Penantian Selama Ini

Penantian Selama Ini
Bab 24


__ADS_3

Ponsel Lita berdering, dan dilihatnya nomer itu tak ia kenal, tetapi terus saja menelponnya. Lita sudah coba untuk tidak menjawabnya, ponsel itu masih terus bergetar di dalam perpustakaan. Karena Lita tak menjawabnya juga lalu masuk pesat ke ponsel itu, dan Lita terkejut saat ada sebuah foto yang menunjukkan itu adalah miliknya.


"Hah?! itukan kertas yang aku cari?!" Lita menjadi bingung.


Dengan cepat ia membalas pesan itu, meminta orangnya untuk kembalikan segera. Dan orang tersebut menjanjikan kertas itu akan kembali setelah mereka bertemu di kantin luar setelah pulang dari kelas pelajaran. Dan Lita setuju, lalu menentukan kantin luar mana yang mau jadi tempat bertemu mereka.


"Hai Lita?!" Seno pun melambaikan y


tangannya, dan ia tersenyum.


"Hah! kok ada Seno sih?!" dalam hatinya.


Seno memanggil dan mengajaknya duduk di meja yang sama saat itu. Lita menjadi bingung, ia ingin menolak tapi keburu Seno menariknya dan mendorong untuk duduk di sana.


"Duduk sini saja!" Seno sembari menggeser kan kursi dan mendorongnya untuk segera duduk.


"Tapi kak, aku... sudah ada janji dengan seseorang." Lita mencoba menjelaskan kepada Seno.


"Kamu mencari ini kan?" ujar Seno yang memperlihatkan sesuatu kepada Lita.


Maya gadis itu pun melotot dan merasa tak percaya, ternyata kertas itu ada padanya. Lalu Lita pun ingat kembali kejadian tadi pagi saat mereka berdua ke tabrakan di koridor kampus.


"Oh..., jadi ini ulah kak Seno? sengaja mengambil kertas itu?! itu gak baik loh kak...?" Lita langsung duduk dengan santai.

__ADS_1


"Maaf ya Lita, hanya itu yang bisa ku perbuat agar kita bertemu dan makan bareng seperti ini. Untung di kertas itu ada nomer hp kamu, jadi kakak bisa menghubungi mu." Seno tersenyum karena merasa sangat konyol.


Mereka pun makan bersama dan menjadi akrab satu sama lainnya, Lita menjadi ada teman satu desanya disana.


Hari sudah sore, Irwan sudah pulang ke rumahnya. Ia sangat kelelahan sehabis pulang dari pasar tersebut, cincin itu sudah di jualnya, dan membelanjakan beberapa uangnya untuk kebutuhan di rumahnya. Ia pun dapat makan malam seadanya malam itu juga, perutnya sempat kelaparan saat siang tadi karena tak ada makanan yang bisa untuk di makan.


Manda dan Lita sempat saling ngobrol dari ponselnya, dan bahkan sekarang lebih sering kirim pesan setelah Lita memiliki ponsel lagi.


"Manda, aku minta tolong kau seringlah lihat keadaan ayah ku. Dan tanyakan padanya bila perlu sesuatu, aku akan sebisa mungkin memenuhinya. Tolong jangan katakan kalau aku sekarang ada di Inggris sedang kuliah kembali, nanti ayah ku akan sangat cemas dengan keadaan ku saat ini." Lita pun berkata terus terang kepada Manda.


"Baiklah, aku sudah tahu bagaimana sifat mu. Kau selalu memikirkan keadaan orang tua, dan mengutamakan mereka." Manda sangat senang berteman dengan Lita.


****


Ozan dari pagi sudah bangun, sebenarnya ia tak dapat tidur tadi malam. Namun pagi ini ia harus bertemu dengan klien bisnisnya dan ia tak mau menyia-nyiakan waktu setelah sampai di Amerika. Pagi itu ia sudah bersiap dan turun untuk sarapan di lantai bawah hotelnya, dan sebentar lagi supir pribadi kliennya akan menjemputnya di sana.


"Oh, masalah pelayanan dan kenyamanan hotel ini sangat terbaik. Maaf tadi malam saya tidak bisa tidur karena memikirkan sesuatu dan juga keadaan di Jakarta keluarga saya." Ozan memberi pujian hotel mereka.


"Oh begitu, baiklah pak, saya akan menunggu di luar sampai bapak selesai menikmati sarapannya. Selamat pagi dan selamat menikmati." Denada pun pamit undur diri menunggu di dalam mobil yang sudah datang menjemput Ozan.


Ozan pun menikmati sarapan paginya di hotel tersebut, makanan yang begitu enak sehingga membuat ozon benar-benar begitu kenyang menghabiskan sarapannya dan juga kopinya. Setelah selesai dari kliennya yang berada di Amerika ini, Ozan pun akan langsung kembali ke Jakarta, namun ia masih terus kepikiran dengan Lita dan juga keluarga Willson, yang masih berharap bahwa wanita tersebut adalah Marisa anak mereka.


Sarapan pun telah dihabiskan dan kini Ozan berjalan keluar untuk menghampiri bodyguard yang sudah menunggu di depan lobby untuk mengantar dirinya ke dalam sebuah mobil pribadi milik Pak Samuel. Mobil itu akan mengantarkan Ozan ke kantor Pak Samuel dan mereka pun akan mengadakan rapat pukul 09.00 pagi itu.

__ADS_1


Di dalam perjalanan Ozan masih terus mengingat Lita Bahkan ia sangat mencemaskan gadis itu, namun ia sudah berjanji pada Lita untuk tidak ikut campur atas kehidupannya dan juga keputusannya saat ini. Tak berapa lama mobil pun masuk ke dalam parkiran sebuah gedung besar pencakar langit yang berlantai


25 dari bawah sampai atas begitu megah dan mewah.


Ozan pun turun dari mobil itu dan mengikuti Denada yang menunjukan jalan menuju ruang rapat di kantor mereka.


Drap


Drap


Drap


Denada membuka pintu ruang rapat, dan mempersilahkan Ozan untuk masuk ke ruangan rapat itu. Ozan pun masuk dan segera duduk disana, dan tak beberapa lama pak Samuel dan sekretarisnya masuk ke dalam ruangan itu juga.


"Selamat pagi pak Ozan, apa kabar hari ini?!" Samuel berjabat tangan dengan Ozan.


Dan begitu juga dengan sekretaris dan juru tulis yang selalu ikut dalam rapat mereka. Samuel mempersilahkan Ozan duduk kembali setelah menyambut kedatangannya. Mereka pun memulai rapatnya dan membahas apa saja yang harus mereka bahas, semua rencana yang akan mereka lakukan tentang pengembangan perusahaan mereka.


****


Setelah selesai dari sana, Ozan buru-buru mengemas kopernya dan langsung berangkat ke Inggris untuk bertemu langsung dengan Lita dan mengungkapkan isi hatinya. Dan Ozan ingin menjelaskan semuanya agar tidak keterusan salah paham dengan Lita.


Sekarang sudah berada di bandara dan terbang langsung menuju Inggris dan mencari Lita di kampusnya. Ozan sudah tidak sabaran ingin mengatakan semuanya, dan Lita dapat memahami apa yang membuat Ozan tidak mengatakan dan menceritakan tentang Marisa padanya.

__ADS_1


Lita tak tahu bahwa Ozan pergi menyusuinya ke Inggris, pria itu tak ingin membuat Lita berfikir dirinya akan di kekang lagi atau di atur lagi oleh Ozan. Sementara Lita dan Seno sudah mulai akrab dan sering keluar bareng hanya sekedar menghabiskan waktu luang ketika tidak sedang bekerja. Kehidupan disana sangat menguras pikiran dan tenaga, jadi perlu bagi Lita dan Seno untuk menjernihkan pikiran dan mengistirahatkan tubuh mereka dari segalanya. Seno sudah lebih dulu di Inggris sehingga ia lebih banyak tahu tentang Inggris dan Lita juga banyak kenal teman-teman Seno yang berasal dari Inggris itu sendiri.


BERSAMBUNG....


__ADS_2