
Awalnya Andi hanya iseng dan jenuh, lama kelamaan akhirnya ia kecantol dengan Mita yang pandai menyenangi pasangannya. Tadinya mereka hanya teman tapi mesra, tap sekarang malah menjadi demen jadi mesra. Rania sebagai istri, malam itu ingin memberikan malam yang indah ke Andi suaminya.
Andi menolak dengan alasan ia capek sekali dan tak ingin melakukannya, dan saat ini ingin istirahat agar besok kembali bugar karena ada rapat pagi-pagi sekali. Dan Rania akhirnya pun mengerti, wanita itu pun berhenti mengganggu Andi yang sudah masuk kedalam selimut dan bersiap ingin tidur.
"Seperti ada yang berbeda dengan suami ku kali ini, tapi apa yang membuatnya menjadi bersikap seperti itu? Apa mungkin hanya perasaan ku saja yang terlalu khawatir menjadi berpikiran negatif. Ha~ sudahlah." Rania pun menutup matanya yang sudah mulai mengantuk.
Andi pun terlelap dalam tidurnya hingga pagi menjelang, seperti biasa Rania menyiapkan semua perlengkapan anak dan suaminya. Pagi itu Rania pun ikut bersiap untuk ikut pergi ke kantor bersama suaminya, tapi Andi tak mengetahui bila Rania ingin kekantor juga.
Tring...
Tring...
Andi terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ponsel miliknya sendiri, lalu tangannya sibuk meraba untuk mencari sumber suara dari ponsel tersebut. mata Andi terbuka untuk menekan dan menggeser untuk menjawab misalnya itu, iya tidak tahu karena matanya belum terlalu terbuka lebar untuk melihat siapa yang menelponnya.
"Selamat pagi mas, loh kok belum bangun? emangnya hari ini nggak ke kantor ya? Duh kalau nggak ke kantor gimana dengan aku bisa sepi dong..." Mita merayu saat sedang sarapan di meja makannya.
"Kami kenapa telpon pagi-pagi begini? Nanti kalau istri ku tahu hubungan kita gimana?" ucap Andi yang sedikit kikuk.
"Gak ketahuan kok mas, pasti istri mas lagi sibuk sama rumah dan anaknya kan? Aku tahu lah kalau ibu-ibu yang sudah punya anak pasti repot, gak bisa manja-manja saya suaminya." Mita mulai menggoda di pagi hari.
"Iya yang kamu katakan, ia selalu sibuk dengan anaknya terus, dan aku gak ada yang perhatikan." ketus Andi yang berbicara pelan.
__ADS_1
"Lagian kan mas, kalau ada istri mana mungkin mas terima telpon dari Mita pagi seperti ini." ujarnya ke Andi atasan Mita.
"Iya juga yang kamu katakan, kamu memang pandai. Ya sudah mas mandi dulu deh, nanti kita lanjutkan setelah bertemu di kantor." Andi tersenyum kepada Mita.
"Mas..., mas..., kamu sudah bangun belum?" Rania membuka pintu kamar dan menghampiri suaminya.
"Oh, kamu sudah bangun ya mas, kenapa belum mandi juga? nanti kita ke siangan perginya mas..." Rania berdiri di depan kaca dan merapikan rambutnya yang belum di sisirnya.
"Loh, kamu mau kemana RAN?" Andi terkejut dengan penampilan Rania yang sudah rapi dan mengatakan kalau mereka akan terlambat.
"Ya aku mau ke kantor lah, ada rapat dan ingin ikut membantu pekerjaan kamu biar cepat selesai dan kamu tidak kelelahan saat pulang ke rumah. Dan waktu untuk kita bersama akan jauh lebih banyak lagi. iya kan mas?!" Rania bersandar di dada suaminya dan sedikit menggodanya.
Rania pun jadi berdiri saat Andi mendorong tubuhnya perlahan agar tak berada di atas tubuh Andi. Andi sempat beberapa kali merayu dan menyuruh Rania untuk tidak datang ke kantornya.
"Sayang, aku mohon kamu di rumah saja. Aku gak mau kamu jadi kecapean dan nanti kita gak bisa memiliki momongan."Andi mulai dengan kata-kata rayuan dan mencari cara agar Rania tidak ke kantor dan mengganggu dirinya dan Mira disana.
Rania terdiam dan ia pun memikirkan apa yang di katakan oleh Andi, wanita itu tersenyum dan mulai mengangguk. Ia merasa di perhatikan oleh Andi yang perhatian akan kondisi dirinya agar cepat dapat hamil lalu memiliki anak kembali.
"Baiklah mas, aku akan di rumah saja dan menjaga kesehatan. Pergilah mandi, sarapan sudah akan dingin bila terlalu lama di sini." Rania tersipu malu.
Wanita itu menjadi malu dan amat senang sebab ia mengira Andi sangat memperhatikan dirinya. Wanita itu pun segera mengganti bajunya dengan pakaian rumah dan bersiap menunggu suaminya di meja makan. Andi tak lama kemudian turun dari lantai dua kamarnya, menghampiri istrinya yang sedang sibuk menghidangkan sarapan miliknya ke piring.
__ADS_1
Anak-anak Rania sudah pergi berangkat ke sekolah, sekarang mereka berangkat dengan supir yang baru. Dan mobil mereka sudah ada dua, satu untuk anak-anak dan Rania kalau mau keluar, dan yang satu lagi untuk Andi berangkat ke kantornya. Andi tak mau memakai supir, ia lebih suka menyetir sendiri.
*****
Sebulan kemudian...
Ozan sudah menerima surat yang di letakkan oleh Lita di kamar miliknya. Dan Lita juga memberi tahu bahwa dirinya akan mengambil S2 di luar negri, hal itu sangat membuat Ozan sedikit sedih. Namun apalah boleh buat, Lita dan Ozan belum ada hubungan apa pun, dan Ozan belum ada mengutarakan perasaannya kepada Lita.
"Ya semua adalah salah ku, yang tak ingin jujur kepadanya sejak awal. Mungkin hal ini tak akan terjadi pada ku saat ini." Ozan merebahkan tubuhnya di kasur dan menatap langit-langit kamarnya.
Lita kini sudah pergi dan menuntut ilmu untuk mengejar cita-citanya untuk menjadi Dosen dengan nilai terbaik dapat membanggakan orang tuanya kelak. Namun Lita tak tahu ayahnya sedang dalam kesulitan, tubuhnya memar karena bekas pukulan dari anak buah
Marwan.
"Pergilah kau dari sini! karena aku tak Sudi untuk melihat kau lagi. Ini semua karena kau yang menyebabkan semuanya, dan gaji mu tak akan aku berikan, sebagai hukuman mu terhadap Damar yang kau suruh untuk mencari putri mu." Marwan langsung memecat dan tak memberi gajinya selama sebulan penuh.
"Pak Marwan kenapa kau bersikap tak adil padaku sebelum kau mendengar apa dari yang aku ucapkan mengenai Damar. Aku bukan hanya ingin membela diri namun memberitahu kejelasan dan faktanya bahwa ini bukanlah kesalahanku." Irwan mencoba menjelaskan namun Marwan sama sekali tidak ingin mendengar apapun dari mulut pria itu.
Marwan malah menolak Irwan dan mengusirnya dari kebun teh miliknya, semua karyawan Marwan melihat Irwan yang diusir dan menatapnya dengan penuh tanda tanya. Semua berbisik-bisik dan ingin tahu penyebab Marwan milik perkebunan itu sangat marah kepada Irwan. Namun mereka semua tahu Marwan itu memiliki tempramen yang tak baik, dan selalu tak ingin mau tahu dengan kebenaran yang akan di ucapkan.
Bersambung....
__ADS_1