Perbedaan Kita Menuju Akad

Perbedaan Kita Menuju Akad
Chapter 3 : Persiapan...


__ADS_3

Perjalanan pulang Ara begitu tak sabar dengan keberangkatan besoknya. Tiba di depan sebuah gerbang yang tinggi dan megah, seorang penjaga yang berbadan tegap layaknya bodyguard membukakan gerbang dan menyapa serta membungkuk pada Ara.


"Terimakasih, pak!" Beri ucapan pada penjaga macam biasanya riang tak pernah mengeluh walaupun ibu tiri serta adik tiri yang selalu mencoba mengalahkan Ara. Seakan-akan Ara tak berhak berada di rumah megah itu.


Penjaga melayangkan senyum sopannya dan membalas "sama-sama, Nona Ara!" sembari menutup pintu gerbang.


Dia menuju ke lantai atas dimana kamar Ara berada. Merebahkan tubuhnya di kasur paling empuk miliknya, menaruh tas selempang yang disebelah dirinya. Menatap langit-langit kamar, 'bagaimana keadaan nenek disana tanpa siapun, hanya sendiri tanpa ada orang lain...' gerutu Ara iba sehingga tak merasakan sebulir di mata indahnya menetes melewati daun telinga sampai ke rambut yang berserakan indah.


"Semoga nenek selalu bahagia, di berikan kesehatan dan umur yang barokah... Amiien. Terimakasih untuk hari ini, Ya Allah!" gumam pelannya seraya menghapus beberapa tetes bulir air mata yang jatuh perlahan.


Ara bangun untuk duduk serta mengangkat kedua tangannya meregangkan tubuhnya agar relaks.


Ara mempersiapkan pakaian dan lain-lain untuk keberangkatan besok ke bandara ibukota negara. Menghadiri acara hari jadi temannya yang hanya sebentar lalu membeli tiket keberangkatan ke negara dimana dia di lahirkan.


***


Hingga sore menjelang malam Ara baru selesai mengemas pakaian di kopernya, tak biasanya Ayah Ara mengetuk pintu kamar putri sulungnya, "Ara..." panggilnya pelan menunggu sang pemilik kamar membukakan pintu, "Ayah mau berbicara sama kamu," tambahnya dengan perasaan tak enak seakan tahu kalau putrinya akan kabur ke negeri gingseng.


"Sebentar Yah..." jawabnya lantang dan riang, 'aduh! Tiba-tiba mengetuk pintu lagi, cepat di masukkan ke tempat paling aman koper ini' batinnya panik dan segera merapikan seraya berjalan membuka pintu.

__ADS_1


"Ada apa, Yah? Tumben sekali!" tungkasnya menyembunyikan kepanikan pada dirinya dengan wajah tenang. Mungkin terpandang oleh Ayahnya tanpa ada yang di sembunyikan.


"Ehm... Ayah boleh masuk dan berbincang dengan putri sulung Ayah yang sudah dewasa ini?" tanyanya tenang. Seorang bapak biologisnya pasti tahu kalau putrinya akan kabur karena mempunyai hubungan paling erat macam ibu kandung Ara.


"Boleh... Boleh banget dong, Ayah! Masak nggak boleh seorang Ayah berbincang sebentar dengan putrinya yang secantik ini," sahut Ara tersenyum lebar, ' semoga tidak ada yang bisa di temukan, bisa gagal nih acara kabur ku kalau ketahuan' batinnya bergidik takut dengan wajah ayahnya yang akan mulai menginterogasinya.


"Ayah langsung saja,kamu sudah membelikan hadiah temanmu?" dia menanyakan dengan hati-hati agar tidak ketahuan maksudnya oleh Ara.


Kekeh Ara dengan gelagat mencari solusi agar tidak ketahuan kebohongannya, "Aaah... Ayah... Ya belumlah!" tersenyum seraya duduk di pinggiran ranjang berhadapan dengan ayahnya yang duduk di kursi rias dekat jendela, "kalau sampai di sana, Ara segera membelikan hadiah untuknya," sembari memasukkan foto ibunya kedalam selimut supaya ayah Ara tidak melihatnya.


"Oh, jadi belum ya! Ayah berpikir ketika teman atau sahabat kamu merayakan hari jadinya dengan cepat sudah membelikan hadiah dari kota M ini." singkatnya mengangguk pelan dengan manik mata yang curiga.


Ayah Ara hanya mengangguk pelan paham maksud putrinya, "baiklah, Ayah harus melanjutkan pekerjaan kantor lagi," sahutnya beranjak dari duduknya seraya berjalan keluar.


Rasa lega Ara sembari menghembuskan napas ikut beranjak dari duduknya memandang langkah Ayahnya yang semakin jauh. Di tengah pintu Ayah Ara berhenti menanyakan sesuatu, 'kenapa Ayah berhenti lagi? Aduuuuh... Apalagi yang mau di katakan olehnya, cepat pergi saja, membuatku semakin harap-harap cemas dengan ucapannya' hatinya kembali begitu gugup dan cemas lagi, keringat di keningnya menetes perlahan layaknya yang akan di katakan oleh ayahnya tentang dia yang berbohong.


Membalikkan badannya mengatakan yang di luar dugaan Ara, "kalau membutuhkan apapun pada Ayah langsung ke ruang kerja saja," ucapnya memberikan senyum canggung pada putrinya.


"A... Siap, Ayah! Jangan khawatir, itu pasti. Ayah tenang saja!" sahut Ara gugup sembari tersenyum manis tapi palsu, "good luck, Ayah! cheers, daddy!" mengangkat kepalan tangannya memberikan support pada ayahnya, 'Hus-hus! Cepat pergi, jangan kembali! Menyebalkan kalau sudah begini, sembari tersenyum manis sekali.

__ADS_1


"Iya, Sayang! Terimakasih, ya, putri ayah yang baik dari yang lain!" mengangguk pelan seraya pergi dari kamar Ara.


"Iya, terimakasih juga, Ayah!" balasnya segera menutup pintu dan menguncinya.


"Syukurlah..." sembari menghembuskan napas tegang, dia bergegas mengambil bingkai foto dibawah selimutnya, "Eomma, semoga rencana ku berhasil menemui nenek disana," gumamnya pelan seraya memasukkan bingkai ke dalam kopernya.


Selesai sudah menyiapkan semua, Ara merebahkan diri menatap langit-langit kamar 'nenek, tunggu aku, esok aku berangkat dengan selamat sampai tujuan' batinnya berbincang dengan sendiri.


Dering ponsel dari gawai miliknya, panggilan masuk dari nenek yang dia lihat saat itu, "halo, nenek..." bisik dia menerima panggilan dari neneknya.


"Ara, kamu ke sini berangkat kapan?" tanya neneknya antusias.


"Besok, Nek! Besok jadwal terbang Ara berangkat ke sana! Tunggu saja, usai tiba di sana Ara akan menghubungi, Nenek, ya!" jelasnya berbisik agar tidak terdengar dari luar sana.


"Iya, iya, nenek tunggu kedatangan mu besok!" balasnya senang tak sabar menunggu cucunya yang entah berapa tahun lamanya tak bertemu. Hanya sebuah foto dan video yang dikirim Ara saat dia sudah membawa ponsel sendiri.


"Selamat malam, Nenek! Jaga diri, ya!" sahutnya mengakhiri panggilan bersama neneknya.


'Nenek begitu terlihat senang mendengar suaraku yang akan berangkat ke sana mengunjunginya, dari suaranya saja begitu transparan kebahagiaannya' kekeh pelannya, 'tunggu aku, Nek. Cucumu akan mengunjungimu!' mencium layar gawai yang dia pegang sembari tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2