
Dalam pertarungan adu serangan yang sengit Antara Ali dan Raj, suasana sekeliling menjadi lebih menegangkan.
"Tunjukkan perkembanganmu kepadaku!" ucap Ali.
Lalu kemudian di suatu kondisi ketika mereka berdua beradu tendangan sabit, Raj melilit ujung kakinya ke paha Ali dan menguatkan otot sebelum ia menariknya agar dekat dengan menggunakan ujung kakinya untuk memberikan serangan sikut.
"heehh!?"
Ali sempat kaget tetapi ia dengan sigap memasang tangisan sangga namun, ia salah perhitungan. di detik-detik terakhir Raj mengubah pola serangannya yang tadinya ingin menyikut menjadi kuncian leher dengan menunduk sedikit.
dan ketika kaki yang tadi ia gunakan untuk beradu tendangan sabit dan menarik Ali mulai menyentuh tanah, ia memoles kaki Ali yang sebelahnya lagi sehingga jatuh ke tanah.
"??"
Ali terlihat bingung sekaligus cukup terkesan sambil mengedip-mengedipkan matanya.
"Hoo~! boleh juga."
Ia tersenyum senang sambil menatap wajah Raj di atas dirinya yang sedang memandang dengan tatapan dingin.
"Sejak awal aku mengincar pemandangan ini, semua serangan sebelumnya hanyalah umpan."
Auranya membara dan matanya penuh dengan rasa ambisi dengan ekspresi datarnya.
Ali tersenyum sambil memejamkan matanya, "Trik tipuan yang sedikit menghibur. Tapi ini tidak seberapa." ia berdiri dengan salto (melompat) depan.
"Mari kita lanjutkan pertan-"
Kata-katanya terhenti karena Raj menyerang secara tiba-tiba memberikan jurus tendangan halal. Ali bergeser sedikit untuk menghindari dan menangkap kaki bagian bawahnya beserta mencengkram bahunya.
"Dengarkan seseorang ketika sedang berbicara sampai selesai!"
Ucap Ali sambil menatap tajam Raj.
*UGHH
Tatapannya menggetarkan hati Raj, itu menandakan adanya aura berbahaya dengan tekad serius yang terpancarkan.
Cengkeraman tangan pada bahunya pun semakin kuat dan juga Raj tidak bisa melepaskan kakinya dari pegangan Ali.
"Ini dalam pertarungan, tidak boleh lengah atau mati karenanya! bukankah itu yang guru ajarkan?"
Mereka saling bertatapan sebelum Ali meluncur pukulan ke wajah Raj.
"Yang kau katakan memang benar, tapi tindakanmu sia-sia, bodoh!" ucap Ali.
Ia pun menghindarinya dengan menunduk ke belakang lalu menangkap tangan Ali tersebut untuk mencoba membantingnya.
"?"
"Sudah aku katakan kan, usahamu itu sia-sia saja. jangan melakukan tindakan bodoh, beratku 135kg. kejadian sebelumnya aku hanya sengaja agar kau lebih bersemangat."
Usahanya menjadi sia-sia, dengan kakinya yang masih dipegang oleh Ali membuatnya gagal dan tidak bisa mengeluarkan seluruh kekuatannya dalam posisi seperti itu.
"Sekalipun kau menggunakan Jurus Napak Bumi hasilnya akan tetap sama!"
Ia sedikit mendekatkan wajahnya dengan tatapan yang menyeramkan.
"Aku mengetahui titik lemah dan titik unggul dari semua jurus yang telah aku ajarkan, bodoh!"
*kreekk!
__ADS_1
Ali menyikut dengkul kaki Raj dengan sangat cepat dan kuat hingga berbunyi, menandakan mengenai bagian tulangnya hingga bergeser.
Tapi hal tersebut tidak membuat Raj terlihat kesakitan, dan ia justru berusaha memberikan serangan balik berupa tendangan menggunakan kaki yang satunya lagi dengan lompatan kecil ke arah leher Ali.
hal itu membuat Ali harus melepaskan pegangan pada kaki Raj untuk menangkisnya dan berhasil di tangkis. saat kakinya itu sudah terlepas dari Ali, ia langsung memberikan tendangan kuda yang membuat Ali harus menghindar dan melangkah mundur.
"Nah, kalau yang seperti itu boleh juga." Ali sedikit memujinya.
Karena kakinya telah bengkok membuatnya menjadi jinjit, persendiannya bergeser seperti patah tulang tapi tidak patah.
"Tapi sekarang bagaimana? kau sudah tidak bisa menggunakan sebelah kakimu."
Raj hanya menatapnya sesaat lalu melirik kakinya yang terlihat persendiannya bergeser.
Tanpa pikir panjang, ia langsung menggerakkan persendiannya itu sendiri dengan membaca 'basmallah', hal itu dia lakukan untuk memperbaikinya seperti semula. Dan dengan sekejap mata, iapun sudah bisa memasang kuda-kudanya lagi dan terlihat baik-baik saja, persendiannya sudah kembali normal.
"Astaghfirullah. aku lupa kalau dia sudah kehilangan perasaan akan reaksi sakit pada tubuhnya."
Ucap Ali dalam hati sambil tersenyum tipis dan memegang keningnya.
"Bagiku menahan rasa sakit lebih mudah daripada menahan kehampaan di dalam dada."
Tegas Raj sambil memegang dadanya dengan tatapan kosong yang terlihat menyeramkan, bagaikan penuh dengan kekosongan hati.
Ali pun memasang kuda-kudanya lagi,
"Hoo~. kalau begitu mari kita lihat, apakah ucapanmu itu terbukti setelah menerima semua serangan dariku!" Hawa Ali terlihat berbeda, ia lebih serius dari sebelumnya.
...Khaafidh Raj Prasetyo...
...Ali Mustofa Prasetyo...
...Muhammad Omar...
Di samping pertarungan mereka berdua, Ilham dan Omar pun akan melanjutkan pertarungan mereka yang dalam posisi siap masing-masing.
Terlihat Ilham memejamkan matanya dengan menguatkan kuda-kudanya, dan ia memegang pedangnya dengan kedua tangannya ke depan.
Ia sedang menyempurnakan konsentrasinya untuk menggunakan Jurus ke 24: Pikiran Semaput.
Ilham mengontrol nafasnya dengan perlahan dan tenang sambil berkata, "Bismillah."
Jurus ini membuat indra keenam penggunanya bekerja dengan maksimal dan sempurna. menjadikan pikiran seakan-akan di alam bawah sadar yang bisa merasakan objek sekelilingnya, aura, nafas, gerakan, ritme angin, suara, dan memprediksi serangan yang akan tertuju padanya.
Jurus ini terbilang sangat kuat dan sulit dikuasai orang awam. dan biasanya digunakan untuk fokus pada pertahanan yang sangat kokoh lalu mencari celah untuk melakukan serangan balasan.
meskipun begitu terdapat batas waktu paling cepat 30 detik dan paling lama 3 menit 28 detik. setelah selesai pengguna kehilangan kurang lebih 40% tenaganya dan gerakan melambat 20% dari biasanya dengan jeda 12 detik, maka dari itu setiap detiknya sangat berharga untuk dimanfaatkan.
"Hmm! ... rupanya dia ingin menggunakan pikiran semaput. kalau begitu ...." ucap dalam hati Omar sambil melirik Ilham.
Ia merubah posisi awalnya dengan melakukan beberapa gerakan dasar, hingga posisinya pun sudah siap layaknya memegang pedang dari arah samping kanan yang sejajar dengan bahu.
"Aku akan fokus untuk menyerang!" dalam hatinya.
__ADS_1
Posisi Ilham saat ini
Posisi Ali saat ini
"Bersiaplah, aku akan datang!"
Omar menguatkan lagi kuda-kudanya untuk memberikan efek terjangan yang cepat.
"Bismillahirrahmanirrahim." Ilham mengambil nafas, "Aku sudah siap!" ia terlihat tenang dengan mata tertutup.
"Bismillah." ucap pelan Omar.
Omar pun langsung menerjang ke depan kepada Ilham dengan sangat cepat hingga pijakannya itu retak (hancur), dan ia sekejap tepat di depan Ilham melakukan tebasan memutar dari arah kanan. tebasan yang begitu kuat dan cepat itu berhasil Ilham patahkan sebelum berputar.
Omar melanjutkannya dengan tebasan dari atas ke bawah di depannya dua kali, lalu dari arah samping kanan dan kiri miring masing-masing dua kali lalu diakhiri tebasan memutar tadi.
Ilham menahan, menghindar, mundur sedikit, menangkisnya dan menjaga jarak. posisinya tetap kokoh dan ia berhasil bertahan dengan mata tertutup.
jarak mereka saat ini sekitar 10 jengkal jari tangan.
"MaasyaAllah. pertahan yang begitu kokoh, ia sudah sangat menguasainya. aku harus merubah pola seranganku."
Ucap dalam hati Omar dengan kembali memberikan serangan.
Dengan cepat ia berlari ke depan, menikam Ilham di depannya sebanyak 6 kali secara beruntun. Ilham hanya mengelak dan menahannya.
"Hmm, hahh!" Omar mengambil dan membuat nafasnya.
Ia pun meningkatkan kecepatannya dan melancarkan serangan tebasan berbentuk kerucut dalam setengah lingkaran.
Serangannya perlahan berhasil membuat kekokohan kuda-kuda Ilham bergeser. dan dari waktu ke waktu, serangan tebasan umum Omar meningkat dengan bertumpukan menimbulkan kecepatan Ilham berkurang, namun refleknya masih tetap cekatan.
"Jurus Pedang: Pola Bintang!"
Ucap Omar yang berhenti sejenak lalu memberikan serangan dengan 7 tebasan pola bintang dari setiap sudut Ilham.
Dengan gesit, lincah, dan ketepatan dalam setiap serangannya membuat pertahanan Ilham hampir dibuatnya roboh, namun Ilham mengelak, menunduk, berkelit, menangkisnya tanpa memberikan serangan balasan, ia fokus bertahan.
"Lahaula wala quwwata illa billah." Ia membaca dzikir ini saat menahan serangan.
Meskipun dirinya berhasil bertahan tetapi tetap saja, Ilham terkena goresan luka-luka kecil dari serangan-serangan yang ia terima meskipun pedang itu terbuat dari pohon purba, ketajamannya tidak boleh dianggap remeh.
Pada pola serangan terakhir yang ke tujuh dari Omar, Ilham menahannya dan mereka berhadapan. Pedang mereka beradu dan ditahan.
"Ternyata serangan pola bintang tidak cukup untuk merobohkan pertahananmu." Ujar Omar.
Ilham tersenyum, "Meskipun begitu, pertahananku hampir saja hancur jika tadi aku sedikit salah melangkah."
Omar pun tersenyum, "Hmm! hampir? aku rasa kau sedikit keliru."
Omar langsung memoles pedangnya dan hendak memberikan tendangan sabit dari kanan.
"Allah!"
Ilham yang kaget hendak menahannya dengan kaki kirinya namun, Omar ternyata merubah langkah kakinya, ia berbalik badan dan memberikan tendangan halal belakang.
Ilham menyadari kejanggalan itu dan berniat menahannya dengan pedangnya namun, karena kalah cepat Ilham pun harus menerima serangan tersebut hingga ia tertendang mundur ke belakang dengan jarak 8 meter dari posisi awal.
__ADS_1
Dia langsung menguatkan kuda-kudanya dan memuntahkan dahak yang bercampur dengan sedikit darah, dan pedangnya pun terjatuh di depan Omar saat menerima tendangan tersebut.
"Pikiran semaput akan merugikan dirimu jika, kau hanya menggunakannya dengan satu senjata saja." Tegasnya.