
Keadaan antara mereka berdua semakin memanas dan suasana yang sebelumnya tenang berubah menjadi lebih bising. semangat mereka semuapun kembali berkobar terlebih lagi antara Gias dan Adam.
Tak lama Adam memalingkan pandangannya, berhenti menatap Gias dan memasang ulang umpannya.
"Lihat saja, akan aku balikkan keadaan dan akan aku buktikan kemampuanku." ia pun melempar kail pancingnya.
"Iya-iya, akan aku lihat baik-baik kok." ia tersenyum lebar seraya berkata lagi, "Melihat rasa kesal dari kekalahan-mu nanti!".
Gias tertawa kecil dan Adam menjadi semakin jengkel padanya. Adam bahkan sampai mengigit bibirnya sendiri dan menggerutu.
"Mereka berdua tidak pernah berubah-ubah ya?" ujar pelan Arya kepada Ayub sambil memperhatikan mereka.
"Iya. dan lebih baik mereka tetap seperti itu karena kalau tidak, mungkin desa akan lebih sunyi." jawabnya sambil menarik kail pancingnya yang di makan oleh ikan.
Diam-diam Jalil pun akhirnya mendapatkan ikan pertamanya hari ini.
"Aku dapat!" sambil mengangkat ikannya.
"Alhamdulillah. hebat! itu ikan yang cukup besar Jalil." Pujian Arya kepadanya.
"Kerja bagus, Jalil! akhirnya kita semua sudah menangkap ikan masing-masing." ia lalu menoleh kepada Adam yang membuang muka.
"Ehh! ... aku melupakan seseorang. ternyata masih ada yang belum menangkap ikan satupun disini. oh tidak-tidak, maaf, aku tidak bermaksud mengatakannya. tapi kok bisa yah belum dapet juga, kayaknya gak ada bakat deh. hahaha!"
Nadanya yang di buat-buat seperti orang polos yang ceria dengan bicaranya yang ceplas-ceplos membuat Adam muak.
Tapi setelah tawanya itu ia memasang ekspresi wajah yang memandang rendah kepada Adam yang tidak melihat kearahnya.
"Sial! sial! sial! dia benar-benar sengaja membuatku kesal. tenang Adam, istighfar. astaghfirullah, astaghfirullah, astagfirullahaladzim."
Ucapnya di dalam hati sambil mengigit jempolnya dengan kencang dan tanpa dia sadari jempolnya pun berdarah.
"Aa..aaa! coba lihat! ... sepertinya ada seseorang yang tersinggung sampai mengigit jempolnya sendiri hingga berdarah. aku jadi merasa tidak enak dan kasihan melihatnya, sampai-sampai aku ingin memberikan ikan yang sudah aku tangkap untuk menghiburnya."
Kali ini Gias mengatakannya dengan nada yang menyindir dan hendak menaruh ikan miliknya ke ember ikan milik Adam. Dengan rasa kesal Adam langsung menolak dan menghentikannya.
"Diamlah! aku tidak memerlukan rasa kasihan darimu! aku bisa menangkapnya sendiri!"
Ia memukul dadanya sendiri untuk menunjukkan rasa hormat dan harga dirinya sambil menatap tajam Gias sesaat.
Ia kembali fokus kepada kail pancingnya, "lihat saja nanti." ucap pelannya dengan ekspresi kesal.
Gias tersenyum lebar melihatnya dan menjawab, "Iya-iya. semangat ya! Adam-Adam, semangat-semangat, kamu pasti bisa, ayo-ayo, lakukan dan semangat."
Gias bernyanyi kecil untuk Adam agar dirinya semakin memanas alias kembali emosi. Adam menghiraukannya, mereka pun kembali menunggu umpan mereka dimakan ikan.
"Sebaiknya aku biarkan saja, semakin aku meladeninya justru membuatnya semakin senang." ucap di dalam hatinya.
Beberapa menit berlalu dengan keadaan yang kembali tenang dan tiba-tiba saja, kail pancing Adam bergerak yang membuatnya tersenyum.
"Lihatlah! tidak membutuhkan waktu lama umpanku langsung dimakan."
__ADS_1
Dengan penuh semangat ia pun menariknya dengan cepat, semuanya pun memperhatikan Adam.
"Woah! gede tuh pasti." ucap Jalil.
Adam terlihat sedang berjuang dengan mengeluarkan tenaganya. Terasa lumayan berat Adam pun mengira itu adalah ikan besar sehingga semangatnya menggebu-gebu.
"Semangat Adam!" teriak Arya yang menyemangatinya.
Ikan yang Adam pancing semakin dekat dan ia siap untuk menariknya agar lompat ke atas.
"Ayo, lihatlah!".
Ia pun menariknya dengan ekspresi gembira dan terlihatlah dahan pohon yang menyangkut di kail pancingnya.
"Heh!?" ia pun kaget.
Seketika ekspresinya langsung berubah drastis dan Gias pun tertawa terbahak-bahak.
"Bukan, ikan?"
Sambil tersenyum yang dipaksakan dan alisnya yang gerak-gerik sendiri, menggambarkan seseorang tidak menyangka akan hal tersebut.
"Ti-tidak apa-apa Adam, itu hal yang biasa." Jalil mencoba menghiburnya.
"Jangan menyerah hanya karena gagal, masih banyak kesempatan kok!" Ucap Arya.
"Tapi, tapi itu, itu dahan kayu yang aku pancing." sambil menunjuk-nunjuk dan sedikit menelengkan kepalanya dan memandang mereka berdua.
Gias terlihat takjub, tapi jauh dalam hatinya ia sedang meledek Adam sampai membuatnya memasang ekspresi kesal. Adam berkobar-kobar, ia langsung memasang umpannya lagi dan melemparnya kembali.
"Tidak apa-apa, itu hal yang biasa kok dalam kehidupan." Ucap Jalil yang kembali berusaha menyemangatinya.
"Itu benar. Sesungguhnya dalam kesulitan ada kemudahan. bersabarlah Adam, rezekimu pasti akan datang!" Arya tersenyum tipis.
"Aku tau itu. aku tau tapi ...." jawabnya dengan ekspresi sayu.
"Mau bagaimana lagi kan, kalau emang gak bisa ya gak bisa! Di dunia ini tidak semua yang kita inginkan akan terpenuhi."
"Dialah yang sejak tadi membuatku kesal. coba lihatlah kelakuannya. Sejak tadi aku mencoba untuk tenang, tapi dia terus-terusan menjahili aku hingga kesal." sambil menunjuk ke arah Gias dengan ekspresi kesal.
"Iya, kau benar." Arya tersenyum tipis dengan ragu-ragu tanpa memandangnya.
"Berikan adikmu peluang Gias, jangan terus menyerangnya." ucap Jalil.
"Oy, Jalil! Aku tidak pernah merasa sebagai adiknya. kami berdua adalah saingan!"
"Meskipun kau bilang begitu tapi kalian memiliki hubungan darah yang sah sebagai adik-kakak!".
Adam pun tidak bisa mengelak dari kata-kata Jalil.
"Iya juga ya, kami kan Kakak-beradik." jawab polos Gias.
__ADS_1
"Tuh, kalian mendengarnya kan? dia seperti tidak menganggap diriku sebagai adiknya dari sebelum-sebelumnya."
"Itu hanya senda gurau saja kan Gias?" seru Arya.
Gias memegang dagunya seraya menjawab, "Entahlah, aku akan coba memikirkannya."
Rasa kesal dan muak dalam diri Adam sudah menumpuk menjadi satu. Hubungan antara mereka berdua memang sering kali seperti itu, layaknya seorang kakak dan adik yang sesungguhnya mempermasalahkan hal-hal sepele dan saling tidak ingin kalah.
Meskipun demikian, mereka berdua memang labil banget sumpah, gitu doang di gede-gedein. saya yang nulisnya aja entah kenapa jadi malu membacanya.
Adam pun menggerutu dan yang lainnya hanya tersenyum tipis-tipis. Gias sebenarnya pintar dan memiliki wibawa tapi terkadang ia bisa bertingkah laku seperti itu disaat-saat tertentu contohnya seperti sekarang ini.
Adam kembali memasang umpan dan baru saja beberapa detik kail pancingnya pun kembali bergerak-gerak dan ia pun menarik-nariknya dengan kuat.
"Woah! sepertinya itu ikan sungguhan." ucap Arya.
"Kelihatannya memang seperti itu. aku bisa merasakannya." jawab Jalil.
"Tapi bisa saja itu dahan pohon lagi." Gias melenceng dari pemikiran mereka.
"Kau ini." ucap Jalil.
Adam hanya fokus untuk menariknya kuat-kuat dan yakin bahwa kali ini adalah ikan sungguhan.
"Awas aja kau Gias, awas aja!" ucap dalam hatinya.
"Kalau dilihat dari pergerakannya, ... pasti benar-benar ikan sungguhan yang besar!" tegas Arya yang mengamati.
Ikan yang begitu besar pun terlihat melompat di atas air yang disaksikan oleh semuanya dengan ekspresi terkejut. Adam pun terlihat begitu senang dan gembira, ia melanjutkan menariknya dan tidak ingin sampai lolos.
"Itu ikan sungguhan!" ucap mereka semua dalam hati masing-masing kecuali Adam yang tersenyum.
Dengan jerih payah yang Adam lakukan sambil mengeluarkan seluruh kemampuannya, ia pun berhasil menangkap dan mengangkatnya. ikan yang benar-benar besar, hampir tiga kali lipat ukurannya dari yang sudah-sudah ditangkap.
"Sekarang bagaimana? apa kau sudah mengakui kehebatanku yang berada di atas mu, Gias?".
Gias memberikan tepuk tangan pelan untuknya tapi ekspresinya terlihat mendominasi Adam.
"Hebat-hebat! dengan ini paling tidak kau selangkah lebih maju dari sebelumnya yang memprihatinkan." ia memujinya tapi juga menyinggungnya.
Adam mengigit bibirnya sendiri sambil menggerutu.
"Begitu kah? kau tidak mau mengakuinya dan masih meremehkan diriku, ya!" ia menatap tajam.
"Kalau ingin memuji jangan sambil menyinggungnya juga Gias. kau sulit sekali untuk jujur." ucap Jalil.
"Padahal aku sudah berniat baik memujinya." jawab Gias.
"Tangkapan yang luar biasa Adam, Alhamdulillah." Arya memberikan acungan jempol padanya.
"Alhamdulillah. terima kasih." jawabnya.
__ADS_1
Dilihat bagaimana pun jika memuji seseorang tanpa ikhlas dengan niat menyinggungnya tentu saja akan terlihat. begitulah yang Gias lakukan, kakak yang selalu menjahili adiknya dan terkadang sebaliknya. hubungan mereka terlihat sangat akrab dan sangat labil (kekanak-kanakan).