
Terlihat wajah semringai Ara masuk ke gedung perusahaan milik ayahnya usai memarkirkan motornya tepat di depan pintu masuk gedung. Dua penjaga yang berdiri sigap di samping pintu memberikan hormat pada Ara.
"Tolong parkirkan di tepi seberang sana ya, Pak!" titahnya pada penjaga di samping kanan Ara, "jangan di masukkan ke tempat parkir khusus," imbuhnya memberikan kontak motor pada penjaga.
"Baik, Non Ara!" menerima kontaknya dan bergegas memarkirkan motor milik Ara.
'Pasti akan ada cerita macam drama yang lagi booming bulan ini, nih' penjaga di samping kiri tersenyum melihat Nonanya masuk.
Yah! Pasti akan ada drama lagi, kalau tak ada drama di kehidupannya bukan lagi sebutan "Putri Drama dikehidupan nyata" itu julukan Ara dari teman-teman terdekatnya.
Ara memasuki area lift khusus menuju kantor ayahnya. Dia memencet tombol pada lift dan masuk setelah lift terbuka. 'cari ide apa ya, supaya ayah percaya dan tidak tahu kalau aku memesan tiket untuk ke Korea ' memikirkannya dalam lift, lalu ia menghidupkan ponsel dan mencari di pesan miliknya. Dia teringat ada acara ulang tahun temannya di Jakarta, segera mencari undangan elektrik yang dikirim melalui pesan di ponselnya.
"Ketemu... Akhirnya, aku bisa mencari alasan!" Ucapnya pelan tersenyum menyeringai dengan licik tapi tak lupa dengan bahagia yang sekilas terlihat di senyum licik yang menghias di bibir merah alami.
Lift terbuka dengan segera berjalan menuju ruangan ayahnya, membuka pintu tanpa mengetuk pintu, "selamat pagi, Ayah...." panggilnya riang dengan salam indah, "wah,... Kantor ayah semakin bagus saja!" pujinya berjalan mendekat lalu duduk di depan meja kerja ayahnya.
"Selamat pagi juga, Sayang!" Balasnya berhenti dengan kesibukan di depan laptopnya, "ada sesuatu yang di minta?" tanyanya sudah mengetahui maksud kedatangan putri sulungya.
"Hemmm, ayah, nggak bisa basa-basi dulu gitu," cemberutnya dengan akting bak aktris cantik, "main to the points aja," serunya meniup poninya ke atas.
Tawa ayahnya melihat tingkah Ara, "kamu sudah dewasa, Ra." ujarnya, "jangan bertingkah seperti anak baru keluar TK," imbuhnya menggeleng pelan dengan senyum bahagia.
"Oke, Ayah. Langsung saja, aku dapat undangan dari teman merayakan hari jadinya dia. Rumahnya di Jakarta perumahan kawasan elite," terangnya dengan sedetail mungkin agar ayahnya percaya pada dirinya.
"Terus?" sahutnya bersandar pada kursi kerjanya.
"Ya, terus, Yah. Ara mau minta ijin sama Ayah. Gak enak loh, yah. Kalau Ara nggak datang, dia macam... Sahabat baik aku!" tersenyum lebar pada ayahnya.
"Iya, boleh. Nanti Ayah tranfer ke rekening kamu, berikan hadiah yang indah, Ra." ucapnya dengan menyuruh membeli kado yang baik.
"Oke, Ayah. Tapi, mau di tranfer berapa?" tanya Ara antusias dan serius.
"Seperti biasanya!" balasnya dengan tenang seraya mengambil ponsel di laci meja kerjanya.
__ADS_1
"Ehm... 20 juta, Yah?" tungkasnya pikir Ara, ya, memang setiap bulan dia diberi 20juta untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya kuliah. Bukan maksud Ayah Ara tak bertanggung jawab, dia menginginkan putri-putrinya agar mandiri dan bertanggung jawab dalam pengelolaan keuangan masing-masing.
'buat pesan pesawat aja kurang nih! Harus alasan yang lain' batinnya sembari mencari ide.
"Ada apa, Sayang? Kurang yang Ayah tranfer?" ucapnya menghentikan Ara mencari solusi.
"Eh..." senyum paksanya telah membuyarkan solusinya, "sebenarnya... Kurang, Yah!" Ara cemberut dengan lesu.
'sangat dan sangat kurang sekali, Yah! Andai saja Ayah tahu kalau aku akan pergi ke korea dimana nenek berada dan itu tempat kelahiran ku, tapi Ayah tidak akan menyetujui kalau putrinya kembali ke tempat itu' batin Ara serambi menatap sendu pada Ayahnya.
"Dimana rumah teman kamu yang mengadakan acara?" tanyanya mengetahui putrinya yang kekurangan duit.
"Mau di tranfer lagi, Yah?" seketika kelopak mata Ara melebar dengan berbinar-binar, "di Jakarta, 20juta lagi," tambahnya menatap lekat wajah ayahnya dengan senyum lebar.
"Apa?" sontak Ayah Ara membulatkan kedua matanya, "20juta lagi!" Ayahnya mengulang lagi uang yang di minta Ara untuk menambahkan ke rekeningnya.
"Iya, Yah! 20juta lagi, ini untuk hadiah yang paling indah sejagad raya." tungkasnya berdiri dari duduknya, "apa Ayah mau putri ayah membawakan hadiah paling buruk?" tanyanya menekan kedua tangan Ayahnya yang sedari masih membawa benda pipih.
"Sudah, Yah. Ara tahu itu dan jangan mengecewakan serta angkat derajat Ayah setinggi langit," kekeh Ara dengan wajah cerianya. Tak pernah tahu bagaimana perasaan dan batin Ara yang paling dalam yang sering sakit hati dan mencoba menahan semuanya karena ibu tiri dan adik tirinya. Sungguh pandai dan kuatnya dia menyembunyikan sakit hatinya pada sang Ayah.
"Baiklah, Ayah tranfer lagi dan sudah masuk." mengangguk pelan mengetik di benda pipih yang terlihat mentranfer lagi nominal yang Ara minta, benda pipih milik Ara sebentar saja sudah berdering tanda pesan dari M-banking telah berhasil masuk dari ayahnya.
Ara melihat pesannya yang dia taruh di meja kerja ayahnya dari tadi. Tersenyum semringah dan lebar terlintas di raut wajahnya seketika terucap terimakasih pada ayah biologisnya, melingkarkan kedua lengannya di pundak sang ayah.
"Terimakasih, Ayah. Tidak ada yang sebaik dan saingannya selain Ayah." kekeh ku akhirnya berhasil dengan rencana dadakan ini.
"Iya, sama-sama. Hati-hati!" sambungnya lalu Ara pamit untuk pergi dari ruangan sang ayah.
Sampai di lantai bawah tempat keluar masuk para karyawan dan orang-orang yang memiliki urusan penting, Ara memanggil penjaga yang ia titipkan motornya dan menyuruh mengambilnya.
Dengan terbebas dari segala urusan yang menurutnya menyusahkan untuk merayu sang Ayah, dia bergegas pergi ke minimarket terdekat dengan kantor ayahnya.
"Selamat siang, selamat berbelanja!" salam, sapa karyawan yang berada di meja kasir.
__ADS_1
"Eh, Mbak. Ada yang bisa di bantu lagi?" tanya dia tercengang mendapati Ara kembali ke minimarket.
"Pesan tiket pesawat untuk besok ke Jakarta, Mas!" jawabnya seraya mengeluarkan kartu kredit yang berada di dompet.
'aku kira dia tadi nggak jadi memesan tiket karena uangnya kurang, dan dalam waktu sebentar saja dia kembali memesan tiket lagi' batin mas kasir memperhatikan Ara dari bawah sampai ke atas seraya mengetik kolom yang kosong di komputer depannya.
"Ada kartu identitas dan nomor ponselnya?" tanya mas kasir melanjutkan pekerjaannya. 'berdasarkan pengamatan ku sepertinya dia anak orang berada'
"Ada, Mas." balas Ara memberikan kartu identitasnya, "bayar pakai kartu kredit, ya, Mas." tambahnya menyodorkan kartu kreditnya. Ara merasa tenggorokannya kering karena terpapar sinar matahari yang mulai menyengat membuat haus.
'Mas ini kenapa lama banget, sih? Banyak pertanyaan lagi, apa dia tidak tahu kalau ini makin nggak mood karena kehausan' batin Ara menahan kesal.
Sudah seharusnya ketika memesan tiket di sebuah minimarket banyak yang di tanyakan dan diulangi lagi agar tidak terjadi kesalahan dalam menginput data customer dari identitas, nomor ponsel, dan jadwal keberangkatan menuju tempat yang di pesan oleh customer. Kekesalan Ara karena naiknya hormon saat kurang satu minggu akan kedatangan tamu setiap bulan sekali bagi wanita.
"Sudah selesai kah?" pertanyaan Ara membuat mas kasir mengarahkan wajahnya ke wajah Ara, "sudah, Mbak! Mohon bersabar menunggu untuk pembayarannya!" Mas kasir mulai mengesek kartu kredit di EDC tersebut lalu meminta Ara menekan tombol pin dan keluar lah struk dari EDC serta melanjutkan transaksi.
"Ada tambahan lagi, Mbak?" tanya mas kasir lagi dengan senyum sopan dan ramah.
"Ada..." Cekik Ara menyahut pertanyaan kasir dengan ketus berlalu dari hadapan pegawai minimarket.
Sontak pegawai tersebut terperangah mendapati jawaban ketus costumer ini, "salah saya apa, Mbak?" gumamnya sangat pelan agar tidak terdengar di daun telinga Ara.
Mas kasir sangat suram dan hancur hatinya, namun tetap melayani dengan baik melanjutkan transaksi pesan tiket selesai.
Ara berjalan mencari minuman dingin dan segar lalu mengambilnya di sebuah lemari pendingin atau yang sering disebut Chiller.
Tambah ini, Mas!" ketusnya sembari memberikan minuman dingin ke mas kasir.
"Iya, Mbak!" balasnya ramah dan menyodorkan minuman dingin beserta strurk belanja dan tiket pesawat, "terimakasih, selamat datang kembali!" menangkupkan kedua tangannya seraya tersenyum.
"Iya..." jawab Ara berubah tersenyum senang serta berlalu pergi.
"Apa dia mempunyai kepribadian dua?" pikir mas kasir heran, "tadi jawabnya galak sekarang balasnya dengan tersenyum... Ih... Ngeri banget..." mas kasir bergidik menyipitkan matanya.
__ADS_1