
Kultivator adalah sebutan seseorang yang mempunyai kekuatan sedangkan tenaga dalam adalah pondasi kekuatan itu sendiri.
Tidak semua orang mempunyai tenaga dalam yang besar. Pondasi kekuatan itu hanya dimiliki oleh beberapa orang tertentu saja.
Langkah kaki yang bergerak semakin cepat sampai keringat membasahi tubuh tak membuat Jake luluh untuk menghentikan menu latihan yang Jelita lakukan.
"Kejam! " Bisik Jelita dengan mata menatap dingin.
"Tampangnya sih oke tapi kenapa kelakuannya minus! " Lanjutnya.
Sekitar pengungsian ada tanah lapang yang digunakan untuk melatih fisik prajurit penjaga secara bergantian menjadi tempat latihan bagi Jelita.
Dari jauh Jake mengawasi Jelita melakukan tugas pertama yang diberikannya. Sambil tersenyum ia puas akan kelakuannya. Dengan latihan ini setiap hari dengan mudah nantinya untuk meningkatkan pengendalian tenaga dalam yang dimiliki Jelita.
Dia harus melatih Jelita dengan serius karna nanti sangat berguna untuknya.
Lima kali putaran berlari sudah berlalu namun tampaknya belum ada tanda-tanda untuk berhenti, sampai ke putaran ke lima belas barulah Jelita menepi dan langsung terlentang dengan nafas yang bersahutan sangat cepat.
"Hahhh... "
"Hahhh... "
"Hahhh... "
Nafas cepat terus terdengar beberapa saat, sampai tiba sepatu putih melangkah sampai ke tempat Jelita masih dengan tanpa suara.
" Minum? " Jake berjongkok di sebelah Jelita sambil menawarkan minum.
"Makasih"
Bangun dari berbaring nya dan menerima botol minuman dan meneguk nya dengan cepat.
"Setelah ini aku bisa istirahatkan, rasanya semua badanku remuk. "
"Masih ada beberapa latihan lagi, tadi hanya pemanasan jadi siapkan dirimu setelah ini. "
"Ku beri waktu satu batang dupa terbakar. "
"Ku tinggal dulu. "
Jake berjalan cepat karna tak ingin mendengar rengekan Jelita yang akan meminta meringankan menu latihannya.
Tersadar akan latihan yang bertambah Jelita langsung cemberut dan mendumel dalam hati sambil menatap Jake yang menjauh.
Dia kembali berbaring istirahat untuk menambah stamina latihan nanti.
•••
Deru nafas pelan terdengar bahwa ia terlelap. Jake sudah berdiri disampingnya memandang gadis yang beberapa hari ini menjadi murid dadakannya.
"Tenaga dalamnya hampir terbuka. Sepertinya masih butuh latihan beberapa kali lagi. Tapi meskipun begitu dia begitu hebat menyembunyikannya. "
"Jika aku tak mengecek melalui nadinya mana mungkin aku bisa tau. "
__ADS_1
Sambil tersenyum Jake bergumam lirih.
Waktu latihan yang dilakukan Jelita dimulai dari matahari terbit sampai matahari tepat diatas kepala. Selesai latihan Jelita harus menjadi koki setiap makanan yang dimakan oleh Jake.
Dia menikmati kegiatannya tanpa terasa meski dengan dumelan lirih.
Meski banyak kegiatan yang dilakukannya, Jelita tak pernah lupa untuk merawat tubuh yang ditempatinya, menggunakan masker dimalam hari dan mandi dengan campuran rempah buatannya sendiri menjadikan tubuhnya sedikit demi sedikit menjadi cerah dari pada awal dia masuk ke tubuh itu.
Jake masih menunggunya terbangun, dia tahu gadis kecil itu pasti masih kelelahan karna latihan beberapa hari ini.
"Dia terlihat lebih bersih dari pada awal bertemu denganku."
Lama Jake memandang sampai terucap dengan lirih perkataan itu.
Dahi menyerngit menampak di dahi Jelita lalu keringat dingin keluar dengan kepala bergerak tak beraturan.
"Dia mimpi apa sampai berkeringat? "
Jake ingin membangunkannya namun belum tangannya menyentuh tubuhnya Jelita bangun dengan cepat dan nafas yang terengah-engah seperti habis lari.
"Mimpi apa kamu sampai seperti itu.? "
"Gak ada. "
"Kau disini dari tadi? Ngapain? "
"Menunggumu bangun. Ayo cepat bangun kita latihan sekarang. "
" Ingatan tubuh ini terus saja menggangguku. "
Lirih Jelita tak ingin Jake mendengar yang tidak seharusnya dia cepat-cepat bersiap tuk latihan.
Sudah sebulan dia melatih tubuhnya ditempat pengungsian, sekarang tubuhnya sudah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Banyak kejadian dalam sebulan ini yang membuat Jelita ketar ketir dengan perasaannya. Semakin hari pandangannya kian menguat ketika memandang ketampanan Jake membuatnya hampir goyah. Meski dia pelatih yang baik cenderung kejam tapi ketampanan wajahnya tak membuatnya menjadi benci ketika menatapnya.
"Dia tak melihat wajahku yang jelek ketika bermimpi kan!?? Pasti dia lihat!!"
Sambil merengut menutup mata.
"Ya sudahlah jangan dipikirkan!! "
Berjalan mandi dan berganti pakaian ia bersiap tuk latihan hari ini.
Jelita sudah mengenali tempat ini sedikit banyak dan berkenalan dengan semua penghuni tempat pengungsian itu.
Dia juga berkenalan dengan rekan Jake yang bernama Leo. Dia orang yang humoris tak pernah Jelita tak tersenyum ketika berbincang dengannya namun meski begitu dia tak mempunyai waktu yang lama ketika berjumpa dengan Leo.
"Leo! " Keluar tenda Jelita menuju tempat latihan bertemu Leo.
"Hai..! Tata.. Kau hari ini semakin cantik saja.. " Sambil tersenyum menggoda Leo membalas sapaan Jelita ketika berbalik menatapnya.
" Seperti biasa kau tak pernah lupa untuk merayuku. " Ucap Jelita sambil tersenyum manis.
__ADS_1
Membuat Leo terpesona sesaat lalu berkata.
"Aku berbicara fakta. Kau memang semakin cantik apalagi ketika tersenyum seperti tadi. "
"Benarkah?!! "
"Iya."
"Lalu aku akan semakin banyak tersenyum di depan Jake agar bisa meringankan menu latihan gadis cantik sepertiku. "
"Dia tak akan terjebak dengan godaanmu itu. Setahuku dia lelaki paling kokoh ketika dirayu gadis cantik."
" Dilihat sampai sekarang menu latihan mu tetap banyak. Hahahahaha... "
Cemberut Jelita mendengar perkataan Leo.
"Benar juga. "
"Haaahhh.. Semakin hari aku terlihat makin kurus saja karna berlatih dan memasak menjadi kegiatanku sehari hari. Aku ingin makan banyak dan istirahat barang sebentar saja, namun temanmu itu tak menuruti permintaanku. "
" Menyebalkan tapi juga sangat tampan sampai aku tak bisa membencinya. " Jelita berkata sambil membayangkan wajah Jake yang tegas ketika melatihnya.
"Sudahlah aku pergi latihan dulu. Bay-bay Leo!! "
Berlari sambil melambaikan tangan Jelita menuju tempat latihan yang diberitahukan prajurit tadi saat dia baru keluar tenda.
Membuka tenda lalu pandangannya tertuju pada lelaki yang duduk bersila diatas ranjang dengan mata terpejam semakin menambah ketampanan dalam dirinya.
"Jake? "
"Cepat bersiap. Bersila menghadap ke arahku. "
Dengan mata masih terpejam Jake berbicara.
Latihan hari ini tidak seperti biasanya yang diluar ruangan untuk melatih fisik.
Karna pondasi kekuatan fisik sudah hampir mumpuni Jelita beralih untuk berlatih tenaga dalam dengan merasakan alam sekitar.
Terlihat Jake dan Jelita yang duduk bersila saling berhadapan dengan mata terpejam dan tangan diatas lutut dengan penuh konsentrasi.
"Fokuskan pikiran dengan merasakan alam sekitar lalu fokuskan energi alam memasuki tubuh kita. " Jake bersuara.
Semakin fokus keduanya membuat tubuhnya mulai dipenuhi uap panas yang mengelilingi tubuh dengan mata menyerngit sampai ketika menghabiskan dua batang dupa uap panas mulai menghilang merasuk kedalam tubuh masing-masing.
Mata mereka terbuka perlahan dengan saling memandang selanjutnya membuat Jelita tersenyum.
"Bagaimana perasaanmu? "
"Aku menyukaimu" Sambil tersenyum Jelita menjawab.
"Bukan itu maksudku. Bagaimana keadaan tubuhmu sehabis berlatih tadi? "
Memudarlah senyum Jelita mendengar perkataan Jake.
__ADS_1