Pengasuh Untuk Omma

Pengasuh Untuk Omma
PUO | Bab 5


__ADS_3

Malam itu Gea yang baru saja keluar dari kamar oma Yasmine. Ia berjalan dengan antusias menuju kamarnya. Rasanya sudah tak sabar untuk menghubungi putranya untuk melepas rindu.


Saat ia merasa lelah dan ingin menyerah hanya satu yang jadi tujuannya yaitu melihat senyuman manis putranya. Selama beberapa hari sudah ia melewatkan panggilan dengan sang anak karena kuota internetnya habis dan Gea belum punya uang untuk membelinya. Dan hari ini ia sudah bisa melakukan panggilan menggunakan sambungan WIFI di dalam rumah itu atas kebaikan bu Ane.


Terakhir ia melakukan panggilan dengan Bima adalah dihari pertama ia tiba di kota itu.


Gea mengeluarkan ponselnya melakukan panggilan video call.


Wajah pertama yang muncul pada layar ponselnya adalah wajah cubby Bima yang begitu menggemaskan bagi siapapun yang melihatnya.


"Ibuuuuuu!" rengek bocah kecil itu dari seberang telpon. "Ibu sedang apa? Kenapa baru malam ini ibu VC aku? Aku kangen sama ibu," rengek bocah itu lagi.


"Maafin ibu sayang, ibu kehabisan kuota nak," Gea terkekeh. "Bima udah makan belum? nakal gak sama om dan nenek di sana?" Gea memberondong beberapa pertanyaan pada putranya.


"Bima udah makan bu. Bima juga gak nakal. Kan, kata ibu, Bima harus nurut sama om dan nenek. Biar nanti dapat hadiah mainan baru dari ibu," celotehnya yang membuat Gea semakin merindukannya.


"Iya sayang, Nanti ibu kasih hadiah. Terima kasih ya karena Bima udah jadi anak baiknya ibu,"


"Sama- sama ibunya Bima yang hebat," ucap Bima lalu nyengir menunjukan rentetan gigi susunya yang nampak rapi. "Ibu mau bicara sama nenek tidak?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Oh iyah! Mana coba kasih nenek hpnya!"


Setelah Bima memberikan hpnya pada sang nenek Gea terlibat percakapan dengan ibu dan adiknya. Menanyakan kondisi kesehatan ibunya dan juga perkembangan sekolah adiknya yang tinggal beberapa bulan lagi akan lulus itu.


Awalnya ia ingin menceritakan tentang lelaki yang bernama Arya. Lelaki beberapa tahun lalu, yang telah merenggut paksa masa depan dan meninggalkan benih pada rahimnya. Hingga tumbuhlah seorang Arya junior yang kini ia beri nama Bima. Namun ia kembali merenungkan semuanya. Ia tak mau kesehatan ibunya semakin memburuk karna banyak pikiran jika ia memberitahukan semuanya. Hingga akhirnya ia memlilih diam dan memendam semua sendiri. Entah sampai kapan. Biarkan saja waktu yang akan menjawabnya.


Setelah beberapa menit terlibat percakapan ringan dan santai Gea kembali menanyakan Bima ia ingin berpamitan padanya namun, sayangnya Bima telah tertidur di depan televisi di rumah sederhana itu. Akhirnya ia hanya bisa menatap wajah putranya yang sudah tidur dengan lelap.


Sambil menatap wajah polos sang anak yang sudah tertidur Gea berpesan, "Sehat-sehat ya anaku. Maaf jika ibu harus meninggalkanmu. Tapi, semua ini juga ibu lakukan demi kamu sayang. Untuk masa depanmu. Doa kan ibu, agar uang ibu cepat terkumpul ya supaya kita bisa segera berkumpul kembali," Gea menghapus air matanya mulai menganak sungai.


Tidak ada ibu yang rela jauh dari buah hatinya. Apalagi saat ini Bima masih BALITA. Masih sangat membutuhkan dampingan seorang ibu untuk tumbuh dan berkembang. Namun kebutuhan ekonomi yang menghimpit membuat Gea terpaksa meninggalkan Bima untuk bekerja cukup jauh. Semua itu Gea lakukan untuk kehidupan yang lebih baik, untuk kedepannya. Untuk masa depan anaknya kelak. Demi Bima Gea bertekad untuk terus bertahan menjadi pengasuh untuk oma dari lelaki yang begitu ia benci bahkan mungkin untuk seumur hidupnya.


Mengingat semua luka itu membuat Gea kembali merasakan sakit yang begitu luar biasa didalam hatinya.


"Ibu, jangan nangis lagi! Bima janji akan jadi anak yang baik dan nurut sama Oma dan om Ardi kox!" ucap Bima yang tiba-tiba membuka matanya dan menatap Gea dan itu membuatnya jadi semakin merasa sedih.


"Baiklah sayang. Terima kasih udah jadi anak penurut. Kalo gitu ibu tutup dulu telponnya ya, Assalamualaikum jagoan ibu," ucap Gea sebelum akhirnya menutup panggilan telponnya.


Sekuat apapun Gea menahan air matanya agar tidak sampai menetes tetap saja hati tidak bisa berbohong karena setiap ia melihat wajah Bima seakan ia melihat Arya Wiguna ditambah lagi kini ia harus kembali melihat lelaki dimasa lalunya disetiap harinya di dalam rumah itu.

__ADS_1


Tanpa Gea sadari diluar pintu kamarnya yang tidak tertutup rapat itu seseorang sejak tadi mendengarkan percakapannya dengan keluarganya. Walaupun tidak ia dengar semuanya dengan jelas tapi dia bisa mengambil kesimpulan jika wanita itu kini telah memiliki seorang anak.


"Ternyata dia sekarang sudah menikah dan punya anak? Syukurlah! Itu artinya tak ada lagi yang harus aku sesali apalagi untuk bertanggung jawab atas kesalahanku yang dulu," gumam Arya seraya menjauh dari sana. "Tapi siapa lelaki yang mau menikahi wanita bekas sepertinya? Bomat ah! Ngapain juga aku mikirin wanita itu?!" gumamnya lagi lalu masuk kedalam kamarnya.


Gea berjalan kearah dapur untuk mengambil air minum. Ia mengisi air pada sebuah wadah botol untuk dibawanya ke kamar. Pikirannya kini masih tertuju pada Bima anaknya. Entah kenapa malam ini ia begitu merindukannya. Saking tidak fokusnya Gea tidak menyadari jika botolnya sudah penuh dan airnya meluber dan tumpah ke lantai.


Adam yang kebetulan berjalan kearah dapur tidak sengaja melihat Gea lalu tatapannya tertuju pada botol yang telah penuh. Ia berlari mendekati Gea.


"Ge, itu airnya tumpah!" ucap Adam dan membuat Gea seketika tersadar dan langsung melepaskan tombol dispenser yang ia tekan sejak tadi.


"Astaghfirullah!" seru Gea dan nampak panik. "Maafkan aku mas Adam! Aku tidak sengaja!" ucapnya lagi dengan penuh rasa bersalah.


"Hehe," Adam terkekeh. "Kenapa kamu minta maaf sama aku? Kamu lucu banget sih Ge!" ucap Adam yang sontak membuat Gea menjadi gugup.


Untuk menutupi kegugupannya Gea berjalan ke arah lain untuk mengambil kain pel guna membersihkan tumpahan air. Sementara Adam terus menatap punggung Gea yang berjalan dengan cepat lalu menggelengkan kepalanya seraya tersenyum lucu.


"Kepolosanmu itu loh Gw bikin gemes aja!" gumamnya lalu pergi dari dapur setelah mendapatkan apa yang dicarinya di sana.


"Senyum-senyum sendiri kek orang kesambet aja!" celetuk Arya yang sedang menuruni anak tangga dengan menenteng kunci mobil miliknya. sepertinya akan keluar rumah.

__ADS_1


"Iya, kesambet cewek cantik barusan di dapur!" jawab Adam asal dan membuat Arya mengerutkan keningnya.


__ADS_2