Penyesalan Arkana Narendra

Penyesalan Arkana Narendra
bab 7 memulai aksi


__ADS_3

Arkana mendudukkan dirinya di kursi samping brankar nara. Ia menatap nara dengan sendu.


"Ra ini gw kana, lo cepet sadar ya ra!" Pinta arkana, tanpa ia sadari air matanya mulai mengalir membasahi pipinya. Arkana melihat tubuh nara yang terbaring lemah dibrankar. Dia menggenggam tangan nara. Sesekali ia memberikan kecupan ditangan nara. Teman teman Arkana melihat apa yang dilakukan oleh Arkana, mereka semakin merasa terpukul akan kejadian yang menimpa nara. Sindi kembali meneteskan air mata nya dan berhamburan ke pelukan Alvin. Alvin berusaha menenangkan sindi dengan mengelus pundak sindi. Nasya yang telah kembali dari ruang dokter pun langsung memasuki ruangan nara. Arkana yang menyadari keberadaan nasya pun mulai menatap nasya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Lo tenang aja,dia kuat, dia ga bakal kenapa kenapa" arakan pun memalingkan wajahnya dan kembali menatap nara. Sampai akhirnya nara diputuskan untuk dibawa keruangan vip.


Semua orang sudah berkumpul disana termasuk bibi nara dan juga aran. Aran terus saja menangis sambil memeluk kakak nya. Ia merasa ketakutan akan kehilangan seseorang yang ia sayangi. Arkana yang melihat Aran menangis pun menghampiri nya, arakana berusaha untuk menenangkan Aran.


"Kakak lo ga suka kalau lo cuman nangis doang, dia sekarang itu lebih seneng kalau lo do'ain dia " bujuk arakana, Aran pun menatap Arkana, dia pun memutuskan untuk pergi kemushala dan berdoa. Semua yang ada disana pun menyusul Aran untuk berdoa meminta kesembuhan nara. Sindi yang sedang tidak bisa beribadah pun memutuskan untuk menjaga nara.


"Ra semua orang lagu berdoa untuk kesembuhan lo, lo pasti kuat ra, lo cepet sadar ya!" Pinta sindi dan memeluk nara. Sindi pun merasa ada yang mengelus pundaknya. Ia pun melihat bahwa nara sudah sadar dan tersnyum kearah nya.


"Ra lo udah sadar? " sindi merasa senang karena sahabatnya sudah sadar. Nara ingin mendudukkan tubuhnya dan sindi membantu nara untuk duduk. Dia merasa sedikit pusing saat duduk tapi dihiraukan oleh nya.


"Sin gw laper, lo beliin gw makanan sana! " sindi pun tercengang mendengar ucapan nara.


"Eh lo itu baru sadar, masa iya lo langsung makan " sindi menolak permintaan nara tapi dia tetep keluar menuju kantin untuk mencari makanan nara. Saat berjalan di Koridor, sindi bertemu dengan Alvin dan lainya. Sindi tersenyum kepada Alvin. Alvin pun menghampiri sindi.


"Mau kemana hmm?tanya alvin.


" mau beli makanan buat nara "jawab sindi. Semua yanga ada disana heran dengan jawaban sindi.


" emang kakak udah sadar? "Tanya Aran yang diangguki oleh sindi, Aran pun berlari menuju ruang nara, dan tak lama semua orang menyusul kecuali sindi dan juga Alvin yang memutuskan untuk kekantin untuk membeli makanan. Sindi sedang memesan makanan sedangkan Alvin duduk disalah satu kursi kantin sambil meminun minuman yang ia beli. Sindi pun memutuskan untuk duduk di kursi sebelah Alvin sambil menunggu pesanan siap. Alvin memberi minuman untuk sindi. Sindi pun menerima dengan senang hati.


" makasih"ucap sindi.


Alvin menatap sindi sambil tersenyum kearahnya. Sindi yang merasa ditatap pun menoleh kearah Alvin dan ikut menatap manik mata Alvin.

__ADS_1


"Udah seneng kan nara udah sadar, jangan nangis lagi ya" tangan Alvin terangkat mengelus pipi sindi. Sindi pun memeluk Alvin.


"Makasih ya" ucap sindi masih dalam pelukan Alvin. Alvin mengecup kening sindi. Pesanan  pun datang akhirnya mereka kembali keruangan nara. Nara yang melihat makanan pun datang langsung tersenyum kearah sindi.


Ia meminta nasi goreng bungkus yang dibelikan oleh sindi. Arkana pun mengambil nasi bungkus itu dan memberikannya pada Aran.


"Lo makan makanan dari rumah sakit! " Arkana mengambil nampan yang diberikan oleh suster. Dan menyuapi nara, nara terus saja menolak karena ia tidak suka makanan rumah sakit.


"Gw ga suka " tolak nara.


"Jadi lo sukanya apa? Gw? " pertanyaan Arkana membuat nara membulatkan matanya. Semua yang ada disana terkekeh mendengar ucapan Arkana.pipi nara berubah menjadi merah seperti kepiting rebus. Nara merasa malu.


*saatnya memulai aksi*batin Arkana.


Arkana kembali menyuapi nara, dan nara pun menerimanya. Tengah malam pun tiba, semua memutuskan untuk tidur diruangan nara sambil berhimpit himpitan. Nara terbangun karena kehausan. Dia melihat keadaan dimana teman teman nya tidur dengan keadaan tidak lazim, sindi yang sudah memeluk kaki nasya dan nasya memeluk kaki sindi. Sedangkan Alvin saling berpelukan dengan Riyan. Nara pun mencari keberadaan Arkana, ia mencoba menuruni brankar dan duduk di kursi roda yang tersedia disamping brankar Nara. Ia sebenarnya ingin berjalan tapi ia takut jika dia terjatuh. Nara mencoba untuk keluar dari ruangan nya dan mencari Arkana. Sampai akhirnya ia menemukan Arkana yang sedang duduk di kursi taman rumah sakit. Ia pun mendekati Arkana.


"Loh kok lo udah bangun, ngapain keluar? Udara malam ga bagus buat lo" ucap Arkana sambil melepa jaket nya dan memakaikan pada Nara.


"Gw bosen" Nara memandangi bintang bintang yang ada dilagit dan menatap Arkana.


*bintang itu indah seperti kamu yang aku lihat sekarang*batin Nara , ia terus memandangi Arkana sambil mengukir senyum diwajahnya.


Arkana yang menyadari kalau dia terus dipandang pun menoleh dan tersenyum kearah Nara.


"Gausah diliatin" ucapan Arkana membuat Nara terkejut dan langsung memalingkan wajahnya.


"Udah yuk masuk, udah malem banget" Arkana mendorong kursi roda Nara. Ia terus tersenyum licik.

__ADS_1


*gw akan buat lo semakin tergila gila sama gw"


PAGI


matahari mulai menyinari ruangan Nara. Semua nya terbangun dan kembali ke rumah nya masing masing.


"Bi Aran udah pergi sekolah? "


"Udah ra, tadi dia ga mau sekolah, tapi dia baru ingat kalau hari ini dia ada ulangan" Nara pun mengangkuk. Nara meraih ponselnya , ia melihat ponselnya yang sudah retak itu, banyak sekali kenangan didalam memori ponsel itu.


"Nanti kita beli yang baru ya " bi siti paham dengan tatapan Nara dan ia memutuskan untuk membelikan hp baru untuk Nara.


"Nanti biar Nara beli sendiri aja bi " jawab Nara.


"Tapi Nara boleh pinjem hp bibi, buat nelpon mama" bi siti memberikan Ponselnya dan ia pergi keluar ruangan. Nara mencoba menghubungi yani.


"Assalamu'alaikum sayang "


"Waalaikumsalam ma"


"Gimana keadaan kamu nak? Mama khawatir banget sama kamu, tapi disini lagi ada badai makanya mama belum bisa kembali" Nara pun meneteskan air mata nya.


"Mama gausah kesini dulu ya, Nara gapapa kok, Nara kan anak kuat ma " yani yang mendengar ucapan Nara pun ikut menangis.


"Tapi kamu janji ya harus minum obat, dan selalu jaga kesehatan, mama sayang kamu Nara "


"Iya ma pasti, tapi mama juga harus jaga kesehatan disana ya , and jangan lupa oleh oleh buat aku sama Aran " yani tersenyum dengan ucapan Nara, ia tahu kalau Nara sedang menghibur nya.

__ADS_1


Mereka terus berbincang, sampai akhirnya bi siti kembali dan ikut berbincang bersama yani.


__ADS_2