
Matahari menyinari hampir sampai diatas kepala dengan derajat panas yang belum mencapai maksimal. Masih banyak aktivitas pengungsi dalam memenuhi kebutuhan sehari hari dengan prajurit yang menjaga bergantian disetiap sudut. Keramaian bersahutan silih berganti namun tak sampai membuat bising di telinga.
Disalah satu tenda masih dengan Jelita yang salah paham karna apa yang dipikirkan tak sama dengan pujaan hatinya. Meski begitu dengan cepat dia merespon pertanyaan yang Jake ucapkan.
"Hahahaha... Aku bercanda tadi.. "
"Aku tahu., jadi bagaimana? Apa yang tubuhmu rasakan sekarang ? "
"Lebih ringan dari biasanya, pendengaranku makin tajam dan penglihatanku semakin jelas. "
"Waahhhh efeknya sebagus ini!! "
Jelita berseru dia dulu mempunyai mata minus namun tak terlalu tinggi, setelah latihan begini penglihatannya menjadi semakin jelas.
"Latihan hari ini sudahi sampai disini besok kita latihan seperti ini lagi. "
"Sekarang aku ada urusan kamu kembalilah ke tendamu. "
"Baiklah Jake. Sampai jumpa besok nanti siang dan malam aku siapkan makanmu. Kau ingin menu makanan apa? "
"Aku ingin yang pedas dan manis secara bersamaan. Nanti kalau sudah memasak kau antarkan saja ke tenda yang baru dibuat untukku. "
"Baik"
"Sampai jumpa Jake.!! "
Jelita keluar tenda sambil tersenyum dia menuju tenda tempatnya tidur, belum lama dia ingin bersantai sudah terjadi sesuatu yang tak pernah terpikir olehnya akan menghadapi suatu hal secepat ini.
Dengan pendengarannya yang semakin tajam sehabis latihan dia mendengar suara gemuruh dari kejauhan yang semakin mendekat.
"Kau mendengarnya? "
Tiba-tiba Jake sudah disampingnya. Menoleh kaget Jelita lalu menjawab dengan anggukan.
"Warga sudah ku alihkan ketempat yang aman. Kau disini membantu saja. Meski baru latihan aku yakin kau bisa menghadapi mereka. Anggap saja ini latihan ekstrem yang akan kau lalui nanti. "
"Apa yang harus ku lakukan nanti? "
"Tiadakan apapun keadaan mereka. Jangan pernah lengah dengan penampilan mereka. Meski kau tak tega harus kau lakukan. "
Jelita tak mengerti perkataan itu sampai tiba saatnya monster mendekat dengan kecepatan yang sangat cepat dan tiba di depan mereka dengan tampilan mereka yang jauh dari apa yang dibayangkan Jelita.
__ADS_1
Jake dengan semua pasukan bersiap menghadang di bagian depan dengan senjata masing-masing. Dengan Jelita yang masih syok dengan penampilan monster yang jauh dari kata seram. Penampilan mereka terlalu imut jika dikatakan sebagai ancaman bagi manusia.
Setiap monster memiliki mata bulat dengan bulu mata yang lentik tak mempunyai rambut tapi mempunyai tanduk dengan bentuk yang berbeda beda serta warna tubuh mereka seperti pelangi yang penuh warna. Jelita seperti melihat permen dalam bentuk besar dengan kaki mereka yang terlihat pendek namun mereka bisa lari dengan kecepatan diatas nalar dunianya dulu.
"Apa-apaan ini!? "
"Bagaimana aku bisa meniadakan mereka jika terlalu imut untuk ku hilangkan dari dunia ini.! "
Jake dan pasukan bersiap menyerang monster yang bersiap menerkam dengan gaya yang menggemaskan.
Detik berikutnya banyak darah merah bercampur darah pelangi yang saling menyiprat sana sini dengan Jelita yang masih melihat situasi peperangan yang tak pernah dia bayangkan.
Sampai ketika ada salah satu monster yang hampir memakannya namun Jake tak kalah cepat menyelamatkannya.
"APA YANG KAU LAKUKAN!!? " Jake berteriak.
Berkedip Jelita tersadar bahwa dia berapa di tengah tengah peperangan.
Saling bersentuhan punggung mereka menatap monster.
"Jangan lengah lagi. Lebih kosentrasi ini pertarungan pertamamu. Kau tak ingin kan kalau ini juga akan jadi pertarungan akhir? "
"Amit-amit jangan sampek" Sambil mengetuk dahi Jelita menjawab.
Jake mengeluarkan senjata yang tiba-tiba muncul di telapak tangannya. Senjata itu pedang yang terlihat sangat tajam dengan ukiran naga yang cantik dan elegan berwarna perak dengan ganggangnya berwarna hijau keemasan.
" Ini cepat pakai. Kau gunakan saja. Serang mereka tanpa pandang bulu. Dan jangan pernah lengah. "
"Baik, terima kasih duke tampanku. " Akhir kalimat yang di ucap lirih Jelita sambil tersenyum.
Mereka bersiap menyerang monster yang juga bersiap ingin memakan mereka.
"HIYAAA.... "
Jelita mengayunkan pedang untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia yang biasanya hanya bisa mengayunkan pisau dapur untuk memotong sayur sekarang mengayunkan pedang dengan sekuat tenaga ke arah monster.
Kiri, kanan, atas, samping dengan lenggok badan yang lentur Jelita mengayunkan pedangnya dengan sangat indah seperti menari dengan luwesnya.
Dengan keadaan alat indranya yang semakin menajam membuat Jelita mudah mengetahui letak musuhnya.
Begitupun dengan Jake dia juga tak kalah tangkas dan cepatnya dalam menghadapi monster.
__ADS_1
Dengan serangan yang tajam dan selalu pada titik kelemahan yang akurat Jake membereskan hanya dalam satu kali serangan.
Mereka terus menerus berperang karna jumlah monster yang tidak sedikit dan terus berdatangan hingga matahari hilang sampai larut malam baru peperangan berhasil dikuasai oleh Duke Jake bersama pasukannya.
Genangan darah berwarna pelangi bercampur darah merah para prajurit yang tak selamat dan para pasukan prajurit yang selamat yang masih berdiri di sekelilingnya menjadi hal terakhir Jelita lihat karna dia kelelahan setelah selesai mengayunkan pedangnya pada monster terakhir yang menurutnya imut itu.
Dengan cepat Jake menghampiri Jelita sebelum dia terjatuh ke tanah yang penuh darah. Menangkapnya lalu menatap sebentar dan beralih menatap prajurit.
" Bereskan! "
" Siap Yang Mulia! "
Jake menggendong bridal style Jelita lalu berjalan ke arah tenda yang di tempati Jelita dengan cepat.
Memasuki tenda dengan Jelita digendongannya Jake menuju ranjang dan membaringkan Jelita dengan pelan. Lalu meletakkan pedang pemberiannya di atas meja.
"Bisa bertahan selama itu kau sudah berusaha dengan keras slama ini. " Sambil memegang tangan Jelita Jake memeriksa denyut nadi.
Lanjut berbalik pergi meninggalkan Jelita istirahat untuk memulihkan tenaga setelah memeriksa keadaannya.
Setelah beberapa saat terlihat bulu mata Jelita bergerak lalu dia membuka mata.
Tengok kanan kiri barulah ia tau bahwa yakin ia sendiri, dengan cepat ia bangun.
"Udah selesai?! " Bernafas lega Jelita melihat sekitarnya.
" Aku harus lebih kuat lagi. Dunia ini terasa ekstrem untukku. "
Melihat kilau pedang di bawah sinar cahaya obor Jelita mengambilnya.
"Pedang ini terlihat indah. Terima kasih sudah menjadi patnerku untuk pertama kalinya. " Sambil tersenyum Jelita mengelus permukaan lapisan pedang. Tak sengaja jarinya tergores saat memeriksa ketajaman pedang itu.
"Auuuw... " Jerit Jelita lirih.
Lalu tiba-tiba darah yang sedikit membasahi permukaan pedang terserap kedalam pedang menimbulkan sedikit cahaya lalu meredup tanpa sisa dalam sekejap.
"Apa itu tadi? " Heran Jelita.
Lalu meletakkan kembali pedang itu.
" Ya sudahlah"
__ADS_1
" Lebih baik aku istirahat lagi. Besok aku akan latihan lebih giat. " Ucap Jelita lalu berbaring dan mulai terpejam mengarungi mimpi.