
Menjelang subuh Gea terbangun. Bagi Gea bangun di jam seperti itu sudah biasa ia lakukan. Selain ia harus menunaikan kewajibannya untuk sholat subuh ia pun terbiasa bekerja di catering yang mengharuskan ia pergi di jam subuh sehingga ia pun menjadi terbiasa melakukan semua itu.
Wanita itu menatap sekeliling kamar dan baru menyadarinya jika ia ternyata ketiduran di kamar Oma Yasmine. Ia bergegas bangun dan segera keluar menuju kamarnya untuk membersihkan diri lalu menunaikan sholat subuh setelah terdengar toa masjid berkumandang suara Adzan subuh.
Setelahnya ia berniat kembali ke kamar Oma untuk melakukan rutinitas paginya yaitu membantu Oma membersihkan dirinya.
Saat melintasi dapur ia melihat seorang lelaki yang tak asing. Dia adalah Arya lelaki yang selama ini Gea coba hindari didalam rumah itu.
Mereka sama-sama berjalan kearah yang sama. Karena arah kamar Oma mengarah pada tangga tempat yang Arya tuju untuk naik kelantai 2 tempat kamarnya berada
Sesaat pandangan kedua bertemu
Deg
"Gea," gumam Arya begitu lirih dan nyaris tak terdengar.
Tak ada perubahan sedikitpun yang Arya lihat dari wajah seorang Gea. Masih terlihat sangat mempesona seperti saat pertama kali ia melihatnya. Jika boleh Arya jujur wanita dihadapan itu memang begitu cantik meski dengan penampilan seadanya. Penampilan yang bahkan terlihat kampungan menurut Arya. Namun kecantikan itu tetap terpancar pada wajahnya. Itulah sebabnya dulu ia mencoba mengutarakan perasaannya itu namun penolakan yang dilakukan Gea dihadapan para temannya itu membuatnya begitu malu dan kehilangan harga dirinya dihadapan mereka semua.
Gea melengos kan mukanya begitu saja, bertingkah seolah tak melihat keberadaan Arya disana. Wanita itu terus berjalan menuju kamar Oma. Bukan bermaksud tidak menghormati lelaki itu sebagai majikannya dirumah itu.
Hanya saja rasa sakit dan kecewa yang teramat selama bertahun-tahun ia rasakan sendiri itu membuat hatinya seolah mati rasa. Bukan hal mudah baginya menanggung rasa malu dengan hamil tanpa suami. Belum lagi gunjingan para tetangga yang selalu ia telan mentah-mentah selama ini membuat hatinya seolah membeku. Daya ketertarikannya pada seorang lelaki seakan tak mampu ia tunjukkan. Dia merasa dirinya telah kotor dan ternoda hingga berpikir tak akan ada lagi ada lelaki yang mau memungut barang bekas sepertinya.
Sementara Arya terus menatap punggung Gea. Ingin sekali rasanya Arya menegur wanita itu namun entah kenapa saat berhadapan langsung seperti saat ini mulutnya itu terasa terkunci dan lidahnya Kelu untuk sekedar berucap.
* * *
__ADS_1
Sesampainya dikamar Oma Gea melihat Oma yang sudah terduduk diatas kasurnya.
"Selamat pagi Oma," sapa Gea dengan ramah.
"HM!" hanya itu yang keluar dari mulut Oma. Kelihatannya Oma pagi ini enggan berbicara padanya.
"Mari Gea bantu bersih-bersih ya Oma," ucap Gea kemudian.
"Gak usah! panggilkan Bi Atun saja! Biar dia yang bantu Oma!" ucap Oma dengan ketus membuat Gea seketika termangu seraya mengingat-ingat tentang kesalahan apa yang ia perbuat sehingga Oma merajuk padanya pagi ini.
"Oma, maafkan gea, kalau Gea ada salah," ucapnya penuh permohonan.
Bukannya membalas ucapan gea, Oma justru terus berteriak memanggil Atun yang mungkin pagi ini sedang sibuk di dapur seperti biasanya.
"Atun ...! Atun .....!" pekik Oma dari dalam kamarnya. "Udah sana kamu keluar aja! Oma mau dibantu sama Atun saja!"
"Oma, jika Gea melakukan kesalahan tolong kasih tahu Gea, agar bisa Gea perbaiki kedepannya!" ucap Gea yang tak mau menyerah begitu saja. Wanita itu bukannya pergi dari hadapan Oma, Gea justru semakin mendekat pada Oma.
"Kamu! Keras kepala! Oma sudah bilang oma mau dibantu Atun saja! Sana keluar! Tidur saja sana gak usah nemenin Oma!" tuturnya yang membuat Gea seketika menyadari tentang apa yang terjadi pada Omma pagi ini.
Ia mengingat jika semalam ia tertidur saat Oma sedang bercerita tentang film laga yang sedang ditontonnya itu, karena matanya sudah begitu mengantuk dan tak bisa lagi diajak kompromi.
"Ohh, jadi Oma marah sama Gea karena Gea semalam ketiduran ya? Maafin Gea ya Oma. Semalam Gea gak nahan lagi matanya, ngantuk banget. Ya sudah sebagai permintaan maaf dari Gea gimana kalo nanti malam kita nonton lagi berdua? Gea janji deh tidak akan lagi meninggalkan Oma tidur," bujuk Gea seraya mengacungkan jari kelingkingnya agar saling bertaut untuk mengikat janji.
"Janji ya!" ucap oma lalu menautkan jari kelingkingnya.
__ADS_1
"Janji Oma! Sekarang ijinkan Gea bantu Oma buat bersih-bersih ya!" ucap Gea pada Oma.
"Ya cepetan! Oma juga sudah tak tahan! Kamu sih buat Oma kesel semalam!"
Gea menanggapi ucapan Oma dengan senyuman kecil. Dan tanpa lagi menjawab ucapan Oma Gea memapah tubuh Oma ke kamar mandi.
Dan tanpa keduanya sadari ternyata seseorang sajak tadi memperhatikan interaksi keduanya. Siapa lagi kalo bukan Arya. Rupanya diam-diam ia mengikuti Gea ke kamar oma namun ia hanya mengintip dibalik pintu yang tidak pernah tertutup rapat karena Oma tidak menyukai jika pintu kamarnya tertutup.
Diam diam Arya mengagumi sikap lembut Gea dalam menghadapi omanya yang usianya sudah semakin senja itu. Bahkan tingkah laku dan perbuatannya pun sudah kembali seperti anak kecil. Mungkin jika pengasuh lain akan menyerah dan kewalahan menghadapi sikap Oma tapi tidak bagi Gea. Ia terus membujuk dengan berbagai cara seperti halnya ia membujuk anak kecil yang sedang ngambek.
"Aku kira dia bakal nyerah dan pergi begitu saja seperti pengasuh yang sudah-sudah. Mereka tak pernah bisa meluluhkan hati Oma jika sedang marah dan merajuk seperti itu! Benar-benar sabar dan dewasa menghadapi Oma. Bahkan aku sebagai cucunya pun tak pernah bisa meredakan kemarahannya," gumamnya seraya berlalu menjauh dari kamar Oma.
Baru saja tiba dikamarnya ponselnya berdering tanda ada pesan masuk dari Tania.
"Baiklah aku akan menemui mu sore nanti karena pagi ini aku ada janji sama teman-teman kerjaku," ujar Tania di dalam pesan yang Arya terima.
"Baiklah aku tunggu kabar selanjutnya!" balas Arya kemudian.
Setelahnya ia bergegas ke kamar mandi untuk bersiap ke kantor. Sebagai arsitek ternama ia selalu disibukkan dengan segudang pekerjaan.
Apalagi saat ini dirinya sedang membangun rumah untuk dirinya dan istrinya saat telah menikah nanti. Dan itu pula yang selama ini menjadi sumber masalah dengan Oma. Sebab Oma tidak ingin cucunya itu pergi dari rumah peninggalan suaminya saat sudah menikah nanti. Oma ingin semua cucunya itu berkumpul di rumah itu seperti keinginan mendiang suaminya. Namun keinginan dari Tania yang ingin pisah setelah menikah membuat Arya harus menuruti keinginannya.
* * *
Sepulang dari kantor Arya singgah kesebuah Restoran untuk bertemu dengan Tania guna membicarakan kembali hubungannya yang telah berakhir itu. Namun sudah satu jam Arya menunggunya wanita itu tak kunjung tiba. Arya mulai jenuh untuk hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari sana dan pulang kerumahnya.
__ADS_1
Namun saat dalam perjalanan pulang ia melihat seorang wanita yang tak asing baginya. Ia memperlambat laju mobilnya guna memastikan jika ia tidak salah melihat. Dan benar saja ia melihat seorang wanita yang sangat ia kenali itu sedang bergelayut manja di pinggang seorang lelaki.