
Di bandara aku duduk termenung, memikirkan kondisi nenek yang bertahun-tahun tak mendapatkan kabar darinya.
Terdengar announcement dari bandara menuju Korea Selatan, aku bergegas Check In seraya membawa koper, setelah aku mendapatkan boarding pass lalu aku naik ke pesawat mencari tempat duduk yang tertera di tiket pesawat ku. Aku duduk di tempat paling nyaman dekat jendela yang memperlihatkan seluruh dunia dari atas. Pesawat pun mulai lepas landas setelah pramugari memberikan instruksi.
"Nek... Aku sudah sampai di bandara seoul," ujarku menghubungi nenek, "siapa yang akan menjemputku," tanya ku. Sudah lama aku tak pernah ke sini. Sekitar 16 tahun aku meninggalkan negara kelahiran ku, banyak kenangan yang sudah aku lupakan.
"Biar bocah tengik ini yang menjemputmu," ucap nenek Mi Sun, "tunggu beberapa menit dia akan datang, Cucuku..." dengan menutup panggilannya tanpa menunggu balasan cucunya.
"Nen-nenek..." sahutnya belum menanyakan siapa "BOCAH TENGIK" itu.
'Kenapa semua orang tua selalu menyebalkan dan seenaknya sendiri' menggerutu kesal lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas ransel kecil.
Dia menunggu sembari berdiri di luar, banyak taxi dan mobil yang menunggu dan menjemput para penumpang dari bandara.
Hampir lebih dari setengah jam Ara menunggu terdapat sepeda motor bebek berhenti di samping Ara. Dia turun melepas helmnya dan mengambil selebaran kertas besar. Dia membuka kertas itu yang bertuliskan
"HAE ARA FALISHA
INDONESIA
CUCU DARI NENEK MI SUN"
(HAE ARA FALISHA
INDONESIAN
MI Sun 할머니의 손녀)
__ADS_1
(bahasa korea)
Seraya bergegas berjalan masuk ke dalam bandara mencari cucu perempuan nenek Mi Sun. Ara melihat namanya tertulis di kertas itu segera bergegas memanggil, "ahjussi..." dengan lantang membuat pria itu menoleh ke belakang dan berhenti.
Mendekati dan menanyakan pada Ara, "permisi,(실례합니다)" dengan sopan, "kamu Hae Ara Falisha dari indonesia?" (당신은 인도네시아의 Hae Ara Falisha입니다) wajahnya menunjukkan kehati-hatian takut salah orang seraya menatap ku seperti menginterogasi dari bawah ke atas secara cermat.
'Ngomong apa dia, aku tak begitu paham yang di ucapkan olehnya', "can you speak English?"(Apakah kamu bisa berbahasa inggris) mungkin dengan bahasa inggris dia bisa, 'feeling aku' menatapnya.
"Yes, I can speak English!" (Ya, saya bisa berbicara Bahasa Inggris) balasnya masih menggenggam kertas di telapak tangannya, "Your name is Hae Ara Falisha, isn't that right?" (Kamu yang bernama Hae Ara Falisha, betul tidak?)
"Yes, that's right! Are you the one my grandmother told me to pick me up?" (Ya, itu betul! Apakah Anda orang yang nenek saya suruh untuk menjemput saya?"), 'oh... Ini yang di maksud nenek "BOCAH TENGIK" darimananya yang tengik' batin ku dengan mata terpana, sudah jelas orang Korea Selatan itu ganteng. 'Dasar nenek kabacan', tanya ku pada dia.
"Yes! Come on, your grandmother is waiting!" (Ya! Ayo, nenek Anda sudah menunggu!), melipat kembali kertas yang bertuliskan namaku.
Dia segera memasukkan kertas ke dalam jok motornya, aku melihat bagaimana menaruh koper ku di motor matic miliknya. "did you bring other things like suitcases?" (apa kamu membawa barang lain seperti koper?), tanyanya memakai helm dan memberikan helm padaku.
'Entah habis makan atau mimpi apa kemarin, kejadian konyol tiba. Dia memaksa menaruh koper ku di bagian depan jok yang sempit itu, apa dia tidak berpikir koper ku bisa saja rusak' tanpa berkata aku pun memberhentikan dia memaksa koper ku.
"Choesonghamnida, Ahjussi!" seketika paman itu berhenti dan mendongak ke arah ku, "let me just take it!" (biar saya bawa saja!), aku segera mengambil koper ku di jok bagian depan.
"Aniyo, aniyo!" dia mengambil alih koper ku dan membawanya kembali di pangkuannya. Bukan lagi di paksa di taruh di depannya, ""akan ku taruh di sini (bahasa korea)!" seraya menaruh koper ku ke pangkuannya.
"Apa anda bisa membawanya (bhs inggris)?" tanya meyakinkan ku sebelum duduk di sepeda motor, "lebih baik saya saja yang membawa koper ku," tawar ku agar aman saat berkendara.
'orang ini benar-benar merepotkan! Ada yang lebih mudah malah di buat ribet. Aduh... Pantas saja nenek bilang "Si Bocah Tengik"
"Jangan ragukan saya bisa (bahasa Inggris)!" dia sudah terkesiap untuk berkendara.
__ADS_1
"It's okey!" 'Yah... Aku percayakan saja padanya' Aku mulai naik sepeda motornya tanpa ragu.
Di perjalanan aku sangat menikmati pemandangan di kota ini, hari cerah dengan suasana berbeda dan angin yang sejuk. Kegembiraan terasa sangat baik bagi ku. Aku merasa terlahir kembali di negara ini.
Senang, bahagia bercampur dengan darah ku.
'Dia terlihat senang sekali' menengok dari kaca spion motor maticnya.
Beberapa menit kemudian, aku sampai di depan kedai yang sudah tua tapi masih layak di gunakan.
Nenek tua namun masih terlihat kuat tak seperti nenek-nenek sepuh lainnya. Dia menyambut ku, "Hae Ara, cucuku!" sembari memeluk ku dengan kerinduan.
"Nenek Sun!" tersentak dengan rindu ku memanggilnya sekali lagi, "Nenek Sun! Benar ini nenek?" tanya ku tak percaya karena dia tak berubah sama sekali hanya kulit keriput nya yang membuat berubah.
Ku peluk tubuh dan raganya, masih tetap sama hangat dan teringat sekali usia kecil yang lalu. Bahagia yang kurasakan saat ini merasakan rindu bertahun-tahun.
Dengan cara kabur dari rumah, aku bisa melihat nenek satu-satunya yang menangisi ku saat kepergian ku meninggal negara ini. Ku kira aku tak bisa kembali lagi ke sini. Bulir air mata tak terasa jatuh begitu saja.
Aku mengedarkan sekeliling rumah itu juga masih sama hanya saja beberapa puing yang terlihat baru.
"Ayo, masuk cucu ku! Nenek sudah membuatkan makanan enak kesukaan mu saat kecil." Nenek mengajak ku masuk dan sekali lagi aku mengedarkan pandangan ini terpampang rapi deretan bingkai foto di meja nakas panjang. Ku hampiri serta ku lihat foto masa kecil ku dengan ayah ibu.
Kangen! Iya, pasti! Mana mungkin aku tak rindu dengan seorang bidadari yang telah melahirkan ku di dunia, aku sedih dan amat sedih. Betapa cepatnya ibu meninggalkan ku saat kecil dan di tinggal hampir lama, aku menangis tertahan tak berani menangis dengan keras. Aku takut nenek akan marah ketika melihat ku menangis merindukan 'IBU'.
Ku usap buliran air mata ini dengan sendu, sesuatu yang menepuk lengan ku membuat ku buyar dari lamunan ini.
"Hey, where are you going to put the bag?"(Hei, dimana aku menaruh tas kamu?) ternyata dan ternyata si bocah tengil ini mengagetkan ku, "just leave it there!" sorot ku menyebalkan padanya.
__ADS_1
"It's okey!" balasnya berlalu menghilang di depan ku.