Pendekar Desa

Pendekar Desa
Arc Batu Merah Delima: Maung Bodas IV


__ADS_3

Angin sepoi-sepoi mengenai mereka berdua, daun-daun ikut berjatuhan, suasana hati mereka dalam kewaspadaan.


Saat ini, Ilham dalam posisi siap menyerang Omar kapan pun. Omar sendiri dalam posisi berdiri tegak tanpa memasang kuda-kuda, kedua tangannya dilipat di bawah dadanya.


"Begitu ya. Jadi, kau sudah menyelesaikan tahap akhir dalam pengumpulan karbondioksida ketika di udara sambil menghindari tebasanku dengan kemampuanmu. saat itu juga aku menghirupnya tanpa disadari."


Omar masih membahas perihal itu, Ilham hanya tersenyum tipis ditempat, ia tidak menyerangnya secara tiba-tiba sebagai bentuk penghormatan dan menjaga harga dirinya.


"Dan ketika aku menghela nafas sebelum meluncurkan serangan beruntun, ternyata itu merupakan pertanda awal bahwa aku mulai kekurangan oksigen."


Omar menatapnya dengan tajam, ia mengangguk pelan yang bermaksud bahwa dirinya sudah siap memulai ronde selanjutnya. Dalam sekejap mata Ilham pun menerjangnya, memberikan serangan tebasan memutar dari arah kanan. Omar berhasil menghindarinya, dan Ilham melanjutkannya dengan tebasan dari atas ke bawah di depannya dua kali, dilanjut dari arah samping kanan dan kiri miring masing-masing dua kali lalu diakhiri dengan tebasan memutar seperti sebelumnya.


"Dia menyerangku dengan serangan-serangan yang akh berikan kepada, tapi lebih meningkat. Gaya bertarungnya sebagai peniru sangat harus di waspadai." Pikir Omar ketika bertahan dari serangan yang Ilham berikan.


Serangan-serangan Ilham merupakan tiruan dari serangan yang Omar berikan kepadanya, Ilham menirunya dengan sangat persis bahkan lebih baik lagi, ia meningkatkannya dari kecepatan dan ketepatan juga rekleksinya.


Omar terpaksa untuk terus menghindari, mengelak, dan menjaga jarak dengan beberapa goresan ditubuhnya. kondisinya yang saat ini masih belum pulih, ia masih membutuhkan waktu beberapa menit lagi.


"Itulah alasannya kenapa kau tersenyum pada waktu itu kan?"


Mendengar perkataannya tersebut membuat Ilham tiba-tiba menghentikan serangannya sejenak untuk menjawabnya.


"Sepertinya guru telah salah paham."


"Apa! salah paham?"


Mereka saling bertatapan, Omar terlihat penasaran dari ekspresinya.


Omar pun bertanya-tanya dalam pikirannya sendiri, "Apa dia masih memiliki rencana lain yang belum diungkap?" ia memerhatikan gerak-geriknya, "Tidak, sepertinya ada maksud lain dari senyumannya tadi. tapi, apa?" ia memegang janggutnya.


"Alasan aku tersenyum sam sekalk tidak ada hubungannya dengan rencana yang aku buat."


"Heh! Lalu alasan sebenarnya karena apa?"


"Aku tersenyum karena ...."


Omar menelan ludahnya, Ilham perlahan-lahan menjawabnya.


"Karena, apa?"


Ilham sempat hendak tertawa namun ia menahannya menjadi senyuman.


"Karena aku melihat ****** dada guru yang terdapat coretan, dan sekilas aku melihat tulisan nama ibu di sana."


"E-"


Omar terdiam karena terkaget mendengarnya dan Ilham mengangguk-angguk pelan dengan tersenyum penuh.


"EEHH!??"


Teriak Omar yang terkaget hingga membuat Ali dan Raj sekilas memandang ke arah mereka lalu melanjutkannya kembali. Raj terlihat berdarah dari mulutnya dan tatapan matanya begitu tajam dan dengan ekspresi dingin yang agak kesal.


Omar pun reflek memegang dadanya untuk menutupinya, wajahnya terlihat sedang tersipu malu dengan pipi yang memerah.


"K-kau melihatnya??"


Suaranya yang berat pun seketika agak berubah.


"Iya, aku melihatnya dengan jelas karena baju kita yang seperti ini."


Omar yang sedang malu pun memegang dahinya sambil menunduk ke bawah.


"Dia melihatnya! jadi karena hal itu ia pun tersenyum. astaghfirullah, aku jadi malu. apa yang harus aku katakan di kondisi seperti ini."


Ilham sedikit menelengkan kepalanya dan bertanya, "Maaf guru, sepertinya aku mengatakan hal yang membuat guru kurang nyaman."


"Tidak, tidak apa-apa. aku hanya sedikit kaget saja. Sedikit saja."


"Begitukah, ternyata hanya kaget. baiklah, aku mengerti."


"iya-iya, benar-benar. hanya sedikit kaget. haha."


Ilham sudah tidak mempermasalahkannya lagi tapi Omar masih memikirkannya.


"Harusnya tadi aku membersihkannya saja, tapi sebagai hukuman darinya aku dilarang menghapusnya dan dilarang melanggarnya. hanya karena kalah bermain permainan mesra-mesraan membuatku sekarang ini menjadi bingung. Bagaimana jika ia bertanya lagi, apa yang harus aku jelaskan."


Baju khusus latihan silat mereka tidak menggunakan sebuah kancing baju, tapi dengan kerah segitiga yang menutup bagian satu dengan lainnya. dan pakaian Omar kerahnya lebih lebar hingga belahan dadanya yang kekar terlihat jelas, gagah dan pemberani dengan beberapa luka membekas di bagian dadanya.

__ADS_1


"Mari kita lanjutkan pertandingan kita Guru." Ilham memasang kuda-kudanya lagi.


"A- iya. Kemarilah!"


Omar pun mulai memasang kuda-kudanya.


"Syukurlah dia tidak menanyakannya lagi, dan untungnya tenagaku sudah pulih."


Omar menutup mata dan mengambil nafas dalam. ia pun membuka matanya saat sudah siap.


"Kita akhiri secepatnya!" Tegasnya.


"Ya, Guru."


Mereka kemudian saling berlari dengan cepat dan menyerang satu sama lain dengan penuh semangat yang membara antara keduanya.


Ilham masih melakukan tiruan serangan yang sebelumnya Omar berikan padanya. Membuat Omar dapat memprediksi serangan berikutnya, tapi serangannya lebih ditingkatkan dengan kecepatan 3 kali lebih cepat.


"Jurus Pedang: Pola Bintang!"


Ia menyerangnya dengan 7 tebasan pola bintang dari setiap sudut Omar, dan yang dilakukan olehnya hanyalah mengelak, menunduk, menghindarinya. Dia berhasil bertahan dari serangan tersebut sekalipun 3 kali lipat lebih cepet, lebih baik, lebih kuat.


"Aku menyadarinya, dengan serangan secepat ini pun memang masih tidak cukup untuk mengalahkan Guru. Tapi ...." Pikir Ilham sambil lanjut menyerang.


Omar tersenyum kecil, "Dia semakin agresif saja, ini menarik." ucap dalam hatinya.


Omar ingin memberikan serangan balik namun Ilham tidak memberikannya celah dan ia sangat agresif serta responsif, membuat kemungkinan tidak terjadinya serangan balasan.


"Sekarang saatnya, Jurus Pedangnya...."


Ilham menguatkan pegangan pada pedangnya ke belakang bahu dan menguatkan kuda-kuda.


"Cakar Maung!"


Ia memberikan tebasan kiri dan kanan menyilang, Omar menghindar kebelakang dan mencoba menepisnya dengan tangan menyilang, namun ternyata serangan itu justru mengenai bajunya yang menjadi robek menyilang.


"Cepat! Dia lebih dulu mengenai bajuku sebelum aku hendak menepisnya?" Omar terkejut.


Meskipun ia terkena serangan hinga bajunya pun robek, tubuhnya mengalami luka dari serangan ini.


Ilham langsung melanjutkannya dengan tebasan garis lurus horizontal yang berhasil merobek bagian kerah lengan Omar hingga ia hampir kehilangan keseimbangannya.


Omar tidak mengkhawatirkan kondisinya tapi tentang coretan ditubuhnya. Ia memerhatikan dengan teliti setiap gerakan Ilham dari matanya dan tubuhnya untuk memprediksi serangan berikutnya.


Dan terakhir, Ilham memberikan tebasan garis lurus vertikal yang ternyata ... Omar berhasil menghindar kesamping dan memegang lengan kanan Ilham, membuatnya terlihat kaget namun dengan tetap memasang senyuman yang indah.


"MaasyaAllah." pujiannya.


Omar tersenyum, "Teknik peniruan mu semakin menakutkan, muridku."


Omar lalu memberikan pukulan yang mengarah ke perutnya, Ilham pun sengaja melempar pedang satunya lagi kesamping saat pukulan itu hendak diberikan, akibatnya Omar pun terpoles pedang tersebut dan pukulannya pun meleset.


"Alhamdulillah, ini semua pemberian dari Allah."


Setelah itu Ilham membalasnya dengan tendangan sabit yang ditangkis dengan kaki Omar.


"Iya, itu memang benar. tapi sayang sekali, semuanya sudah cukup sampai disini saja."


Omar menekan tangan Ilham yang ia pegang hingga membuat pedangnya pun terlepas dari genggamannya. Omar langsung mengambilnya dengan cepat dan menendang titik pusat kaki bawah Ilham, hal itupun merobohkan keseimbangannya hingga terjatuh.


"Heh!?" Ilham terlihat terkejut di saat-saat akan jatuh.


"Sudah berakhir!" tegas Omar sambil menodongkan Pedang ke arah Ilham.


Ilham pun hendak tersungkur di bawah Omar, dan sesaat mereka saling tersenyum sambil memandang satu sama lain dengan ekspresi yang terlihat puas.


Sebelum tubuh Ilham benar-benar menyentuh tanah, kedua tangannya lebih dahulu menyentuhnya, lalu tanpa diduga-duga ia pun memberikan tendangan atas yang tepat mengenai dagu Omar.


"Ughh!"


Tidak sampai disitu, Ilham pun kemudian menarik kaki Omar sehingga ia pun ikut terjatuh ke tanah bersamanya.


"Astaghfi...rullah!"


Omar mengontrol tubuhnya saat jatuh agar tidak menyebabkan luka.


Akhirnya posisi keduanya pun sama-sama berbaring, mereka melihat ke langit-langit sambil mengatur nafas.

__ADS_1


"Sekarang kita imbang, guru."


Omar mengelap bibirnya dengan tangannya, "Sudahku duga. dari dulu hingga saat ini lengah sedikit disaat-saat terakhir memang bisa berakibat fatal." ia pun tertawa kecil bersama Ilham.


"Tapi di samping itu, dia dapat dengan mudah menarik tubuhku yang beratnya 117kg hingga ikut terjatuh. Perlahan-lahan dia semakin dekat untuk bisa melampaui diriku, meskipun perjalanannya masih panjang."


Keduanya pun kemudian bangun untuk duduk dan saling memandang sesaat, mereka langsung tertawa lepas melihat kondisi satu sama lain.


"Tadi itu pertarungan yang luar biasa, muridku. kau membuat gurumu ini kerepotan, terlebih lagi dengan teknik karbondioksida yang kau lakukan sebelumnya, itu sangat hebat."


"Iya, aku setuju, guru. semuanya atas izin Allah yang telah mengizinkan kita untuk dapat melakukannya. tapi, ... mengapa guru masih menahan diri? tadi semua bukanlah apa-apa, kan?"


Mereka bertatapan sejenak dengan aura sekitar yang agak mengintimidasi. hembusan angin mengibas rambut mereka dan daun-daun pun berguguran karenanya.


Omar tersenyum, "Ini semua hanya latihan semata untuk membela diri dan bertahan hidup. Aslinya mungkin akan lebih-lebih lagi dari semua latihan yang kita jalani. Yang pasti perkembanganmu sudah sangat baik dari sebelum-sebelumnya. dan lagipula, bukan hanya aku saja yang menahan diri disini, kan?"


"Aku sudah melakukannya dengan serius sesuai dengan kemampuanku."


"Serius yang kau katakan bukanlah serius yang sesungguhnya. kalau kau benar-benar serius, harusnya kau menggunakan jurus yang waktu itu, bukan meniru semua jurus serangan ku."


Ilham tersenyum tipis dan melihat rumput hijau di bawahnya, "Tidaklah mungkin aku bisa menggunakannya disaat-saat sekarang. aku benar-benar sudah mengerahkan yang terbaik yang bisa aku lakukan dipertandingan tadi."


Ilham langsung diam sejenak dan Omar membuka bajunya yang robek dan berusaha menutupi coretan itu dengan mengikat bajunya ke dadanya.


"Hmm! Begitu kah."


Ilham menoleh, "Maaf, aku telah merusak baju guru." ia menundukkan kepalanya.


"Tidak usah dipikirkan. aku justru senang karena kau menguasai cara merusak pakaian lawan tanpa harus melukainya dengan pedang."


Omar memegang kepalanya Ilham dan sedikit mengelusnya, Ilham sedikit kaget dari ekspresinya. Omar tersenyum hangat, Ilham yang melihatnya pun ikut tersenyum.


Omar pun berhenti mengelusnya dan memandang daun-daun yang berjatuhan.


"Kau adalah seseorang yang sangat mirip dengan ciri-ciri yang beliau katakan."


Wajah Omar terlihat agak muram tapi ia tersenyum, antara senang dan sedih menjadi satu.


"Beliau? Maksudnya Gurunya tuan guru saat masih muda?"


Omar mengangguk, pandangannya berubah ke arah awan-awan yang sekilas nampak lah bayang-bayang samar wajah gurunya Omar. tanpa ia sadari air matanya menetes namun mulutnya tersenyum.


Ilham hanya memperhatikannya saja dan ikut memandang awan-awan.


"Aku mungkin belum pernah menceritakannya secara detail. Tapi, karena jasa beliau kita bisa mencapai titik ini. Ilmu beladiri, meneguhkan ketakwaan, dan memantapkan mental, semuanya beliau ajarkan kepada aku dan Ali. dan kamipun ajarkan kembali kepada penduduk desa salah satunya kau, Ilham."


Omar kemudian menoleh dan menatap Ilham seraya lanjut berkata.


"Kau merupakan salah satu harapan terbesar dari semua murid-muridku, sekaligus ... anak kebanggaanku satu-satunya!"


Perkataannya tersebut membuat suasana diantara mereka sedikit canggung, diam-diaman dan hanya membalas dengan senyuman.


"Gunakanlah kemampuan yang kau miliki dijalan yang benar. Niatkan seluruhnya apapun yang kau lakukan karena Allah. Hal itu akan membawa ketenangan dan keberkahan serta keselamatan." tegas Omar yang menasihatinya dari hati.


"Baiklah, tuan guru. aku mengerti, dan akan aku lakukan dengan penuh keikhlasan juga kesabaran." Ilham memasang senyuman khasnya.


"Ya, aku mengandalmu bersama yang lainnya."


Meraka melakukan tos tangan kanan.


"Ya sudah. dengan ini aku sudah menang 228 kali, seri 9 kali, dan kalah 2 kali." Omar beranjak dari tempat duduknya.


Ilham ikut beranjak, "Sudah 10 tahun hingga saat ini dan aku baru menang 2 kali." ia melihat lengannya dan mengepalnya, "Perjalananku masih panjang, guru." ucapnya.


"Selagi kau konsisten maka kau akan terus berkembang dan membuka batasan dirimu untuk menjadi seorang pemenang." Nasihat dari Omar.


"Sedikit-sedikit namun konsisten lebih baik daripada beberapa hari tapi berlebihan." Ucap mereka bersama kemudian tertawa sebentar.


Omar menepuk bahu punggung Ilham, "Baiklah, sekarang mari kita berteduh di bawah pohon sambil melihat pertarung-"


Perkataannya itu terhenti ketika mendengar teriakan dari Raj yang sambil memukul tanah. Mereka berdua pun menoleh dan memerhatikannya dari kejauhan.


"SIAL! SIAL! SIAL!!!"


Rasa kesalnya sedang menggebu-gebu setelah ia kalah dan berada di samping kaki Ali. tatapan Ali pun kepadanya terlihat sinis.


Mereka berdua lalu bertatapan dengan ekspresi dan aura mengintimidasi dari keduanya, tapi Ali terlihat seakan-akan kecewa.

__ADS_1


"Aku bosan melihat pemandangan seperti ini. sepertinya masih terlalu cepat 10 tahun lagi bagimu untuk benar-benar bisa melampaui diriku." Tegas Ali dengan suara nada beratnya dan ekspresi dingin mengintimidasi.


...****************...


__ADS_2