Pendekar Dewa Pedang

Pendekar Dewa Pedang
Ch. 232 - Bermain Api


__ADS_3

"Aku mengerti." Fei Hung mengangguk dengan senyum kecil dan kemudian bertanya dengan main-main, "Bagaimana dengan wanita-wanita lain yang bersama mereka berdua? Mereka tampaknya juga memiliki perasaan pada kalian."


Fei Hung selalu menyadari situasi apapun dengan indra spiritualnya, jadi dia telah melihat perkembangan situasi pada waktu itu serta para wanita yang lebih suka tinggal bersama Ling Yan dan Xin Tian kecuali dua orang gadis lainnya yang memilih bersama Shin Mo. Mereka bertiga lalu bicara beberapa hal.


Setelah itu, Xin Tian lalu tersenyum tidak nyaman saat berkata, "Apakah kau benar-benar percaya itu? Kami berdua bahkan tidak percaya."


Fei Hung hanya menggelengkan kepalanya menjawab, "Ingat saja apa yang aku katakan."


Mereka berdua mengangguk penuh terima kasih ketika mereka ingat apa yang Fei Hung katakan kepada mereka .


"Apa yang terjadi?" Xin Wanying bertanya pada kakaknya.


Dengan cepat, semua orang mendengar apa yang terjadi. Pada akhirnya mereka tahu masalahnya.


"Sepertinya memang aku harus selalu menerima undanganmu, aku harap kau masih memiliki kamar di rumahmu ..." Kata Ling Yan perlahan kepada Xin Tian setelah melihat semua wanita ini tinggal di rumahnya.


Xin Tian tanpa sadar menganggukkan kepalanya.


Fei Hung menatap Ling Yan dengan rasa bersalah. Dia mengerti apa yang dimaksud olehnya.


Segera setelah itu, Ling Yan mengeluarkan sekitar 3 koper kayu penuh pakaian dengan Xin Tian membantunya.


"Baiklah, semuanya sampai jumpa besok."


Xin Tian dan Ling Yan mengucapkan selamat tinggal pada Fei Hung dan yang lainnya menuju kediaman Klan Xin.


Fei Hung kemudian berbalik untuk melihat semua wanita yang tinggal di rumah itu.


Dia benar-benar masih agak tidak percaya melihat mereka berkumpul di sini.


"Yiner, pergilah mandi agar kau bisa tidur nyenyak." Fei Hung menurunkan Huan Yin dari lengannya dan mengarahkannya untuk mandi.

__ADS_1


"Baik Guru!" Huan Yin mengangguk senang dan berlari untuk mandi.


Fei Hung kemudian menatap semua wanita itu, dan terfokus pada Xin Wanying. Bibirnya melengkung membentuk senyum nakal.


"A-aku akan pergi merapikan kamar dulu!" Xin Wanying merasakan jantungnya berdetak kencang tanpa henti saat dia ditatap nakal oleh Fei Hung, ​​​​jadi dia berdiri dengan cepat dan berlari ke kamar.


Xin Wanying juga sambil meraih tangan Ling Xi dan membawanya pergi dari ruangan itu.


"Hehehe!" Fei Hung tertawa dengan suara rendah ketika dia melihat Xin Wanying melarikan diri.


Sekarang hanya Lin Meng, Wang Ying dan Zhang Yang yang tersisa di ruang tamu.


Berjalan beberapa langkah dan duduk di sebelah Lin Meng, Fei Hung bertanya, "Apakah kau akan tinggal di sini juga?"


"Ya." Lin Meng mengangguk padanya dengan senyum lembut dan kemudian bertanya dengan cemberut ringan, "Apakah kau tidak ingin aku berada di sini?"


"Sebaliknya, saya sangat senang. Hanya saja aku merasa ini agak sulit dipercaya." Ucap Fei Hung tersenyum tanpa daya.


Lin Meng lalu tersenyum dan kemudian berbalik untuk melihat Zhang Yang dan Wang Ying, dia berdiri dan menyuruh Wang Ying untuk membantunya. Segera, Wang Ying mengangguk dan pergi bersamanya ke dalam kamar


"Mmm, sejauh yang kuingat, kau masih belum resmi menjadi tunanganku." Fei Hung tersenyum lebar dan menggoda Zhang Yang.


Zhang Yang memasang wakah cemberut dan kemudian bangkit dan duduk di kursi yang sama dengan Fei Hung, ​​​​di sebelahnya.


"Tapi saudari Ying juga tidak." Zhang Yang menatap Fei Hung. Dia merasakan bahwa sesuatu mungkin telah terjadi antara Fei Hung dan Wang Ying ketika mereka pergi ke bersama di Istana Kota.


"Bagaimana kau bisa menebak hal itu?" Fei Hung balas menatapnya dan tersenyum licik? "Mungkin aku telah memutuskan beberapa saat yang lalu untuk membawanya sebagai istriku juga ..."


Fei Hung memang telah memutuskan untuk mengambil Wang Ying sebagai wanitanya juga. Sekarang hanya tinggal Zhang Yang yang tersisa. Fei Hung juga memutuskan untuk menerima Zhang Yang setelah memikirkannya kerena menyukai gadis ini dan juga sangat menyukainya, tetapi pertama-tama dia akan bermain dengannya dan menggodanya dulu.


Zhang Yang menyipitkan matanya saat dia mendengarkan Fei Hung.

__ADS_1


"Kau jahat padaku." Ucap Zhang Yang sambil mendekati Fei Hung saat dia berbicara dengan suara yang sedikit kesal dan marah. Tubuhnya sekarang melekat pada Fei Hung sementara wajah mereka sangat berdekatan.


Zhang Yang tidak mundur dan menatap Fei Hung, ​​​​mencoba memenangkannya dengan mengintimidasi dia dengan tatapannya.


Fei Hung tidak bergeming dan malah memberinya tatapan yang sama, saat dia berkata, "Masih ada waktu untuk berubah pikiran. Masih ada pria yang lebih kuat dariku ditempat aku berasal yang bahkan bersedia menjadi suamimu, jadi kau mungkin menyesal memilihku dimasa depan."


"Apakah kau pikir aku akan menyesalinya?!" Zhang Yang dengan keras meraih kain di dekat area leher pakaian Fei Hung. Matanya tidak menunjukkan keraguan, dan sebaliknya ada tekad tanpa kompromi di dalam tatapan matanya.


Fei Hung lalu tersenyum bahagia di dalam hati ketika dia mengamati keberanian Zhang Yang dalam mendekatinya dan berada dalam posisi seperti itu, serta melihat matanya dengan tekad mutlak. Zhang Yang hampir berada di pangkuan Fei Hung.


"Kau sedang bermain api, Nona Zhang." Fei Hung menatapnya dengan senyum jahat sambil memperhatikan tubuhnya yang menggairahkan dan menggoda.


Di antara lima wanita itu, Zhang Yang adalah gadis yang memiliki tubuh paling menggoda dan sensual. Tak perlu dikatakan, penampilannya begitu menyanjung dipemuhi pesona rayuan yang sebenarnya.


Zhang Yang tidak bergeming dan malah sedikit tersenyum saat dia menatap mata Fei Hung, "Aku tidak peduli." Dia menjawab dengan nada yang sedikit menggoda dan main-main. Dia tidak berpengalaman tentang hubungan antara pria dan wanita. Dia mulai mengalami ini sekarang tetapi hanya dengan Fei Hung.


Fei Hung bisa mendengar detak jantung Zhang Yang berdetak kencang.


Pipi Zhang Yang sedikit memerah karena begitu dekat dengan Fei Hung, ​​​​tapi itu karena dia berusaha mengendalikan dirinya dan tidak kalah dari Fei Hung.


"Kau tahu tidak ada jalan keluar. Begitu kau masuk dalam hidupku, kau akan menjadi milikku selamanya ..." Fei Hung berbisik jahat padanya sambil menatap langsung ke matanya.


Zhang Yang tidak menjawab, tetapi Fei Hung bisa mendengar peningkatan detak jantungnya.


Dia bisa mencium aroma sensualnya yang indah, seolah-olah dia adalah ratu yang menggoda yang perlahan mekar.


Keduanya benar-benar bersama, bernapas dan merasakan napas satu sama lain, dengan aroma tubuh mereka yang menyatu sementara mereka hanya saling menatap secara langsung.


Fei Hung tersenyum nakal pada kekeraskepalaan Zhang Yang dan kemudian menggerakkan kepalanya sedikit, kali ini dengan Fei Hung mencuri bibir menggoda sensualnya.


"Hmm!"

__ADS_1


Zhang Yang merasa bahwa dia sedikit hilang kendali ketika dia merasakan bibirnya disegel oleh Fei Hung, ​​​​karena itu adalah kedua kalinya mereka berciuman.


Jantung Zhang Yang semakin cepat berdetak.


__ADS_2