Penggetar Jiwa

Penggetar Jiwa
4. Mister Tanaka


__ADS_3

Di kelasku, ada seorang teman yang wajahnya seperti orang Jepang. Kulitnya putih dan matanya sipit.Padahal dia merupakan orang asli Brebes. Namanya adalah Eka. Tetapi saya memanggilnya TEKOP, yang merupakan singkatan dari nama panjangnya.


Kalau tersenyum, maka akan kelihatan lesung pipinya. Dia berkata padaku bahwa waktu bayi ia bertubuh gemuk. Dan lesung pipi ini merupakan bukti bahwa pada waktu kecilnya bertubuh gemuk.


" Kata Ibuku, saya waktu kecil bertubuh gemuk. Sehingga ada lesung pipi ketika saya tersenyum", katanya kepadaku.


Eka sepertinya siswa termuda di kelasku. Dia pun bercerita bahwa ketika sekolah TK, dia sudah bisa membaca dengan lancar. Tidak kalah dengan anak yang baru masuk Sekolah Dasar. Dia suka maju ke depan kelas dan membaca tulisan Ibu Gurunya. Melihat hal ini, orang tuanya pun memindahkan TEKOP ke Sekolah Dasar (SD). Dan ternyata di SD dia tidak tertinggal dibandingkan dengan yang lainnya padahal umurnya 2 tahun di bawah teman - temannya. Bahkan TEKOP termasuk siswa yang berprestasi. Daya tangkapnya bagus dan bahasa Inggrisnya juga jago.


Saya juga mengakui kepintarannya.


Mister Tanaka


Adalah panggilan yang diberikan oleh Pak Tatang, Guru Bahasa Inggris kami. Dan hal ini lah yang membuat di antara kami ada yang memanggilnya Mister Tanaka. Pak Tatang memanggilnya dengan panggilan Mister Tanaka karena seperti yang sudah saya ceritakan bahwa TEKOP ini mirip dengan orang Jepang. Jadi tidak salah jika Pak Tatang memanggilnya dengan panggilan " Mister Tanaka".


Suatu hari TEKOP mengajakku untuk main ke rumahnya.


" Rif, main ke rumahku yuk!", ajak TEKOP kepadaku.


" Besok saja ya? ", jawab ku.


" Ok", katanya lagi.


Kemudian kami pulang ke rumah masing - masing.


Malam harinya, setelah belajar, Syarif meminta izin kepada Ibunya untuk main ke tempat temannya, TEKOP.


" Bu, besok saya pulangnya telat", kataku kepada Ibuku.


" Memang ada apa?", tanya Ibuku.


" Saya mau main ke temanku yang rumahnya dekat Sekolah", jawabku.

__ADS_1


" Hati - hati , ya! ", jawab Ibuku.


" Ya, Bu. Terima kasih".


" Sama - sama".


Esok pagi di Sekolah


" Rif, bagaimana? Jadi kan main ke rumahku? ", tanya TEKOP kepadaku.


" Jadi dong! ", jawabku.


Ketika pulang sekolah, kami berjalan kaki menuju rumah TEKOP. Dari sekolah tempat kami belajar, ke selatan ke arah Stadion Karang Birahi, Stadion Sepak Bola kebanggan warga Brebes. Di pertigaan pertama sebelum sampai Stadion, belok kiri, yaitu jalan Dr. Setia Budi. Setelah melewati SMA 1, ada mushola di sebelah kiri. Kita pun belok ke kiri, tepat di depan Mushola. Rumah TEKOP ada di depan Mushola. Tidak tepat di depan nya, di sebelah rumah yang tepat depan Mushola.


" Assalamualaikum ", ucap kami serempak ketika sampai di depan rumahnya.


" Wa 'alaikumus salaam", suara ibu - ibu dari dalam rumah menjawab salam kami.


" Ya!", jawabku.


Kami kemudian masuk ke dalam dan menjumpai ibunya TEKOP sedang menyiapkan makanan.


" Ganti baju dulu terus ajak Syarif makan, Ka! ", perintah ibunya kepada TEKOP.


" Ya, Bu! ", jawab TEKOP.


Kemudian TEKOP masuk ke kamarnya dan tidak lama kemudian keluar kamarnya setelah mengganti baju seragamnya.


" Rif, Ayo makan! ", ajak TEKOP kepadaku.


" Ayo", jawabku.

__ADS_1


Kami kemudian makan bersama sambil nonton acara musik di MTV. TEKOP pasang antena parabola di depan rumahnya sehingga kami bisa menonton MTV. Pada saat itu antenna parabola masih merupakan barang mahal. Tidak banyak orang yang memasang parabola. Di desaku hanya ada 2 orang yang memasang parabola. Yang satu seorang Polisi dan satu lagi seorang dokter.


Setelah puas bermain di rumah TEKOP, saya pamit pulang.


" KOP, saya sudah dulu ya. Saya mau pulang", kataku kepada TEKOP.


" Entar dulu. Izin dulu ke Ibuku!", jawabnya kepadaku .


" Bu, Syarif mau pulang. Sudah sore", kataku kepada Ibunya.


" Kok udah mau pulang?", tanya Ibunya.


" Ya, Bu. Jauh soalnya rumahku", jawabku.


" Ya, udah. Lain kali main kesini ya! ", pinta Ibunya.


" Ya, Bu. Insya Allah", jawabku.


Aku pun kemudian pulang dengan diantar TEKOP sampai pertigaan Jl. Dr. Setia Budi - Jl. Veteran. Kemudian pulang jalan kaki melalui jl. Veteran. Aku pun memberhentikan mobil elf jurusan Ketanggungan biar tidak terlalu jauh berjalan kaki.


Sesampainya di Pasar Bawang Klampok, saya turun. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan naik angkot. Dan Alhamdulillah sampai ke rumah dengan selamat jam 5 sore.


Dari hasil saya bermain ke rumah TEKOP, saya mengetahui bahwa TEKOP adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Jadi TEKOP adalah anak bungsu. Kakaknya yang pertama, seorang perempuan. Merupakan alumni dari SMP kami dan kuliah di UNDIP, Universitas Diponegoro. Sedangkan kakaknya yang kedua, seorang laki-laki, juga alumni dari SMP kami dan sekolah di SMA 1 Brebes. Jadi semuanya masuk SMP yang sama. He.he.


Adapun Ibunya adalah seorang guru SD dan Ayah nya bekerja di Pemkab Brebes.


Catatan Author


Saat ini, Ibu dari temanku sudah meninggal dunia. Saya mengajak pembaca untuk mendoakan Beliau semoga meninggal dalam keadaan husnul khotimah. Aamiin.


Terima kasih atas kerelaaannya mendoakan Ibunda temanku.

__ADS_1


__ADS_2