
Syarif akhirnya dibawa ke Rumah Sakit menggunakan mobil H. Ma' ruf jam 12 malam. Tetangga Syarif dalam hatinya bertanya ketika mendengar suara mobil tengah malam. Di antara mereka ada yang keluar rumah dan bertanya kepada Ibu Syarif.
" Mau kemana Bu Syarif, malam - malam begini", tanya Tetangga Syarif.
" Ke Rumah sakit", jawab Ibu Syarif .
" Memangnya siapa yang sakit, Bu? ", tanya orang itu.
" Syarif", jawab Ibu Syarif .
" Sakit apa, Bu? , tanya nya lagi.
" Ga tahu. Cuma tadi Syarif muntah darah kemudian pingsan", jawab Ibu Syarif .
" Semoga Syarif cepat sembuh", kata tetangganya itu sambil berjalan menunggu rumahnya.
Setelah tetangganya kembali ke rumahnya, Ibu Syarif menutup pintu rumahnya dan pergi ke tempat tidur dan berusaha untuk tidur.
Syarif dibawa ke Rumah Sakit Ibu dan Anak yang ada di Terlangu, tidak jauh dari Kota Brebes.
Syarif sampai di UGD atau Unit Gawat Darurat RSIA Terlangu dalam keadaan pingsan tidak sadarkan diri. Setelah diperiksa di UGD, Syarif kemudian dibawa ke ruang perawatan. Untungnya masih ada ruang yang kosong sehingga tidak perlu mencari rumah sakit lagi.
Setelah Syarif mendapatkan ruang perawatan, H. Ma'ruf pun pamit pulang.
" Kang Musthofa, saya pulang dulu ya! ", kata H. Ma'ruf kepada Ayah Syarif.
" Terima kasih, Kang Kaji", jawab Ayah Syarif.
" Hati - hati di jalan", pesan Ayah Syarif.
" Ya", jawab H. Ma'ruf.
H. Ma'ruf kemudian pulang meninggalkan RSIA Terlangu.
Setelah kepulangan H. Ma'ruf, Ayah Syarif pun tidur di bangsal sebelah. Kebetulan bangsal di sebelah bangsal Syarif sedang kosong. Jadi Ayah Syarif bisa tidur di bangsal itu.
Sekitar jam 2.30.....
Syarif masih dalam keadaan sadar dan tidak. Dalam penglihatannya ada seorang dokter mendekatinya. Kemudian dokter itu berkata kepada Syarif.
" Infusnya dilepas ya! " kata dokter itu kepada Syarif.
"Ya, silakan", jawab Syarif mengiyakan.
Kemudian "Dokter" itu pun membuka selang infus Syarif.
Hal ini tentu saja membahayakan Syarif yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
" Bangun.... bangun.... bangsalnya mau ada yang ngisi", kata H. Ma'ruf membangunkan Ayah Syarif.
Ternyata Ayah Syarif dalam tidurnya bermimpi dibangunkan H. Ma'ruf karena ada pasien datang.
Ayah Syarif pun bangun dan terkaget ketika mendapati selang infus Syarif terlepas. Ayah Syarif segera bergegas ke ruang perawat untuk memanggil perawat.
Tidak lama kemudian dokter jaga ditemani perawat datang ke tempat Syarif. Dokter tersebut kemudian memperbaiki selang infus Syarif. Syarif pun terjaga. Dokter itu pun heran karena selang infus terbuka, dan sepertinya dengan kasar. Kemudian bertanya kepada Ayah Syarif.
" Pak... siapa yang membuka selangnya?", tanya dokter itu kepada Ayah Syarif.
" Tidak tahu, Dok! ", jawab Ayah Syarif.
" Saya tadi ketiduran", Ayah Syarif menambahkan.
Dokter itu kemudian bertanya kepada Syarif.
" De.... siapa yang membuka selang infus nya? "
" Pak Dokter", jawab Syarif. Karena memang dalam penglihatannya yang membuka selang tersebut adalah Pak Dokter.
" Dokter siapa?", tanya dokter tersebut.
" Tidak tahu, Pak! Tadi tidak menanyakan namanya", jawab Syarif.
Pak Dokter itu kemudian pergi meninggalkan Syarif yang masih kebingungan dengan " Dokter " yang telah melepaskan selang infus nya.
Seandainya tadi Ayah Syarif tidak bermimpi dibangunkan, mungkin nyawa Syarif tidak tertolong. Beruntung Syarif masih diberikan kesempatan berupa umur yang panjang.
Kejadian yang aneh terjadi lagi. Kali ini terjadi di waktu siang hari. Waktu itu, Ayah Syarif yang merasa sangat lapar sedangkan belum ada anggota keluarga yang mengantarkan makanan. Sehingga Ayah Syarif terpaksa harus membeli nasi di luar. Ayah Syarif pergi keluar untuk membeli nasi bungkus. Ketika sampai di tempat Syarif dirawat, Ayah Syarif terkejut karena menemukan Syarif ada di bawah bangsal dan darah membasahi seprei. Ayah Syarif segera memanggil perawat. Tidak beberapa lama, perawat pun datang. Mereka kaget dan bingung melihat Syarif ada di bawah. Ayah Syarif dan perawat kemudian mengangkat Syarif dan membaringkannya kembali ke bangsal.
Perawat itu kemudian bertanya kepada Ayah Syarif mengapa Syarif bisa jatuh. Ayah Syarif pun menjawab bahwa dia tidak tahu karena baru saja keluar. Padahal hanya ditinggal sebentar hanya untuk membeli nasi bungkus.
Flashback on
Dalam dunia di luar kesadaran Syarif, dia sedang duduk di atas kasur. Kemudian seseorang dari belakang mendorong Syarif. Tidak ada yang melihat orang itu mendorong Syarif dari belakang. Hanya Syarif dan seseorang lainnya yang dianggap "terbelakang" yang melihatnya.
Karena dorongan dari orang itu, Syarif terjatuh dari atas kasur. Itulah mengapa Ayah Syarif mendapatkan Syarif dalam keadaan terjatuh. Walaupun Syarif masih belum sadar, tetapi di dunia ketidaksadarannya, Syarif mengalami hal - hal seperti orang sadar. Dan hal - hal yang terjadi itu nyata.
Flashback off
Sampai hari kelima di Rumah Sakit, Syarif masih belum sadarkan diri. Keluarganya secara bergiliran menjaga Syarif. Mereka tidak mau kejadian yang tidak diinginkan terjadi lagi. Syarif beruntung masih diselamatkan, masih diberi umur panjang. Walaupun masih dalam keadaan pingsan, Syarif masih bernafas.
Di hari keenam....
Syarif sudah mulai menunjukkan tanda - tanda akan sadar dari pingsannya. Semua anggota keluarga bergembira melihat tanda - tanda tersebut.
Hari itu yang giliran menjaga adalah Ibunya.
__ADS_1
Syarif sudah mulai membuka matanya. Di hari keenam tersebut, teman sekolah Syarif yang rumahnya dekat dengan Rumah Sakit tempat Syarif dirawat menjenguknya.
Edy Kuswanto namanya. Dia teman sekelas Syarif di kelas 2A. Tempat tinggalnya ada di desa Pada Sugih. Tidak terlalu jauh dari Terlangu.
" Syarif ..... ayo bangun. Itu lihat ada temannya datang", kata Ibunya kepada Syarif .
" Ayo siapa itu yang datang", tanya Ibunya kepada Syarif sambil melihat teman Syarif.
Syarif pun mencoba untuk membuka matanya dan melihat temannya yang datang. Syarif melihat ada seseorang duduk di kursi. Dari bentuk badannya yang gemuk, Syarif bisa mengenali temannya tersebut.
"Edy.....", jawab Syarif.
Sayangnya hanya itu yang keluar dari mulut Syarif. Syarif pun kembali tidak sadarkan diri.
" Sama siapa Nak Edy kesini? ", tanya Ibu Syarif kepada Edy.
" Sendiri, Bu!", jawab Edy.
" pakai apa kesininya?", tanya Ibu Syarif.
" Pakai sepeda, Bu!", jawab Edy.
" Rumah Edy kan dekat Bu! . Jadi cukup pake sepeda kesininya ", Edy melanjutkan.
" Dimana rumah Nak Edy? ", tanya Ibu Syarif.
" Di Padasugih, Bu! ", jawab Edy.
Begitulah perbincangan Ibu Syarif dengan Edy, teman Syarif. Edy merupakan teman Syarif yang pertama kali menjenguk Syarif di Rumah Sakit.
Karena Syarif kembali tidak sadarkan diri dan tidak menunjukkan akan bangun, Edy pun pamit untuk pulang.
" Bu, Edy pamit mau pulang" kata Edy kepada Ibu Syarif.
" Ya. Terima kasih ya Nak Edy sudah menjenguk Syarif", jawab Ibu Syarif .
" Ya, Bu! Semoga Syarif cepat sembuh", jawab Edy sambil mendoakan Syarif.
" Aamiin ...", kata Ibu Syarif.
###
Sebelum melanjutkan ke bab berikutnya, Author ada sedikit permintaan kepada para pembaca. Author minta didoakan atau dibacakan surat Al Fatihah untuk :
Ibunda Author
Teman Author, Edy Kuswanto, yang telah meninggal dunia karena diabetes.
__ADS_1
Semoga amal kebaikannya diterima oleh Allah swt, meninggal dunia dalam keadaan husnul khatimah dan ditempatkan dalam surga-Nya. Aamiin .
Author ucapkan Terima kasih atas kesediaan para pembaca memenuhi permintaan Author. Terima kasih.