Pendekar Desa

Pendekar Desa
Arc Batu Merah Delima: Maung Bodas I


__ADS_3

Di sisi lain disebuah lapangan hijau yang terbuka dimana terdapat salah satu pohon purba besar yang menyatu. sekelilingnya tertera pepohonan yang rapih memberikan kesan yang indah serta kenyamanan saat berada disini.



Desa Rancabungur bagaikan sebuah nirwana, dan lapangan hijau ini merupakan tempat latihannya warga desa untuk bisa menguasai ilmu seni bela diri silat dan ajian maung bodas. terkadang juga digunakan warga untuk mengadakan acara besar lainnya seperti syukuran yang kebetulan akan diadakan malam ini.


Karena tahun ini panen desa Alhamdulillah sangat besar, seperti biasa warga akan mengadakan syukuran terlebih dahulu sebelum lusa akan dikirim ke Kerajaan.


Ilmu bela diri maung bodas merupakan pelajaran utama dan wajib dikuasai oleh para warga desa sebagai bekal diri bertahan hidup di dunia ini dari kejahatan yang sudah bertebaran dimana-mana, terkecuali Desa Rancabungur ini sendiri.


Uang yang dikenal berlaku untuk segalanya menjadi tidak ada harganya di desa ini karena semuanya lebih memutuskan untuk bekerja bersama dalam bidang ekonomi maupun hukum.


Dengan saling berbagi dan memahami membuat mereka lebih mudah dan lebih nyaman tanpa harus mempermasalahkan perihal uang. semua sudah mendapat tugas-tugas mereka masing-masing yang harus dikerjakan.


Di lapangkan saat ini, ada Omar dan Ali yang sedang bertarung bersama kedua anak mereka masing-masing.


"Bagaimana dengan ini!"


Ia Ilham memberikan serangan tusukan lurus yang mengarah ke leher Omar. Harusnya serangan itu tepat mengenainya jika untuk orang awam, tapi Omar berbeda, ia merupakan guru bersama Ali.


Omar menghindarinya hanya dengan menelengkan lehernya, "Itu masih lambat!" lalu memberikan serangan balasan yang terpusat ke arah perut Ilham.


Ilham pun tersenyum dan menghindarinya dengan sedikit langkahan kaki sambil membuat serangan itu meleset dengan memolesnya menggunakan pedangnya.


"Benar sekali, guru!" jawabnya.


Omar langsung mengubah ritme gerakan tubuhnya dan serangannya hingga memberikan serangan bertubi-tubi kepada Ilham.


Namun serangan itu berhasil di hindari, di tangkis, dan Ilham sampai mengadukan pedang mereka berdua sambil bertatapan.


"Kau masih mengamati gerakan-gerakan ku?" Omar mengatakannya dan tersenyum penuh semangat.


Ilham pun membalas senyumnya dan menjawab, "Tentu saja. aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang kali, guru."


Lantas iapun mendorong pedangnya dengan kuat yang membuat pedang Omar terpental ke belakang Ilham.


Omar menatap tajam seraya berkata, "Hoo! kau bisa menjauhkan pedang dari cengkraman tanganku." dengan nada beratnya.


Dengan cepat dalam kemampuan mengubah pola serangan seperti halnya Omar, Ia langsung berniat memberikan tendangan depan.


"Itu karena guru cukup lengah saja sesaat!"


Namun sayang, Omar berhasil menghindarinya sebelum Ilham meluncurkan serangannya itu dengan melangkah lebih dekat dan lebih cepet memberikan tendangan sabitnya.


"Tendangan halal!" ucap Omar saat hendak memberikan serangan.


"??"


Ilham terlihat kaget dan ia harus menahannya. karena tidak sempat memasang tangkisan sempurna, ia pun memutuskan merubah langkah kakinya dan berputar ke belakang, menjauh hingga berhasil dihindari.


Tendangan Omar tadi memberikan efek angin yang dapat dilihat oleh kasat mata. itu Jurus Pertama: Tendangan Halal. tendangannya yang kuat dengan kuda-kuda yang kokoh dimana membutuhkan tenaga besar yang dikumpulkan ke dalam satu titik di area kakinya, tergantung jenis tendangan yang ia pakai.


Itu jugalah tendangan yang tadi ingin Ilham berikan tapi malah didahului oleh Omar. meskipun begitu, kemampuan pengendalian jarak mereka berdua yang sempurna merupakan hal yang tidak semua orang bisa. mengubah ritme atau pola serangan secara mendadak dapat mengakibatkan cedera jika salah sedikit saja.


"MaasyaAllah. Kau semakin mahir dalam menghindari serangan dari jarak dan waktu yang secara tiba-tiba." ungkap kagum Omar.


Ilham tersenyum lepas, "Alhamdulillah. semuanya atas izin Allah dan aku hanya berusaha dengan kemampuan yang dianugerahkan kepadaku."

__ADS_1


Omar memejamkan matanya dan tersenyum tipis, "Kata-katamu terdengar indah dengan perasaan rendah hatimu yang anggun."


"Keindahan sesungguhnya hanya kepunyaan-Nya. aku hanyalah seorang hamba biasa yang lemah yang dipinjamkan kekuatan dari-Nya Al-Malik."


Ilham melemparkan pedang miliknya kepada Omar dan ditangkap olehnya. lalu ia mengambil pedang Omar yang tadi terpental di dekatnya.


Pedang yang mereka pakai disebut, pedang puma. pedang yang terbuat dari batang pohon purba yang sulit dipatahkan dengan pedang sungguhan sekalipun.


"Sikapnya yang tidak arogan meskipun memiliki kemampuan seperti itu, dan tidak luluh oleh pujian merupakan bukti kewibawaannya." Ucap dalam hati Omar sambil memandang Ilham.


"Mari kita lanjutkan ke ronde kedua, guru!" ia mengkokohkan kuda-kudanya sambil tersenyum dengan mata yang penuh semangat.


"Ya! kau terlihat percaya diri sekali dan bersemangat. Aku jadi tidak sabar ingin menyaksikan bagaimana caramu kali ini melawanku." jawabnya dan memasang posisi siapnya, "Titipan yang Engkau berikan merupakan anugerah yang sangat besar Ya Rabb. Alhamdulillah." ucap dalam hatinya.


Keduanya saling bertatapan seraya berkata secara bersamaan dengan senyuman masing-masing, "Mari kita menikmati pertarungannya!".


...*****...


Di samping mereka dengan jarak sejauh 40 meteran, Raj bersama Ali pun sedang bertarung tetapi mereka tanpa menggunakan senjata.


Aura sekitar mereka berdua berbeda dengan yang sebelumnya. Omar dan Ilham memancarkan aura semangat dan rasa senang menikmati pertarungan mereka. sedangkan mereka berdua yaitu Ali dan Raj memancarkan aura dingin dengan atmosfer yang berbeda.


Mereka baru saja akan memulai pertarungannya, daun-daun yang berjatuhan didekat mereka pun langsung terbelah menjadi dua tanpa disentuh.


Dengan saling bertatapan tajam berjarak 4 meter dari posisi mereka masing-masing. Ali tetap terlihat santai sambil bersiwak dan tersenyum kecil, berbeda dengan Raj yang dari tatapan matanya penuh dengan keseriusan.


Kemudian masing-masing dari mereka memberikan hormat, Ali memberikan hormat dengan kedua tangannya yang ditaruh ditengah dadanya lalu menundukkan kepalanya sambil di kedepankan sedikit tangannya. dan Raj membuka lebar kedua tangannya sampai diangkat ke atas kepalanya lalu ke depan wajahnya yang sejajar dengan dahi dan menundukkan kepalanya.


Setelah memberikan hormat Ali menaruh siwaknya ditelinga kanannya, mereka berdua kemudian berjalan mendekat hingga jarak mereka hanya 5 jengkal jari saja.


"Jangan membuatku kecewa!" ucap Ali saat berjalan mendekat.


Ali dan Raj melakukan beberapa gerakan pembuka mereka masing-masing, dan guru Ali sudah siap di kuda-kudanya. kaki kirinya ditekuk ke depan, kaki kanannya di belakang dengan lulus dan badannya sedikit condong ke depan. tangan kanannya di posisi sikut yang sejajar dengan bahu dan tangan kirinya menempelkan pergelangan mereka yang sejajar dengan telinga.


Raj sendiri menempelkan pergelangan tangannya di atas dahinya dan kakinya mulai terbuka lebar bersamaan dengan tangannya yang dibuka lebar dan diangkat sampai tangannya sejajar dengan telinga dan kuda-kudanya kuat layaknya seperti posisi seekor elang atau lebih tepatnya phoenix.



(posisi kuda-kuda Raj dan guru Ali)


Ali tersenyum, "Kau sudah siap?"


"Aku selalu siap!"


Tanpa aba-aba Raj langsung mulai menyerangnya dengan menendang kaki bagian bawah Ali tetapi berhasil dihindarinya, Ia pun melanjutkan serangannya dengan membalikkan badan untuk memberikan tendangan sabit yang berpusat ke dada Ali, namun tendangannya itu berhasilnya ditahan dengan kedua tangannya.


"Apa hanya itu?" Ali menaikkan alisnya dan tersenyum tipis, Raj mendecih.


Raj lalu meluncurkan pukulannya dengan tangan kanan dan Ali menangkisnya dengan tangan kirinya. Lalu Ali memberikan serangan balik dengan memberikan pukulan ke arah perut Raj menggunakan tangan kanannya, Raj pun menahannya dengan tangan kiri.


Ali yang melihat celah berusaha memberikan tendangan sabit dengan kaki kirinya yang mengarah ke wajah Raj.


Ia pun menghindari tendangan sabit Ali dengan mundur ke belakang, dan saat itu juga Ali melangkah ke depan dengan memutar badan untuk mengulangi tendangan sabitnya yang seharusnya mengenai Raj.


"?"


Dengan reflek dan kontrol jarak yang ia kuasai dengan sempurna membuatnya mudah untuk menghindarinya, ia menundukkan badannya ke arah belakang.

__ADS_1


"Apa!" Mata Ali sedikit terkejut.


Dengan cepat dan tatapan tajam ia pun melakukan serangan balasan, dua tendangan ke depan sambil melompat kecil yang ditahan oleh Ali meskipun posisinya hampir merugikannya.


Raj melanjutkannya, memberikan pukulan bertubi-tubi kepada ali tanpa ampun. wajahnya terlihat serius dengan tatapan mata dinginnya.


"Aku akui, pukulan dan gerakanmu memang bagus!"


Ucapnya sambil menghindar, menahan, dan menangkis pukulan yang tertuju padanya.


"Tapi ...."


Tak lama Ali pun mematahkan pukulan bertubi-tubi Raj dan memberikan pukulan keras kepadanya tepat di tengah-tengah dadanya. Raj tidak sempat menahannya dengan kedua tangannya melainkan hanya dengan beberapa jari jemarinya saja.


*kreekk


Suara jari Raj saat menahan serangan tersebut.


"Setiap pukulanmu begitu hampa dan mudah ditebak sekalipun terbilang cepat! itu yang aku rasakan."


Raj pun terpukul ke belakang kurang lebih sekitar lima meter dari titik awal ia terkena serangan itu.


"Tchh!" ia mendecih.


Ia terlihat kesal dengan tatapannya yang semakin tajam. meskipun jari telunjuk, jari tengah dan jari manis bagian kanannya membiru karena dampak serangan tadi, ia tidak merasakan kesakitan dan terlihat biasa saja untuknya.


"Belajarlah dari sebelum-sebelumnya, Raj!"


Ucap Ali yang berniat memprovokasi. Raj pun mengepal erat-erat tangannya hingga urat-uratnya pun terlihat jelas dan ototnya mengeras.


Jika saja tadi ia tidak menahannya meskipun dengan beberapa jarinya dan segera menjaga kestabilan juga menguatkan kuda-kudanya lagi, ia harusnya terpukul mundur hingga 15 meter lebih jauhnya. itu merupakan jurus ke-empat: Pukulan Hembusan Angin.


Hampir sama halnya dengan jurus tendangan halal. jurus ini mengumpulkan seluruh tenaga ke dalam satu titik yang begitu padat dan kuat.


Bedanya, jurus ini membutuhkan waktu yang bersamaan dengan hembusan angin untuk menyempurnakan titik bagian luarnya bersama dalamnya menjadi satu gumpalan tenaga yang luar biasa.


Dampaknya mampu menyerang langsung ke saraf jaringan kesadaran dan kekuatan daya tahan manusia yang mengalir dari ujung kepala hingga kaki yang di sebut sebagai, JD (jaringan dalam).


"Kemari lah! kita baru saja memulai. Kau masih sanggup untuk lanjut kan?"


ucap Ali sambil jari tangannya ia gerakkan untuk menyuruh Raj mendekat, menyerangnya.


Raj langsung melesat dari tempatnya hingga menghancurkan tanah dari pijakan kakinya tersebut. Dengan begitu cepat ia melesat hingga berada di samping Ali dan memberikan pukulan. dengan santai dan sudah sesuai dugaannya, Ali tersenyum dan menahannya.


"Tak selalu cepat itu membuatmu menang."


Ia lalu memberikan pukulan kedua dari bawah yang kembali ditahan dengan mudah oleh Ali.


"Tetapi ketenangan akan membawamu untuk menang. ingat itu!" ia menatap tajam mata Raj.


Raj tidak menjawabnya dan tetap fokus memberikan serangan demi serangan. ia menendang belakang, sapuan bawah, pukulan depan, pukulan samping, sikut bawah, pukulan atas, hingga tendangan udara ia berikan namun Ali menghindarinya dengan santai.


Hingga akhirnya mereka beradu pukulan bertubi-tubi dengan kecepatan masing-masing tanpa ada henti.


"Apa kau pikir bisa mengalahkan ku dengan seranganmu yang selalu begitu?"


Ali menambahkan tendangan sikut disela-sela pukulan mereka yang ditahan oleh Raj.

__ADS_1


"Aku sudah melatih dirimu dan mengetahui setiap gerakanmu lebih dari 10 tahun. Semua titik lemah dan kelebihanmu merupakan suatu hal yang awam aku pahami."


Kedua di antara mereka memberikan serangan terbaik, ada saat Ali terkena tendangan depan Raj dan dibalas dengan pukulan depan, menerima dan membalas serangan demi serangan sambil mengubah ritme langkah kaki juga pola serangan terus mereka lakukan.


__ADS_2