
"Kamu itu masih muda dan kuat! Kamu bisa cari kerja yang lain. Kenapa kamu terus mengharapkan penghasilan toko kecil peninggalan kakakku yang tak seberapa ini! Dan perlu kamu tahu jika toko ini sudah sebagian besar isinya adalah modal paman sendiri. Dan mungkin peninggalan ayahmu hanya tinggal tempatnya saja! Jadi lebih baik mulai sekarang kamu lupakan saja toko kecil ini dan cari pekerjaan lain sana!"
Masih teringat jelas perkataan sarkas sang paman saat dirinya meminta bantuan untuk menebus resep obat ibunya dan membeli susu untuk anaknya. Sejak saat itulah Gea tidak lagi meminta hak itu dari toko sembako peninggalan ayahnya. Namun ia yang hanya bekerja sebagai pegawai catring didekat rumahnya dengan upah yang tak seberapa itu hanya cukup ia gunakan untuk makan sehari hari bahkan terkadang tidak cukup.
Saat dalam perjalanan pulang ia bertemu dengan salah satu tetangga yang bernama Sari. Rumahnya cukup jauh dari rumah Gea.
"Gea! Aku dengar kamu lagi cari pekerjaan ya? Mbak ada pekerjaan. Kamu mau gak mengurus orang tua gajinya lumayan besar tapi katanya orang tua itu sangat cerewet dan pengsuhnya itu selalu gonti ganti setiap bulannya!" tutur Sari tanpa menutupi apapun dari Gea.
"Cerewet gimana mba? Yang namanya orang udah tua yang biasanya memang cerewet!" sahut Gea santai.
"Kalo Gea mau ini alamat dan nomor telponnya Bu Anggi pemilik yayasan itu. Bilang aja tahu dari Sari pasti Bu Anggi tahu kok,"
Bu Anggi adalah pemilik yayasan penyalur tenaga kerja Baby siter dan ART.
"Oke mba, nanti aku coba bilang sama ibu dulu ya. Terima kasih informasinya mba,"
Setelah mendapatkan ijin dari sang anak, ibu dan adiknya, Gea membereskan sebagian pakaiannya untuk dibawa dan dimasukan kedalam tas ransel berukuran sedang miliknya. Meski awalnya sang ibu melarang namun, nyatanya kebutuhan terus bertambah besar dan mendesak, akhirnya ibu Ainun mengijinkan Gea untuk merantau dan meninggalakan anaknya yang masih BALITA.
Ini adalah pertama kalinya mereka berpisah.
"Bu, Gea pamit ya. Jaga kesehatan ibu jangan telat minum obatnya ya. Nanti setibanya di kota D Gea akan Video Call ibu ke hp Ardi ya," Gea mencium kedua pipi sang ibu dan berakhir pada punggung tangan ibunya.
Setelah pamit dengan sang ibu ia menghampiri anaknya yang sedang tertidur. "Sayang, jagoan ibu, maafkan ibu, harus pergi diam-diam begini dari kamu sayang. Ibu sayang kamu melebihi apapun. Ibu pergi juga demi kamu. Sehat sehat sayang," gumam Gea lalu menciumi seluruh wajah sang anak lelaki yang sedang tertidur pulas siang itu.
"Ar, Jaga ibu dan Bumi dengan baik ya. Kalo ada apa-apa kabari embak. Obat ibu kalo habis segera ditebus ya," serentetan pesan Gea pada Ardi sebelum ia pergi meninggalkan tiga orang yang begitu ia sayangi itu.
__ADS_1
"Iya, mba gak usah khawatir. Embak itu yang harus hati-hati di sana. Biar bagaimana pun embak kan perempuan apalagi di kota asing yang belum pernah sama sekali emba kunjungi,"
"Iya Ar embak tahu, kalau Bumi bujuk dia! Ya sudah embak pamit ya. Assalamualaikum," ucap Gea seraya melangkahkan kakinya menuju travel yang sudah menunggunya di halaman rumahnya.
Untuk pertama kalinya gadis itu berpisah dengan keluarganya. Kesulitan ekonomi memaksa Gea harus menggantikan ayahnya menjadi tulang punggung keluarganya. Ibunya yang sedang sakit dan adiknya lelakinya yang masih sekolah dan anaknya yang masih BALITA itu membuat kebutuhannya semakin bertambah.
Satu satunya toko sembako peninggalan ayahnya kini dikuasai oleh adik dari ayahnya yang tamak itu. Sebenarnya bagi Gea tidak masalah jika pamannya itu ingin mengelola toko tersebut tapi Gea dan keluarganya di kasih bagian setiap bulannya.
Namun nyatanya semua itu sama sekali tidak Gea dapatkan dari pamannya. Karna semua hasil dari penjualannya itu hanya dihabiskan sendiri bersama istri dan anaknya itu.
Gea yang tak mau terus meributkan semua itu akhirnya memutuskan akan merantau mencari pekerjaan dengan harapan bisa mencukupi seemua kebutuhan ibu, anak dan juga adiknya itu. Kenbetulan salah satu tetangganya menawarkan pekerjaan sebagai pengasuh orang tua di salah satu keluarga terkaya dikota D dengan upah yang cukup lumayan besar untuknya yang saat ini sedang sangat membutuhkannya.
Di dalam perjalanan Gea hanya diam, menatap jalanan yang semakin rame menurutnya.
"Apa aja Rif yang penting halal dan aku bisa membiayai pengobatan ibu dan juga sekolah Ardi yang tinggal satu tahun lagi. Kasian jika harus putus sekolah kan? Bekum lagi kebutuhan Bumi yang semakin bertambah," sahut Gea.
"Kenapa kamu tidak meminta kembali toko peninggalan ayahmu dari tangan pamanmu? Padahal jika toko itu kamu yang kelola mungkin bisa memenuhi kebutuhan kamu dan keluarga,"
"Aku malas berdebat Rif, biarkan saja lah toh aku masih muda tenagaku masih kuat untuk bekerja. Jadi biarkan saja itu jadi mata pencaharian paman untuk memenuhi kebutuhan istri dan anaknya," ucap Gea tanpa ada rasa dendam.
Hal itulah yang membuat Arif sejak dulu mengagumi gadis di sampingnya itu. Selain wajahnya yang cantik hatinya juga begitu tulus.
Sebagai pemuda Arif terbilang cukup sukses diusianya yang baru menginjak 25 tahun ia sudah bisa membuka usaha travelnya sendiri. Dari hasil ia menjadi seorang TKI di Negri Sakura selama 4 tahun itu. Namun saat ia kembali ke tanah air dan berniat melamar Gea keadaannya sudah berbeda. Sebenarnya bagi Arif tak masalah jika Gea memiliki anak namun Gea menolak dengan alasan tidak pntas menerima lamaran Arif dengan keadaannya yang sudah memiliki anak apalagi tanpa suami.
"Jadi kamu sudah mantap mau ke tempat bu Anggi? Setahu ku bu Anggi itu kan penyalur tenaga kerja Baby Sitter dan ART."
__ADS_1
"Memangnya kenapa, tak ada yang salah dengan pekerjaan itu. Yang penting kan pekerjaan halal," Sahut Gea.
"Ya gak kenapa sih, emang kamu gak malu dengan pekerjaan itu? Biasanya kan cewek jaman sekarang itu pada gengsi dengan pekerjaan itu!"
"Kenapa harus gengsi? Dan lagian aku udah punya anak dan itu juga bukan pekerjaan yang hina. Bagiku yang penting aku bisa dapat uang untuk pengobatan ibu, susu anakku dan sekolah Ardi," ucap Gea yang kini tatapannya fokus pada jalanan yang semakin padat.
"Kamu tidak pernah berubah Gea, selalu jadi wanita yang berhati mulia! Aku jadi semakin kagum padamu," ucapnya dalam hati.
Setelah itu tak ada lagi obrolan yang tercipta diantara keduanya. Gea yang fokus menatap keindahan jalan kota besar sementara Arif tetap fokus pada kemudinya.
Hingga tak terasa kini mereka telah tiba di alamat yang dituju. Arif menepikan mobilnya lalu turun dan di ikuti oleh Gea.
"Ini rumah bu Anggi?" tanya Gea dan Arif menganggukan kepalanya seraya menurunkan rangsel sedang milik Gea dari dalam bagasi mobilnya.
Setelah Gea memasuki halaman rumah Arif pun pamit pada Gea karna harus menjemput penumoang lain yang akan ia bawa.
"Assalamualaikum!" ucap Gea saat sudah berada didepan pintu yang sedikit terbuka seperti di dalam sana juga sedang ada tamu.
"Walaikum salam, kamu pasti Gea ya? Ayo masuk Sari tadi sudah menghubungiku," ajak bu Anggi dengan senyuman hangatnya.
"Betul bu," jawab Gea sopan.
"Apa kamu yakin mau bekerja jadi pengasuh orang tua?" tanya Bu Anggi ragu saat melihat kecantikan wajah Gea.
"Yakin Bu," jawab Gea dengan mantap.
__ADS_1