
Sore itu Arya tiba di kantor sang ayah menuruti permintaan ayahnya
"Apa yang mau papa bicarakan?" tanya Arya seraya melirik jam tangan mewah yang melingkar pada prrgelangan tangannya.
"Masalah apalagi yang terjadi antara kamu dan oma?" tanya Dirga yang kini telah menghentikan pekerjaannya.
"Tidak ada yang serius. Oma hanya meminta padaku untuk segera menikah tapi aku belum siap!" sahut Arya.
"Apa lagi yang kamu tunggu Arya? Pasangan sudah ada. Jika kalian memang sudah sama cocok kenapa tidak melangkah ke hubungan yang lebih baik?"
Arya hanya diam lalu menunduk tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
"Menurut papa, Tania itu gadis yang baik dan juga berasal dari keluarga baik baik. Lalu apalagi yang kamu ragukan?"
"Hubungan aku dan Tania sudah berakhir! Lagian aku tidak mungkin menikahi wanita yang sudah jadi bekas orang lain! Untung saja aku mencobanya dulu. Jika tidak aku akan mendapatkan wanita sampah seperti Tania!" ucap Arya dengan entengnya.
"Mau sampai kapan kamu bermain-main seperti itu dengan seorang wanita Arya? Papa heran, kenapa sih kamu tumbuh menjadi seorang lelaki yang tidak punya perasaan seperti ini?!" ucap Dirga dengan geram. "Jangan pernah mempermainkan perasaan seorang wanita, Arya! Jika kamu memang tidak mengingkannya, lepaskan dia tanpa merusak masa depannya! Terlepas dia masih suci ataupun tidak!" ucapnya penuh nasehat.
"Tapi sebelum aku merusaknya dia sudah rusak duluan pa! Wanita seperti itu ibarat boneka barby yang pantas dimainkan bukan?!" ucap Arya dengan nada remeh.
PLAKK!
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi mulus Arya.
"Papa tidak pernah mengajarkanmu menjadi lelaki yang suka memandang remeh wanita! Apalagi merendahkannya seperti itu. Mulai sekarang belajarlah menjadi lelaki sejati. Lelaki yang punya rasa tanggung jawab. Jika menurutmu wanita itu adalah boneka Barby yang pantas dimainkan. Kamu harus ingat satu hal! Lelaki sejati tidak akan pernah bermain boneka barby!" ucapnya dengan tegas.
Dirga tidak habis pikir dengan cara berpikir putra pertamanya itu. Bisa-bisanya memiliki pemikiran seperti itu. "Ingat Arya, suatu saat kamu pasti akan menikah dan memiliki anak. Jika anak perempuan mu kelak yang dipermainkan seperti itu oleh seorang lelaki apa kamu bisa menerima semua itu? Begitu pun orang tua dari wanita yang selama ini kamu permainkan perasaannya. Berubah Lah! Hiduplah dengan baik. Hargai perasaan wanita!"
JLEB!
Kata kata sederhana papa Dirga nyatanya mampu memporak porandakan hati Arya yang saat ini sedang tidak baik baik saja semenjak pertemuannya dengan Gea pagi tadi.
__ADS_1
Ia yang telah merasa menjadi seorang lelaki pengecut dan tidak bertanggung jawab dimasa lalu itu menjadi gelisah dan penuh sesal.
Namun untuk mengakui dihadapan keluarganya itu tidak akan mungkin bagi Arya. Terlebih wanita itu adalah Gea. Wanita yang dulu telah mempermalukan dirinya di hadapan semua teman temannya. Ia merasa harga dirinya begitu dihancurkan kala itu.
Flashback on
Saat itu Arya sedang menjalani KKN disalah satu desa. Saat Arya sedang berkumpul dengan teman-temannya seorang gadis cantik dengan penampilan sederhana itu melintas dihadapannya.
"Arya! Itu adalah gadis yang paling cantik di desa ini. Jika kamu memang merasa lelaki yang paling keren, kamu harus bisa takhlukan hati gadis itu! Namanya Gea," ucap salah satu temannya.
Tidak bisa dipungkiri saat itu memang Arya sendiri merasa tertarik pada gadis yang bernama Gea itu, selain wajahnya yang cantik gadis itu juga sholeha pakaiannya tertutup, berbeda dengan gadis gadis lain dijaman sekarang yang hobby mengenakan pakaian terbuka.
Singkat cerita setelah KKN tinggal beberapa hari lagi Arya berniat menyatakan perasaannya pada Gea di hadapan teman-temannya. Dengan rasa percaya diri yang tinggi Arya yakin jika gadis itu pasti akan menerima pernyataan cintanya itu.
Namun semua itu diluar ekspetasi Arya karena tenyata Gea menolaknya dengan alasan tidak mau pacaran atau menjalin hubungan dengan siapapun.
Sejak saat itulah Arya merasa terhina dengan penolakan Gea. Pikiran gelapnya menuntunnya untuk berbuat hal yang buruk yaitu menghancurkan masa depan Gea. Hanya Arya yang jadi satu satunya lelaki yang bisa menyentuhnya. Dalam keadaan sadar sore ia menculik Gea seorang diri, membawanya kesebuah hotel dan melecehkannya di sana tanpa satu orangpun yang tahu.
Hingga suatu saat Gea dinyatakan hamil lalu datang ke hotel itu mencari bukti CCTV untuk membongkar kejahatan Arya tapi apa yang Gea dapatkan? Hanya rasa malu karena telah dianggap mencemarkan nama baik Arya.
Dan sejak saat itu Gea yang merasa sakit hati sangat membenci Arya bahkan untuk seumur hidupnya. Ia berjanji tidak akan pernah lagi menemui lelaki itu untuk meminta pertanggung jawaban atas anak dalam kandungannya itu. Biarlah ia menanggung malu bahkan Gea sekeluarga di usir dari desa itu karena telah dianggap merusak nama desanya dengan hamil tanpa suami.
Flashback of
Melihat Arya hanya diam, Dirga kembali membuka suaranya. "Renungkan ucapan papa baik baik!"
Arya bangkit dari duduknya menyambar kunci mobil diatas meja dan pergi meninggalkan lelaki yang ia sebut papa di dalam ruangan itu.
Arya berjalan seraya memegangi pipinya yang terasa pedas tamparan yang ia dapatkan dari papanya cukup kuat. Sesampainya di dalam mobil ia melihat wajahnya melalui kaca yang menggantung diatas kepalanya. Semburat merah terpampang jelas pada pipinya yang putih mulus
*
__ADS_1
*
*
"Assalamu'alaikum oma," sapa seorang wanita cantik dengan penampilannya yang begitu elegant dan memanjakan mata yang memandang. Perempuan cantik itu berjalan dengan anggun. Aroma parfum bulgari women yang semerbak menerpa indera penciuman.
"Wa'alaikumsalam," sahut oma dengan senyuman merekah. "Dinda, sayang, apa kabarmu nak? Lama sakali tidak bertemu," ucapnya lagi dengan begitu antusias.
"Kabar baik oma, oma apa kabar?" tanyanya balik seraya mencium punggung tangan oma Yasmine dengan takjim lalu memeluknya.
"Kabar oma yan begini aja, kamu tahu sendiri kan? Apa yang oma inginkan selama ini belum ada yang bisa mewujudkannya. Entah itu Arya ataupun Adam!" tutur oma yang mulai menunjukan raut wajahnya melasnya.
"Oma, bisa gak sih jangan bahas itu dulu!" ucap Adam yang baru saja muncul dari arah yang sama saat Dinda masuk tadi. "Dinda kan baru saja datang," ucapnya lagi dengan hati-hati.
Sementara Dinda hanya tersenyum kikuk seraya menatap Adam dan oma secara bergantian.
"Kamu dan Arya sama saja! Apa salah jika oma menginginkan kalian segera menikah? Oma sudah semakin tua, pengen sekali rasanya menimang cicit. Tapi sampai sekarang belum juga ada yang mau mengabulkannya!" ucapnya ketus pada Adam cucu keduanya itu.
"Gea!" serunya kemudian pada Gea.
Gea yang sedang berada di dapur dan baru saja memotong buah atas permintaan oma itu segera berlari mendekat dengan membawa piring berisi buah ditangannya.
"Iya oma. Maaf kelamaan ya oma?" tanya Gea yang merasa tidak enak. Padahal menurutnya baru saja sebentar ia berada di dapur.
Melihat ada orang lain selain oma, Gea mengangguk tanda memberi hormat pada Adam dan wanita yang berada di sampingnya.
Gea menyuapkan buah pada mulut oma namun, oma menolak, "Tidak mau, oma sudah tidak mood makan buah!" tolaknya.
"Maafkan Gea oma, pasti karna Gea kelamaan ya? jadi oma sudah tidak mood lagi memakan buah ini!" sesal Gea.
"Oma mau cicit, Gea!"
__ADS_1