
Hari pun berganti minggu,anak ku pun semakin bertambah pintar..
Dan mas gara pun sudah mulai mau menggendon putri kami.Walaupun perubahannya hanya sedikit,tapi aku sudah sangat bahagia.
Setiap saat aku berdoa kepada Tuhan,agar suamiku berubah.
Tapi harapanku tinggal lah harapan.
Mas gara masih tetap seperti biasanya,Dia terlalu asik dengan main judi dan minum minumnya.
Aku akui memang mas gara masih lebih baik.
Jika dibandingkan dengan suami suami tetanggaku yang lain,yang tiap hari main tangan sama istrinya juga main perempuan.
Aku masih bersyukur karna Mas gara tidak pernah main tangan terhadapku,ataupun main perempuan.
Tapi apakah tugas suami hanya sebatas tidak memukul istri??
Terus kebutuhan hidup bagaimana??
Suamiku bekerja...bukan pengangguran...
Dia bahkan bekerja di kantor pemerintahan,tapi gajinya tidak pernah ada untuk anak istri.
Dia menghabiskan uangnya hanya di meja judi dan minum minum.
Bosan main judi ganti minum minum,begitulah terus menerus.
Sementara aku harus banting tulang memenuhi kebutuhan rumah tangga kami,juga kebutuhan anakku.
Setiap hari aku harus memutar otak gimana supaya asap didapur kami tetap mengepul setiap hari.
Bahkan semua pekerjaan aku kerjakan yang penting dapat uang dan halal.
Pernah suatu waktu dalam pesta keluarga dari suamiku.Aku harus menangis sedih,tidak tau kenapa aku tidak mampu membendung air mataku.
Aku mendengar langsung beberapa ibu ibu yang memang masih ada hubungan keluarga membicarakan aku.Mereka tidak sadar kalau aku ada di belakang mereka.
Mereka bilang...
"Suami pegawai negri tapi lihatlah TAIK KUCING pun tidak ada.Cincin setengah gram pun tak ada,bahkan pakai bedak pun tidak.
Baru anak satu tapi lihat lah penampilannya bahkan nenek nenek lebih modis dari dia..
Kemana semua uang itu? mo di bawa mati kali"
Aku bersumpah dalam hati "suatu saat aku akan tunjukkan pada kalian semua bahwa aku punya BANYAK TAIK KUCING"
Tunggu saja...
Ntah knapa skarang aku sangat hobby bersumpah mungkin akibat dari banyaknya penderitaanku.
__ADS_1
Waktu pun terus berlalu..
Tanpa terasa Sekarang aku sudah memiliki empat orang anak.Dua laki laki dan dua perempuan.
Tapi mulai dari anak pertama sampai ke empat,Mas gara tidak ada perobahan.Dia masih terus sibuk dengan judi dan minum minumnya.
Bahkan mas gara tidak pernah memberikanku sepeser pun untuk memenuhi kebutuhan kami.
Tapi aku tidak menyerah demi anak anakku.
Mungki kalian bertanya tanya dalam hati,atau merutuki kebodohanku.Kok mau sih,udah gak dikasih nafkah tapi nambah anak terus.
Aku aja bingung memikirkanya.
🤔🤔🤔🤔🤔🤔
\*\*\*
Author juga bingung kok bisa ya..🤔🤔🤔🤔🤔
😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆
Dari pada kita semua bingung kita lanjut aja ceritanya..😀😀😀
Aku hanya berani menceritakan kepahitan rumah tanggaku hanya pada satu orang yang memang sudah aku anggap seperti orang tuaku sendiri.
Beliau yang selalu menasehati ku supaya aku tegar dan jangan menyerah.
Satu nasihat konyol dari beliau yang aku ingat.Dan akhirnya nasihat konyol itulah yang membakar semangatku untuk terus berjuang tanpa lelah melanjutkan hidup.
"ANGGAP AJA KAMU SUDAH JANDA"
Dan nasehat itu benar benar mampu membakar semangatku yang sudah mulai redup.
Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri
"AKAN KUBUAT KAU KEHILANGAN WIBAWAMU SEBAGAI KEPALA KELUARGA DAN KAMU AKAN MENYESALINYA"
Aku pun sudah menganggap diriku JANDA.Bahkan menganggap diri sebagai janda itu lebih baik,dari pada membayangkan diri punya suami tapi tak ada fungsinya.
Akupun mulai menggarap sawah dan ladang orang.Untuk sawah aku memakai sistem belah pinang dan untuk ladang dengan sistim sewa.
Aku tidak punya pengalaman dalam bertani.Tapi semua itu aku lawan,aku mulai berfikiran konyol bahwa "APAPUN YANG DILEMPARKAN KE BUMI AKAN TUMBUH DENGAN SUBURNYA"
Yah..aku akhirnya jadi wanita yang berfikiran konyol.Dan sikap konyolku itu cukup membuatku termatifasi.
Pagi pagi sekali aku sudah bangun untuk memasak,mencuci dan membereskan rumah.
Yah..memang aku masih tetap memasak karna itulah kodratku sebagai istri.
__ADS_1
Aku tetap menyediakan makanan dimeja untuk suamiku.Terlepas makanan itu di makan atau tidak oleh mas gara,itu terserah dia yang penting ku sediakan.
Setelah semua pekerjaanku beres akupun berangkat ke sawah.Aku membawa semua perlengkapan anak anakku.semua keperluan anak anakku.
Aku sudah seperti mau PIKNIK aja saking banyaknya bawaanku.
Aku membawa ayunan,susu,dan mainan untuk anak anakku biar gak bosan menungguku selesai bekerja.Tiadak lupa aku juga membawa kotak obat obatan mana tau sewaktu waktu di perlukan.
Mereka pun aku masukkan ke atas sorong yang aku beli dengan uang tabunganku.Agar aku bisa lebih mudah membawa ke empat anak anakku.
Sesampainya di ladang..
Aku menempatkan anak anakku di gubuk yang aku buat sendiri dengan apa adanya.Hanya dengan bertiangkan bambu dan beratapkan plastik juga hanya beralaskan tanah.Bagiku yang penting anak anakku tidak kena panas dan hujan.
Aku biarkan anak anakku bermain sesuka hati mereka di gubuk tanpa dinding dan beralaskan tanah itu.Anakku paling kecil merangkak kesana kemari.
Ahhhh aku jadi konyol memang.
Aku berfikir sudah hakikatnya manusia menginjak tanah.Bagiku tanah dan lumpur bukanlah benda kotor.
Yang penting aku pastikan tidak ada ular yang mendekat ke gubuk.Untuk itu aku menaburkan garam kasar di sekeliling gubuk.Aku gak tau itu benar atau ngak yang penting usaha dulu.
Sesekali Aku pun tetap mengawasi anak anakku dari jauh.mana tau mereka terlalu jauh bermain,dan kecemplung ke sawah.
Hanya dua yang paling aku jaga,jangan sampai anakku kecemplung ke sawah dan ular.
Biar pun putri pertama ku masih kecil tapi dia cukup bisa aku andalkan untuk mengawasi adek adeknya.Dan terkadang cara berfikirnya juga cukup dewas.Mungkin bisa dibilang putriku dewasa sebelum waktunya.
Aku sangat bersyukur anak anakku sangat penurut dan tidak ada yang rewel.Mereka cukup tau diri akan kehidupan kami yang lumayan sulit.
Kadang aku merasa kasihan melihat anak anakku yang tidak pernah pergi liburan kemana mana.
Seperti anak anak orang lain yang waktu liburan bisa pergi jalan jalan.
Sementara anakku tiah hari hanya bisa bermain di ladang dan disawah dengan mainan yang itu itu aja.Mainan yang kubeli dari tukang mainan yang lewat depan rumah.Karna klu membeli mainan mainan mahal aku cukup berfikir berapa kali.karna aku gak mau pemborosan,toh intinya kan punya mainan gak penting mahal atau murah yang penting masih bisa di mainkan dan anak anakku senang..itu aja
Aku juga gak malu membeli mainan mainan bekas untuk anakku.
biar pun bekas tapi masih bagus bagus dan murah pastinya.
\* \* \*
TBC
TOLONG PARA READER DUKUNG AUTHOR SUPAYA LEBIH SEMANGAT LAGI
AUTHOR MINTA KRITIK DAN SARAN TEMAN TEMAN SMUA SUPAYA AUTHOR BISA MENULIS LEBIH BAIK LAGI
JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR VOTE DAN LIKE
MAKASIH SEMUA
😘😘😘😘😘😘😇
__ADS_1