
Pagi pagi sekali Gea sudah bangun dan langsung keluar dari kamarnya lakuenuju kamar oma.
"Selamat pagi oma," ucap Gea dengan suara lembutnya.
"Hmm," oma hanya menyaut dengan sebuah deheman.
"Oma mau ke kamar mandi?" tanyanya lagi dan oma hanya mengangguk karena merasa bersyukur ia tak harus menunggu lama untuk menuju kamar mandi pagi ini.
Biasanya ia sampai lelah menunggu seseorang masuk untuk membawanya ke kamar mandi sementara diapers yang ia gunakan sudah sangat penuh dengan air seni. Usianya yang sudah begitu senja membuat dirinya tak dapat lagi menahan saat ingin buang air kecil Itu sebabnya ia menggunakan diapers sebagai penampungnya.
Dengan telaten Gea membukanya dan mambasuh area tersebut dengan air bersih tanpa rasa jijik sedikitpun. Yang ada justru rasa iba dan kasihan
"Ya allah! Bahkan diapersnya sudah sangat penuh begini. Kasihan oma pasti sudah sejak malam oma merasa tidak nyaman dan risi," batin Gea.
Tanpa Gea sadari oma sejak tadi terus menatap wajah Gea. Tak nampak sedikitpun terpancar rasa keterpaksaan dari wajah polos wanita berpenampilan sederhana itu.
"Kamu gak jijik?" tanya oma tiba tiba dan membuat Gea menyimpulkan senyuman.
"Tidak oma, kenapa harus jijik? Di rumah aku sudah biasa mengurus ibuku saat sedang sakit," tutur Gea tulus.
"Tapi dia ibumu. Sementara aku hanya orang lain!"ucap oma dan menatap wajah Gea. "Bahkan menantuku sendiri saja merasa jijik saat sedang membantuku membersihkan diri!" ucapnya dalam hati.
"Sama saja oma. Suatu saat nanti mungkin aku juga akan mengalaminya. Oma mau mandi sendiri atau Gea mandikan?" tanya Gea kemudian.
"Sendiri saja," tegasnya
"Baiklah aku akan menyiapkan pakaian oma!" Gea keluar dari kamar mandi membiarkan oma mandi.
Ia nampak membuka beberapa pintu lemari mencari perlangkapan yang akan dipakai oma. Keberadaan dirinya yang baru semalam itu membuatnya sedikit kesulitan untuk menemukan barang-barang pribadi oma seperti halnya pakaian dalam. Sudah sejak tadi membuka seluruh lemari di sana namun ia tak mendaptkan yang sejak tadi dicarinya.
CEKLEK! Pintu terbuka dan nampak Bu Ane dan seorang lelaki paruh baya memasuki kamar tersebut.
"Ah Gea. Ternyata kamu sudah di sini," ucap bu Ane sedikit terkejut. "Dimana oma, Ge?" tanyanya kemudian.
"Oma sedang mandi Bu," jawab Gea ramah lalu menatap lelaki yang berdiri di samping bu Ane sekilas.
"Ini Mas Dirga. Suami saya dan anak dari oma Yasmin," ucap bu Ane pada Gea. Dan Gea mengangguk sopan pada Dirga.
__ADS_1
"Kenapa semua pintu lemari terbuka?" tanya Ane heran.
"Ah maaf bu, Gea sedang mencari pakaian dalam untuk oma tapi tidak ada di manapun!" sahut Gea yang merasa tidak enak.
"Oh itu semua ada dilaci sana!" Ane menunjuk salah satu lemari kecil dekat tempat tidurnya.
"Terima kasih bu,"
"Ayo mas, sudah ada Gea yang mengurusnya!" Ane menarik lengan suaminya keluar dari kamar mertuanya.
"Ane, kenapa tidak kamu saja yang mengurus ibu, Seperti biasanya?" tanya Dirga pada istrinya.
"Biasanya kan gada pengasuh mas, sekarang kan sudah ada Gea. Dan aku yakin Gea bisa melakukan semuanya dengan baik," jawabnya seraya terus berjalan menuju meja makan.
Tanpa ada kata lagi Dirga mengikuti sang istri yang kini sudah di kursi meja makan untuk menikmati sarapan paginya.
"Pagi ma, pa," sapa Adam dan Arya yang nampak baru saja turun dari lantai dua.
"Pagi juga para anak gantengnya mama! Tumben kamu udah bangun Arya?" tanya Ane karena tak biasanya anak itu bangun sepagi ini.
"Meeting luar kota ma pagi ini!" tuturnya.
"Pagi Bu," Sapa Dirga dan Ane dengan senyuman terbaiknya.
"Pagi oma," sapa Adam. Sementra Arya hanya diam seraya menyendok nasi goreng ke dalam piringnya tanpa menoleh sedikitpun kearah oma Yasmine.
"Hmm," sahut oma singkat lalu melirik pada Arya yang hanya diam tanpa menyapanya.
Dirga menatap penuh selidik pada putra pertamanya itu lalu menatap sang ibu. Hal seperti ini bukan pertama kalinya terjadi diantara Arya dan oma.
Dirga hanya menggelengkan kepalanya heran seraya menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Arya sepulang dari luar kota nanti mampir ke kantor, papa mau bicara," ucap Dirga kemudian pada Arya.
"Akan aku usahakan pa!" jawab Arya malas.
"Harus Arya! Ini perintah!" ucapnya tegas.
__ADS_1
"Ya!" jawab Arya singkat.
Setelahnya tak ada perbincangan yang terdengar dari semua orang yang ada di sana. Mereka menikmati sarpan paginya dengan hikmat.
"Oma, mau susu coklat atau Vanila?" tanya Gea pada oma Yasmine.
Merasa mendengar suara yang tak asing pada pendengarannya, Arya langsung menoleh ke pemilik suara itu. Seketika pandangan keduanya bertemu.
Deg
"Arya!"
"Gea!" ucap keduanya serempak namun hanya dalam hati.
"Bagaimana bisa si wanita kampungan, Gea, ada di rumah ini? Bahkan sekarang menjadi pengasuh oma. Bagaimana jika semua orang tahu soal itu? Tidak, tidak! Itu tidak boleh terjadi!" batin Arya terus bergumam.
"Jadi Arya adalah cucu dari oma Yasmine. Bagaimana mungkin bahkan orang yang paling aku benci dan ingin aku lupakan dalam hidupku untuk justru kini berada tepat dihadapanku! Ya tuhan rencana apa yang telah Engkau siapkan untukku?" batin Gea pun terus bergumam.
"Aku tidak mau susu pagi ini," ucap Oma yang langsung mengembalikan fokus Gea.
"Baiklah oma, lalu oma mau minum apa?" tanya Gea lagi.
"Air putih anget aja, bawa ke taman depan!" ucap seraya pergi menjalankan kursi rodanya sendiri tanpa menunggu Gea yang pergi kedapur mengambil air putih anget yang diminta oma.
Dengan membawa segelas air Gea berjalan kembali melintasi meja makan dan menuju taman depan tempat oma berada.
Arya menatap punggung wanita itu dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Wanita yang selama beberapa tahun ini mengganggu pikirannya bahkan selalu muncul mimpi buruk dalam tidurnya kini justru berada satu atap dengannya. Sungguh semua itu membuat Arya semakin frustasi.
Melihat tingkah Arya yang terlihat gelisah membuat Adam menautkan kedua alisnya. Diam diam ia sejak tadi memperhatikan ekspresi Arya dan Gea saat bersitatap. Adam merasa seperti ada sesuatu diantara keduanya yang berusaha mereka tutupi.
"Arya, kamu dan Gea saling mengenal?" tanya Adam dan membuat Arya seketika menjadi gugup.
"Ah, mana mungkin sih Mas. Ada-ada saja! Melihatnya saja baru kali ini dari mana bisa saling kenal?" jawab Arya seraya berusaha menutupi kegugupannya.
Adam hanya menganggukan-anggukan kepalanya. Namun bukan Adam namanya jika ia langsung percaya begitu saja dengan ucapan Arya. Ia tahu betul siapa itu Arya. Si paling jago ngeles.
__ADS_1
Apalagi melihat ekspresi Gea yang nampak begitu membenci Arya. Membuat Adam semakin penasaran.
Mencurigakan!