
Berada di kedai yang tak begitu luas namun banyak pengunjung langganan nenek membuat Ara tersenyum sumringah karena tak merasa kesepian atau sendiri. Walaupun Ara beberapa jam yang lalu baru sampai dan merasakan 'Jet Lag' tidak membuat dia merasakan gangguan sementara itu.
Senang bisa melihat neneknya lagi yang bertahun-tahun tak bisa menatapnya dari dekat, memeluknya, dan bersenda gurau.
Hingga waktu sudah gelap pertanda malam pun tiba, dia lupa dengan apa yang lebih penting menanyakan sesuatu pada neneknya. Waktu buka kedai berakhir, mereka bertiga bersiap-siap untuk kembali ke rumah.
Tanpa banyak perbincangan nenek Sun meminta Ara untuk membersihkan diri dan makan malam bersama.
"Nek, aku sudah selesai mandi!" sahut Ara dari belakang nenek yang duduk bersama dengan si bocah tengik. 'Untung saja aku sudah memakai baju' batinnya meracau.
"Segera makan lalu tidur beristirahat!" titah dengan anggukan nenek pelan dan meminta untuk segera makan, di bocah tengik ini menatap ku dengan tajam melambangkan kalau dia tak suka dengan keberadaan ku.
Di meja makan yang sama dengan tadi aku makan dengan lahap tanpa mengedar ke arah lain karena yang ku rasakan saat ini masakan terenak nenek yang lama ku nanti.
__ADS_1
Aku berhenti sejenak teringat dengan bunga yang berada di halaman samping kamarku, "Nek, bunga aster itu kenapa ada di sana? Siapa yang menanamnya?" tanyanya iteratif sehingga nenek Sun berhenti menyuap makanannya.
"Kala itu nenek melahirkan seorang putri yang cantik lahir di bulan September yang melambangkan bunga aster serta memiliki simbol cinta, keyakinan, keberanian, dan pengabdian menurut di Korea. Nenek memberinya sebagai hadiah kala itu usia ibumu remaja dan ada pesan juga "Jaga dirimu, dengan baik!" terang nenek teringat apa yang pernah dia berikan pada ibu, "nenek dulu berharap agar ibumu selalu menjaga dirinya dengan baik, akan tetapi ibumu tak bisa sehingga menerima cinta dan lamaran ayahmu yang berbeda agama serta berbeda kalangan," rintih nenek mengusap bulir air yang jatuh perlahan.
Gelagat nenek menandakan ada penyesalan dalam dirinya yang selama ini tak pernah merestui hubungan antara kedua orang tua ku hingga aku lahir di dunia ini.
"Nek... Maaf, aku bertanya di saat waktu yang tidak tepat... Tidak baik pula kalau nenek menangis di depan makanan ini," hibur ku padanya sembari mengusap bulir yang jatuh dan memeluknya semoga nenek kembali tersenyum tanpa ada penyesalan atau beban dirinya.
"Nenek, ayo makanlah ini...(할머니 이거 드세요..." si bocah tengik ini mencoba membuyarkan kesedihan yang terpampang di depannya ini sembari menaruh bibimbap di mangkuk nenek.
Lalu nenek Sun mencoba mengembalikan senyumnya dan menyuap bibimpap pemberian bocah tengik ini yang ia taruh di mangkok.
Usai sudah makan malam hari ini aku merasa kenyang walaupun ada sedikit kesalahan saat makan bersama barusan.
__ADS_1
Aku membuka cendela dan mengedarkan pandangan ku ke arah bunga aster milik mendiang ibu. Aku berpikir lebih baik bunga ini akan berganti pada pemiliknya yaitu... Aku...
"Sayang sekali kalau bunga ini tak ada yang merawat" gumam ku sembari menutup cendela dan berlalu tidur.
***
"Ara... " suara nenek memanggil dan mengetuk pintu kamar, "hoaam... Iya, iya, Nek!" sahutku sembari bangun dari tempat ternyaman saat ini. Aku melangkahkan kaki ku yang masih lemas untuk membuka pintu.
Ceklek...
"Ara, nenek berangkat dulu ke kedai. Jangan lupa sarapan! Makanannya ada di meja sana!" ucap nenek Sun sembari merapikan baju yang ia pakai.
"Siap, Nek!" balas ku serta menguap di depan nenek dengn wajah bangun tidur ku, "Haish! Jangan menguap di wajah nenek!" depak nenek terlihat kesal, 'memang benar itu sungguh tidak sopan' aish! Nenek... Sakit, pukulan nenek ini membuat ku semakin malas untuk bangun." goda ku bermanja pada nenek.
__ADS_1