
Kean membuka jendela dan melihat pemandangan didepannya. Seperti yang diharapkan, dirinya sudah tidak berada di dunia tempat dia dulu. Dunia ini sangat berbeda, mulai dari gaya bangunan, jenis tanaman yang tidak dia ketahui, orang-orang yang asing, gaya pakaian dan hal-hal yang mungkin sepele lainnya.
Kean menyuruh pelayan untuk membuatkan makanan hanya untuk waktu berfikir tanpa diganggu siapapun. Dan seperti yang dia tebak, ada beberapa pelayan yang lewat namun tidak ada yang memberikan penghormatan apapun padanya. Yang menekankan identitasnya dipandang remeh walaupun dia seorang 'tuan muda'.
Kean tidak memperdulikannya karena sanjungan apapun tidak akan berpengaruh padanya. Dia berjalan menuju kamar mandi dengan ingatan tubuhnya dan mandi dengan cepat. Setelah itu berpakaian yang modelnya sama seperti yang sebelumnya dia pakai.
Bukannya dia tidak ingin memakai model yang lain, tetapi semua pakaian di lemari memiliki model yang sama. Kemeja putih polos dan celana hitam. Yang pada dasarnya hanya kekurangan rompi hitam untuk menjadikannya mirip dengan pakaian pelayan laki-laki di mansion ini.
"Apakah keluarga bangsawan ini miskin?" Kean menggumamkan pertanyaan.
Ketukan pintu terdengar lagi dan Kean menyuruh pelayan paruh baya diluar masuk. Pelayan itu masuk dengan membawa nampan dengan sepiring roti dan telur mata sapi, dia menaruhnya di meja samping jendela tempat 'tuan mudanya' duduk.
"Silakan tuan."
"Terima kasih."
"Ford, bisakah aku melihat sosok seperti apa yang akan dijodohkan denganku?" Ford adalah nama pelayan itu yang dia tahu dari ingatan tubuhnya sekarang.
Kean menyadari tubuh ini dulu memiliki jiwa, namun itu hilang yang berarti pemilik sebelumnya kehilangan nyawanya. Dan dia adalah pemilik tubuh ini sekarang.
Namun sulit untuk melihat ingatan yang berkaitan dengan tuan rumah mansion ini. Dan hanya hal-hal sepele dan kebiasaan tubuh yang bisa membuat Kean mengetahui beberapa informasi tentang dunia ini.
Dia menduga itu karena masalah psikologis yang berkaitan dengan trauma, yang membuatnya tidak bisa mengorek apapun yang berhubungan dengan 'tuan rumah'. Yang dia tahu tentangnya hanyalah bahwa dia ayah dari pemilik tubuh asli.
__ADS_1
Kean tidak mencoba mengorek kepahitan tubuh ini untuk menghormati pemilik aslinya. Jikalaupun dia mengingatnya kemudian hari, dia akan membalaskan dendam pemilik tubuh asli jika diperlukan.
Kean tidak memperdulikan hal ini lagi dan memakan sarapannya dengan cepat. Pelayan Ford sangat patuh padanya, tidak seperti pelayan lain dan segera menunjukkan apa yang dia minta. Proyeksi layar virtual muncul di atas pergelangan tangan Ford yang mengenakan jam tangan. Dia tahu itu namanya karena hal ini juga termasuk hal-hal umum di dunia ini.
Kean hampir mengira itu sihir jika dia tidak merasakan fluktuasi kekuatan sihir apapun dari benda itu. Pelayan Ford kemudian menekan seberapa kali pada layar dan segera gambar seseorang ditunjukkan padanya.
Dalam gambar itu terdapat sosok pria jangkung dengan bahu yang tegap. Posturnya bahkan lebih enak dipandang daripada prajurit-prajurit pendekar pedang yang dia lihat sebelumnya. Pria itu juga memakai seragam yang tampak rapih dan tanpa noda.
Alisnya tajam dan sorot matanya dingin yang tampak menindas. Walaupun pria itu berpakaian rapih dan tampak pantang, Kean merasa dia terlihat rapuh. Karena mata gelap itu tidak memiliki sinar.
Seolah-olah lelah akan dunia, ingin terbebas dari apapun yang menghalanginya. Namun dia tidak bisa melepaskannya bagaimanapun caranya.
Kean sejenak merasa seperti melihat dirinya yang dulu. Menunggu di sel penjara yang gelap gulita. Menunggu seseorang datang untuk menyelamatkannya. Seseorang memang datang kemudian, namun bukan untuk membuatnya bebas.
Karena orang-orang disana mengaguminya, tetapi juga takut dan waspada terhadapnya. Para bangsawan atau keluarga kerajaan yang meminta bantuannya akan berterima kasih padanya dan menghargainya, tetapi juga selalu mengawasinya karena dimata mereka Kean Reoneore bisa menjadi pedang bermata dua kapanpun. Karena menjadi kuat bukan hanya bisa melindungi diri sendiri, tetapi juga membuat dia menjadi keberadaan yang mengancam kepentingan orang yang berfikiran sempit dan membenarkan diri sendiri.
Kean tidak terlalu suka sifat manusia yang seperti ini. Dan melihat pria yang sepertinya berada diposisi yang sama dengannya dulu membuatnya merasakan kedekatan tertentu walaupun mereka tidak pernah bertemu sekalipun.
"Tuan muda, anda tentu tahu beliau. Beliau adalah salah satu Marsekal kekaisaran saat ini yang termuda. Berita tentangnya ada dimana-mana dan anda bisa mencarinya sendiri." kata Pelayan Ford. Kean mengangguk setelah melihat nama dibawah gambar tersebut.
"Kapan pernikahannya?" tanya Kean.
"Besok."
__ADS_1
"Begitu cepat?"
"Ya. Saat ini kekaisaran sedang dalam masa perang melawan zerg. Dan Marsekal Creone perlu berada digaris depan dan tidak bisa meninggalkannya terlalu lama." jelas Ford.
"Kenapa tidak memutuskan untuk ditunda hingga perang selesai?"
"Itu sudah disepakati sebelumnya oleh ayah Marsekal dan Tuan. Tetapi juga sudah tertunda terlalu lama karena Nona Ayunda tidak setuju."
"Lalu kenapa Marsekal tidak menikah saja dengan Ayunda?" tanya Kean. Yang dia tahu dari ingatan tubuh pemilik asli, Ayunda adalah anak Tuan rumah, namun dari ibu yang berbeda dari pemilik tubuh asli. Kean bisa membayangkan bagaimana kekacauan itu.
Dia juga ingat pemilik aslinya pernah bertemu dengan Marsekal dan ayahnya. Tuan rumah ingin menjodohkan anaknya Ayunda dengan Marsekal, namun Marsekal tidak menyukainya, dan tiba-tiba memyebut nama pemilik asli dan berkata dia hanya akan menikah dengan pemilik tubuh asli.
Dari yang dia lihat pada gambar, Kean menebak Marsekal Creone ini sangat membenci sesuatu yang merepotkan. Dan 'saudara perempuannya' bisa dibilang merepotkan karena sifatnya. Kemudian melihat tubuh kurus dan kurang gizi pemilik asli, juga sifatnya yang mudah ditindas, jika Kean menjadi Marsekal Creone, dia juga akan lebih memilih pemilik tubuh asli.
Seperti seorang bajingan tapi tidak ada yang salah dengan logikanya jika mengesampingkan perasaan. Karena pernikahan mereka juga sejak awal tidak didahului oleh perasaan. Kean juga tidak mengharapkan kebahagiaan pasangan normal setelah pernikahan, karena saat ini dia hanya membutuhkan tempat dimana dia bisa tenang untuk memulihkan kekuatannya.
"Bagunkan aku ketika saatnya tiba." ujar Kean sembari bangkit untuk berbaring dikasur.
"Baik." Ford kemudian pergi dengan nampan dan piring yang kosong.
Kamar menjadi sunyi lagi dan Kean menggosok pelipisnya yang sakit. Tubuh pemilik asli benar-benar terlalu lemah. Berpikir keras sedikit akan membuatnya sakit kepala. Kean bertanya-tanya apakah Tuan rumah membesarkan anak atau rumput.
Setiap hari menyiraminya air, tetapi juga membiarkannya terinjak-injak. Dan akan tiba saatnya untuk dipangkas jika layu ataupun tumbuh terlalu tinggi.
__ADS_1