
Siang menjelang sore Gea diantar oleh Bu Anggi ke rumah keluarga oma yang akan dirawatnya di kota besar itu.
Sambutan pertama yang Gea dapatkan adalah dari seorang wanita paruh baya dengan penampilan modisnya. Jika dilihat dari usianya tak beda jauh dari sang ibu. Hanya saja penampilannya yang membedakan. Gaya modis membuatnya terlihat nampak lebih muda dan cantik tidak seperti ibunya yang terlihat lebih tua dan kurus karena penyakit yang menggerogotinya setahun belakangan ini. Dia adalah Ane menantu dari orang tua yang akan Gea asuh di rumah itu.
"Selamat siang menjelang sore Bu Ane!" sapa Anggi ramah.
"Selamat siang menjelang sore bu Anggi lama tidak bertemu. Mari silakan masuk!" ajaknya dengan ramah pula.
Bu Anggi mamasuki ruang tamu dan mulai bertukar kata dengan Bu Ane.
"Ini yang akan jadi pengasuh untuk oma Yasmine, bu Ane," ucap Anggi pada Bu Ane. "Gea silakan perkenalkan dirimu pada Bu Ane. Beliau ini adalah menantu dari oma Yasmine," tutur Anggi pada Gea.
Wanita berpenampilan sederhana dengan berbalut jilbab segi empat yang menutupi kepalanya itu mulai mengenalkan dirinya dengan sopan pada bu Ane.
"Selamat datang Gea, semoga kamu betah di rumah ku ini. Dan aku harap kamu bisa mengatasi sikap oma yang sudah mulai labil dan kadang berubah-ubah tidak menentu. Maklum, usianya sudah senja," tutur bu Ane tanpa menutupi apapun.
Karna Gea merupakan pengasuh yang kesekian kalinya selama sebulan ini. Beberapa orang yang dikirim dari yayasan lain tak ada yang mampu bertahan dengan sikap oma Yasmine yang suka bertindak seenaknya pada pengasuhnya selama ini.
Setelah saling mengenal bu Ane kembali melanjutkan obrolannya. Sementara Gea diajak oleh sang ART masuk kedalam menuju kamarnya untuk beristirahat dan berkenalan dengan para ART lain yang ada di rumah itu.
Rumah yang sangat besar itu dan tentu juga banyak ART yang bekerja di sana.
"Ini kamarmu Ge," ucap bi Atun yang merupakan ART tertua dan terlama di rumah itu.
"Terima kasih Bi Atun," ucap Gea.
"Ya sudah istirahatlah sebelum Bu Ane memanggilmu untuk berkenalan dengan oma Yasmine,"
"Ya bi. Terima kasih,"
Setelah kepergian Bi Atun. Gea merebahkan tubuhnya sejenak dan ia pun tak lupa memberi kabar pada adik dan ibunya jika saat ini dirinya telah tiba di tempatnya bekerja.
Berselang satu jam kemudian Gea terbangun dari tidurnya melirik jam dinding ternyata sudah jam 4 sore. Ia pun bergegas untuk mandi.
__ADS_1
Tak lama Gea keluar dari kamar lalu berjalan menuju dapur, di sana nampak Bi Atun dan Mbak ida sedang duduk dan memakan sesuatu.
Gea mendekat dan mencoba menyapa kedua teman seprofesinya.
PRANK! Terdengar suara barang pecah dari arah lain yang membuat Gea dan yang lainnya langsung menatap arah sumber suara.
"Huft!" Bi Atun menghembuskan napas panjang. Baginya itu sudah biasa tapi tidak bagi Gea sebagai pendatang baru.
"Suara apa itu bi?" tanya Gea dengan raut wajah anehnya.
"Mungkin oma lagi marah pada salah satu cucunya atau orang yang ada di sana," tutur Bi Atun dengan nada santainya.
"Marahnya begitu ya bi?" tanya Gea bergidik ngeri. Seseram itukah orang tua yang akan jadi asuhannya di rumah itu? Ia sampai mengusap tengkuk lehernya karna merasa merinding membayangkan semua itu.
"Tidak apa-apa Ge, oma memang seperti itu tapi aslinya beliau sangat baik kok. Hanya saja kadang emosinya suka meledak-ledak dan tidak terkontrol," ucap Bi Atun menenangkan Gea.
"Bi Atun!" Seru Ane dari arah ruang makan. " Tolong bersihkan ya, terus panggilkan Gea," titahnya kemudian.
Sekilas Gea menatap punggung seorang lelaki muda yang sedang menaiki anak tangga menuju lantai dua rumahnya. Apa mungkin lelaki itulah yang membuat oma Yasmine begitu marah? Beberapa pertanyaan terlintas di dalam pikiran Gea.
"Gea, ini ibu mertuaku. Tapi kami semua sudah terbiasa memanggilnya oma," ucapan Ane mengembalikan fokus Gea.
"Oma, dia adalah Gea yang akan membantu dan mengurus semua kebutuhan dan keperluan oma," tuturnya lagi pada mertuanya.
Pandangan oma Yasmine kini memindahi Gea dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Dilihat dari penampilannya sepertinya dia hanya bertahan dalam waktu bulan!" ucapnya dalam hati lalu tersenyum kecut. "Siapa namamu tadi?" tanyanya kemudian.
"G-gea oma!" sahut Gea dan suaranya terdengar gemetar.
"Kenapa kamu ketakutan begitu? Apa aku begitu menyeramkan di matamu?!" ucapnya lagi dengan nada sedikit meninggi.
"Ti... Tidak oma!" Gea menggeleng cepat.
__ADS_1
"Antar aku ke kamar!" titahnya kemudian.
Gea bergegas meraih gagang kursi roda lalu mendorongnya kearah yang belum tahu akan kemana. "Maaf oma, di mana kamar oma berada?" tanya Gea yang nampak menghentikan langkahnya.
"Cari saja sendiri! Gimana mau kerja jika kamarku saja tidak tahu! Dasar tidak berguna!" gerutunya lagi dan membuat Gea seketika menelan ludahnya. Hari pertama saja sudah mendapatkan omelan dari oma. Lalu bagaimana ia akan menghadapi hari-hari selanjutnya.
Gea mematung lalu mengusap dadanya sendiri seraya beberapa mengucap Istighfar di dalam hatinya. Menoleh kanan kiri tak menemukan siapapun untuk bertanya. "Kemana bi Atun tadi?" batinnya celingukan. Tak lama terdengar derap langkah dari arah belakang dan Gea langsung menoleh ke arah langkah kaki tersebut.
"Pengasuh baru oma?" tanya seorang lelaki muda tampan dan berwibawa dengan ramah.
"Iya," Gea langsung menundukan wajahnya saat pandangannya bertemu dengan lelaki di hadapannya. Sementara oma hanya diam.
"Kamar oma ada di sana!" lelaki itu menunjuk arah kanan dan ada sebuah pintu sedikit terbuka. Sepertinya lelaki itu sudah tahu dengan apa yang sedang dilakukan sang oma. Ia selalu saja membuat pengasuh barunya itu merasa bingung dan kesal.
"Terima kasih ... !"
"Adam!" ucap lelaki itu seraya tersenyum ramah dan begitu manis.
"Terima kasih mas Adam," ucapnya sekalii lagi dan Adam mengangguk lalu menuju ke lantai 2 tempat kamarnya berada.
Oma melirik kebelakang melihat wajah Gea yang masih tersenyum menatap kepergian Adam.
"Kenapa senyum-senyum terus? Kamu suka sama cucuku?!" tanyanya kemudian yang membuat Gea menjadi semakin gugup.
"Ah ... Mana mungkin saya suka sama mas Adam oma!" jawab Gea asal namun itu membuat oma merasa tersinggung atas ucapannya.
"Jangan sok cantik kamu ya! Cucuku itu kan begitu tampan! Kenapa kamu bilang tidak mungkin menyukainya? Cih!" oma berdecih lalu pergi meninggalkan Gea mendorong kursi rodanya sendiri.
"Bu .. Bukan begitu maksud saya oma!" ucap Gea yang mulai merasa serba salah. Gea berusaha mengikuti oma hingga tiba di depan pintu kamarnya.
DEGUM! Oma membanting pintu. Sementara Gea yang sudah berada di depan pintu itu langsung mengelus dadanya sendiri.
"Astagfirullahal'azim! Kenapa jadi serba salah begini?" ucapnya.
__ADS_1