Penantian Selama Ini

Penantian Selama Ini
Bab 26


__ADS_3

Kapan mas sampai disini? dan tak memberi tahu ke Lita dulu mas?" ucap Lita sembari menatap dan menunggu jawaban dari Ozan.


"Oh, mas ada urusan pekerjaan tadinya di sini, jadi sekalian mas ingin menemui mu. Apakah kau sudah makan? mas dari tadi belum sempat makan siang jadi sangat lapar sekali. Temani mas makan yuk, please?" ucap Ozan sambil menyatukan tangannya dan memohon.


Kriuk, Kriuk...!


Lita jadi tersenyum melihat tingkah Ozan di depannya, saat menyatukan tangan, perutnya langsung berbunyi dan ikut memohon juga. Lita pun berdiri dan menarik tangan Ozan mengajaknya makan bersama di sekitar tempat itu saja. Kawasan itu di kelilingi banyak cafe-cafe kecil khusus tempat nongkrong para mahasiswa disana.


Ozan dan Lita pun duduk dan makan di sana, tiba-tiba Seno datang menghampiri mereka berdua, kebetulan Seno juga ternyata makan di cafe tersebut.


"Hai Lita, boleh kah aku gabung dengan kalian? Kebetulan aku sudah pesan makanan dan melihat kalian disini."ujar Seno yang ingin ikut gabung dan ingin tahu siapa pria bersama Lita.


Ozan menatap Seno namun hanya diam saja, ia tak bergumam atau mengeluarkan sepatah kata pun. Ozan melanjutkan makannya dan menyerahkan semua ke Lita dan pria itu tak ingin mencampuri urusan mereka berdua sebab ia sudah sangat lapar.


"Baiklah mas, silahkan duduk. Kenalkan ini mas Ozan dan iya yang sudah menolong aku ketika pertama kali sampai ke Jakarta, dan aku sangat berhutang Budi padanya." Lita langsung memperkenalkan Seno pada Ozan.


Seno pun mengulur tangannya untuk berjabat tangan, dan Ozan menyambut tangan Seno untuk bersalaman. Lalu Ozan kembali melanjutkan makannya tanpa memperdulikan mereka yang berbicara berdua, Lita terus memperhatikan Ozan sampai ia tak fokus dengan Seno yang sedang berbicara padanya.

__ADS_1


Ozan telah selesai dengan makanannya, Lita pun juga segera mengakhiri makannya dan ingin pergi ikut bersama Ozan. lidahku seorang permisi dari Seno dan meninggalkannya di cafe tersebut, Begitu juga dengan ozon yang permisi langsung untuk membayar makanan mereka setelah selesai dan ingin pergi dari tempat itu.


Seno sedikit merasa sedih karena Lita lebih memilih pergi dengan Ozan, ketimbang menemaninya makan di Cafe tersebut. Seno akhirnya melanjutkan makannya dengan duduk sendirian di meja tersebut, iya hanya menatap Lita dari jauh mengikuti Ozan dari belakang.


"Siapakah sebenarnya pria itu? mengapa Lita begitu dekat dengannya dan juga lebih memperhatikannya dari tadi?" Seno bertanya dalam hatinya.


Tiba-tiba Lita merasa pusing saat ia berada di parkiran mobil, Ozan memperhatikannya saat membukakan pintu mobil untuk Lita.


Bruk!


"Lita?!" Ozan langsung membawanya ke rumah sakit di sekitar tempat tersebut.


Ozan langsung mengambil tindakan tanpa berpikir panjang, yang ada dalam pikirannya hanyalah Lita dapat sembuh sembuh seperti sedia kala. Ozan pun mengisi data dan membayar administrasinya saat itu juga, Lita pun di bawa ke ruang operasi. Ozan duduk di luar ruangan dan menunggu Lita sambil terus berdoa agar operasinya berjalan dengan lancar tanpa aga hambatan dan Lita selamat dari kritisnya.


2 jam kemudian...


"Suster bagaimana dengan pasien yang bernama Lita sus?!" Ozan sangat khawatir dan sedikit panik.

__ADS_1


"Maaf pak, saya belum bisa mengatakan apa pun. Mohon bapak bersabar dan menunggu dokter yang menjelaskannya kepada bapak." Suster itu terburu-buru pergi karena ada sesuatu yang ingin ia lakukan.


Ozan pun semakin panik dan duduk lagi ke kursi tunggu depan ruang operasi tersebut. Operasi itu berjalan begitu sangat lama dan belum ada penjelasan tentang keadaan Lita sampai saat ini. Sekarang Ozan sudah mulai jenuh menunggu dan ia berjalan mondar mandir menunggu kepastian dokter yang ada di dalam. Operasi kali ini memang sangat menegangkan, dan begitu besar resikonya, makanya Ozan sangat cemas menantikan kabar beritanya dari dalam ruang operasi tersebut.


Tit..., tit...., tit...," detak jantung Lita terdengar dari alat monitor pantauan mereka.


"Ambilkan guntingnya, tolong kapasnya, pendarahan semakin banyak dan kita harus bisa menghentikannya." ucap Dokter bedah itu.


"Pantau terus detak jantung dan pernafasan pasien, jangan sampai ada komplikasi yang lain dan menggagalkan operasi ini." ujar Dokter sangat mewanti terjadinya hal yang tidak di inginkan.


"Baik dokter, semua perhatikan segalanya jangan ada yang sampai terlewatkan, karena akan fatal bila kita tak fokus dengan operasi pada pasien." salah satu dari suster yang ada disana berbicara pada yang lain.


~Satu jam kemudian


"Oke semuanya terima kasih atas kerja samanya, dan Alhamdulillah pasien sudah keluar dari kritisnya." ujar Dokter itu dan mereka semua merasa sedikit lega.


Namun Lita masih harus di pantau oleh mereka lagi perkembangannya, karena masih ingin tahu bagaimana hasil nanti ketika Lita sudah sadar dari bius yang sekarang sedang masih belum hilang. Lita di bawa keluar dari ruang operasi dan Ozan menyadari dan mengikuti mereka sampai ke kamar rawat inap Lita. Ozan melihat Lita masih terpejam dan wajahnya sedikit pucat, karena di ruangan operasi itu sangat dingin sekali.

__ADS_1


Setelah itu Ozan menanyakan kondisi dan keadaan Lita kepada Dokter tersebut, dan dokter menjelaskan kalau Lita sudah keluar dari kritisnya. Namun dokter belum bisa pastikan bagaimana keadaan otaknya yang sekarang sudah di operasi, semua akan tahu bila Lita sudah sadar dari keesokan harinya. Dan Ozan harus menunggu sampai besok jika Lita sudah sadar dan terbangun dari tidurnya.


BERSAMBUNG....


__ADS_2