan sudah sampai disana dan mengunjungi kampus dimana Lita menimba ilmunya. Ia menunggu di luar saja dan tak mau masuk ke dalam, Ozan menunggu sampai kelas bubar dan nantinya akan langsung menghampiri Lita. Ternyata bukan cuma Ozan saja yang ada disana, Andi juga sudah sampai dan langsung masuk ke gerbang saat Lita hendak keluar bersama Seno karena ada janji mau belajar bareng di kantin depan. Sebab Lita ada yang belum di mengerti ya saat ini.

__ADS_1


"Lita?! Aku datang menemui mu saat ini. Mari kita pergi berbicara berdua saja. Ada yang ingin aku jelaskan pada mu."Andi dengan kasar menarik tangan Lita sampai gadis itu hampir terjatuh karena menolak pergi bersamanya.


"Maaf Andi, jangan terlalu kasar dengan wanita, kau bisa berkata lembut dan mengajaknya. Mungkin dengan berbicara perlahan ia akan mau ikut dengan mu untuk membicarakan hal itu." Seno mencoba memberi pengertian sambil memegang tangan Andi untuk melepaskan tangan Lita.


"Oh, kau bukannya anak dari keluarga Hartono itu?! Seno Harnoto yang melamar Lita dan di tolak mentah-mentah. Dan kini mencoba menarik simpati dan hati Lita agar kau dapat mendekatinya ya!" Andi menghardik Seno di depan Lita.


"Terserah dengan apa yang kau katakan, tapi jangan menariknya tanpa menghargainya." Seno berdiri menghalangi Lita dan menghadang Andi saat itu.


"Kau jangan mencoba mengajari ku bagaimana cara bersikap kepada Lita, sampai saat ini Lita masih menunggu ku bahkan ia tak menerima lamaran dari keluarga mu dan datang ke Jakarta sebab ia masih mencintai ku." dengan pedenya Andi mengatakannya di depan semua orang yang berlalu lalang keluar dari gerbang kampus tersebut.


Lita menjadi malu saat Andi mengatakan hal itu semuanya di kampusnya, akhirnya Lita pun berjalan ke arah depan Seno dan menghampiri Andi di sana.


Plak!


Plak!


"Aku harap tamparan ini cukup untuk jawaban ke kamu, apa aku masih mencintai mu atau tidak." Lita pun pergi lari entah kemana.


Ozan melihat semua itu, Lita tak menyadari bahwa disana ada Ozan yang memperhatikan. Sementara Andi pergi begitu saja sambil membuang saliva nya sambil menatap ke mata Seno di sana.


"Cuih! Dasar tak tahu malu!" ujar Andi menyindir Seno lalu pergi begitu saja.

__ADS_1


Seno hanya menatap Andi yang pergi dan matanya sembari mencari gadis itu tapi tak nampak dimana pun. Ozan dengan cepat mengejar lita dengan mobil yang disewanya, begitu sampai Ozan langsung mencari penyewaan mobil.


"Hiks! Hiks! Kenapa harus begini jadinya?!" Lita kesal duduk di sebuah taman sambil menangis.


"Bugh! Bugh!" Lita memukul-mukul buku yang sedang berada diatas pangkuannya.


Kepalanya tertunduk, rambutnya menutupi wajahnya saat itu. Ozan turun dari mobil berjalan menghampiri Lita yang tengah duduk di taman itu, Ozan membelai rambut gadis itu dan mengangkat kepalanya. Lita terkejut seseorang yang menghampirinya adalah Ozan dan ia baru menyadari akan hal itu.


"Mas Ozan?!" Lita memeluk pria itu dan menangis dalam pelukannya.


Ozan pun mengerti dan ia hanya diam saja sampai Lita merasa tenang saat itu. Tak beberapa lama memeluk Ozan, Lita melepaskan pelukannya dan seketika hatinya menjadi lega saat ini. Ozan sama sekali tak menanyakan apa pun kepada Lita dan gadis itu juga belum mau mengatakan apa pun ke Ozan.


"Kapan mas sampai disini? dan tak memberi tahu ke Lita dulu mas?" ucap Lita sembari menatap dan menunggu jawaban dari Ozan.


"Oh, mas ada urusan pekerjaan tadinya di sini, jadi sekalian mas ingin menemui mu. Apakah kau sudah makan? mas dari tadi belum sempat makan siang jadi sangat lapar sekali. Temani mas makan yuk, please?" ucap Ozan sambil menyatukan tangannya dan memohon.


Kriuk, Kriuk...!


Lita jadi tersenyum melihat tingkah Ozan di depannya, saat menyatukan tangannya perutnya langsung berbunyi dan ikut memohon juga. Lita pun berdiri dan menarik tangan Ozan mengajaknya makan bersama di sekitar tempat itu saja. Kawasan itu di kelilingi banyak cafe-cafe kecil khusus tempat nongkrong para mahasiswa disana.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2