
Dalam keadaan langit gelap yang tertutup oleh pepohonan besar dan suasana yang sunyi. Dahan dan daun pepohonan menutupi setiap celah cahaya hingga tidak ada yang masuk. Bahkan tidak ada hembusan angin sedikitpun dengan suasana yang sunyi.
Bagaikan sebuah malam hari ditengah-tengah hutan rimba yang padahal waktu masih menunjukkan sore hari.
Di dalam kegelapan itu terdapat tujuh sosok bayangan misterius yang sedang berdiri mengelilingi seorang gadis perempuan. gadis itu terlihat tak sadarkan diri di bawah akar pohon yang menjalar dengan pakaiannya yang terlihat cukup kotor.
Sosok-sosok bayangan misterius itupun berbicara satu sama lain.
"Sudah 20 jam berlalu dan ia masih tidak sadarkan diri juga?" tanya sosok D sambil melirik gadis tersebut.
"Kemungkinan efek sihir yang dia terima terlalu berlebihan untuknya." Jawab sosok A.
Dengan arogan (angkuh) sosok E pun berkata, "Hum! ... Karena ini lah aku menyebut manusia itu lemah! padahal aku hanya mengunakan sedikit saja dari ilmu sihirku."
"Tapi meskipun begitu hati mereka lebih kuat jika memiliki keimanan di dalamnya. sebaiknya jangan terlalu arogan!" jawab nyeletuk sosok A.
"Itu benar. dan lagipula kita membutuhkannya untuk keberhasilan rencana kita kali ini." seru sosok B.
Sosok E terlihat tidak ingin membenarkan ucapan mereka dan ia tetap dengan sifat arogannya.
Ia mengibaskan rambutnya seraya berkata, "Hah! yang kita butuhkan bukanlah dirinya, melainkan sesuatu hal yang dia miliki."
Sambil menunjuk ke arah gadis itu dengan penuh aura kebencian. Kukunya terlihat panjang dan tajam, tangannya pun mengeras dan berurat.
"Meskipun begitu derajat-" kata-kata dari sosok A pun di potong oleh sosok C.
"Sampai kapan kalian akan memperdebatkan hal kecil seperti itu?" pusat pandangan pun menuju padanya, ia adalah sosok C.
"Perdebatan hanya akan menghambat kita dalam bekerja, saling menghargai pendapat akan lebih mempermudah." Tegas Sosok F dengan nada datar dan terkesan dingin.
"Jangan membuang-buang waktu hanya untuk memecahkan kekompakan yang sudah kita buat dengan susah payah karena merasa lebih pantas! tentunya kita semua tidak ingin rencana kali ini sampai gagal, bukan?"
Nada bicaranya terdengar sangat gagah hingga membuat semuanya terdiam, ialah ketuanya, sosok G. mereka pun berdiam beberapa saat untuk merenung karena perkataannya tersebut.
Walaupun demikian, sosok E masih saja tetap angkuh sedangkan sosok A merasa bersalah.
"Tolong maafkan atas kelancangan yang telah saya perbuat. Saya tidak akan mengulanginya, saya menyesal." ucap sosok A yang menundukkan kepalanya.
Sedangkan sosok E memalingkan wajahnya lalu berkata, "Maaf. aku tidak sengaja." ia tidak merasa bersalah sedikitpun.
"Aku maafkan, dan kita lupakan saja!" jawabnya, semuanya pun mengangguk pelan.
Sosok G kemudian melirik-lirik gadis yang sedang pingsan di depannya. ia berjalan mendekat perlahan dan menunduk di sampingnya, kemudian memegang pipi sang gadis dengan tangan kirinya yang besar lalu menjilat leher dan keningnya.
Tiba-tiba setelah itu dia pun langsung tertawa dengan tawa yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Ha! Ha! Ha! Ha!"
Sosok yang lainnya terdiam dengan tatapan sinis mata merah mereka.
Sosok G melepaskan pegangan tangannya dan meletakkan wajah gadis itu ketempat sebelumnya dengan perlahan-lahan. ia tidak berlaku kasar padanya karena menghargai kehormatan perempuan dan menjaga kewibawaannya.
Ia lalu berdiri seraya berkata, "Akhirnya, ... setelah penantian selama 20 tahun lamanya. tinggal sebentar lagi ... sebentar lagi waktu kita akan tiba!".
Kemudian ia langsung memasang senyuman percaya diri khasnya tersenyum dengan menatap ke arah langit-langit.
"Waktunya untuk membalaskan dendam!".
Seketika matanya memancarkan cahaya merah pekat, bersamaan dengan sosok bayangan misterius lainnya.
Aura negatif mereka masing-masing pun keluar memenuhi sekeliling mereka yang menjadi satu, membentuk kumpulan aliran sihir besar.
Sosok G lalu menatap mereka semua secara bergantian sambil berkata dengan tegas dan suara yang lantang layaknya pemimpin besar ketika memberikan perintah.
"Semuanya siap dalam posisi maupun tugas yang sudah diberikan! kita akan melanjutkan ritual setelah gadis ini sudah sadar!".
Semua sosok bayangan misterius itupun memandangi sang gadis yang berbaring tak sadarkan diri di pohon jati.
"Laksanakan perintah!"
__ADS_1
"Siap!"
Mereka pun berpencar dan menghilang dengan begitu cepat bagaikan seorang ninja. hanya tersisa sosok G dan F yang masih berada di tempat.
...***Arc Batu Merah Delima***...
Sore hari ini, di Desa Rancabungur cuacanya terbilang cerah dengan sinar matahari yang tidak terlalu panas dan tertutup oleh awan-awan dari pegunungan. Sejuknya udara sekitar karena banyaknya pepohonan memberikan kenyamanan dan ketentraman dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang diiringi suara rintihan dari air terjun Curug Cigameo, dan melodi nyanyian dari kicauan burung-burung yang terdengar indah seperti mengungkapkan perasaan bahagia dan ceria.
Tapi pada kenyataannya, anak-anak muda yang saat ini sedang memancing terlihat berkebalikan dengan hal tersebut. dari ekspresinya saja mereka seperti kehilangan semangat.
Di bawah mata kaki Curug Cigameo, terdapat sebuah sungai yang lumayan besar dan biasa digunakan warga desa untuk memancing ikan.
Entah dari mana datangnya ikan-ikan itu ke dalam sungai membuat warga desa memanfaatkannya saja untuk dijadikan lauk makan. Namun demikian, di depan arah mereka memancing merupakan sebuah area berbahaya yang biasa warga sebut sebagai, hutan terlarang.
Arus dari air terjun Curug Cigameo merupakan pembatas antara hutan terlarang dengan wilayah warga desa.
Dengan ekspresi yang saat ini terlihat lesu, empat anak muda laki-laki tersebut masih menunggu dan berharap umpannya dimakan oleh ikan-ikan. mereka adalah Muhammad Gias Pratama, Andi Adam Ahmar, Arya Permana, dan Jalil Ayubi.
GIAS
ADAM
ARYA
JALIL
Mereka semua duduk di sebuah batu yang telah disiapkan. Gias tiba-tiba mengacak-acak rambutnya sambil menggerutu dan mengatakan sesuatu.
Ia mengepal tangan kanannya sambil menaruh pipinya di tangannya itu (menyangganya) dengan kepalanya yang sedikit di telengkan seraya melanjutkan perkataannya tadi.
"Sejak pagi hingga sekarang kita hanya baru mendapatkan 2 ekor ikan saja, dan itupun hanya aku dan Arya. bukannya aku tidak bersyukur tapi kita membutuhkan lebih banyak lagi, bukan?"
"Kita semua tau itu tapi, lebih baik kita syukuri dulu saja yang sedikit ini agar kita mampu mensyukuri yang banyak nanti!" Seru Adam.
"Iya. lebih baik seperti itu." Gias menarik kail pancingnya, "Sesekali kau bisa berkata bijak juga ternyata." umpannya habis tapi ikannya tidak ada, Adam hanya tersenyum tanpa menjawabnya.
"Masih tidak dimakan ya?" dengan ekspresi lesunya Gias pun memasang kembali umpannya.
"Mungkin saja ikannya sudah bosan dengan umpan kita dan memutuskan untuk berpuasa." Seru Arya yang berniat bersenda gurau.
"Tapi hari ini kan hari jum'at, tidak mungkin ikan-ikan berpuasa." sahut Jalil yang menjawab gurauan Arya.
"Mungkin hari sebelumnya juga mereka sudah berpuasa." Ia menarik kail pancingnya yang sudah kosong.
"... kalau keadaan tidak berubah dan terus seperti ini bisa menjadi masalah loh!" Arya pun memasang umpannya lagi yang sudah habis.
Jalil mengangguk, "iya, itu sudah pasti!" ucapnya.
"Mau bagaimana lagi? semuanya sudah di tetapkan dan atur oleh Allah Yang Maha Kuasa tentang rezeki kita hari ini." Gias ikut nyeletuk.
"Kalau begini terus kita akan malu karena tidak bisa memenuhi permintaan dan tanggungjawab yang sudah diberikan."
Adam memejamkan matanya sebentar lalu membukanya lagi dan melihat kail pancing mereka semuanya seraya lanjut bicara.
"Kita diminta tolong membawa lauk minimal 8 ekor untuk acara syukuran nanti malam dan baru 2 ekor yang berhasil kita dapatkan." Adam mengambil beberapa batu kerikil kecil.
"Itupun aku dan Arya yang mendapatkannya." jawab Gias.
"Karena itulah aku malu dan tidak ingin pulang sebelum memenuhi permintaan dan tanggungjawab kita. Harga diri kita dipertaruhkan"
Adam benar, walaupun hanya memancing tetapi harga diri tetap harus dijaga. Ia kemudian melempar batu kerikil yang ada ditangannya ke kail pancingnya Gias.
__ADS_1
"Hey-hey-hey! apa maksudnya itu? kau membuat ikan-ikannya menjadi pergi, tau?" ucap Gias sambil menatap ke arah Adam di sampingnya.
"Aku hanya iseng saja. lagipula tidak ada ikan yang akan memakan umpan mu itu!"
Perkataannya tidak salah, tapi hal itu justru membuat Gias merasa disindir dan di remehkan. Gias yang tidak terima pun mulai membalas perkataan Adam.
"Kau meremehkan diriku kah? padahal dirimu sendiri saja masih belum bisa mendapatkan satu pun ekor ikan."
"Hah?" ia menoleh pada Gias.
"Memalukan sekali! kau mengatakan hal itu tapi dirimu sendiri lebih menyedihkan."
Gias memasang senyuman lebar dengan ekspresi wajah yang menyindir sambil sedikit mengangkat sebelah tangannya.
"Aku hanya tidak ingin terlihat mencolok saja."
Adam berusaha bersikap biasa dan tidak ingin terpancing emosi. Namun, Gias tidak mengenal ampun dan membalikkan kata-kata Adam.
"Tidak ingin mencolok katamu? bukannya kata-kata yang lebih tepat adalah, 'aku memang tidak berbakat dalam hal ini' begitu, kan?" Gias kembali tersenyum.
Adam pun jadi mulai memanas sambil menatap Gias dengan serius. tapi tak butuh waktu lama ia kembali tenang dan wajahnya terlihat percaya diri.
"Hah! pahlawan selalu datang di akhir waktu kau tau itu kan? sama halnya seperti diriku yang sebenarnya sengaja menunggu disaat-saat terakhir."
"Pihliwin silili diting di ikhir wikti, nyenyenyenyee. omong kosong! lagipula pahlawan yang sengaja datang di akhir waktu tidak pantas dikatakan pahlawan. kau juga berpikir begitu, kan?"
Dengan ekspresi wajah yang menyindir Gias menaik-turunkan alisnya kepada Adam hingga membuatnya terlihat kesal.
Ia pun mendecih, "Tchh! ... baru dapat satu saja sudah berani menyombongkan diri. apa kau tidak malu dengan sikapmu yang seperti itu?" ia menatap Gias dan membalas senyumannya.
"Lah! ...." Gias terdiam.
"Apa?" tanya Adam sambil menaikkan alisnya.
Gias hendak tertawa namun ia menahan tawanya, "Jangan membuatku tertawa Adam. lebih malu mana dengan yang belum bisa menangkapnya tapi sudah bersikap arogan dan tengil lagi?"
Itu merupakan counter [menangkal] kata yang bagus dari Gias hingga Adam pun tidak bisa berkutik.
Ia tiba-tiba berdiri dengan tatapan tajam dan menunjukkan jari telunjuknya ke arah Gias.
"Aku menantang dirimu Gias!" matanya penuh dengan keseriusan.
Karena sudah kehabisan kata-kata akhirnya Adam pun memutuskan untuk langsung ke intinya saja daripada kalah debat, begitu pikirnya. iyaa, meskipun dia sudah kalah sih.
Gias hanya sedikit mengangkat lehernya ke atas untuk menatap Adam dengan tatapan dingin, nada bicaranya pun berubah dengan suaranya yang menjadi lebih berat.
"Heee! ... apa kau punya keyakinan bisa mengalahkan ku?"
Tegasnya sambil mengangkat sebelah tangan kanannya yang sejajar dengan telinganya.
"Mereka mulai lagi dah." Ucap Jalil.
"Biarin aja lah, biar gak terlalu jenuh juga kan." Arya tersenyum sambil menutup matanya.
Mereka berdua hanya menyimak dan memperhatikan saja tanpa ikut campur. Bagi mereka hal seperti ini sudah biasa terjadi, perselisihan antara Gias dan Adam sudah menjadi familiar.
"Keyakinan kau bilang? Ya! Aku sangat yakin akan hal tersebut."
Dari tatapan mata, perkataan, dan ekspresi wajahnya Adam benar-benar serius. ia kemudian kembali duduk ditempatnya.
"Heee! ... nyalimu boleh juga. aku menghargainya."
"Tangkapan ikan yang paling banyak antara kita berdua adalah pemenangnya. dan yang kalah harus menggendong sang pemenang sampai depan rumah. bagaimana?" Ia menatap Gias dengan melotot tajam dan hasrat tak ingin kalah.
Hal tersebut membuat Gias tiba-tiba tertawa dingin sebentar, ia kemudian memegang (menyeka) rambutnya yang menutupi sebelah matanya dengan senyuman dominasi.
"Hahahaa! ... itu menarik! aku terima tantangan darimu Adam."
Mereka berdua pun saling tersenyum dengan kepercayaan diri mereka masing-masing. terlihat diantara mereka tidak akan ada yang akan mengalah sampai ada pemenangnya.
__ADS_1