Penyihir Circle 9 Bertransmigrasi Untuk Menikah

Penyihir Circle 9 Bertransmigrasi Untuk Menikah
Bab 1


__ADS_3

Kean Ryoneore membuka matanya dan mendapati dirinya berada di dalam kamar yang aneh. Semua sisi dinding berwarna putih bersih namun keadaan di lantai sangat berantakan, yang berbanding terbalik.


Kean segera duduk dan segera pelipisnya berdenyut. Dia secara refleks ingin menggunakan sihir penyembuh untuk menghilangkan rasa sakit dikepalanya. Namun sesaat selanjutnya tidak ada apapun terjadi.


Kean dengan bingung memandang tangan kirinya. Dia mencoba lagi, kali ini dengan mengucapkan mantra namun tetap tidak berhasil.


Kondisi ini benar-benar aneh karena Kean Ryoneore adalah penyihir circle ke 9. Bukan saja sihir penyembuh cukup sepele untuknya bisa menggunakannya tanpa merapal mantra, tapi juga dia adalah sosok yang terkenal di benua Yodora dan cukup bagi bangsawan untuk menghormatinya karena kekuatannya.


Tapi sekarang dia bahkan tidak bisa menggunakan sihir penyembuh yang paling dasar itu!


Kean terguncang. Bagaimana tidak jika sihir circle 9 adalah yang paling dia banggakan. Namun sekarang dia bahkan tidak memiliki 1 circle pun.


*Tok tok tok


"Tuan muda, apakah anda sudah bangun?"


Kean segera menenangkan dirinya begitu mendengar suara asing dibalik pintu. Asing karena Kean yakin dia tidak mengenal orang dibalik pintu, dan dia bukanlah seorang tuan muda sama sekali.


Karena dia adalah tunawisma. Sebelum menjadi penyihir dia dijual oleh orang tuanya sebagai budak ke keluarga bangsawan yang cukup terkenal. Mengurus rumah mereka adalah kesehariannya yang tidak ingin dia ingat.


Karena dia sering diremehkan dan bahkan dituduh bermalas-malasan oleh pelayan-pelayan yang tidak bertanggung jawab. Hanya untuk menyusahkannya padahal dengan banyak pekerjaan yang mereka lemparkan padanya seolah belum puas.

__ADS_1


Namun ada satu hal yang membuatnya bertahan dari semua siksaan itu. Sihir. Kean sangat menyukai sihir.


Bukan karena bisa menyerang, bertahan, dan menyembuhkan. Tetapi hanya karena mereka bersinar. Kean sangat menyukai sinar yang berwarna-warni saat seseorang menggunakan sihir.


Dengan hanya ini saja dia bertahan. Memiliki harapan untuk hari esok. Karena itu pula dia sering meminta pekerjaan untuk membersihkan arena latihan tempat prajurit penyihir berada. Dan jika tidak bisa dia bahkan nekat menyelinap.


Dan pada suatu saat, kejadian yang mengubah hidupnya terjadi. Dan Kean sangat berterima kasih pada peristiwa itu. Walaupun bukan kenangan yang baik.


Mansion keluarga bangsawan tempat dia bekerja disergap oleh saingan tuan rumah. Kean saat itu tidak tahu masalah apa yang menjadi penyebabnya karena dia hanyalah salah satu dari pelayan rendahan.


Namun tuan rumah terbunuh dan itu menyebabkan kepanikan. Entah kebencian apa padanya, tetapi seluruh mansion dibakar habis. Kean melarikan diri dari kekacauan pertempuran prajurit ke hutan.


Namun dia tetap terluka. Kaki pendeknya yang berusia 14 tahun tidak mampu berlari secepat mungkin. Bahkan sempat terinjak oleh orang-orang yang berlari panik.


"Jika saja aku bisa menggunakan sihir." ujar Kean pelan. Mengulurkan tangannya seperti penyihir yang dia lihat di arena pelatihan, dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar.


Matanya sudah kabur dan Kean tidak bisa melihat dengan jelas, bahkan dalam kegelapan. Namun dia ingat setitik sinar hijau itu. Dengan perasaan hangat menjalar keseluruh tubuhnya.


Kean mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak tertidur dalam hutan, namun matanya tetap terpejam. Dengan luka sepanjang 20 sentimeter di kakinya sudah sembuh tanpa bekas. Kulitnya pucat pasi seperti mayat, namun bibirnya tersenyum sangat manis.


"Tuan muda?" Suara dibalik pintu terdengar lagi.

__ADS_1


Kean akhirnya tersadar dari ingatan masa lalunya dan menyuruh orang dibalik pintu untuk masuk. Pintu terbuka dan menampilkan seorang pria paruh baya dengan punggung tegak. Pria paruh baya itu masuk dan membungkuk padanya.


"Tuan muda, apakah anda sudah memutuskan? Menurut saya pernikahan yang diatur oleh tuan tidak akan begitu buruk. Setidaknya anda bisa menjauh dari orang-orang yang menindas anda." saran pelayan itu dengan penuh tulus.


Pernikahan? Kean saat ini benar-benar bingung dengan keadaan dia tidak bisa menggunakan sihir. Sekarang pria itu mengatakan satu masalah lagi tentang pernikahan yang dia tidak tahu apa-apa. Yang membuatnya frustasi lebih dalam.


"Jangan bicarakan itu lebih dulu. Aku lapar, siapkan makanan." ujar Kean sembari bangkit dari duduknya.


"Maaf tuan muda, saat ini hanya ada roti dan telur untuk anda karena nyonya tidak memperbolehkan saya memakai bahan apapun di dapur untuk anda." ucap pelayan itu dengan sedikit takut.


"Tidak apa-apa, siapkan saja itu."


"Baik." Setelah itu pelayan itu pergi dan meninggalkan Kean sendirian di kamarnya.


"Sungguh situasi yang buruk." pikir Kean. Dia hampir bisa memproyeksikan drama darah anjing diotaknya. Mulai dari kisah si anak haram, ibu tiri, pengucilan dan penindasan.


Untuk penindasan Kean tidak asal menebak. Dari saat dia bergerak dia merasakan sakit di seluruh badannya. Kean berjalan ke kamar mandi dan menemukan cermin full body melalui ingatan tubuhnya.


Dan benar saja. Dibalik pakaian terdapat banyak memar, baik yang lama maupun yang baru. Membuatnya tampak seperti pohon anggur karena dimana-mana ada bercak biru, ungu dan merah.


Sekarang Kean tidak memiliki sihir dan tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Itu juga akan tampak mencurigakan jika dia sembuh secara tiba-tiba. Dan Kean menebak tidak akan baik tinggal disini terlalu lama.

__ADS_1


Lukanya hanya akan bertambah banyak jika dia tetap disini. Bahkan mungkin tidak akan memiliki ketenangan untuk menyerap kekuatan spiritual untuk memulihkan sihirnya.


"Mungkin menikah tidak akan terlalu buruk. Aku juga melajang sampai mati sebelumnya."


__ADS_2