Penantian Selama Ini

Penantian Selama Ini
Bab 23


__ADS_3

Pak Marwan kenapa kau bersikap tak adil padaku sebelum kau mendengar apa dari yang aku ucapkan mengenai Damar. Aku bukan hanya ingin membela diri namun memberitahu kejelasan dan faktanya bahwa ini bukanlah kesalahanku." Irwan mencoba menjelaskan namun Marwan sama sekali tidak ingin mendengar apapun dari mulut pria itu.


Marwan malah menolak Irwan dan mengusirnya dari kebun teh miliknya, semua karyawan Marwan melihat Irwan yang diusir dan menatapnya dengan penuh tanda tanya. Semua berbisik-bisik dan ingin tahu penyebab Marwan milik perkebunan itu sangat marah kepada Irwan. Namun mereka semua tahu Marwan itu memiliki tempramen yang tak baik, dan selalu tak ingin mau tahu dengan kebenaran yang akan di ucapkan.


Irwan pun akhirnya kembali ke rumahmu dengan perasaan kesal yang tidak mendapatkan uang gajinya selama sebulan. Ia bingung hari ini harus makan apa karena ia sudah tidak memegang uang lagi sama sekali, Irwan pun berpikir bagaimana cara hari ini dapat menghasilkan uang untuk kebutuhannya.


Irwan terus berfikir di dalam rumahnya yang melihat foto perhiasan istrinya yang masih menyimpan cincin kawin mereka. akhirnya Irwan pun berani sakit untuk menjual cincin tersebut dengan perasaan sedihnya, diambillah kotak cincin itu lalu dimasukkan ke dalam saku dan Irwan pun segera bergegas persiapan untuk pergi dengan sepedanya ke pasar yang sedikit jauh dari rumahnya.


Hari Sudah siang dan Irwan segera bergegas mengayuh supaya tanya agar segera sampai ke pasar dan menjual cincin kawin milik istrinya tersebut. dalam hatinya ia sangat sedih ingin menjual cincin peninggalan istrinya tersebut, Irwan sempat menitihkan air matanya saat sedang mengayuh sepedanya.


"Sari, maafkan aku yang harus terpaksa menjual cincin pernikahan kita, aku tak ingin meminta pada Lita yang ada di kota. Hidup disana tidak lah mudah, dan aku tak ingin merepotkannya dan menjadi pikiran untuk dirinya." Irwan berkata dalam hatinya sepanjang jalan sambil terus mengayuh agar segera sampai ke pasar.


Hari itu Damar sampai di rumah Marwan, iya pun sangat merasa senang karena sudah terbebas dan kembali lagi bekerja serta menikmati hidup.


"Pak Marwan aku sangat berterima kasih sekali, sudah bisa menghirup udara segar tak seperti di dalam sana."Damar duduk dengan menyilang kakinya dan membuka lebar kedua tangannya ke sandaran kursi.


"Baguslah kalau kau senang, dan aku juga suka asisten ku sudah kembali lagi. Sehingga perkebunan itu bisa kau tinjau dan menjualnya seperti biasa lagi."Marwan sangat senang dan menepuk pundak Damar.


"Sungguh licik Damar ini, ia menarik simpati dari tuan Marwan dan ingin mendapat keuntungan untuk dirinya sendiri setiap bulannya." supir itu melirik ke arah damar dan selalu memperhatikannya.


"Seharusnya teh itu di jual 10 ribu perkilonya, ia malah menjual 13ribu perkilo, sementara 5 hektar bisa menghasilkan 5 ton bila hasil panen melimpah dan cuaca mendukung." supir itu sungguh mengerti kelicikan Damar.


Damar pergi dan mengecek ke adaan perkebunan, dan ia menemui temannya yang bernama Wanto di pos penjagaan, ia seseorang yang selalu menggantikan Damar bila sedang ada urusan di luar tak dapat memantau di perkebunan.

__ADS_1


"Wanto! Wanto!" Damar dari kejauhan sudah berteriak memanggil temannya tersebut.


Wanto menoleh dan melihat dari kejauhan sudah mengenali siapa yang memanggilnya itu. Wanto tersenyum karena temannya sudah bebas dan bisa bersenang-senang lagi di pos itu saat malam hari menjaga perkebunan.


"Damar! kau kah itu?! sudah bebas kau sekarang?!" Wanto sangat senang melihat temannya yang kini kembali lagi, mereka saling berpelukan dan merasa bahagia.


****


Lita yang berada di Inggris, terus berusaha dan serius dalam menjalani pendidikannya. ia juga mencari pekerja paruh waktu disana untuk membiayai hidupnya. Ozan juga selalu mengiriminya uang lewat kartu debit yang pernah Ozan berikan ketika ia berulang tahun. Jadi Lita tak begitu kekurangan uang saat di Inggris, ia berjanji akan mengembalikan uang yang pernah ia pakai untuk biaya selama ia di Inggris.


Andi mengetahui kalau Lita berada di Inggris saat ini, ia tanpa sengaja melihat Lita yang terekspos dari internet merupakan mahasiswa dari Indonesia yang sukses masuk ke akademi mereka dari sekian ribu orang. Akhirnya Andi mencari akal untuk bisa pergi kesana dan bertemu dengan Lita tanpa di ketahui oleh Rania.


Akhirnya Andi meminta pada rekan bisnisnya untuk bekerjasama dengan dirinya untuk bisa pergi ke negara Inggris dengannya. Dan ia tahu kalau teman bisnisnya itu suka dengan Mita sekretarisnya, dan Mita juga ingin sekali di Carikan seseorang yang kaya raya selama ini ke Andi bosnya di kantor.


Mereka pun sepakat, Andi akan pergi ke Inggris dengan mereka berdua, sementara Mita dan Dimas bersama, Andi akan menemui Lita untuk merayunya kembali sekali lagi. Andi masih mencintai gadis itu, karena hatinya ingin dengan Lita yang sekarang sudah mulai sukses. Dan Andi ingin diam-diam memiliki kedua wanita itu menjadi miliknya, yang satu kaya raya dan yang satu masih sangat mencintainya.


Kantor saat ini Rania yang memegang kendali, dan wanita itu tak tahu kalau Andi pergi karena cinta lamanya yang dulu pernah di katakan ya telah meninggal dunia.


Bruk!


"Ah, maaf saya tidak sengaja Nona." seorang pria berkata pada Lita.


"Oh, tak apa-apa kok. Saya juga minta maaf, salah saya juga yang tidak memperhatikan jalan." Lita malah meminta maaf juga.

__ADS_1


"Lita?!" saat pria itu menoleh ke arah wajah Lita.


"Kak Seno?!" Lita menjadi kikuk karena bertemu dengan pria yang pernah melamarnya namun ia tolak mentah-mentah begitu saja di depan kedua orang tuanya.


"Lita, maaf ya jadi berantakan begini. Aku butuh-buru karena sudah terlambat masuk kelas saat ini. Aku harus menggantikan guru pembimbing di kelas mereka." ujar Seno menjelaskan.


"Oh, ternyata ia selama ini bekerja menjadi pembimbing di universitas, keren sekali dan itu bukan hal yang merupakan gampang di raih dan di percaya."Lita membatin.


"Baiklah kak, pergilah. Aku tak apa-apa dan ini bisa aku urus sendiri." Lita dengan cepat merapikan lembaran kertas yang berserakan.


"Maaf ya Lita, nanti aku terakhir saat pulang dari sini sebagai ganti permintaan maaf ku!" ujar Seno yang berlari menjauh dari Lita karena memang sudah terlambat.


Lita hanya menatap dan kembali memungut kertas-kertas itu lagi, setelah semua terkumpul Lita berjalan ke perpustakaan dan menyusun lembar demi lembar kertas yang tadinya berserakan. Lita pun kebingungan karena ada kertas yang hilang tiba-tiba disana, ia sudah mencari kemana-mana tapi tak menemukannya.


"Hah...! Bagaimana ini. Itu harus sudah terkumpul rapi, dan besok harus sudah di berikan ke pak Billy." wajah Lita suram dan sedikit kusut.


Tring....


Tring...


Ponsel Lita berdering, dan dilihatnya nomer itu tak ia kenal, tetapi terus saja menelponnya. Lita sudah coba untuk tidak menjawabnya, ponsel itu masih terus bergetar di dalam perpustakaan. Karena Lita tak menjawabnya juga lalu masuk pesat ke ponsel itu, dan Lita terkejut saat ada sebuah foto yang menunjukkan itu adalah miliknya.


"Hah?! itukan kertas yang aku cari?!" Lita menjadi bingung.

__ADS_1


Dengan cepat ia membalas pesan itu, meminta orangnya untuk kembalikan segera. Dan orang tersebut menjanjikan kertas itu akan kembali setelah mereka bertemu di kantin luar setelah pulang dari kelas pelajaran. Dan Lita setuju, lalu menentukan kantin luar mana yang mau jadi tempat bertemu mereka.


BERSAMBUNG....


__ADS_2