Penggetar Jiwa

Penggetar Jiwa
10. Lumpuh Sebelah Kiri 3


__ADS_3

Di hari Ketujuh...


Akhirnya Syarif benar - benar tersadar dari pingsannya. Semua anggota keluarga Syarif merasa gembira. Walaupun Syarif belum sembuh dari sakitnya, setidaknya Syarif sudah bangun dari pingsannya.


Pagi itu, Syarif ditunggui oleh Neneknya. Neneknya tersenyum bahagia melihat Syarif sudah membuka matanya yang menunjukkan sudah terbangun dari ketidaksadarannya selama 6 hari.


" Mbah, Syarif ada di mana ini? ", tanya Syarif kepada Neneknya.


" Di Rumah Sakit", jawab Neneknya.


" Memang Syarif kira ada dimana?", tanya Neneknya.


Syarif memperhatikan sekitarnya kemudian menjawab pertanyaan Neneknya.


" Di Mushalla", jawab Syarif.


" Itu rumah Buyut", jawab Syarif sambil menunjuk keluar.


" Kateng...kateng. Jadi selama ini ga sadar kalau ada di Rumah Sakit ya?", ucap Neneknya.


Sekitar jam 11 siang, Wali Kelas 2A, Pak Edy, dan Pembina OSIS, Pak Supriyono, datang menjenguk Syarif. Mereka menanyakan kondisi Syarif dan dijawab oleh Ayah Syarif.


" Syarif baru hari ini sadar dari pingsannya setelah seminggu tidak sadarkan diri", Ayah Syarif menjelaskan.


Setelah mengetahui kondisi Syarif dan berbincang - bincang dengan orang tua Syarif, kedua Guru Syarif kemudian pamit pulang karena masih ada yang harus dikerjakan. Ayah Syarif pun mengucapkan Terima kasih atas perhatian dan kedatangannya.


" Syarif, Bapak pulang dulu ya! Semoga cepat sembuh", kata Pak Edy, wali kelas nya kepada Syarif.


" Ya, Pak! " jawab Syarif.


" Terima kasih atas doanya ", lanjut Syarif.


" Terima kasih, Pak!" kata Ayah Syarif sambil mengiringi kedua Guru Syarif keluar.

__ADS_1


Pak Edy dan Pak Pri kemudian pulang meninggalkan Rumah Sakit tempat Syarif dirawat.


Dalam hati Syarif berpikir untung Pak Guru datang di hari yang ketujuh. Kalau tidak, mereka akan mendapati Syarif dalam keadaan masih belum sadarkan diri.


Sekitar jam 2 sore...


Teman - teman Syarif berkunjung menjenguk Syarif. Deli, seorang yang disukai Syarif, yang merupakan KM alias Ketua Murid kelas 2A beserta Ana, Widi , Betty, Saifi dan teman perempuan sekelas lainnya menjenguk Syarif. Syarif tentu saja bahagia karena dijenguk oleh teman - teman nya terutama Delly, orang yang berhasil menggetarkan jiwanya.


Delly lebih banyak berkomunikasi dengan Ayah Syarif. Dan yang lainnya ngobrol dengan Syarif. Syarif hanya mendengarkan obrolan Delly dengan Ayahnya. Dalam hati Syarif merasa senang karena Delly banyak menanyakan tentang dirinya kepada Ayahnya. Walaupun sebenarnya itu merupakan hal yang wajar, tetapi bagi Syarif itu merupakan suatu kebahagiaan.


" Syarifudin ini berapa bersaudara, Pak? ", tanya Delly kepada Ayah Syarif.


" 5 bersaudara", jawab Ayah Syarif.


" Syarifudin anak yang keberapa, Pak?", tanyanya lagi.


" anak kedua", jawab Ayah Syarif.


" Syarifudin anak yang paling pintar, ya? ", tanyanya lagi.


Itulah percakapan yang didengar Syarif.


Teman - teman Syarif menghibur Syarif dan menanyakan apa yang diinginkan Syarif.


" Syarif ingin apa?", tanya salah satu temannya.


" Ingin di-iliri (maksudnya dikipasi) ", jawab Syarif.


" Apa? ", tanya teman - teman Syarif terkejut dan kebingungan. Mereka mendengarnya " ingin Deli".


" ingin di-iliri", jawab Syarif mengulangi jawabannya.


" oh diiliri", jawab teman - teman nya sambil tersenyum.

__ADS_1


Mereka pun kemudian meng-iliri atau mengipasi Syarif.


Saifi, teman sebangku Delly, menyuapi Syarif. Sambil menyuapi, Saifi bertanya kepada Syarif , apakah Syarif sholat. Syarif pun menjawab. Tidak. Dalam hati Syarif berkata, " Bagaimana mau sholat, sedangkan saya lumpuh sebelah, tidak bisa menggerakkan anggota tubuh saya".


Widi, teman yang dekat di kelas, bertanya kepada Syarif.


" Sering disuntik dong, Rif? ", tanyanya kepada Syarif.


" Ya", jawab Syarif.


" Kamu ga takut?", tanya Widi lagi .


" Enggak", jawab Syarif.


" Kalau saya sih takut sama jarum suntik", kata Widi.


Entah mengapa ucapan Widi menggetarkan jiwa Syarif. Syarif menjadi merasa takut dengan jarum suntik. Syarif merasa ingin seperti yang diucapkan Widi yaitu takut dengan jarum suntik. Padahal sebelumnya Syarif tidak merasa takut terhadap jarum suntik.


Setelah puas menjenguk Syarif, teman - teman Syarif pamit untuk pulang. Selain sudah sore, rumah mereka pun jauh. Dan mereka membutuhkan istirahat.


" Cepat sembuh ya, Syarif!", kata Teman - teman Syarif, mendoakan kesembuhan Syarif.


" Ya, Terima kasih atas doa dan kunjungannya!", jawab Syarif dan kedua orang tuanya.


Catatan Penulis


Pak Edy adalah Wali Kelas 2A. Beliau mengajar mata pelajaran Elektronika. Pada mata pelajaran ini kita belajar Elektronika dasar dan komponen - komponennya seperti Resistor, kapasitor, Diode, Elco, transistor dan apa lagi ya..? Jadi Author juga bisa membaca nilai dari resistor dari warna yang ada pada resistor. Tapi sudah lupa lagi sih bacanya. He. he. Kita juga belajar PCB dan cara pembuatannya.


Beliau orangya humoris dengan ciri - ciri tubuh agak gemuk dan berkumis tebal. Dan cara mengajarnya juga enak sehingga kita mudsh memahami materi yang diajarkan.


Pak Pri adalah Pembina OSIS, Pramuka dan juga PMR. Sebagai seorang Pembina, Beliau mempunyai kepribadian yang tegas, sedikit terlihat galak.


Beliau mengajar mata pelajaran PPKN atau Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. PPKN merupakan pengganti dari mata pelajaran PMP atau Pendidikan Moral Pancasila. Dalam mata pelajaran ini, "mengharuskan" kita menghapal butir butir Pancasila dan Pasal pasal dalam UUD (Undang Undang Dasar) 1945.

__ADS_1


Beliau memiliki perawakan yang agak tinggi dan kumis yang agak lebat.


__ADS_2