PENGEMIS PENGGEMAR DUKE

PENGEMIS PENGGEMAR DUKE
1. Bebas


__ADS_3

        Sekarang adalah masa semua umat berjaya dimana ada hak asasi manusia dan hukum yang melindungi.    


  


        Terik matahari bersinar terang diwaktu pertengahan pagi menjelang siang. Waktu yang indah dan sejuk saat angin menghembus dengan kelembutan yang segar. Ditengah tanah lapang yang indah kehijauan bunga dadelion berterbangan mencari kebebasan yang mereka inginkan. Melewati setiap tempat dengan kecepatan angin yang membawanya.


      Jauh disana tepatnya di tengah lapang tumbuhan dandelion terdapat sepatu dengan sang pemilik yang berbaring dengan mata yang terpejam. Dengan tubuh tanpa jiwa dengan keadaan yang bersih tanpa noda sedikitpun  seakan memang terlihat seperti seseorang yang tidur dalam kenyamanannya, namun siapa sangka bahwa diwaktu dan tempat itu dia menghembuskan napas terakhirnya.


"Hahhhh!! "


"Mimpi yang buruk"


" Gak mungkin aku mati ya kan?  Tapi seperti ada yang salah ?? "


Kebingungan melanda gadis kecil yang sedang duduk di teras toko yang kotor karna tak disapu dalam kurun waktu yang lama.


"Kenapa suaraku terdengar sangat imut sekali?" Sambil tersenyum dan memegang wajahnya.


"Tunggu... Kenapa tanganku semakin kecil?? Apa diet yang ku lakukan berpengaruh sebesar ini?"


" Hemmmbb... Tak sia-sia pengorbananku untuk gak makan banyak. Hahahahahaha...... Huk.. Huk.. Huk... "


"Gawat aku terlalu senang"


Senyum lebar menghiasi wajahnya yang kurang dari kata bersih karna belum mandi dalam waktu yang lama. Dengan tulang pipi yang menonjol sangking kurusnya. Terlihat sedikit menakutkan dengan gigi putih dengan bibir yang terlalu lebar saat tersenyum.


     Namun tak bertahan lama.


"Krruuuukkkkkk"


"Aaaaa lapar, kenapa perutku terasa seperti tertusuk jarum, sakiit bangeeet... "


"Sepertinya harus cari makanan dulu aku"


"Aaa baru sadar aku, dimana ini? Kenapa sepi dan kotor sekali. "


Tengoknya kiri kanan dan saat berbalik


" Sepertinya ini depan toko yang terbengkalai, kenapa aku bisa disini? "


Berpikir sambil jari telunjuk menyentuh dagu.


"Yaahh sudahlah yang terpenting sekarang cari makan dulu. "


Dia berdiri dan saat melihat kenapa dia merasa semakin kecil dari biasanya. Kenapa jarak pandang nya terlihat kalau dia kurang tinggi.


"Kenapa seperti ini,


Sepertinya aku harus cari cermin. "

__ADS_1


Dia mulai berjalan dan menelusuri jalan mencari tempat untuk bercermin bagaimana keadaannya saat ini.


Terlihat banyak bangunan berjejer terbuat dari kayu pilihan dengan ornamen yang rumit.


Semakin mata memandang seakan dunia ini berbeda dengan yang biasanya dia berada. Dia terus berjalan untuk mencari cermin dan makanan. Namun sudah terlalu jauh dia berjalan belum ada seorangpun yang ditemuinya.


"Sepi banget. Apa semua orang pada pindah, kok gak ada lampu disetiap rumah atau orang sama sekali. Apa aku terlantar sendirian?"


"Terus aja wes. Nanti pasti lak ketemu orang. "


Dia terus berjalan dengan rasa lapar dan penasaran kenapa tempat ini seperti tak berpenghuni.


Dari kejauhan terdengar langkah kaki kuda samar-samar dan semakin jelas saat hampir mendekati tempat dirinya berpijak.


"Apa itu? Sepertinya Sembunyi dulu saja. "


Semakin jelas suara langkah kaki kuda dalam sekejap ada di depan tempat persembunyiannya kuda itu berhenti. Kuda dengan penumpang yang membuat semua orang terpesona saat pandangan pertama berpijak memandang wajahnya.


"Tampannya.... " Dalam hatinya bersuara sambil tersenyum lebar dengan tulang pipi yang menonjol.


"Sepertinya aku melihat hawa keberadaan seseorang tadi disini. Kenapa tidak ada... "


"Dia mencariku? Tapi kenapa pakai kuda segala kayak jaman kuno aja. "


"Bentar..."


Lelaki itu turun dari kuda berjalan kearah persembunyiannya dengan langkah yang sama sekali tak terdengar hingga tepat didepannya.


"Hei.. "


Lalu ikut berjongkok di depannya.


Menepuk pelan pundaknya.


"Hei... Kau kenapa masih disini tak ikut ke tempat pengungsian kemarin. Disini banyak sekali monster yang masih belum ditangani. "


"Aku..? "


"Iya kamu.. Kenapa bingung begitu.. Disini hanya ada kita berdua. Pasti kamu lah yang aku maksud dan ku ajak bicara. "


"Kita ada dimana..? Apa nama tempatnya..? Dan kamu siapa..? Dan juga apa kau punya cermin..?"


Meskipun merasa aneh dengan pertanyaan gadis kecil didepannya dia tetap menjawabnya.


"Kita ada di kota dadelion tempat yang ramai dulu untuk sekarang kita harus mengungsi karna disini diserang monster yang tak tau asalnya darimana. "


"Ayo kita cepat pergi dari sini. "


"Sebentar apa kau punya cermin..? "

__ADS_1


" Di tempat pengungsian nanti ada cermin. Ayo cepat pergi kita tak mempunyai waktu untuk terbuang sia-sia.. "


Menarik tangannya sampai tak sempat protes dia diangkat keatas kuda lalu ikut naik dibelakangnya. Menarik tali kuda dengan kecepatan yang sangat cepat membuat mata perih dan pastinya menakutkan bagi gadis kecil itu yang tak pernah naik kuda sebelumnya.


"Bisakah pelan sedikit. Mataku perih lihat kedepan.. " Sambil meringis dia berbisik.


Namun karna lelaki itu seakan tak peduli malah berkuda semakin cepat seperti berburu waktu untuk sampai tempat tujuan.


Sekitar menghabiskan satu batang dupa mereka tlah sampai pada tujuan dengan keadaan si gadis kecil terlihat sangat mengenaskan karna diterpa angin kencang saat berkuda.


"Nahh kita sudah sampai ayok turun.. "


"Huuaaaa kencang sekali.. " Dia menangis kencang.


" Hei cup cup cup. Kita tak berkuda lagi karna kita sudah sampai. "


Banyak tenda berjejer dengan penerangan dari api unggun dan obor kecil disekitar serta banyaknya pengungsi yang beraktivitas.


"Siapa gadis kecil ini? Kenapa bersamamu sambil menangis? " Tanya seorang lelaki yang menjadi salah satu teman dari pria berkuda.


"Apakah kau menculiknya Jake? "


Iya lelaki berkuda itu bernama Jake. Jake menatapnya tajam.


" Oke oke jangan menatapku seperti itu, ayo kita kesana dan rawat dirimu dan gadis kecil ini. "


"Hemm... "


"Selalu seperti itu apa bicara saja mahal untuknya?. "


"Hah sudahlah kenapa juga kupikirkan. Lebih baik aku cari gadis cantik yang meminta pertolongan ku. "


"Hehehehehe."


Kembali pada Jake yang menggendong gadis kecil yang sedang pingsan karna kebanyakan nangis mungkin karna capek atau lapar jadi satu, siapa yang tau. Sampai ketenda milik Jake, dia meletakkan Jelita nama si gadis kecil sebelum ke kehidupan ini ke ranjang miliknya.


Memandangnya sejenak lalu pergi tuk mencari makanan karna ia tau bahwa gadis kecil yang dibawanya pasti kelaparan.


Bulu mata itu bergerak perlahan dari buram sampai ke pandangan yang jelas dia mengamati sekitarnya lalu mencari cermin meski perut lapar dan kepalanya masih pusing dia tak perduli.


"Inikah aku? "


"Kenapa aku jadi mungil kecil dan buluk gini? "


Dia menggerakkan tubuhnya di depan kaca tuk mengecek tubuhnya sendiri.


"Dan sepertinya ini bukan wajahku. Meski wajahku dulu gemuk pastinya kalaupun kurus tak akan terlihat seperti ini. "


" Jadi siapa kau? " Tanya nya pada cermin yang tak bisa menjawabnya meski dia marah sekalipun.

__ADS_1


__ADS_2