Penggetar Jiwa

Penggetar Jiwa
7. Lumpuh Sebelah Kiri 1


__ADS_3

Hari ini adalah hari minggu. Syarif pergi ke sawah untuk membantu ayahnya. Kebetulan sekarang musim panen padi. Syarif berangkat ke sawah dengan membonceng ayahnya menggunakan sepeda motor Astrea Honda Prima.


Di sawah, Syarif membantu Ayahnya memasukkan padi ke dalam karung. Kebetulan padi Ayahnya sudah kering setelah 3 hari dijemur di sawah. Ayah nya selalu mengeringkan padinya di sawah. Karena lebih cepat kering jika dibandingkan di rumah. Di samping terbatasnya lahan di rumah. Sering kali Syarif merasa kepanasan dan gatal karena terkadang Syarif membolak-balikkan padi dengan kakinya yang telanjang tanpa alas kaki. Kalau sudah merasa terlalu kepanasan, Syarif suka menceburkan diri ke dalam sungai untuk mendinginkan badan. Setelah agak dingin, barulah keluar dari sungai. Bajunya yang basah akan cepat kering kembali karena panas terik matahari.


Makanya ketika tahu padinya akan dibawa pulang, Syarif senang sekali dan sangat bersemangat ketika mengangkat padi. Sebetulnya Syarif tidak mengangkat padi sendiri, tetapi membantu ayahnya menaikkan padi ke pundak Ayahnya. Dan ayahnya yang mengangkat padi dan menaikkan ke atas mobil losbak. Di atas losbak sudah ada orang yang akan menerima padi yang dibawa Ayahnya dan kemudian mengaturnya supaya bisa menampung padi dengan banyak. Setelah penuh, barulah padi dibawa menuju ke rumah Syarif. Syarif ikut naik losbak dan duduk di depan di samping Pak Sopir. Ayahnya juga duduk di depan di pinggir pintu. Dan satu lagi duduk di atas padi.


Sekitar 10 menit, mobil pun sudah sampai di rumah.


Rumah Syarif letaknya dekat jalan yang terletak di Gang Balongan. Terkenal dengan Gang atau blok Balongan karena gang tersebut menuju ke Balongan.


Mobil losbak berhenti di depan rumah Syarif. Ayah Syarif dan kernet mobil menurunkan padi dari atas losbak. Syarif ikut membantu menurunkan padi dari atas Losbak.

__ADS_1


Setelah semua padi diturunkan, mobil losbak pun bergerak meninggalkan rumah Syarif dan menuju ke sawah kembali.


Malam harinya.....


Ayah Syarif berangkat Tahlil memperingati 40 hari meninggalnya Buyut di rumah Buyut. Rumah Buyut ini terletak di dekat Mushola. Karena memang mushola ini terletak di tanah yang sudah diwakapkan oleh Buyut. Kalau dari rumah Syarif, sekitar 300 meter di sebelah utara.


Syarif tidak ikut Ayahnya karena harus belajar . Biasanya Syarif belajar di kamarnya. Tetapi karena menunggu Ayahnya pulang Tahlil, Syarif belajar di ruangan tamu. Biasanya Syarif belajar sampai jam 12 malam. Tetapi malam ini Syarif merasa kepalanya pusing, sehingga baru jam 10 malam Syarif memutuskan untuk berhenti.


Diapun menuju kamarnya dan merebahkan dirinya di kasur. Tetapi ketika kepalanya menindih tangan kirinya, dia merasa kaget karena menyangka yang ditindihnya adalah tangan orang lain. Tangan kirinya tidak merasakan adanya tindihan. Diapun menyalakan lampu untuk melihat siapakah yang tidur di kasur nya. Setelah lampu menyala, Syarif tidak melihat siapapun di atas kasurnya.


Kemudian Syarif pindah ke kasur tengah. Dan kejadian serupa terulang lagi. Kemudian Syarif memutuskan untuk pergi ke kamar Ibunya.

__ADS_1


" Bu, kok kepala Syarif pusing dan tadi ketika berjalan sempoyongan kayak orang mabuk. Syarif merasa kaki sebelah kiri tidak menempel lantai", kata Syarif kepada Ibunya. Kemudian Syarif pun tidur bersama Ibunya sambil di"kelon".


Tidak berapa lama, Ayahnya pulang sambil membawa berkat. Syarif pun dibangunkan.


" Rif, bangun. Ayah pulang tuh bawa berkat, " kata Ibunya membangunkan Syarif.


Syarif pun bangun. Dan makan berkat bersama Ayah dan Ibunya. Tiba - tiba Syarif muntah darah dan langsung pingsan. Ayah dan Ibunya kaget dan cemas melihat Syarif yang tiba - tiba muntah darah dan pingsan.


Ayah Syarif bergegas ke runah orang tuanya untuk memberi tahu kondisi Syarif. Kemudian diputuskan untuk dibawa ke Rumah sakit.


Ayah Syarif kemudian pergi ke H. Imran, tetangga yang mempunyai mobil. Tetapi karena sudah larut malam, pagar rumah nya sudah terkunci. Sehingga Ayah Syarif tidak bisa masuk. Ayah Syarif kemudian menuju rumah H. Ma'ruf. Pintu rumah H. Ma'ruf juga sudah tertutup karena sudah larut malam. Bedanya, Rumah H. Ma'ruf pagarnya tidak ada gerbangnya. Jadi masih bisa untuk mengetuk pintu rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2