Penyihir Circle 9 Bertransmigrasi Untuk Menikah

Penyihir Circle 9 Bertransmigrasi Untuk Menikah
Bab 5


__ADS_3

Kean sudah berusaha sebisanya untuk menghilangkan suasana canggung. Namun Creone hanya mengangguk dan duduk di sofa dekat jendela.


Creone melihat Kean masih berdiri ditempatnya dan tidak masuk mengerutkan kening.


"Masuklah dan duduk." ujar Creone.


Kean menurut dan segera duduk dihadapan Creone dengan sikap seorang siswa yang baik. Jujur Kean tidak pernah menjadi siswa yang baik dikehidupan sebelumnya. Ini pengalaman yang cukup baru.


Bukannya dia takut pada Creone, hanya saja dia tidak punya pengalaman menjalin hubungan. Karena itu dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.


"Maaf aku baru menyapamu sekarang. Kamu bisa menggunakan fasilitas apapun disini semaumu dan jangan sungkan. Tapi sepertinya kamu sudah terbiasa." Saat Creone mengatakan itu dia melirik kebawah, tepatnya menuju pakaiannya yang sekarang ada ditubuh Kean.


Kean menyadari pandangannya dan buru-buru mengangguk. "Maaf, aku tidak tahu ini kamarmu." Dan juga maaf karena dia sudah menggunakan semua barang-barang yang ada dikamar ini.


"Itu..., aku tidak membawa apapun saat datang kesini, jadi...."


"Maka jika begitu aku yang harus meminta maaf karena tidak menyediakanmu kebutuhan sehari-hari." Creone hampir saja menerka yang tidak-tidak. Karena dia mengira sebelumnya tujuan Kean memakai pakaiannya untuk menggodanya.


Dia menghapus semua prasangka itu sekarang pengakuan kean tampak tidak berbohong. Dan juga Creone percaya diri dalam visinya melihat pikran orang lain dari raut wajah.


Kean tidak menyangka Creone cukkup baik dan tidak memarahinya. Dia selalu menebak apakah akan dimarahi atau tidak karena wajah Creone yang bau, alias jutek. Tapi ternyata tidak.


"Aku akan membiarkan Daniel membelikanmu yang baru."


Creone kemudian memanggil Daniel dari udara kosong dengan nada suaranya yang biasa dan Daniel segera datang. Kemudian Creone meminta Daniel membuka aplikasi belanja onlinne dan membeli segala keperluannya.


"Ukuran bajumu?" tanya Creone.


"M." Kean melaporkan ukuran setelan jas pernikahan.


Creone sedikit mengernyit saat mendengarnya. Kecil sekali pikirnya. Kemudian dia juga memperhatikan kaki Kean yang telanjang alias tidak memakai alas kaki.


"Ukuran sepatu?" tanyanya lagi.


"39." Ini juga ukuran sepatu yang dia gunakan untuk pernikahan. Dia tidak memakainya lagi setelah itu karena dia tidak merasa sepatu itu cocok untuk berlatih sihir. Apalagi dia cukup terbiasa tidak memakainya.


Hanya celana saja yang masih dia pakai karena semua celana di lemari kebesaran. Malam dia mencucinya dan pagi kering jadi Kean tidak terlalu mempermasalahkannya.


Creone segera menyuruh Daniel untuk membeliya dengan banyak salinan untuk ganti. Daniel kemudian pergi setelah menjalankan tugasnya.


"Itu, aku akan pindah ke kamar sebelah." ujar Kean. Dia ingin segera pergi untuk beristirahat. Hari sudah malam dan dia sangat mengantuk.


"Tidak perlu, tinggallah disini." Creone tidak tahu apa yang merasukinya namun kata itu sudah terucap dan dia tidak bisa mengambilnya lagi.

__ADS_1


Dia juga tidak bisa mengambil kamar lain karena hanya kamarnya yang terhubung degan pengawasan robot medis dan keamanan. Dia sendiri tahu separah apa lukanya. Dan perang belum berakhir, jadi dia tidak bisa menganggap enteng lukanya. Ada juga rekan-rekannya yang asih berperang digaris depan.


Kean tidak mengatakan apapun lagi dan patuh. Seberapa cerewetnya dia didalam hati, dia harus menahannya karena sekarang dia ada di rumah Creone. Kean segera bangkit untuk mengambil baju dari lemari dan berlari kekamar mandi untuk mandi. Segera Creone mendengar suara air dari balik pintu.


Kean tidak mandi terlalu lama dan keluar segera setelah mencuci celananya dan menggantungnya di samping handuk. Saat dia keluar Creone sudah tidak ada dalam kamar lagi jadi dia mengira Creone yang pindah ke kamar lain.


Kean segera berbaring di tempat tidur tapa tekanan. Tidak perlu malu tidur tanpa mengenakan celana sekarang, jadi Kean tidur lelap segera setelah berbaring. Dan juga baju Creone terlalu besar sehingga cukkup untuk menutupi area tertentu.


Creone yang kembali dari makan malamnya yangg terlambat melihat pemandangan kaki putih dan mulus Kean begitu kembali kekamar merasa ragu kembali dengan visinya yang melihat Kean sebagai orang yang jujur. Tapi mengingat ukuran pinggangnya yang lebih lebar daripada Kean, sepertinya pemandangan ini lebih baik daripada melihat Kean memakai celananya dan kedodoran.


Creone tidak memikirkannya lagi dan tidur disamping Kean setelah mengenakan selimut untuknya. Malam berlalu dengan damai dan Kean mengerjapkan matanya beberapa kali. Samar-samar dia mendengar seseorang berbicara.


"Aku akan mencoba kembali secepat mungkin. Tahan pasukan musuh dan buat mereka kewalahan, jika kondisi tidak memungkinkan mundurlah terlebih dahulu dan seret mereka hingga aku datang."


"Tapi Marsekal, bagaiman lukamu? Saya akan mengatasinya sebisa mungkin disini jadi anda bisa tenang. Mereka juga sekarang tidak terburu-buru untuk mengerahkan kekuatan penuh mereka sekarang."


Creone melirik kebelakang begitu mendengar gerakan dari kamar. Dan dia melihat Kean sudah bangun. Dia buru-buru mengakhiri teleponnya dengan wakilnya.


"Pagi." sapa Kean sembari menggaruk kepalanya. Creone hanya mengangguk dan melihat Kean pergi mandi.


Selesai mandi tepat pada waktunya makanan siap disajikan oleh Daniel. Kean dan Creone makan bersama. Setelah itu Kean hendak berlari begitu selesai mencerna sarapannya dengan berjalan kaki disekitar mansion seperti biasa.


Halaman mansion sangat luas. Saat pertama kali dia datang dan berlari, Kean tidak sanggup dan berhenti ditengah jalan. Sekarang kekuatan fisiknya meningkat dan tidak masalah baginya untuk berkeliling mansion.


Apalagi mansion dikelilingi hutan dan menambah paranoia. Tetapi saat dia berlari lebih jauh dia melihat Creone di pojok dan sedang menyentuh dinding samping. Dinding polos yang biasa Kean lihat saat ini menampilkan beberapa tulisan dan gambar.


Kean berhenti dan melihat dengan rasa ingin tahu. Tetapi ditemukan dengan cepat oleh Creone.


Melihat Creone menghampirinya, Kean bertanya, "Apa yang sedang tuan lakukan?"


"Tidak ada apa-apa. Hanya melihat sesuatu yang aneh terjadi pada sistem kontrol area pelatihan. Tidak bisa menghitung target yang tersisa dengan benar. Aku akan mengirimnya pada Daniel untuk diperbaiki." Creone langsung mengatakannya. Walaupun dia sedikit tidak percaya sistem rumahnya gagal alias error.


Tapi melihat tubuh kurus pasangan nikahnya, tampaknya bukan seseorang yang bisa bertarung dan menghancurkan target. Tapi jika itu benar, Creone semakin tertarik. Creone menatap Kean dengan tatapan menyelidik. Namun begitu dia menemukan Kean tidak memakai alas kaki, alisnya mengernyit.


Kean tentu salah paham dengan tatapan Creone. Dia sekarang sedang bertanya-tanya apakah dia harus membayar ganti rugi dengan target-target yang sudah dia rusak. Namun masalahnya adalah dia tidak memiliki uang.


"Bagaimana denganmu?" tanya Creone.


"Ah?"


"Apa yang sedang kamu lakukan saat ini?"


"Lari pagi." jawab Kean setelah paham apa yang ditanyakan. Dia juga lega, setidaknya untuk saat ini.

__ADS_1


Tetapi jawabannya membuat Creone semakin mengernyitkan alisnya. Sepanjang jalan dihalaman bukanlah tanah yang lurus dan datar tetapi didekorasi dengan bebatuan yang sesuai dengan estetikanya. Dan sekarang Kean mengatakan dia sedang lari pagi dan juga ini bukanlah rutinitas yang hanya dilakukan sekali.


"Kemari."ajak Creone ke bangku di samping jalan. Creone juga menyuruh Kean duduk sementara dia berlutut didepannya.


Kean sekarang bingung dengan apa yang akan dilakukan Creone. Apalagi saat dia berlutut dihadapannya. Dan kemudian juga mengambil pergelangan kakinya.


Creone semakin mengernyitkan dahinya. Sepertinya dia perlu mengajukan beberapa fitur khusus untuk Daniel pada lembaga penelitian robotik saat melihat telapak kaki Kean yang merah.


"Itu, ada apa?" Kean akhirnya bertanya karena dia tidak tahan dipandangi terus-terusan. Apalagi bukan wajahnya ataupun yang lainnya, tetapi kakinya. Sekarang posisi kakinnya tepat diwajah Creone yang membuatnya merasa tidak sopan.


"Tidak apa-apa." Creone akhirnya melepaskan kaki Kean dan bangkit.


"Ikut aku." katanya lagi. Dan tanpa mendapat jawaban dari Kean dia segera pergi. Kean akhirnya tidak punya pilihan lain selain mengikutinya.


Merek berdua masuk ke area latihan, Menyebrangi lapangan yang luas dan masuk ke ruang yang menurut Kean aneh. Dia sudah kemari sebelumnya dan ada banyak arang-barang aneh yang dia tidak tahu cara menggunakannya. Creone kemudian berhenti didepan salah satu alat disni.


"Kamu bisan memakainya untuk berlari." ujaarnya sembari menunjuk pada treadmill disampingnya.


Kean akhirnya tahu kegunaan satu benda disini. Namun dia tetap diam karena dia tidak tahu caranya. Kean hanya menatap Creone dengan bingung.


"Aku tidak tahu cara menggunakannya." kata Kean kemudian. Dia juga tidak dapat menemukan bagaimana cara menggunakan alat-alat disini dari memori tubuh.


Creone kemudian mengajarkannya cara menggunakan treadmill dan memperkenalkan berbagai tombol dan fungsinya. Setelahnya Kean mencoba dan sangat nyaman digunakan. Kakinya juga tidak sakit lagi karena menyentuh bebatuan.


"Terima kasih." ujarnya pada Creone sembari tersenyum.


"Sama-sama."


Setelah itu Creone pergi dan Kean terus berlari diatas treadmill. Dia berlari hingga setengah jam dan kemudian berhenti karena lelah. Kean menghapus peluhnya dengan punggung tangannya dan menggunakan sihir angin untuk meredakan panas pada tubuhnya.


Kean kembali kedalam mansion. Setelah memuaskan dahaganya dengan air dingin, Kean kembali ke kamar untuk bermeditasi. Kekuatannya saat ini cukup untuk meledakkan area seukuran kamarnya namun dia akan tetap berlatih agar mentalnya merasa aman.


Ketika Creone kembali dari ruang kerjanya, dia melihat Kean duduk bersila dan menghembuskan nafas seirama jarum detik berdetik. Dia sebelumnya mecari informasi tentang Kean. Dia masih harus waspada pada pasangan nikahnya.


Kondisi fisiknya yang terluka parah pasti akan menjadi domba gemuk pada mata musuh-musuhnya. Mau itu dari negara musuh ataupun perrsaingan internal.


Daniel juga sudah menjalankan tugasnya memeriksa error sistem area pelatihan. Dan ternyata tidak ada error sama sekali. Memang banyak target yang sudah hancur bahkan beberapa jumlah berkurang.


Robot-robot dirumah tidak mungkin menghancurkannya karena jika bukan lepas kendali pasti mereka hanya akan melaksanakan tugas yang diperintahkan.


Karena itu hanya satu yang pasti jawabannya. Kean Reoneore, pasangan nikahnya, yang melakukannya.


Namun saat meli-lihaht cadangan peluru, Creone menemukan semuanya masih terseegel baru tanpa ada yang kurang ataupun jejak telah digunakan. Ini membuatnya sedikit ragu, namun dia tidak bisa menemukan jawabannya bagaimanapun dia berpikir.

__ADS_1


Sekarang dia juga tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Kean. Dia tampak fokus dan tidak menyadari keberadaannya sama sekali walaupun dia sengaja mengeraskan suara langkah kakinya


__ADS_2