Perbedaan Kita Menuju Akad

Perbedaan Kita Menuju Akad
Chapter 5 : Masakan terenak


__ADS_3

"Dasar menyebalkan," umpat ku kesal, "apa dia tak memandangku atau menghargai ku, aku masih mengenang kenangan bersama ibu," sungutnya mengerucutkan bibirnya.


Ku hembuskan nafas ini dengan lega,


"Ara...!" seru nenek memanggil cucunya dari dapur, "Nenek hari ini memasak sup ikan kesukaan kamu saat kecil, apa tak mau mengincip langsung dari panci sesendok saja?" imbuhnya masih mengaduk sup ikan yang mengebul di atas kompor.


"Iya, Nenek! Dengan segera dan senang hati," sahut ku berlari langgang ke arah dapur. Dari kejauhan sudah terasa bau sangat enak dan sedap ini hampir membuat ku lapar yang tak tertahankan.


"Cobalah!" ucap nenek Sun menyodorkan sendok yang berisi kuah sup, "enak! Aku sudah lama tak makan sup ini hingga lupa seenak apa masakan buatan nenek," racau ku membuat nenek mencubit lengan ku serta menebar senyum.


"Anak berandal! Apa kau pikir nenek ini akan lupa dengan sup kesukaan mu, hampir tiap hari nenek membuat sup ini hingga si bocah tengil itu tak suka lagi makan sup nenek!" tawa lepas nenek Sun membuat ku ikut tertawa dan bahagia.


"Nek, apa nenek selalu merindukan ku?" tanya ku sejenak tertawa kami berhenti, "Nenek selalu ingin bertemu dengan mu setiap hari, usai ibu mu meninggal nenek selama ini beberapa bulan sendiri tak ada satupun saudara nenek menemani," lalu mematikan kompor dan memindahkan sup ikan ke meja makan yang khas negara ginseng ini.


Benar, meja yang berukuran kotak sedang dan pendek ini mengingatkan ku dimana aku makan bersama dengan keluarga yang lengkap. Namun sekarang berbeda, apa yang ku rasakan saat ini hanya aku dan nenek saja yang akan mengisi ruang kosong di meja makan ini. Di tambah lagi satu orang yang aku tidak kenal, si bocah tengil panggil nenek.

__ADS_1


"Nenek... Maafin Ara, selama ini membuat nenek sedih dan sendirian di dunia ini. Karena di saat aku masih kecil, aku harus ikut dengan ayah ke negara asalnya." ku dekap nenek dari belakang dengan begitu rindu dan sayang padanya serta hangat tubuhnya membuat ku candu tak ingin kehilangan sosok nenek yang selalu memberi ku kebaikan. Walaupun berbeda keyakinan tapi tak masalah bagiku.


"Nenek tak apa... Sudah seharusnya kamu ikut ayah kamu," hembusan nafas yang keluar dengan lega nenek Sun menepuk pelan punggung tangan ku sembari tersenyum lagi, "Nenek lega sekarang kau sudah di sini..." mengusap sebutir air mata yang jatuh.


"Iya, benar, Nek! Aku ingin hidup di kota kelahiran ku ini!" ku lepas dekapan ku pada tubuh Nenek, "mungkin aku bisa belajar resep dari nenek, agar makanan ku seenak buatan nenek..." kekeh ku lepas dengan begitu saja membuyarkan sendunya.


"Iya, harus menjadi penerus nenek!" balasnya tertawa pelan.


"Kita makan sup ikan ini yang masih panas!" ajak nenek duduk dan menaruh sup ikan di mangkok ku. Sudah tertata semua peralatan makan sampai banyak makanan yang di sediakan nenek.


Suara kaki yang berlari mendekat dengan tergesa-gesa, ia datang dan masuk ikut makan bersama.


"Sambutlah dengan baik cucu nenek ini..." dalih nenek menaruh kimchi di atas nasi.


"Baik, Nek!" balasnya mengangguk dan menyuap nasinya.

__ADS_1


Mereka bertiga menyantap dengan kenyang dan banyak pembicaraan antara nenek dan cucunya. Sehingga si bocah tengik ini hanya bisa mendengarkan, mengunyah, dan menelan tak ada yang spesial baginya.


Usai selesai semua makan, nenek Sun menyuruh Ara merebahkan diri di kamar yang sudah di siapkan nenek. Kamar yang berukuran sedang tak kecil dan tak besar namun nyaman. Di sana sudah tersedia lemari pakaian, rak dan meja belajar.


Ara duduk di depan meja belajar usai membawa koper dan tasnya ke dalam kamar.


Mengedarkan pandangannya dan matanya tertuju pada kupu-kupu yang hinggap pada bunga aster tepat di luar bilik kamar Ara saat ini.


"Indah sekali..." ia melangkah mendekati dari jendela kamar begitu takjubnya dia pada bunga itu. Yah! Bunga yang memiliki bentuk seperti bintang dan banyak warna itu membuat Ara terpikat memandangnya.


Tok tok tok...


Suara ketukan pintu diiringi panggilan namanya yang membuyarkan lamunannya seketika, "iya, Nek!" melangkah mendekati pintu meninggalkan kekagumannya pada bunga itu.


"Ara, kalau kamu tak lelah, temani nenek berada di kedai..." pinta nenek Sun menurutnya agar sang cucu tak merasa kesepian.

__ADS_1


"Baiklah, Nek!" anggukan Ara berlalu mengikuti langkah nenek ke kedai.


__ADS_2