Pendekar Desa

Pendekar Desa
Arc Batu Merah Delima: Maung Bodas III


__ADS_3

Pertarungan antara Omar dan Ilham yang mengesankan masih berlanjut. Ilham terpaksa menerima serangan dari Omar yang mematahkan jurus pikiran semaputnya.


Ilham memuntahkan dahak yang bercampur dengan darah, ia lalu mengelapnya.


"Astaghfirullah, itu tadi hampir saja. Jika aku telat meskipun hanya 1 detik saja untuk memindahkan pusat JD ku ke pusat kepalaku, mungkin aku sudah pingsan dan lebih banyak darah yang aku memuntahkan." pikir Ilham sambil lebih waspada.


Ia sudah bangkit dan mulai memasang kuda-kudanya dalam posisi siapnya. JD adalah jaringan dalam, titik pusat yang apabila terkena serangan fatal dapat membuat orang tersebut pingsan bahkan mati.


Ali sendiri mengambil pedang milik Ilham yang terjatuh sehingga dia pun memegang dua pedang.


"Pikiran semaput memiliki dampak yang lebih merugikan jika, kau hanya menggunakannya dengan satu senjata saja."


Omar terlihat melakukan gerakan kecil sebelum posisi siap dengan memegang kedua pedang, ditangan kanan ke belakang dan di tangan kirinya ke depan sejajar dengan dadanya.


"Akan aku berikan contoh cara menggunakan pikiran semaput untuk fokus menyerang."


"?"


Mata Omar memancarkan aura yang menegangkan hingga Ilham pun menyadari sesuatu hal berbahaya yang akan menimpanya. sesaat dadanya berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Jangan bilang, guru ingin ...."


"Aku peringatkan, hati-hati!" Omar terlihat memejamkan matanya.


"Tunggu, guru!" Ilham terlihat sangat waspada.


Omar menerjang ke depan dengan cepat, terlihat hendak memberikan tebasan dua garis dan Ilham pun sudah siap untuk menghindarinya namun, saat sudah sangat dekat Omar justru melompat ke belakang dan menghunuskan (melemparkan) salah satu pedangnya ke depan yang berputar-putar, dan ia pun kembali menerjang Ilham.


Dikondisi ini membuat Ilham mendapatkan dua serangan dari titik berbeda yaitu tebasan dari Omar dan hunusan pedang darinya, keduanya menuju ke arah ia secara bersamaan.


"yaAllah. ini benar-benar...menyenangkan dan menegangkan!"


Dikondisinya yang bisa dibilang merugikan dan berbahaya, mata dan ekspresi Ilham justru terlihat bersemangat.


Hunusan pedang Omar lebih dulu ke arahnya, Ilham pun melompat ke udara untuk menghindarinya, namun hal itu memberikan peluang besar untuk Omar menebasnya dengan ikut melompat.


"Bagaimana caramu menghindari serangan ini!"


Omar pun langsung menebas Ilham, dan sebelum mengenainya Ilham terlihat tersenyum. lalu ternyata ia bisa dengan mudah merubah posisi tubuhnya dengan menyerong, membuat tebasan itu berhasil tak mengenainya.


"Dia...bisa berjalan di udara?"


Ilham pun langsung turun ke bawah dengan melompat-lompat mundur ke belakang dan Omar kembali menyerangnya sambil mengambil pedang yang ia hunuskan tadi.


Dengan memberikan serangan dasar yang berurutan, ia melakukan serangan dua kali dengan lebih cepat setiap tiga kali serangan yang diberikan.


"Kecepatan, daya tahan, kemampuan, keelokan, semua itu dapat ia padukan menjadi satu." Ungkapnya di dalam hati.


"Tapi apa-apaan senyumannya tadi? meskipun aku tidak melihatnya secara langsung dengan mataku tapi, aku merasakan ada yang janggal dan memiliki maksud tertentu. apa dia memiliki rencana?" Pikirnya sambil terus memberikan serangan.


Hanya menggunakan tangan Ilham menahannya, menghindarinya, melompat dan perlahan memberikan serangan balasan berupa pukulan dan tendangan yang berhasil Omar gagalkan.


"Tidak, aku harus lebih konsentrasi dalam menggunakan pikiran semaput ini. tenang, sungguh ketenangan adalah titik terdalam untuk menuju keberhasilan."


"Ini bahaya, setiap serangan guru perlahan-lahan memperlemah pertahanan dan kecepatan ku. aku harus lebih cepat mencari celah sebelum beliau lebih dulu untuk membalikan keadaan ini." Pikirnya dalam hati.

__ADS_1


"Kalau begitu ... waktunya untuk lebih serius." ucap mereka berdua dalam hati.


Omar menghentikan langkahnya sejenak untuk menarik nafas dan langsung meningkatkan kecepatannya dan memberikan tebasan pola kerucut dan berputar. tanpa ampun ia pun memberikan tebasan cakar maung.


Setiap serangannya sangat brutal namun elegan dengan ritme yang begitu rapih dan beraturan, menyebabkan keseimbangan Ilham menurun drastis sekalipun ia berhasil bertahan, tapi tidak bisa memberikan serangan balasan.


Omar lalu berhasil memukul dagu Ilham dengan pegangan pedangnya, dilanjutkan dengan goresan dipipinya, bahunya, betisnya, dan di setiap sudut dari Ilham mendapatkan serangan bertubi-tubi, pertahanannya sudah diambang kerobohan.


"Ya Hayyu Ya Qayyum. aku tidak bisa menghindar, tubuhku mati rasa. Ini pasti karena efek samping dari tendangan sebelumnya. aku harus berpikir, aku berpikir, aku harus-"


Ilham sedang berpikir keras untuk membalikkan keadaannya, ia terlihat lebih lambat dari sebelum-sebelumnya. Omar pun menendang perutnya hingga Ilham langsung mengeluarkan dahak darah lagi.


*UGHH!


Kemudian Omar menusuk baju Ilham untuk menariknya hingga dekat, sampai akhirnya ia pun hendak memberikan tebasan dengan pedang dari tangan kirinya.


"Ini sudah berakhir, Ilham."


Dan saat itu juga, ...


"Berakhir? Siapa yang berakhir guru? Aku, atau ... guru sendiri?"


Ilham berhasil menghentikannya dengan hanya kedua jarinya, ia memegang ujung tumpulnya.


"Ritme nafas dan ketepatan serangan guru mulai tidak beraturan dan menurun dari sebelumnya, loh."


"Apa?!"


Omar pun memasang ekspresi kaget sambil menaikkan sebelah alisnya. ia tiba-tiba menghela nafas dengan matanya yang masih dipejamkan (ditutup).


"Aku hanya mengatakan bahwa, Batas waktu guru memakai pikiran semaput sudah habis."


Omar pun terdiam sejenak sambil menelaah kata-kata darinya. Ia tiba-tiba tertawa.


"Yang benar saja, Aku baru memakainya 1 menit 32 detik, batas waktunya masih-"


Kata-katanya terhenti ketika Omar menyadari ada yang janggal pada dirinya, iapun merasa sedikit pusing. Hal itu tentunya membuat sosok Omar kaget dan tidak habis pikir.


"Hah? Apa maksudnya ini."


Ucap dalam hati Omar sambil perlahan membuka matanya, menandakan jurusnya sudah berakhir. Penglihatannya kabur selama 2 detik.


"Seharusnya aku tidak berhasil menahan tebasan guru yang sebelumnya, tapi gurulah yang berhenti sebelum mengenai diriku."


"Jangan bilang ...."


"Iya, itu benar." Ilham tersenyum tipis.


Omar langsung melangkah menjauh sampai ia rela melepaskan kedua pedangnya tersebut. entah kenapa raut wajahnya terlihat kelelahan seperti Ilham padahal, harusnya itu sudah sangat biasa untuk Omar.


"Ada yang tidak beres. Kenapa diriku merasa lebih sulit bernapas, bahkan sampai berkeringat lebih banyak dari biasanya." ia kemudian memegang jantungnya, "Denyut jantungku pun mengalami peningkatan." Pikir Omar dalam hatinya


"Apa telah kau lakukan hingga aku merasakan hal seperti ini?" tanya ia sambil menaikan alisnya.


Ilham tersenyum bertatapan dengan Omar yang menatap tajam kepadanya.

__ADS_1


"Aku tidak melakukan banyak hal guru. itu semua hanya karena karbondioksida."


"Karbondioksida?" Omar menaikan sebelah alisnya.


Ilham mengangguk, "Iya, itulah penyebabnya."


ia merapihkan pakaiannya dan ngambil pedang-pedang di bawahnya.


"Bagaimana mungkin, itu hanyalah gas yang keluar dari hidung ki- ...."


Omar langsung tersadar akan satu hal dengan ekspresi kaget sambil melihat dan memegang dadanya.


"Apa guru sudah menyadarinya?"


Ilham tersenyum percaya diri dan Omar menatapnya, ia tersenyum tipis.


"Begitukah. penyebabnya saat aku melompat ke udara untuk menebasmu, benar?" ia menaikan alisnya sebagai bahasa tubuh.


Ilham mengangguk-angguk, "Tepat sekali, guru."


Omar kembali tersenyum dan tertawa kecil yang ia tahan, "Hmm! ... Jadi kau sudah mempertimbangkan keadaan ini akan terjadi sejak awal, dan kau sengaja menghindar dengan melompat untuk mengecoh diriku."


"Benar! aku memang sengaja melompat untuk menyelesaikan tahap akhir dari karbondioksida yang aku keluarkan dan yang ada di sekitar."


"Tapi bagaimana caramu melakukannya?"


"Saat ini temperatur desa sedang mencapai 8° Celcius, aku pun memanfaatkannya dengan kemungkinan terkecil 3% keberhasilan. efek samping jurus pikiran semaput dengan serangan-serangan yang guru berikan, membuat diriku lebih cepat membuang karbondioksida. tapi, ... sebenarnya aku tidak membuangnya dan justru mengumpulkannya menjadi satu gumpalan!"


Ilham mencoba menjelaskannya lebih rinci kepada Omar dengan sedikit memperagakan caranya mengumpulkan zat tersebut. Omar terlihat terkesan kepada Ilham saat mendengarnya.


"Ketika manusia terlalu tinggi menghirup karbondioksida maka oksigen dalam darah sulit untuk dilepaskan ke dalam sel tubuh." lanjut bicara Ilham.


"Dan tubuh dapat kekurangan oksigen hingga timbul gejala sakit kepala, pusing, gelisah, kesemutan, kesulitan bernapas, berkeringat, kelelahan, dan peningkatan denyut jantung seperti yang aku rasakan tadi." Disambung oleh Omar.


Ilham mengangguk, "Benar sekali."


"Jadi hal itu juga menjadi alasan kenapa kau tadi hanya diam sambil menutup bagian mulut dan hidungmu?"


"Iya. sejak saat itu aku sedang mengumpulkannya menjadi satuan padat di tanganku yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang, namun dapat dirasakan oleh hidung."


"Bukankah seharusnya itu berdampak terlebih dahulu padamu, karena kembali menghirup karbondioksida yang kau kumpulkan sendiri di tanganmu. itu benar, kan?" ia menaikan alisnya.


Omar semakin penasaran dan masih merasa heran, lalu Ilham pun menjelaskan semuanya dengan lebih detail, ia langsung tersenyum tiba-tiba sebelum menjawabnya.


"Apa guru benar-benar berpikir bahwa aku saat itu mengambil nafas?"


Ilham terlihat santai dari ekspresinya dengan senyuman khasnya.


Omar pun kaget, "Kau menahan nafasmu sendiri dalam kondisi seperti itu? itu tindakan gegabah dan sangat berisiko tinggi, kau tau itu, kan?"


"Seorang lelaki harus berani mengambil tindakan sekalipun ada konsekuensi yang besar. mencoba lebih baik daripada pasrah tanpa usaha."


Tegasnya dengan memberikan senyuman tulus yang penuh perasaan percaya diri, hal itu membuat Omar terkagum hingga ia pun ikut tersenyum dan menunduk seraya berkata.


"Heehh! begitu ya. kau membuatku tersanjung sampai-sampai membuat diriku melakukan kesalahan sejak awal. kesalahan dalam berpikir bahwa, bisa memberikan serangan mutlak yang padahal aku terjebak dalam perangkap yang kau buat."

__ADS_1


Ia lalu menatap kembali Ilham yang hanya diam dengan posisinya yang sudah siap menyerang dengan memegang dua pedang. keadaan mereka berdua pun berbalik, sesuai rencana yang telah Ilham lakukan.


__ADS_2