
Malam hari aku menerima pesan dari nenek. Dia memintaku untuk terbang ke Negeri Ginseng.
Isi pesan...
Ara cucuku,
Sudah lama nenek tidak bertemu setelah ayahmu menikah lagi. Tinggallah di rumah nenek beberapa pekan terakhir untuk menghilangkan rasa kecemasan nenek padamu, Ara.
Nenek sungguh kangen dan ingin melihat cucu nenek yang sudah dewasa ini. Saat nenek tidak ada nanti, nenek tidak perlu mengkhawatirkan mu lagi. Karena nenek merasa sangat senang dan bahagia saat kamu berada di sini bersama nenek.
Nenek Sun**
"Nenek... Pesan nenek ini semacam surat yang di kirim melalui kantor pos saja!" Sindir neneknya tertawa kecil melihat wanita paruh baya ini. Ara tanpa lama segera mengirim pesannya pada nenek Sun.
"Dasar, anak ini... Apa kau tak mau menemui nenek yang sudah sangat tua ini dan menemani ku sampai aku meninggalkan dunia ini..." Balas nenek sungguh cerewet tak ada duanya.
Aku membalas pesan nenek, "iya, iya. Cucumu ini akan pesan tiket pesawat terlebih dahulu. Lalu berangkat ke negeri nenek yang indah itu dengan wajah cantik dan imut ku.... Ha ha ha." Tawa ku membuncah satu ruangan yang selama ini aku tempati dengan baik. Hanya nenek yang bisa membuat ku tertawa lebar bagai kudanil membuka mulutnya dengan sangat lebar.
'Aku sungguh lebay sekali' Mengakhiri kirim balas pesan melalui ponsel. Sebenarnya dalam benak ku, aku tercengang melihat pesan nenek yang akan "meninggalkan dunia" seakan-akan umur nenek hanya sebentar.
Aku segera tidur dan besok akan pergi memesan tiket pesawat. Sebetulnya pesan melalui telepon seluler juga bisa, namun lebih bagus kalau aku pergi dengan mencari udara segar di luar sana.
Matahari mulai muncul dari ufuk timur, seperti biasa aku bangun jam 5 pagi untuk jogging. Menjaga kesehatan itu lebih penting untuk memulai awal pagi hari dengan indah. Walaupun aku sering di campakkan oleh dua orang khalayak musuh dan teman iblis. Tapi, aku tak pernah mengurusnya karena aku harus merasakan kesenangan sendiri.
Lari pagi pun membuat ku mengucurkan banyak keringat, terlihat di seberang ada bangku panjang yang terbuat dari kayu dengan corak yang khas dari kayu jati. Aku segera duduk menghilangkan keringat dan beristirahat sejenak di sana. Melepas handsfree di daun telinga, menghembuskan napas dengan kasar. Mengingat memory kecil, dimana saat itu aku....
'Ketika ibu meninggal saat aku berusia 6 tahun, aku tinggal berpisah dengan nenek. Aku ikut ayah ke Indonesia dimana tempat tinggal ayah dulu sebelum menikah dengan ibu. Yah... Sebut saja tanah kelahiran ayah'
__ADS_1
Ibu ku orang Korea Selatan, lalu menikah dengan ayah orang Indonesia. Aku terlahir menjadi anak blasteran Korindo singkatan dari Korea dan Indonesia.
Namaku Hae Ara Falisha umur 23 tahun yang baru lulus S1 di Universitas Indonesia. Ayah ku bekerja sebagai direktur utama di sebuah perusahaan besar di Indonesia. Setelah kepergian ibu yang cukup lama ayah menikah lagi dengan istri barunya yang sama-sama memiliki anak perempuan. Di saat aku berumur 10 tahun. Aku kira memiliki saudara perempuan dari mama baru itu seru karena ada teman bermain dan saling menerima keluh kesah. Ternyata tidak seperti dugaan ku. Hingga sekarang aku di nomor duakan oleh ibu. Ketika ada ayah perlakuan mereka berbeda terhadapku.
Walau tidak melakukan kekerasan hanya hina dan ketidaksukaan pada ku membuat ku semakin tidak suka dan ingin pergi jauh dari rumah ini. Namun ayah melarang ku saat aku meminta pulang ke rumah nenek.
Disaat itulah aku bertekad untuk pergi jauh dan kembali ke tempat dimana aku di lahirkan.
Usai beristirahat sejenak melepas penat dan kenangan di masa lampau, aku segera bangkit dan pergi untuk kembali pulang.
********
"Dimana Ara?" Teriak seseorang mencari Ara, "sungguh menyebalkan memiliki anak tiri seperti dirinya..." racau ibu tiri yang Ara sebut macam nenek sihir.
"Maaf, Nyonya..." menghampiri Nyonya rumah dengan tergesa, "Nona Ara sedang berolahraga di luar, ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya pembantu rumah tangga dengan wajah takut.
"Saya tidak membutuhkan apa-apa, Bi," kesalnya dengan berlalu pergi ke kamar putrinya yang cantik jelita tiada tara.
Suara ketukan dari luar pintu,
"Hani..." Panggilnya dengan lemah lembut.
Tak ada sahutan dari dalam kamar lalu ibu tiri Ara memanggilnya sekali lagi, "Hani... Sayang... Sudah bangun, Sayang," menempelkan telinganya di pintu kamar adik tiri Ara mengira dia sudah bangun.
"Anak ini selalu bangun siang mulu..." racaunya, "apa dia tidak masuk kuliah?" gumamnya seraya berjalan menuruni tangga.
********
__ADS_1
Di depan rumah aku segera masuk pergi ke kamar untuk mandi dan segera memesan tiket pesawat. Tak sampai di tangga tempat kamar ku yang berada di lantai dua bertemu dengan nenek sihir. Dengan tatapan sinis, kesal, dan tak suka dia curahkan ke arahku.
'Apa dia kurang kerjaan, sehingga pagi yang cerah ini di sambut oleh tatapan bengis dari ibu tiri ku' lubuk hati ku juga kesal padanya. Lebih baik aku hiraukan dia daripada akunya kena serangan jantung mendadak karena terlalu peduli padanya.
Berlalu melewati tangga dan akan melewati kamar anak nenek sihir ini aku terkejut melihat nongol di ambang pintu dengan wajah lusuh serta rambut yang acak-acakan.
"Aaaaaaargh!" teriak ku dengan sekencang-kencangnya tepat di hadapan dia.
"Hei... Kau meneriaki siapa dengan sekeras itu!" marahnya dia padaku membulatkan kedua bola matanya.
Menenangkan pikiran sehabis kaget aku berkata, "meneriaki mu karena wajahmu sangat cantik dan glow up, " sindirnya dengan lembut seraya melewati adik tirinya itu.
'Sehingga aku terkejut' kekehnya bergumam yang terdengar oleh adik tirinya.
"Hei... Kamu anggap aku ini wanita buruk rupa apa?" sahutnya kesal, "lebih cantik kan aku dari pada kamu," sindirnya dengan sinis kembali masuk kamar.
"Bodo amat..." balas ku acuh lalu masuk kamar.
Sehabis mandi membuatnya segar kembali dan siap pergi untuk membeli tiket pesawat di minimarket dekat kantor ayah.
Di hari yang cerah ini, Ara memakai kaos putih berlengan pendek yang di masukkan kedalam celana jeans panjang. Tidak lupa memakai sepatu Kickers putih dan tas selempang kecil yang di kalungkan di pundaknya. Rambut panjang yang lurus dan bagian pucuk rambut keriting serta poni yang jarang sebatas alis membuat wanita muda ini tampak terlihat cantik, polos dengan make up natural. Memang dari dasarnya dia sudah cantik, berkulit putih keturunan Negara Gingseng. Keluar dari rumah memakai sepeda motor miliknya yang ia sukai sejak SMA lalu dan memakai helm di kepalanya.
*********
Memakirkan motornya di depan minimarket serta melepas helm. Dia turun dan masuk ke minimarket menuju kasir lalu memesan tiket pada laki-laki yang berada di kasir.
"Selamat pagi! Ada yang bisa di bantu, Mbak?" Tanya mas kasir yang di sana.
__ADS_1
"Mau pesan tiket pesawat, bisa, Mas?" balas Ara.
"Bisa, Mbak!" seraya membuka layanan pesanan pesawat, "tujuan kemana?" 'ayu tenan bocah iki' batin mas kasir tersenyum.